nobody likes to be reminded of a betrayal.
Tampilkan postingan dengan label my Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my Stories. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 April 2017
Sabtu, 24 September 2016
Surakarta: The Lost Story
They say, first love never dies. For me, it is not that it never dies, but the lesson of first-times lays deeper than any other. And that is all it is.
Rabu, 19 Februari 2014
My third year as lecturer is…
So lively.
Setiap hari
adalah hari yang berbeda. Selalu ada hal yang berbeda dari hari sebelumnya. Bisa
lebih ruwet, bisa lebih sederhana, hahaha :p
Sensasi yang
sama selalu saya dapatkan ketika muncul surat AMAT SEGER(a) menghampiri saya. Mungkin
rapatinggenah lah, mungkin pelatihan apa lah, mungkin sosialisasi apa lah,
mungkin dikasi kerjaan apa lah… dst dst…
Dulu, dalam
bayangan saya, jadi dosen itu 80% ngajar, ternyata… fifty fifty lah sama pekerjaan yang lain.
So mobile.
Jadi kitiran?
Ah, sudah biasa… Bolak balik dengan rute rumah-kampus-RS-kampus-rumah sudah
sering saya lakoni kok, bisa dua tiga kali seminggu. Naik apa? Angkot. Alasan?
Males parkir.
Kalau
dihitung-hitung, jarak rumah-kampus sama dengan dua kali jarak rumah-RS. Sooo…
sudah (harus ter)biasa…
So many students.
Gak hapal. Ini
siapa. Itu siapa. Sana siapa. Sini siapa. Kamu siapa. Dia siapa. Aku siapa.
#eh..
Wew… memang
yang paling saya ingat adalah mahasiswa bimbingan saya, mahasiswa yang ujiannya
sama saya, ATAU… mahasiswa yang paling bandel
sekelas f(-__-“)
Kalau yang paling
pinter sendiri biasanya malah ndak kelihatan mencolok, tapi yang bandel (misal:
hobi nelat yang minimal 15 menit setelah kuliah/ praktikum mulai), yang kelewat
endel (suka milin-milin rambut atau pake benda serba hellokitty ato pinkies),
yang hobi flirting (‘wah liftnya jadi gak mau nutup habis ada dokter cantik
yang masuk’), kok saya malah inget populasi yang itu f(-__-“)
So many hours.
Ehem… rasio
dosen dan mahasiswa yang ‘wow banget’ bisa menguras energi luar biasa. Cuap
cuap sepanjang hari bukan hal aneh lagi. Pagi ngajar, siang praktikum, sore
praktikum. Pagi berdiri, siang berdiri, sore berdiri, juga bukan hal aneh…
hahahaha XD
Saya
menyediakan sepatu berhak rata demi mobilitas dan menjauhkan varises :p
So many emails.
Saya lebih
suka mahasiswa mengirimkan makalah konsultasi via email daripada memberi saya
hardcopy berlembar-lembar. Yak, konsekuensinya harus siap sedia dan responsif
saat ada email masuk, plus, mengajarkan pada masing-masing mahasiswa bimbingan
tentang cara menggunakan review system
di MSWord.
Kenyataannya,
mahasiswa yang mengimel seringkali ingin segera direspon, padahal dosennya
masih nyantol di suatu tempat yang gak ada colokan lepi, hahaha XD
Nggak salah
juga, kalo saya jadi mahasiswa (mungkin) juga seperti itu :p
So many things that I need to learn.
Makin kita
tahu, makin kita tidak tahu. Makin sering saya mengajari orang lain, makin
banyak hal yang saya rasa tidak saya ketahui.
Tentu saja
dosen tidak mungkin tahu segala-galanya, tapi tampak cerdas dan kompeten di
depan mahasiswa itu perlu. Konsekuensi menjadi dosen adalah harus selalu siap
dengan pertanyaan macam apapun dari mahasiswa dan sejauh apapun pertanyaan
tersebut diajukan. Artinya, harus selalu belajar! Belajar! Belajar!
So many lecturers I meet.
Bekerja di
almamater sendiri sama dengan bertemu dengan dosen-dosen saya. Rasa sungkan
pasti melekat. Banyak dosen saya yang tidak kenal saya sebelum ini (berarti
jaman kuliah dulu saya ndak bandel soalnya dosennya gak inget, hahahahaha XD).
So many improvisations.
Lepas dari
materi yang harus saya ajarkan, ada banyak sekali hal lain yang harus saya
ajarkan ke mahasiswa, terutama yang berhubungan dengan profesionalisme dan cara
belajar.
Semasa kuliah
dulu, saya bukan mahasiswa yang cemerlang (ya cemerlang sih, tapi dikit :p),
saya paham betul keluhan mahasiswa yang kesulitan menghapal sekian macam hal
yang amat sangat banyak sekali. Saya juga paling tidak suka membaca uraian
panjang dan grafik yang ruwet. Keterbatasan dan pitfalls (plus beberapa ketidakberuntungan) yang saya punya/ alami
selama saya belajar sebagai mahasiswa ternyata banyak bermanfaat saat ini. Saya
suka berbagi pengalaman cara mengatasi uraian panjang dan menganalogikan grafik
sehingga lebih mudah dipahami.
Jauh lebih
banyak mahasiswa yang biasa-biasa saja daripada mahasiswa yang cemerlang, maka
saya selalu menekankan pada diri saya sendiri untuk mencari cara agar apa yang
saya sampaikan bisa diterima, dipahami dan
diingat oleh sebanyak mungkin mahasiswa.
Saya mungkin
memang tidak bisa membantu satu persatu mahasiswa (bikaus banyak pake banget
wui…) tapi setidaknya saya bisa mengusahakan agar mahasiswa saya tidak jatuh
pada pitfalls yang sama dengan yang
saya jatuhi dulu :p
So many stocks of patience.
Ngajar harus
sabar, kata ayah saya. Seorang dosen bukan orang yang lebih pandai dari
mahasiswanya. Dosen mah cuma menang lahir duluan dan mendapatkan kesempatan lebih
dulu dari mahasiswanya.
Kadang, butuh
kesabaran ekstra dan tabungan sabar untuk mengajari beberapa mahasiswa. Menurut
ayah saya, disitulah tantangan menjadi pengajar…
Yah, saya selalu
ingat ketidakbrilianan saya selama jadi mahasiswa jadi setidaknya saya bisa
sedikit bersabar, hehehe… Walaupun tetap saja, belajar sabar juga salah satu
mata pelajaran yang perlu diikuti oleh pengajar manapun :)
NB: dikira
admin itu… sering.
So many things to say.
This is the place that I want. This is my place.
Sepertinya
memang inilah panggilan jiwa saya. Ada sekian banyak hal yang bisa saya
ceritakan setiap hari terkait pekerjaan saya yang satu ini.
Terakhir,
sebagai penutup, kenapa tiba-tiba muncul tulisan ini?
Karena tadi
siang ditanyai mahasiswa, “Dok kenapa sih milih jadi dosen? Saya kalau lihat
dokter tu heran deh… “
Senin, 22 Juli 2013
Juli 2011 - Juli 2013
“Sejuta cerita,” adalah satu-satunya kalimat yang bisa menggambarkan apa
yang terjadi dalam rentang waktu itu,
Sekian banyak tawa, sekian banyak kekecewaan, sekian banyak pertemuan
dan sekian banyak perpisahan, semua terangkum dalam dua tahun penuh warna
selama saya kuliah magister,
What the? Saya kuliah magister bukan untuk cari masalah
tapi…
Tapi kenyataannya memang banyak permasalahan yang muncul, dan bukan
hanya sekedar banyak,
Banyak sekali, ehehehe XD
Dua tahun sekolah magister, saya disuguhi sekian banyak macam manusia
yang bahkan lebih variatif dibanding dua puluh tiga tahun saya hidup,
Tanpa saya sadari, justru yang banyak saya pelajari bukannya masalah
materi perkuliahan (karena perkuliahan saya amat sangat membahagiakan, hohoho),
tapi bagaimana terus hidup dan terus tersenyum apapun yang terjadi,
Kenapa?
Karena permasalahan akan terus muncul, terus dan terus, dan selama kita masih bernapas maka masalah itu akan selalu ada,
Karena permasalahan akan terus muncul, terus dan terus, dan selama kita masih bernapas maka masalah itu akan selalu ada,
Tinggal bagaimana saya menghadapinya :)
Bisa dibilang, selama tahun 2012, saya seperti kitiran, muter sana-muter
sini, mencari tempat dimana saya harus berpijak, mencari rasa aman dan rasa
terlindungi, menjauhkan diri dari rasa khawatir dan takut kehilangan,
Uniknya, selepas tahun 2012 saya menemukan bahwa saya sudah berpijak di
tempat saya ingin berada, dan saya sadar bahwa tak ada yang lebih bisa membuat saya merasa aman dan
terlindungi, selain diri saya sendiri,
Well, to tell you the truth, ada harga yang luar biasa mahal yang harus
saya bayar demi melewati 2012,
Harga yang tak semua orang tahu karena saya selalu ketawa ketiwi ngalor
ngidul, ahahaha XD
Jangan ditanya, karena bakal butuh SATU BLOG SENDIRI buat menjelaskan
apa yang terjadi sejak 1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2012 *halah, lebay*
Nope, seriously, kalau ditanya kapan saat-saat tersulit dalam dua
puluh lima tahun hidup saya, itu adalah sepanjang tahun 2012 :’)
Heran juga kok saya masih hidup setelah sempet jadi butiran debu *heh*
Dan ternyata saya masih punya LIVER lho sodara-sodara, hehehehehe XD
Setelah 2012 yang penuh konflik, saya menemukan diri saya menjadi
beberapa tingkat lebih dewasa dibandingkan tahun 2011,
Dan saya pun sadar, mungkin karena saya yang tahun 2011 ‘masih seperti
itu’-lah, sehingga saya pun dipisahkan Tuhan dari salah satu mimpi terindah
yang pernah saya punya,
Dengan cara yang mengenaskan pula, ahahaha XD
Etapi toh sekarang saya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala :p
2013, saya akhirnya sadar kenapa saya mengalami segala macam hal di 2012,
kenapa saya dihadapkan pada sekian banyak orang yang bermacam-macam, kenapa
saya diharuskan melalui fase-fase yang saya sama sekali tidak suka,
Itu semua karena hidup saya baru saja akan dimulai,
The real one, on my
own,
Dua tahun yang lalu, saya ingat pernah bertanya pada saudara saya,
“Gimana caramu terus tersenyum?”
Dan dia menjawab agak kebingungan, “Itu… lirik lagu?”
*ngakak*
Yah, sekarang kalau saya lihat kembali sih… iya sih ya… itu kalimat kok
berasa kayak lirik lagu ya? *ngakak*
Dulu saya selalu berpikir bahwa orang lain-lah yang merubah saya,
Dan memang, ada beberapa orang dalam kehidupan saya yang memiliki andil
besar dalam pembentukan kepribadian saya yang terus berubah sejak saya masuk
kepala dua,
Seumur hidup, saya berhutang budi pada mereka, karena seandainya tidak
ada mereka, tidak akan ada saya yang sekarang ini,
Hanya saja,
Ternyata sebesar apapun, tetap kita sendirilah yang membuat perubahan
terbesar, tentang bagaimana kita memutuskan untuk menanggapi kehidupan dan
segala macam bebatuan yang kita temukan di perjalanan kita menuju akhir…
Dua puluh lima tahun, akhirnya saya sampai di titik ini, sebuah poin dimana
saya sadar bahwa hidup ini indah, bukan
karena semata-mata takdir, tapi karena kita yang memilih untuk membuatnya indah
:)
Oh well… where is my sense of
emergency anyway? I kinda lose it for good…
#np Shooting Star, Owl City
Selasa, 14 Agustus 2012
gantungan kunci
yap itu cuman gantungan kunci,
yang sedikit terlupakan, oke.
sebenarnya ndak terlupakan sih, lha wong everyday everytime sejak saya dapet, benda ini selalu nempel di saya,
yg saya sempat lupakan adalah arti di balik gantungan kunci itu...
sebenarnya bukan lupa selupa-lupanya, soalnya di alam bawah sadar saya masih ada ingatan kuat tentang makna di balik gantungan kunci ini,
hanya saja, ingatan itu banyak ketumpukan hal-hal lain yang juga harus diingat (jadi jatuhnya sama-sama lupa ya? #eh)
bukan hal yg mewah memang, namanya juga gantungan kunci,
bukan pula gantungan kunci yg blink blink so cute ato gimana,
hanya sebuah gantungan kunci biasa, sederhana,
dan sedari awal sudah menempel di flashdisk sederhana 2G yang saya dapat dari tryout Ujian Kompetensi,
tapi gantungan kunci dan flashdisk ini memang selalu saya bawa kemana-mana sejak saya dapatkan,
saya tambahi satu flashdisk kecil mungil sehingga total saya mengantongi 10 G bersama saya tiap hari :Dsaya tempeli stiker nama saya pula (dibalik sisi yg saya foto)
seringkali orang bertanya, "kok kamu bisa punya gantungan kunci ini?" dan biasanya saya cuman nyengir tanpa menjawab,
it is my own little secret *sok misterius*
bukan hanya flashdisknya saja yang berharga, buat saya gantungan kunci ini tidak kalah berharga,
dan kadang saya jadi senyum-senyum sendiri sambil lihat gantungan kunci ini, hihihi :D
nggak kadang sih, sering!! *pengakuan*
soalnya sepertinya cuman saya yang dapat gantungan kunci ini, orang lain ndak ada yang punya *terharu*
dan flashdisk saya ini jadi gak pernah hilang lho, bukan sirik, tapi soalnya kalo hilang sebentar saja, saya PASTI sudah heboh nyari kemana-mana :p
suatu ketika temen saya pun berkata, "apaan sih? kalo cari flashdisk yang tenang napa?" tapi saya tetep heboh mencari ngalor ngidul, hahahaha :p
sebenarnya kalo saat itu saya ditanya apa alasan saya heboh kesana kemari, pasti saya juga gak bisa jawab, tapi alam bawah sadar saya mengharuskan gantungan kunci dan flashdisk itu wajib segera ditemukan,
kalo saya yang sekarang, mungkin bisa jawab :p
itu memang benda yang simpel,
simpel, sangat simpel,
tapi siapa yang menduga benda sesimpel itu berharga sangat luar biasa buat saya?
yep, sangat berharga, karena sarat makna :')
P.S. tidak ada "bau mantan" di gantungan kunci ini :p
posted from Bloggeroid
Kamis, 14 Juni 2012
suatu hari di bulan Juni
suatu hari di bulan Juni, atau lebih tepatnya, hari ini, 14 Juni 2012 adalah Hari Kitiran Sedunia,
tau gak kitiran itu apa?
kitiran itu baling-baling, mirip kayak baling-baling bambu punya doraemon itu lho,
kenapa saya menyebut hari ini demikian?
begini ceritanya...
WARNING: cerita panjang alias cerpan dengan bumbu curcol detected, read at your own risk..
tiga hari sebelum ini adalah hari yang sangat menguras emosi saya,
alhasil saya nyungsep di bawah bantal selama berjam-jam dan membuat rumah saya heboh karena siennra yang biasanya ngakak ngalor ngidul tiba-tiba ngabisin sekian lembar tisu hanya buat nangis,
pagi ini saya (entah bagaimana) saya bangun dengan satu ingatan tentang salah satu twit favorit saya di twitter:
maka pagi ini dengan penuh semangat saya berangkat agak siangan, jam delapan pagi, akibat saya keasyikan nonton Spongebob (baca: berangkat gara-gara diusir ibu disuruh cepetan),
dengan ditemani lagu yang masih menjadi teman setia saya sejak tiga hari yang lalu: Kelly Clarkson- To Make You Feel My Love, saya nyopir mobil kesayangan saya, Gray (saya kasih nama dia begitu karena dia warnanya abu-abu dan saya suka karakter Gray di Romancing Saga Minstrel Song) menuju kampus Universitas Brawijaya,
setengah jam kemudian (saya emang kalo nyopir tu lambat) saya parkir di depan Bank Mandiri UB dan berjalan kaki menuju pos pemberhentian saya sehari-hari, sekitar 300 meter dari Bank Mandiri,
dan gitu itu, hape Simpati saya pake ketinggalan di mobil (saya punya dua hape, satu Simpati, satu Axis),
lebih parah lagi, saya sadarnya kalo hape ketinggalan tu pas saya sudah menempuh jarak 299.5 meter dari Bank Mandiri,
#tepokjidat
tau gak kitiran itu apa?
kitiran itu baling-baling, mirip kayak baling-baling bambu punya doraemon itu lho,
kenapa saya menyebut hari ini demikian?
begini ceritanya...
WARNING: cerita panjang alias cerpan dengan bumbu curcol detected, read at your own risk..
tiga hari sebelum ini adalah hari yang sangat menguras emosi saya,
alhasil saya nyungsep di bawah bantal selama berjam-jam dan membuat rumah saya heboh karena siennra yang biasanya ngakak ngalor ngidul tiba-tiba ngabisin sekian lembar tisu hanya buat nangis,
pagi ini saya (entah bagaimana) saya bangun dengan satu ingatan tentang salah satu twit favorit saya di twitter:
"you may kill me with you hatred, or shoot me with your words, but still, like air, i'll rise...!"
entah darimana, dari Hongkong apa dari Jepang tapi tiba-tiba muncul aja itu twit, hahahaha ^^vmaka pagi ini dengan penuh semangat saya berangkat agak siangan, jam delapan pagi, akibat saya keasyikan nonton Spongebob (baca: berangkat gara-gara diusir ibu disuruh cepetan),
dengan ditemani lagu yang masih menjadi teman setia saya sejak tiga hari yang lalu: Kelly Clarkson- To Make You Feel My Love, saya nyopir mobil kesayangan saya, Gray (saya kasih nama dia begitu karena dia warnanya abu-abu dan saya suka karakter Gray di Romancing Saga Minstrel Song) menuju kampus Universitas Brawijaya,
setengah jam kemudian (saya emang kalo nyopir tu lambat) saya parkir di depan Bank Mandiri UB dan berjalan kaki menuju pos pemberhentian saya sehari-hari, sekitar 300 meter dari Bank Mandiri,
dan gitu itu, hape Simpati saya pake ketinggalan di mobil (saya punya dua hape, satu Simpati, satu Axis),
lebih parah lagi, saya sadarnya kalo hape ketinggalan tu pas saya sudah menempuh jarak 299.5 meter dari Bank Mandiri,
#tepokjidat
Minggu, 20 Mei 2012
cahaya bintang
-menyuarakan isi hati sahabat saya-
sebagian besar lagu dan puisi mengatakan adanya bintang yang bersinar begitu terang,
namun, setelah sebuah bintang itu bersinar, ada banyak proses yang harus dijalani sebelum bintang itu nampak benar-benar bercahaya,
sebuah proses yang mungkin tidak sebentar,
karena tahukah kamu, jarak bintang ke bumi bisa ratusan ribu tahun cahaya, atau bahkan milyaran dan trilyunan,
begitu jauhnya jarak bintang, maka tak semua cahaya bintang akan dengan mudah sampai di bumi,
bintang nampak dekat?
mungkin saja...
kerlipannya mungkin mengingatkan kita pada banyak hal,
rasi-rasi bintang yang bertebaran pun juga merupakan penunjuk arah yang tepat,
sinar dari bintang adalah hal yang telah lama merasuki puisi dan syair sejak jaman dahulu,
selama sinar bintang itu belum sampai ke bumi,
bintang itu takkan terlihat,
dan apa yang aku lakukan sekarang?
menjemput bintang,
mungkin aku tak sepenuhnya tahu dia ada dimana,
hanya lewat sedikit kerlip yang muncul dari kejauhan,
sinarnya seakan masih enggan mencapaiku,
entah membutuhkan berapa lama lagi hingga bumiku bisa mendapatkan cahaya indah darinya,
meskipun begitu, pada saat-saat tertentu, ia akan bersinar begitu terang,
dan membimbingku ke arah yang kutuju,
sebelum kembali menghilang, dan aku kembali sendirian,
suatu hari, ia akan terus bersinar,
terus mengirim impuls cahaya ke dalam otak setiap manusia yang melihatnya,
terus bersinar,
dan terus bersinar,
menjemput bintang,
meskipun puluhan, ratusan, ribuan, milyaran, trilyunan tahun cahaya harus aku lalui,
meskipun aku tak tahu kapan bumiku akan menemukanmu,
aku akan menemukanmu bercahaya,
di suatu tempat yang kupinta dalam mimpiku,
karena aku percaya, kau adalah cahaya, seperti harapanmu,
kenapa tiba-tiba saya bahas bintang?
karena barusan sadar bahwa lagu dan puisi yang mengedepankan betapa indahnya cahaya bintang itu kurang logis,
sebagian besar lagu dan puisi mengatakan adanya bintang yang bersinar begitu terang,
namun, setelah sebuah bintang itu bersinar, ada banyak proses yang harus dijalani sebelum bintang itu nampak benar-benar bercahaya,
sebuah proses yang mungkin tidak sebentar,
karena tahukah kamu, jarak bintang ke bumi bisa ratusan ribu tahun cahaya, atau bahkan milyaran dan trilyunan,
begitu jauhnya jarak bintang, maka tak semua cahaya bintang akan dengan mudah sampai di bumi,
bintang nampak dekat?
mungkin saja...
kerlipannya mungkin mengingatkan kita pada banyak hal,
rasi-rasi bintang yang bertebaran pun juga merupakan penunjuk arah yang tepat,
sinar dari bintang adalah hal yang telah lama merasuki puisi dan syair sejak jaman dahulu,
romantis, kata mereka,
sekaligus perih, karena sesungguhnya bintang itu jauh sekali dari kita,
selama sinar bintang itu belum sampai ke bumi,
bintang itu takkan terlihat,
dan apa yang aku lakukan sekarang?
menjemput bintang,
mungkin aku tak sepenuhnya tahu dia ada dimana,
hanya lewat sedikit kerlip yang muncul dari kejauhan,
sinarnya seakan masih enggan mencapaiku,
entah membutuhkan berapa lama lagi hingga bumiku bisa mendapatkan cahaya indah darinya,
meskipun begitu, pada saat-saat tertentu, ia akan bersinar begitu terang,
dan membimbingku ke arah yang kutuju,
sebelum kembali menghilang, dan aku kembali sendirian,
tapi aku tahu, dia ada di sana, di suatu tempat, dimana ia telah bersinar sebelumnya,
dan aku percaya suatu hari aku akan menemukannya bersinar seutuhnya,
takkan lagi sinar yang terkadang meredup,
suatu hari, ia akan terus bersinar,
terus mengirim impuls cahaya ke dalam otak setiap manusia yang melihatnya,
terus bersinar,
dan terus bersinar,
menjemput bintang,
meskipun puluhan, ratusan, ribuan, milyaran, trilyunan tahun cahaya harus aku lalui,
meskipun aku tak tahu kapan bumiku akan menemukanmu,
aku akan menemukanmu bercahaya,
di suatu tempat yang kupinta dalam mimpiku,
karena aku percaya, kau adalah cahaya, seperti harapanmu,
Senin, 07 Mei 2012
24th birthday
ulang tahun ke-24 ini adalah ulang tahun paling spesial yang pernah saya alami,
kenapa?
hehe... begini ceritanya :)
karena satu dan lain hal, sudah 6 tahun ini saya ndak main game itu lagi,
yang membuat saya terharu adalah adek saya tercinta ternyata menyiapkan kejutan berupa munculnya game itu lagi di konsol PS2 di rumah,
jadi, adek saya dengan agak rahasia mencari DVD Romancing Saga dan nginstal ke konsol,
saya tahu itu susah, karena game itu DVDnya sudah gak ada yang jual lagi,
ketika akhirnya adek saya gagal, dia rela begadang buat donlod langsung via internet (4G bo' ukuran filenya!),
dan ketika akhirnya berhasil, saya sampe hampir nangis saking terharunya,
alasannya adek saya simpel: "aku pingin mbak bisa main game ini lagi sebelum mbak nikah dan nggak tinggal disini lagi ":')
dan saya sangat bersyukur sekali,
dalam usia saya yang semakin beranjak ke seperempat abad ini, saya masih punya kesempatan untuk melakukan yang terbaik buat mereka,
dan saya sangat bersyukur karena mereka begitu menyayangi saya, begitu memikirkan saya, dan tak pernah lelah mendoakan saya,
alhamdulillaahh :')
tiga,
saya ditelpun sama sahabat dekat saya sejak SMA, yang sudah berapa bulan tidak ketemu,
entah gimana saya sama dia emang terbiasa punya semacam link yang menghubungkan kami,
saya sayang banget sama dia dan sudah menganggap dia seperti saudara,
saya sempet kebingungan soalnya dia mendadak galau e.c putus sama pacarnya dan menolak diajak jalan-jalan,
hal yang membuat saya bahagia adalah, hari itu dia menelepon saya pagi-pagi dan dia memberi tahu saya bahwa dia sudah balikan sama pacarnya,
legaaaa banget,
walopun saya gak gitu kenal sama pacarnya karena mereka LDR-an, tapi tahu sahabat saya ini bahagia membuat saya senang sekali, karena terus terang saya khawatir :')
di sela-sela kesibukannya sehari-hari kuliah di salah satu fakultas di Univ Brawijaya, dia datang ke rumah,
dan tidak cuman sendirian,
dia datang bareng keluarganya,
rameeee deh rumah saya,
sepupu saya ini emang dari kecil mainnya sama saya, dan orang tuanya sudah kayak orang tua kedua saya, jadi rasanya semakin komplit saja hari ultah saya hari itu :')
waaaaa... seneng dan terharu banget rasanya :')
saya jadi ingat idealisme lama saya buat PTT saat ngobrol panjang dengan mereka,
sempat terbersit perasaan: kenapa ya aku kok gak jadi berangkat PTT?
dan saya menjawab sendiri: kalo saya PTT, ceritanya gak akan seperti sekarang ini :')
lihat saja tuh, gara-gara pengaruh mereka, saya jadi suka mbuat postingan-postingan geje dan gak masuk akal (tapi mbuat ngakak),
sebel sih kadang-kadang sama mereka, lha bayangin saja, saya sedang sedih bin galau, mereka malah menertawakan saya dan mbuat kegalauan saya seakan lelucon yang gak ada habisnya ToT
tapi sisi baiknya, lewat 'kekejaman' mereka itu, mereka mengajak saya buat melihat hidup dengan lebih realistis dan lebih bijak,
lewat mereka juga saya paham, bahwa hidup itu adalah serangkaian hal-hal yang pasti ada jalan keluarnya,
intinya, saya gak pernah sempat galau lagi selama saya sama mereka,
bersama mereka saya paham apa itu namanya partner in crime dalam artian harfiah :')
ada sesuatu yang membuat ulang tahun saya begitu bermakna tahun ini,
tapi,
hehe, kapan-kapan aja ya saya buat postingan tentang yang ketujuh ini, hehehehe *ngacir*
tujuh hal diatas adalah yang membuat saya menjadi sangat bersyukur dikaruniai kehidupan yang seperti sekarang ini,
24 tahun saya hidup di dunia, saya sadar hidup saya tidak sempurna,
ada banyak 'rompal' disana-sini,
ada banyak kegagalan, kekecewaan dan sebagainya yang mewarnai,
tapi saya sadar, bahwa semua hal yang terjadi pada diri saya sampai dengan hari ini, adalah yang membuat saya seperti sekarang ini,
alhamdulillaah,
saya bersyukur sekali dengan semua hal yang saya miliki saat ini :')
kenapa?
hehe... begini ceritanya :)
satu,
ada sebuah game yang jadi favorit saya sejak saya masih SMA dulu, yaitu Romancing Saga Minstrel Song yang saya mainkan dengan konsol PS2,karena satu dan lain hal, sudah 6 tahun ini saya ndak main game itu lagi,
yang membuat saya terharu adalah adek saya tercinta ternyata menyiapkan kejutan berupa munculnya game itu lagi di konsol PS2 di rumah,
jadi, adek saya dengan agak rahasia mencari DVD Romancing Saga dan nginstal ke konsol,
saya tahu itu susah, karena game itu DVDnya sudah gak ada yang jual lagi,
ketika akhirnya adek saya gagal, dia rela begadang buat donlod langsung via internet (4G bo' ukuran filenya!),
dan ketika akhirnya berhasil, saya sampe hampir nangis saking terharunya,
alasannya adek saya simpel: "aku pingin mbak bisa main game ini lagi sebelum mbak nikah dan nggak tinggal disini lagi ":')
dua,
orang tua saya keduanya masih ada, dalam keadaan sehat wal'afiat tidak kurang suatu apapun,dan saya sangat bersyukur sekali,
dalam usia saya yang semakin beranjak ke seperempat abad ini, saya masih punya kesempatan untuk melakukan yang terbaik buat mereka,
dan saya sangat bersyukur karena mereka begitu menyayangi saya, begitu memikirkan saya, dan tak pernah lelah mendoakan saya,
alhamdulillaahh :')
tiga,
saya ditelpun sama sahabat dekat saya sejak SMA, yang sudah berapa bulan tidak ketemu,
entah gimana saya sama dia emang terbiasa punya semacam link yang menghubungkan kami,
saya sayang banget sama dia dan sudah menganggap dia seperti saudara,
saya sempet kebingungan soalnya dia mendadak galau e.c putus sama pacarnya dan menolak diajak jalan-jalan,
hal yang membuat saya bahagia adalah, hari itu dia menelepon saya pagi-pagi dan dia memberi tahu saya bahwa dia sudah balikan sama pacarnya,
legaaaa banget,
walopun saya gak gitu kenal sama pacarnya karena mereka LDR-an, tapi tahu sahabat saya ini bahagia membuat saya senang sekali, karena terus terang saya khawatir :')
empat,
sepupu saya nginep di rumah,di sela-sela kesibukannya sehari-hari kuliah di salah satu fakultas di Univ Brawijaya, dia datang ke rumah,
dan tidak cuman sendirian,
dia datang bareng keluarganya,
rameeee deh rumah saya,
sepupu saya ini emang dari kecil mainnya sama saya, dan orang tuanya sudah kayak orang tua kedua saya, jadi rasanya semakin komplit saja hari ultah saya hari itu :')
lima,
dua teman saya yang sedang PTT di salah satu kepulauan di NTT sengaja nelpun saya buat ngucapin selamat ulang tahun,waaaaa... seneng dan terharu banget rasanya :')
saya jadi ingat idealisme lama saya buat PTT saat ngobrol panjang dengan mereka,
sempat terbersit perasaan: kenapa ya aku kok gak jadi berangkat PTT?
dan saya menjawab sendiri: kalo saya PTT, ceritanya gak akan seperti sekarang ini :')
enam,
dikaruniai orang-orang geje sekelas S2 ini,lihat saja tuh, gara-gara pengaruh mereka, saya jadi suka mbuat postingan-postingan geje dan gak masuk akal (tapi mbuat ngakak),
sebel sih kadang-kadang sama mereka, lha bayangin saja, saya sedang sedih bin galau, mereka malah menertawakan saya dan mbuat kegalauan saya seakan lelucon yang gak ada habisnya ToT
tapi sisi baiknya, lewat 'kekejaman' mereka itu, mereka mengajak saya buat melihat hidup dengan lebih realistis dan lebih bijak,
lewat mereka juga saya paham, bahwa hidup itu adalah serangkaian hal-hal yang pasti ada jalan keluarnya,
intinya, saya gak pernah sempat galau lagi selama saya sama mereka,
bersama mereka saya paham apa itu namanya partner in crime dalam artian harfiah :')
tujuh,
er... hehehe...ada sesuatu yang membuat ulang tahun saya begitu bermakna tahun ini,
tapi,
hehe, kapan-kapan aja ya saya buat postingan tentang yang ketujuh ini, hehehehe *ngacir*
tujuh hal diatas adalah yang membuat saya menjadi sangat bersyukur dikaruniai kehidupan yang seperti sekarang ini,
24 tahun saya hidup di dunia, saya sadar hidup saya tidak sempurna,
ada banyak 'rompal' disana-sini,
ada banyak kegagalan, kekecewaan dan sebagainya yang mewarnai,
tapi saya sadar, bahwa semua hal yang terjadi pada diri saya sampai dengan hari ini, adalah yang membuat saya seperti sekarang ini,
alhamdulillaah,
saya bersyukur sekali dengan semua hal yang saya miliki saat ini :')
Kamis, 22 Maret 2012
Aku dan Anis
“wi, kamu dapet undian nomor 16 ya?”
“iya, nis, kenapa?”
“kita solmeett! Aku juga nomor 16,”
“oh yaaa?”
Itulah sepenggal pembicaraan saya dengan Anis, tanggal 10 September 2009,
Hari itu adalah hari pembagian kelompok koas (istilah kami: soulmate koas; koas = coass = coschap = dokter muda), dan saya beserta seluruh teman-teman yang baru saja yudisium sudah harap-harap cemas,
Why?
Karena solmet koas tidak cuma berlaku pada lab pertama saja, tapi juga seterusnya selama 2 tahun kita bakalan terikat satu sama lain di lab yang sama terus,
Solmet koas saya adalah Anis, teman saya dari Malaysia,
Saya pertama kali kenal dia saat kami sama-sama daftar ulang di FKUB, waktu itu sekitar bulan Agustus 2005,
Kami sempat ngobrol beberapa saat waktu itu dan saya (waktu itu) langsung menebak dia berasal dari Malaysia karena logatnya yang sangat berbeda dan kental sekali aksen Melayu-nya,
Selama empat tahun kuliah kami tidak pernah benar-benar berinteraksi satu sama lain, paling-paling hanya saling menyapa tiap kali bertemu di kampus, karena kami juga beda kelas,
Bahkan saat saya clerkship (observer di RS sebelum koas) kami juga tidak pernah sekelompok,
Plus, bahkan saat kita sudah “resmi” menjadi solmet dan menjalani Kepaniteraan Umum (Panum), kami juga tidak pernah sekelompok sama- sekali,
Semua berubah saat kami sama-sama masuk koas,
Waktu itu lab pertama kami adalah Lab Ilmu Penyakit Dalam alias IPD, yang terkenal karena KESANGARANNYA, hehehe…
Seakan belum cukup jackpot, kami berdua ketiban duren jaga di hari pertama pula,
Hahahaha, semalaman*kami nyaris ndak tidur lho (maklum koas hari pertama, masih fisiol dan serba takut, di IPD pula),
Saya masih ingat malam itu saya dan Anis sama-sama saling mbantuin satu sama lain, karena ruangan in charge kami sebelahan,
Saat saya ndak sibuk, saya ‘menjenguk’ Anis, dan sebaliknya,
Perjalanan kami di IPD pun berjalan cukup mulus, dan ikatan antara saya dan Anis sudah mulai terbentuk,
Kami juga sempat menjalani stase luar bersama Zanna (teman saya yang juga dari Malaysia) ke RSUD Wlingi selama seminggu,
Lepas IPD, kami berdua sempat berharap bakal memiliki soulgroup (beberapa pasang solmet yang tetep sama-sama terus labnya selama koas), tapi ternyata kami termasuk salah satu dari sedikit solmet koas yang tidak punya soulgroup,
Saya dan Anis terpisah dari teman-teman saya yang l`in dan nyangsang di Lab THT (Telinga Hidung Tenggorok), sedangkan delapan teman saya lain (yang sebelumnya sama-sama masuk IPD) masuk ke lab-lab lain,
Selama di THT, ada dua orang kakak kelas kami (keduanya solmetan) yang akrab banget satu sama lain satu sama lain, mereka tidak pernah menggunakan nama untuk memanggil solmetnya, melainkan saling memanggil dengan kata “solmet”,
Entah bagaimana saya dan Anis lama-lama ketularan,
Kami pun lama-lama lupa cara memanggil nama satu sama lain dan saling memanggil “solmet” :’)
Perjalanan kami pun berlanjut terus sebagai solmet koas tanpa soulgroup,
IPD-THT-Obgyn-Kulit-Mata-Neuro-Bedah-IKA-Psikiatri-EM-Radiologi-Forensik-PublicHealth-Anestesi-RehabMedik
Awalnya sih, saya merasa kesepian dan sedikit ngiri dengan teman-teman saya yang punya soulgroup, tapi lama kelamaan saya terbiasa share segala sesuatunya dengaan Anis,
Kami belajar saling melindungi dan saling membantu satu sama lain,
Maklum, kami kan cuman berdua diantara arus dunia koas *mulai deh lebai*
Anis itu,
Bisa dibilang rajin, bisa dibilang enggak, hehehe… tapi, kalau mood-nya sedang bagus, dijamin dia bisa jauh lebih rajin daripada saya, terbukti pas IPD dulu, dia bisa maju responsi jauh lebih awal daripada saya,
Anis juga tahu segala sisi dari diri saya,
Rajin malesnya, senang sedihnya, hal-hal yang membuat saya termotivasi maupun demotivasi, dan juga bagaimana caranya membuat saya yang sedih tertawa lagi,
Anis adalah yang ada di samping saya ketika saya kena sebuah masalah di salah satu Lab besar di RS (yang masih membuat saya super sensi kalau lab itu disebut),
Waktu itu saya dan seorang teman saya disalahkan atas kesalahan yang tidak kami lakukan, nilai kami diperosotin ke bawah dan akhirnya saya harus puas dengan nilai C+ (teman saya malah tidak diluluskan),
Waktu itu saya sedih sekali, marah sekali, tapi sebagai koas, saya tahu saya bukan siapa-siapa, dan apapun yang saya proteskan malah dapat semakin menjatuhkan saya,
Anis-lah yang ada di samping saya waktu itu,
Anis juga tahu bahwa saya bukan tipikal yang butuh nasehat mellow saat saya mellow,
Seringkali, dia malah melontarkan joke-joke yang membuat saya ketawa ngakak dan lupa bahwa saya tadinya sedang nyungsep nahan nangis, hahaha XD
Dia memberikan warna lain dalam kehidupan saya, approach yang dia berikan tu aneh tapi mengena di hati,
Seperti saat saya tidak jadi dengan orang yang terlanjur dekat dengan saya (sampe sudah saya kenalin ibu saya di rumah lhoo), saya sedih banget waktu itu, sampai lupa caranya senyum,
Anis dengan santainya bilang, “Ah, lebai kamu wi, cowok tu masih banyak. Ngapain juga kamu sedih gara-gara dia? Percuma itu! Percumaaaa..!!”
Dan, bukannya tambah sedih, saya malah ketawa,
Apa ya yang mbuat saya ketawa? Hmmm… saya juga ndak tahu apa yang bisa membuat saya ketawa dengar kata-katanya waktu itu,
Mungkin karena gesture Anis waktu itu meyakinkan banget jadinya saya tersentuh,
Atau mungkin karena Anis adalah satu-satunya orang yang berkata saya ‘lebai’,
Atau mungkin juga karena logat Anis sudah ketularan logat saya, hahahaha XD
Yupi, logat Anis semakin lama semakin mirip logat saya,
Bahkan, saat kami stase Public Health di Puskesmas Tump*ng, Kabupaten Malang, para perawat disana sempat bilang pada saya, “Mbak Anis itu, seandainya ndak bilang kalau dia orang Malaysia, pasti saya kirain orang Jawa, soalnya logatnya itu lho, sama kayak logat orang sini,”
Saya pun tertawa kecil mendengar hal tersebut,
Anis juga sudah fasih mengucapkan beberapa kata bahasa Jawa sederhana, seperti halnya “monggo,”, “nggih,” dan “maturnuwun,”, walaupun masih agak sedikit kaku kalau bilang “mboten,” (yang membuat saya, Rieza, Adrian dan Anang, yang sama-sama di Puskesmas yang sama, tersenyum ketika dengar),
Anis juga sering sekali telepon lamaaaaaaa banget dengan pacarnya di Malaysia sana, Hafizi namanya, sekarang ini calon suaminya :)
Naaaahhh, kalau pas telepon Hafizi ini nih, logat Malaysia-nya balik 100%, hahahaha XD
Saya pernah dikenalkan dengan Hafizi saat Hafizi main ke Indonesia, dan kami mengajak dia ke Puskesmas,
Jujur ya, menurut saya wajah Anis sama Hafizi itu mirip, cuman mungkin warna kulitnya aja yang agak beda, hehehe :D
Karena sering kemana-mana sama Anis, saya pun lama-lama bisa mengikuti bahasa Malay yang diucapkan Anis dan teman-teman saya yang lain dari Malaysia,
Walaupun saya masih tidak bisa mengucapkannya, tapi saya paham apa yang mereka bicarakan, termasuk yang dibicarakan Anis dengan Hafizi, hehehehe XD
Anis adalah pribadi yang easygoing, dan inilah yang BANYAK menular pada saya,
Semakin lama saya bersama Anis, semakin banyak sifat-sifatnya yang saya adopsi untuk menggantikan pribadi introvert saya,
Sedikit demi sedikit, saya belajar untuk menikmati kehidupan dan segala lika-liku di dalamnya,
Lewat solmet saya ini juga, saya belajar bahwa ada hal-hal yang harus kita khawatirkan, dan ada hal-hal yang harus kita biarkan terjadi dengan sendirinya,
Anis juga menunjukkan pada saya bahwa selalu ada alasan untuk tetap optimis dan tersenyum, walaupun mungkin besok adalah hari pembantaian *nah kan? lebai!*
Saya menjadi pribadi yang ekstrovert seperti sekarang, sedikit banyak (banyak sih sebenarnya) adalah karena saya setiap hari ter-ekspose dengan keberadaan Anis di samping saya,
Jadi, jika ada dua orang yang paling berpengaruh dalam merubah kepribadian saya, itu adalah Ibu saya dan Anis :’)
Ada saat-saat dimana Anis sedih, yaitu saat dia rindu keluarganya di Malaysia,
Beberapa kali dia bercerita pada saya, “Tadi malam aku telepon ibuku, dan aku nangiiiiiiissss…”
Wah kalau sudah seperti itu saya jadi bingung, karena saya tidak tahu apa yang harus saya katakan ke Anis,
Saya tinggal bersama orang tua saya dan setiap hari bertemu mereka, sedangkan Anis, tak hanya terpisah kota, ia juga tinggal di negara yang berbeda dari orang tuanya, sehingga saya selalu merasa bahwa apapun yang saya katakan tidak akan bisa menyamai perasaan Anis saat itu,
Jadi, setiap kali Anis sedih, saya berusaha sebaik saya menjadi pendengar yang baik dan balik melontarkan joke dengan harapan dia bisa tersenyum lagi,
Dua tahun, kami menjalani kehidupan koas kami bersama-sama,
Senang sedih banyak kami lalui sama-sama,
Patol fisiol pernah kami coba sama-sama juga (eh?)
Lapar kenyang juga sudah kami jalani sama-sama,
Kami memahami ritme masing-masing, saat Anis tidak bisa, disitulah saya dengan otomatis mengisi kekurangan tersebut, dan saat saya kolaps, Anis yang ada disitu menggantikan saya,
Ini saya rasakan banget ketika saya di Lab Neuro, juga saat internship di Lab Bedah, dan berlanjut ke lab-lab seterusnya,
Di mana ada Anis, hampir selalu disitulah saya ada, dengan nama panggilan ‘solmeeeettt!!’ satu sama lain, beberapa teman kami bahkan bilang kami adalah salah satu solmet paling mesra yang pernah ada, ahahahahahaha XD
Yah, maklum lah, karena tidak punya soulgroup, kami jadinya terbiasa berdua kemana-mana,
Saya masih ingat saat saya dan Anis nonton film horror (judulnya ‘Kairo’) saat kami sedang jaga di Lab Psiki,
Di sebelah kamko (kamar koas) kami adalah ruang isolasi untuk pasien yang gege (gaduh gelisah), dan si pasien tersebut memang seharian penuh teriak-teriak,
Kami pun tenggelam dalam film horror itu (maklum film horror dari Jepang itu suerem banget dan dibumbui misteri-misteri gitu), dan berkonsentrasi penuh di depan laptop Anis,
Dan tiba-tiba sang hantu muncul di layar,
Saya dan Anis pun teriak bersamaan (baca: screaming in all way possible),
Dan suasana Lab Psiki langsung hening seketika,
Kami pun berpandangan, “Ih solmet, knapa kamu teriak?!”
“Lha kamu juga teriak!”
“kamu kan teriak duluan!”
“enggak kok! Aku teriak karena kaget kamu teriak!”
“masa sih?! enggak ah!”
“iyaaa!!”
Dan kami pun tertawa ngakak bersama-sama,
Entah siapa yang teriak duluan dan mengapa kami teriak, entahlah, mungkin saya teriak kemudian Anis kaget, atau sebaliknya? Hahahahaha XD
Tapi satu hal penting yang kami sadari segera setelah teriak adalah: suasana di Psiki berlanjut hening,
Termasuk pasien gege tadi langsung diam dan tidak teriak-teriak lagi semalaman sampai pagi :p
Yaitu saat wisuda, dimana tempat duduk kami diurutkan menurut IPK kami,
Seakan keajaiban, saya dan Anis duduk sebelahan karena IPK kami cuman beda 0.02,
Solmet kan? Hahahahaha.. solmet sejati banget!!!
Kami pun tertawa ngakak ketika sadar bahwa akhirnya kami masih juga bersama-sama hingga wisuda :’)
Saat Anis pulang ke Malaysia…. …. …. hehe, ah sedih ah yang itu, gak mau cerita!!
*mutung*
Beberapa hari lalu, Anis mengirimi saya message via Facebook, berkata bahwa dia dan Hafizi bakal segera menikah,
Wah, seneng sekali saya denger berita itu, alhamdulillaaahh akhirnya mereka nikah juga,
Saya berharap mudah-mudahan saya bisa datang, mau ngumpulin uang saku dulu, hehehehe :D
Intinya,
Saya bersyukur bertemu dengan Anis, dekat dengan Anis, menjalani waktu bersama Anis,
Saya tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya saya (yang sering kena jackpot buruk selama koas) jika solmet saya bukan dia,
Karena tidak bisa saya pungkiri, bahwa saya survive di koas salah satunya adalah karena solmet saya adalah Anis,
Karena dia selalu ada di samping saya, terus menerus selama 2 tahun,
Karena dia ada, saya bisa tersenyum walaupun jadi koas kadang tidak mudah,
She made me smiled,
And she made me stronger,
Maafin saya ya Anis, kalo saya bukan solmet yang baik dan banyak bergantung sama kamu selama koas :’(
Maaf kalo kadang solmetmu ini egois dan suka moro-moro kebablasan tidur waktu jaga :p
Thanks, for being my friend, one of the best friends I’ve ever had,
Wish this bond will last forever :’)
Love you as always,
Your solmetkoas
NB: eeehh… kok panjang ya ternyata tulisan saya? f(-__-“)
Jumat, 27 Januari 2012
Cinderella Story
Every
story has an untold side, no matter how obvious the storybook’s told the
reader,
Look,
Cinderella’s story isn’t over after being married to a prince,
It’s the starting point, how she adapt to the royal family.
Cinderella might not be happy,
The prince might cheat,
The king might not like her,
The queen might be so cruel,
And no one give a damn,
No one even bother to think of the consequences she has to bear
for jumping into the palace.
Everyone closed the book and make the version of happy ending in
their head.
But, each character of the book, is still walking through an
untold story.
Till when? Who knows…
(inspired by an episode of Kurosagi, a Japanese dorama, that was
once, focusing the story about Cinderella. This very episode is stuck in my
mind, the one and only episode of Kurosagi I remember so clear)
Everyone has their own
story, be it the story they keep for themselves, of the story they share with
other. Compared to the fairy tale about Cinderella, a real person’s story is
like a novel, or rather, a biography. It will be as complicated as it may seem, yet it will also be
very enthralling for some reason.
Lots of people love
fairy tale, yet why don’t lots of people love biography too?
Well, as someone’s life
might be very long or surprisingly short, it contains very much
opinion, complexity of mind and the enigma of heart. Biography readers are
usually only interested by a minor shine of the main character, and soon, lots
of reader will drop the book as it will bore them out.
Everyone is living in a
biography, or rather, everyone is a biography themselves.
There’s no such person
who’s hollow and empty inside. Everyone has a complex story. Everyone has their
hidden story, the untold ones, the secret only them and God who ever
know.
People, created with all
the limitation, tend to see only a part of the “living biography”, read it, try to
understand it, even just a chapter of it, then as the chapter changes, people
contemplate whether to read on or turn the cover close.
Most people close the
cover.
Most people thought one chapter of other’s life is an end, just like the
Cinderella Story. Almost nobody ever think about how Cinderella would be doing
in the palace, jumping from an extreme social status from a worthless maid to a
wife of a prince.
Before I watched
the episode of Kurosagi, I never give it a thought too.
Who cares what happen
to Cinderella after?
Cinderella might be very
happy, because she’s a very kind person. She deserved to be happy.
Good thing if it really
like that, but what if Cinderella’s being bullied soon after she got into the
palace?
Or what if actually she
was the number ten or whichever to be the wife to the prince?
Or what if the prince
actually an old man casting spell to become younger-looking?
Or what if the prince
died because of the war afterward?
Or what if the kingdom
actually is going bankrupt and she, along with the royal family were thrown to
the street?
Or what if Cinderella
herself was actually money-minded, so soon as she got enough wealth she would
run away from the palace?
Or what if actually she
is a spy from another kingdom to attack the royal steadiness?
Or, what if she became
queen but she’s very dumb so she’d ruin her own kingdom because of her stupidity?
Kinda extreme, huh? But
those are some from a million chance for Cinderella story. Maybe soon after you
read this, you straightly have some kind of crazier ideas about Cinderella’s
biography. Am I right?
In fact, as every
chapter ends, new chapter begins. It might be a better story, or a sadder one.
But, it continues on, with or without reader.
Some reader will be
staying, reading carefully, thoroughly.
Rare reader will even
try to read the previous and more previous chapters, to get more understanding. These rare readers are
the one that will be held dear by us, the living biography; people we will
love, people we will nurture with all the attention, compassion and
understanding we have.
As for me..
I’m blessed because I
have them, the rare readers.
They’re people who
understand me as a whole, as me, all of me. They love me, for who I am. They
support me, for who I am. They stand by my side, taking both my arm when I feel
like falling.
Even though I never ever
shed a teardrop in front of them, they’re people who know things behind my
laughter.
They see through all
the strong front and smiling face I have. They’re able to reach me behind all
the happy-go-lucky and i-don't-care-about-it I serve. They see… the
real me…
And that’s why I love
them. That’s why I take their hands and stand strong.
Not because I am myself
a strong person, but because I have them all, strengthening me.
That's enough a reason
to keep going past any unspoken fear and sadness i meet along the way.
My biography, the
complicated and full of untold stories, is already being read by people I love
the most. That’s one most relieving feeling I have; I am not, and never
alone.
And that’s enough, to
make me smile, a real smile…
Thank you, everyone,
Bless me for one last
thing I want to do, before I close this precious, very precious biography I’ve
been reading for three years…
P.S. I am no Cinderella, i don't own Cinderella story nor Kurosagi, but i do own this blog address :p
(January 26th,
2012; 11.25 pm)
pictures:
http://a.dolimg.com/en-US/disneyfans/media/history/movies/cinderella/mov_cinderella_240x240.jpg
http://disney-desktop-wallpaper.com/walt-disney-world/magic-kingdom-cinderella-castle.jpg
http://www.kevinsaysthings.com/wp-content/uploads/2011/07/old-book-6.gif
Kamis, 05 Januari 2012
1st Time: Jaga Ujian
Siang tadi, saya diajak membantu mengawasi ujian Metodologi dari
adik-adik semester V. Ini adalah pengalaman pertama saya ngawasi ujian
mahasiswa S1. Satu kesan awal yang melekat pada kepala saya adalah: ‘LUCU’ XD
Saya dan teman saya yang sama-sama pertama kali jadi pengawas
sama-sama berpendapat demikian.
Segera setelah ujian berjalan, teman saya menghampiri saya sambil
menahan tawa, “Eh ternyata kalo
nyontek tuh kelihatan banget ya…?”
Yang saya tanggapi dengan tawa cekikikan XD
Ternyata memang benar ya, seperti apapun pinternya seseorang itu
nyontek, dosen selalu tahu.
Kapasitas ruang ujian tadi adalah sekitar 80 mahasiswa. Beberapa
mahasiswa berhasil membuat saya tertarik dengan tetap terang-terangan nyontek
di depan pengawas.
Caranya?
Secara vulgar langsung saja dia noleh dan
mencondongkan badan ke teman yang ada di kanannya, bertanya dengan gerakan
bibir yang tidak ditutup-tutupi dan mengangguk-angguk dengan keras setelah
dapat jawabannya, plus dengan segera dia menghitamkan bulatan jawabannya.
Pokoknya gak ada
anggun-anggunnya gitu deh nyonteknya XD
Lebih hebat lagi, padahal saat itu saya sedang berdiri dengan
jarak sekitar dua bangku darinya dan dia tidak ambil pusing dengan keberadaan
saya
f(-__-“)
Minggu, 27 Maret 2011
arti sebuah burger dalam persahabatan
arti sebuah burger bisa bermacam-macam,
sekedar makanan? baiklah...
penuh kalori? tentu saja... saya bisa kenyang seharian walaupun hanya makan satu XD
penuh lemak? yah ada alasan saya tidak suka makan sering2 atau banyak2...
penuh kolesterol? hmmm.... mari kita cari beef low cholesterol XD
tapi bagi saya, burger mengingatkan saya pada sesuatu yang akrab disapa sebagai Krabby Patty,
Krabby Patty adalah semacam burger yang dibuat oleh:
-Spongebob the chef,
-terkadang oleh Patrick,
-dan pernah juga oleh Squidward,
sepanjang serinya selalu disebutkan bahwa Krabby Patty dapat memberikan kebahagiaan bagi mereka yang memakannya,
resep rahasia Krabby Patty selalu jadi rebutan antara Mr.Krab dan Plankton,
saya pernah dapat suatu julukan (sampai sekarang sih...) oleh beberapa teman, yang tak lain tak bukan adalah oknum-oknum yang membuat "Krabby Patty" punya sejuta makna buat saya, mereka menjuluki saya "Sandy", salah seorang tokoh serial Spongebob Squarepants,
arti lain dari sebuah burger yang saya maksud, sesuai judul aneh yang saya buat diatas,
ya,
Krabby Patty adalah dua kata yang membuat saya tahu persis arti kata "persahabatan",
bersama Spongebob, Patrick dan Squidward...
bagi saya, salah satu persahabatan yang paling saya hargai justru berawal dari sebuah burger :)
persahabatan super unik, kalau boleh saya definisikan,
mengapa?
karena semuanya penuh dengan keanehan,
maksud saya, keanehan-keanehan yang seharusnya membuat kami saling membenci, ternyata justru menjadi rantai kuat yang mempersatukan kami,
keanehan paling aneh yang pernah kami alami adalah kami sama-sama punya ambisi yang sama,
kami punya (atau pernah punya) satu keinginan yang sama,
keinginan khusus,
yang tidak boleh dimiliki oleh orang lain,
secara normal,
orang-orang yang punya ambisi khusus semacam itu tidak mungkin justru semakin dekat dan AKRAB oleh saingannya,
tapi anehnya, itulah yang terjadi,
kami justru jadi akrab,
kami malah (tampaknya) tidak ambil pusing dapat tiga saingan sekaligus,
so why if we chase after the same dream?
so why if someday i fail and you succeed?
so why if someday you get your dream and i'm not?
there's only one winner for our same dream, but even so, why?
dan seperti inilah jadinya kami,
kami menuju satu mimpi yang sama,
hanya akan ada satu pemenang, yang entah siapa itu diantara kami,
atau justru tidak ada yang menang sama sekali,
tapi,
kami justru bisa bersahabat,
kami justru bisa saling mendukung,
kami justru bisa saling bercanda,
saling menertawakan satu sama lain,
saling bersanding satu sama lain,
satu hal aneh yang bersifat ikonik pada persahabatan kami adalah,
"kami adalah Spongebob, Sandy, Patrick dan Squidward, dari sebuah tempat bernama Bikini Bottom, tepatnya dari sebuah ruangan kecil disebut Krusty Krab, dimana kami melihat banyak Krabby Patty, dan Plankton yang terus bersaing dengan Mr.Krab"
makna dari sebuah burger yang pada akhirnya dibuat oleh Sandy (saya),
persahabatan bukanlah hal yang bisa dicari,
karena ia akan datang sendiri,
persahabatan bukanlah hal yang bisa ditebak,
karena ia muncul seperti kejutan,
persahabatan adalah serius tapi santai,
karena ia bisa muncul dari hal paling tidak mungkin sejagad,
persahabatan adalah sesuatu yang tak bisa dipaksakan,
ia akan tiba jika waktunya tiba,
persahabatan tak butuh alasan muluk-muluk,
karena ia hanya butuh ketulusan untuk saling menerima,
persahabatan tak harus antara orang-orang yang berlatar belakang sama,
cukup dari orang-orang dengan satu kesamaan saja,
persahabatan tidak akan lekang oleh jaman, tak luntur oleh keadaan,
sekali lahir, persahabatan sejati adalah abadi,
persahabatan tak akan hancur karena cinta,
ia adalah salah satu ikatan tak terputuskan di muka bumi,
walaupun berawal dari sebuah burger,
persahabatan ternyata juga bisa muncul, dan bertahan, diterpa apapun :)
My Little Krabby Patty Family, November 2008
(omg, blur... =___=")
Spongie's Wedding, Maret 2011
(hak cipta Spongie ^^v)
sekedar makanan? baiklah...
penuh kalori? tentu saja... saya bisa kenyang seharian walaupun hanya makan satu XD
penuh lemak? yah ada alasan saya tidak suka makan sering2 atau banyak2...
penuh kolesterol? hmmm.... mari kita cari beef low cholesterol XD
tapi bagi saya, burger mengingatkan saya pada sesuatu yang akrab disapa sebagai Krabby Patty,
Krabby Patty adalah semacam burger yang dibuat oleh:
-Spongebob the chef,
-terkadang oleh Patrick,
-dan pernah juga oleh Squidward,
sepanjang serinya selalu disebutkan bahwa Krabby Patty dapat memberikan kebahagiaan bagi mereka yang memakannya,
resep rahasia Krabby Patty selalu jadi rebutan antara Mr.Krab dan Plankton,
saya pernah dapat suatu julukan (sampai sekarang sih...) oleh beberapa teman, yang tak lain tak bukan adalah oknum-oknum yang membuat "Krabby Patty" punya sejuta makna buat saya, mereka menjuluki saya "Sandy", salah seorang tokoh serial Spongebob Squarepants,
arti lain dari sebuah burger yang saya maksud, sesuai judul aneh yang saya buat diatas,
ya,
Krabby Patty adalah dua kata yang membuat saya tahu persis arti kata "persahabatan",
bersama Spongebob, Patrick dan Squidward...
bagi saya, salah satu persahabatan yang paling saya hargai justru berawal dari sebuah burger :)
persahabatan super unik, kalau boleh saya definisikan,
mengapa?
karena semuanya penuh dengan keanehan,
maksud saya, keanehan-keanehan yang seharusnya membuat kami saling membenci, ternyata justru menjadi rantai kuat yang mempersatukan kami,
keanehan paling aneh yang pernah kami alami adalah kami sama-sama punya ambisi yang sama,
kami punya (atau pernah punya) satu keinginan yang sama,
keinginan khusus,
yang tidak boleh dimiliki oleh orang lain,
secara normal,
orang-orang yang punya ambisi khusus semacam itu tidak mungkin justru semakin dekat dan AKRAB oleh saingannya,
tapi anehnya, itulah yang terjadi,
kami justru jadi akrab,
kami malah (tampaknya) tidak ambil pusing dapat tiga saingan sekaligus,
so why if we chase after the same dream?
so why if someday i fail and you succeed?
so why if someday you get your dream and i'm not?
there's only one winner for our same dream, but even so, why?
dan seperti inilah jadinya kami,
kami menuju satu mimpi yang sama,
hanya akan ada satu pemenang, yang entah siapa itu diantara kami,
atau justru tidak ada yang menang sama sekali,
tapi,
kami justru bisa bersahabat,
kami justru bisa saling mendukung,
kami justru bisa saling bercanda,
saling menertawakan satu sama lain,
saling bersanding satu sama lain,
satu hal aneh yang bersifat ikonik pada persahabatan kami adalah,
"kami adalah Spongebob, Sandy, Patrick dan Squidward, dari sebuah tempat bernama Bikini Bottom, tepatnya dari sebuah ruangan kecil disebut Krusty Krab, dimana kami melihat banyak Krabby Patty, dan Plankton yang terus bersaing dengan Mr.Krab"
makna dari sebuah burger yang pada akhirnya dibuat oleh Sandy (saya),
persahabatan bukanlah hal yang bisa dicari,
karena ia akan datang sendiri,
persahabatan bukanlah hal yang bisa ditebak,
karena ia muncul seperti kejutan,
persahabatan adalah serius tapi santai,
karena ia bisa muncul dari hal paling tidak mungkin sejagad,
persahabatan adalah sesuatu yang tak bisa dipaksakan,
ia akan tiba jika waktunya tiba,
persahabatan tak butuh alasan muluk-muluk,
karena ia hanya butuh ketulusan untuk saling menerima,
persahabatan tak harus antara orang-orang yang berlatar belakang sama,
cukup dari orang-orang dengan satu kesamaan saja,
persahabatan tidak akan lekang oleh jaman, tak luntur oleh keadaan,
sekali lahir, persahabatan sejati adalah abadi,
persahabatan tak akan hancur karena cinta,
ia adalah salah satu ikatan tak terputuskan di muka bumi,
walaupun berawal dari sebuah burger,
persahabatan ternyata juga bisa muncul, dan bertahan, diterpa apapun :)
My Little Krabby Patty Family, November 2008
(omg, blur... =___=")
Spongie's Wedding, Maret 2011
(hak cipta Spongie ^^v)
Rabu, 23 Maret 2011
aku tahu kamu kesepian
kupandangi namanya dalam layar laptopku,
hanya untuk kuucap, "samishi na.." (red. "how lonely"),
aku pertama kali bertemu dengannya bertahun-tahun silam, saat aku masih sangat muda,
bisa dikatakan, kami tumbuh bersama,
bersama-sama mempelajari seluk beluk kehidupan,
ia adalah seorang yang baik,
ia seorang yang tegar,
sangat tegar malah,
ia pantang menyakiti orang lain,
ia rela berkorban, bagi semua orang yg dicintainya,
dan satu hal yang selalu menjadikan aku begitu mengaguminya adalah,
ia selalu tersenyum,
ia adalah seseorang paling murah senyum yang pernah kutahu,
hanya saja,
ia,
in a word: clumsy (saya bingung menerjemahkan 'clumsy' itu seperti apa)
kebaikan hatinya,
kelembutan dirinya,
dan prinsip hidupnya yang takkan menyakiti orang lain,
adalah kelebihannya,
dan kelemahannya,
ia adalah seseorang yang lembut,yang selalu mendasarkan apa yang dia lakukan pada orang lain pada 'apa yang akan terjadi jika aku ada di posisi orang tersebut?'
berkali-kali kudapati ia memilih untuk membiarkan dirinya terluka demi orang lain,
entah sudah berapa ratus kali aku marah padanya,
entah sudah berapa ratus omelan pernah kulontarkan padanya,
aku terus mendorong ia lebih berani mengatakan 'tidak' dan tidak menjadi terlalu baik hati,
bagaimanapun, yang 'terlalu' itu jatuhnya pasti tidak baik, kan?
dan ia pun sedikit demi sedikit berubah,
ia belajar menjadi lebih tegas,
ia belajar jujur pada keinginannya sendiri,
ah, sudahkah aku katakan bahwa ia punya mimpi yang sangat besar?
ia adalah seeorang dengan visi yang jauh kedepan,
ia memiliki banyak sekali minat, dan bakat,
ia telah berkali-kali menginspirasiku menjadi orang yang lebih baik, sedikit demi sedikit
tapi ia tak begitu jujur pada dirinya sendiri,
seperti yang kukatakan, ia lebih baik menyakiti dirinya sendiri,
saat aku berada disampingnya, mungkin aku adalah orang yang paling cerewet atas banyak keputusannya,
aku mungkin adalah orang yang nampak paling suka ikut campur dalam urusannya,
namun bagaimana lagi,
aku seringkali mengkhawatirkannya,
karena di mataku,
ia masih seperti bocah yang bisa begitu saja jatuh kedalam genangan becek saat malam hari yang terang benderang,
walaupun ia sering bersikap lebih dewasa dariku, aku masih seringkali khawatir,
"apakah kau baik-baik saja? ada yang bisa kubantu?" adalah salah satu kalimat yang sering kutanyakan padanya dulu,
dan ia akan menjawab, "tidak apa-apa," atau "it's alright" sambil tersenyum,
sebaliknya,
ia selalu disampingku,
ia selalu menyemangatiku, walaupun jarak semakin terasa jauh,
ia mendampingiku, saat aku sendirian,
ia menghiburku, saat aku sedih,
ia menginspirasiku, saat aku jatuh,
atau setidaknya, ia dulu seperti itu,
waktu merubah segalanya diantara kami,
ia, sahabatku, terjebak diantara dua pilihan yang amat sulit,
diantara cinta,
dan keluarga,
kadang aku merasa, dunia ini tak adil,
mengapa, orang sebaik dia harus memilih hal seperti itu,
mengapa, orang selembut dirinya,
mengapa harus dia?
namun ia masih tersenyum,
ia masih berkata padaku, "semua baik-baik saja,"
sahabatku,
aku tahu seberapa dalam cintamu,
dan seberapa sulitnya bagimu meninggalkan orang yang kau cintai,
dan seberapa sulitnya bagimu menutup masa lalumu,
sahabatku,
hari ini aku berjalan di depan rumahmu,
kubayangkan hari-hari masa kecilmu yang begitu bahagia di tempat itu,
kurasakan kehangatan yang kau dapat dan yang takkan kau tinggalkan,
ia pergi,
menyongsong kehidupannya di tempat yang sama sekali baru,
ditutupnya masa lalunya dengan nyaris tanpa perasaan apapun,
kadang kupikir,
mungkin hatinya terlalu hancur untuk menangis,
mungkin ia terlalu lelah untuk bersedih,
ia meninggalkan semua orang di masa lalunya,
ia korbankan cintanya,
mimpi-mimpi dan harapannya,
demi keluarga yang berarti segala-galanya baginya,
kau tak pernah tahu,
bahwa aku selalu tahu,
aku tahu kamu kesepian...
samishi darou?
hanya untuk kuucap, "samishi na.." (red. "how lonely"),
aku pertama kali bertemu dengannya bertahun-tahun silam, saat aku masih sangat muda,
bisa dikatakan, kami tumbuh bersama,
bersama-sama mempelajari seluk beluk kehidupan,
ia adalah seorang yang baik,
ia seorang yang tegar,
sangat tegar malah,
ia pantang menyakiti orang lain,
ia rela berkorban, bagi semua orang yg dicintainya,
dan satu hal yang selalu menjadikan aku begitu mengaguminya adalah,
ia selalu tersenyum,
ia adalah seseorang paling murah senyum yang pernah kutahu,
hanya saja,
ia,
in a word: clumsy (saya bingung menerjemahkan 'clumsy' itu seperti apa)
kebaikan hatinya,
kelembutan dirinya,
dan prinsip hidupnya yang takkan menyakiti orang lain,
adalah kelebihannya,
dan kelemahannya,
ia adalah seseorang yang lembut,yang selalu mendasarkan apa yang dia lakukan pada orang lain pada 'apa yang akan terjadi jika aku ada di posisi orang tersebut?'
berkali-kali kudapati ia memilih untuk membiarkan dirinya terluka demi orang lain,
entah sudah berapa ratus kali aku marah padanya,
entah sudah berapa ratus omelan pernah kulontarkan padanya,
aku terus mendorong ia lebih berani mengatakan 'tidak' dan tidak menjadi terlalu baik hati,
bagaimanapun, yang 'terlalu' itu jatuhnya pasti tidak baik, kan?
dan ia pun sedikit demi sedikit berubah,
ia belajar menjadi lebih tegas,
ia belajar jujur pada keinginannya sendiri,
ah, sudahkah aku katakan bahwa ia punya mimpi yang sangat besar?
ia adalah seeorang dengan visi yang jauh kedepan,
ia memiliki banyak sekali minat, dan bakat,
ia telah berkali-kali menginspirasiku menjadi orang yang lebih baik, sedikit demi sedikit
tapi ia tak begitu jujur pada dirinya sendiri,
seperti yang kukatakan, ia lebih baik menyakiti dirinya sendiri,
saat aku berada disampingnya, mungkin aku adalah orang yang paling cerewet atas banyak keputusannya,
aku mungkin adalah orang yang nampak paling suka ikut campur dalam urusannya,
namun bagaimana lagi,
aku seringkali mengkhawatirkannya,
karena di mataku,
ia masih seperti bocah yang bisa begitu saja jatuh kedalam genangan becek saat malam hari yang terang benderang,
walaupun ia sering bersikap lebih dewasa dariku, aku masih seringkali khawatir,
"apakah kau baik-baik saja? ada yang bisa kubantu?" adalah salah satu kalimat yang sering kutanyakan padanya dulu,
dan ia akan menjawab, "tidak apa-apa," atau "it's alright" sambil tersenyum,
sebaliknya,
ia selalu disampingku,
ia selalu menyemangatiku, walaupun jarak semakin terasa jauh,
ia mendampingiku, saat aku sendirian,
ia menghiburku, saat aku sedih,
ia menginspirasiku, saat aku jatuh,
atau setidaknya, ia dulu seperti itu,
waktu merubah segalanya diantara kami,
ia, sahabatku, terjebak diantara dua pilihan yang amat sulit,
diantara cinta,
dan keluarga,
kadang aku merasa, dunia ini tak adil,
mengapa, orang sebaik dia harus memilih hal seperti itu,
mengapa, orang selembut dirinya,
mengapa harus dia?
namun ia masih tersenyum,
ia masih berkata padaku, "semua baik-baik saja,"
sahabatku,
aku tahu seberapa dalam cintamu,
dan seberapa sulitnya bagimu meninggalkan orang yang kau cintai,
dan seberapa sulitnya bagimu menutup masa lalumu,
sahabatku,
hari ini aku berjalan di depan rumahmu,
kubayangkan hari-hari masa kecilmu yang begitu bahagia di tempat itu,
kurasakan kehangatan yang kau dapat dan yang takkan kau tinggalkan,
ia pergi,menyongsong kehidupannya di tempat yang sama sekali baru,
ditutupnya masa lalunya dengan nyaris tanpa perasaan apapun,
kadang kupikir,
mungkin hatinya terlalu hancur untuk menangis,
mungkin ia terlalu lelah untuk bersedih,
ia meninggalkan semua orang di masa lalunya,
ia korbankan cintanya,
mimpi-mimpi dan harapannya,
demi keluarga yang berarti segala-galanya baginya,
kau tak pernah tahu,
bahwa aku selalu tahu,
aku tahu kamu kesepian...
samishi darou?
Langganan:
Postingan (Atom)















