Kamis, 02 Juli 2015

Me vs My Lecturer, 2010 vs 2015


"Suatu saat, mahasiswa yang kau bilang ‘bocah’ itu akan dewasa. Ia akan ingat hal baik dan hal buruk yang kamu lakukan, dan percayalah, mahasiswa selalu punya ingatan yang lebih bagus daripada dosennya,” 
-- (ayah saya, 2012)


Hari itu adalah salah satu hari di tahun 2010, saat saya memasuki semester kedua pendidikan profesi di sebuah rumah sakit. Saat itu saya sedang stase di instalasi X, salah satu dari empat instalasi besar di rumah sakit. Saya sekelompok dengan dua orang, yang satu adalah teman seangkatan saya yang berwarga negara Malaysia, dan seorang lagi adalah kakak kelas saya yang juga adalah putra dari kepala instalasi X.

Entah lucky atau out of luck, pembimbing kami bertiga adalah seorang dokter berinisial Z (bukan inisial sebenarnya).

Tugas kami selama stase adalah mengikuti jadwal operasi dan jadwal jaga poli. Karena kami berjumlah tiga orang dan jadwal operasi dan jaga poli seringkali berbenturan, saya dan kedua teman saya sepakat untuk membagi diri dengan urut. Artinya, ada saat dimana saya akan sendirian di ruang operasi, tapi ada kalanya saya akan berdua dengan teman saya di poli, atau sebaliknya.

Insiden itu terjadi saat saya dan teman saya dari Malaysia ini dapat bagian di poli dan kakak kelas saya kebagian jadwal di ruang operasi.

Sore itu, saat saya dan teman saya sedang bersiap untuk jam jaga UGD, kami berdua ditelepon oleh sekretaris dokter Z agar segera menghadap ke beliau. Kami berdua pun segera menuju ruang instalasi untuk menemui beliau dan apa yang terjadi?

Well, singkatnya beliau marah besar pada kami berdua karena pada hari itu tidak ada koas yang hadir di ruang operasi. Beliau berkata bahwa beliau tidak akan meluluskan kami karena beliau menganggap kami tidak patuh aturan. Beliau mengganggap attitude kami sangat buruk dan tidak pantas menjadi dokter, dan seterusnya dan seterusnya.
(saya masih ingat benar lho bagaimana beliau marah ke kami pada hari itu).
Beliau tidak memberikan kami kesempatan untuk membela diri, sampai pada suatu titik, saya dan teman saya akhirnya ‘menjawab’.

Kami menunjukkan ke beliau jadwal kecil yang kami buat bertiga. Jadwal itu menunjukkan dengan jelas bahwa tugas kami hari itu adalah di poli, bukan di ruang operasi.
Kami mengatakan bahwa pada hari itu seharusnya kakak kelas kamilah yang hadir di ruang operasi.

Beliau menyuruh kami memanggil si kakak kelas ini untuk menghadap beliau juga (dan menyalahkan kami kenapa kami tidak memberi tahu kakak kelas ini sekalian untuk menghadap beliau. Saat kami menjawab bahwa sekretarisnya tadi hanya menyebutkan nama kami, beliau makin menyalahkan kami, mengganggap kami menyalahkan orang lain atas kesalahan kami, hahaha :p).
Oke singkat cerita akhirnya kami berhasil menghubungi kakak kelas kami dan ia pun menyusul kami ke ruang dokter Z.

Lalu apa yang terjadi?

Haha,
Call this crazy,
But it was real.

Nada beliau berubah 180 derajad saat kakak kelas saya memasuki ruangan tersebut. Percakapan mereka menjadi sangat friendly dan disertai dengan saling bertanya kabar satu sama lain.

Saat kakak kelas saya bilang bahwa ia ketiduran dan kelewatan jadwal operasi, dokter Z hanya bilang, “Lain kali jangan gitu ya,” dengan intonasi yang sangat berbeda dari yang digunakan beliau pada kami.

What the he?
Jadi, kalau seorang dokter ketiduran dan kelewatan jadwal operasi tuh ndakpapa ya? Heh...
Kayaknya ndakpapa sih, soalnya kan toh itu 'cuma' pasien yang mungkin ndak penting kali ya?
Oh salah,
Kayaknya ndakpapa sih, kan tinggal nyalahin orang lain yang dianggap ndak penting aja kan?
*istigfar* 

At that time, I understood. Ia, kakak kelas kami, adalah seorang kebal hukum yang takkan pernah salah apapun yang terjadi.
Lalu bagaimana nasib saya dan teman saya? Yah, gimana ya... harimau itu selalu lapar, jadi dia pasti akan mencari kambing, walaupun si kambing habis nyemplung aspal dan berubah warna bulu menjadi hitam.

Kejadian itu sangat berbekas dalam hati saya. Sakitnya tuh disini, ahahaha XD (ini ketawa miris).
Itu adalah salah satu potret ketidakadilan yang dapat ditemui di pendidikan profesi. Walaupun saya mengakui, masa-masa pendidikan profesi saya (lepas dari yang itu) adalah masa yang menyenangkan dan sangat bermanfaat, tapi hal-hal seperti itu sesungguhnya adalah hal yang ‘biasa’ terjadi.

Tapi setidaknya, lewat kejadian itu, saya jadi bisa berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya tidak akan menjadi orang seperti dokter Z.

--- Oke flashback selesai.

Hari ini, saya mendapat mandat menjadi ketua komisi pembimbing ujian proposal untuk mahasiswa saya. Sudah lama saya tahu dari mahasiswa yang bersangkutan bahwa partner pembimbing saya adalah dokter Z.
Saya yakin 1000% (saya sadar kok nulis 3 nol) bahwa beliau takkan ingat saya.
Saya juga yakin 10000% bahwa beliau akan menunjukkan attitude yang ‘berbeda’ jika menjadi pembimbing di tingkat preklinik.

Ternyata?

Beliau nampak kaget saat melihat saya masuk ruang ujian. Saya pun bingung mendefinisikan bagaimana model kagetnya. Mungkin kaget karena nama saya mungkin tidak sama dengan wajah saya (nama saya sangat ‘kuno’ bahkan untuk ukuran orang Jawa). Mungkin kaget karena saya dikiranya sudah tua. Mungkin kaget karena merasa pernah melihat saya.

Atau, mungkin kaget karena ingat bahwa saya tak lain dan tak bukan adalah mahasiswa yang menjadi ‘tumbal’ bagi sang putra ketua instalasi di tahun 2010.

Entahlah, hanya beliau dan Yang Di Atas yang tahu.

Prosesi ujian berjalan baik, walaupun beberapa kali beliau justru mengajak saya berbicara padahal mahasiswa saya sedang presentasi. Beliau juga menanyakan saya ditugaskan dimana di fakultas saya, dan saya menganggap pertanyaan itu agak sedikit ‘aneh’, karena tahun ini adalah tahun keempat saya menjadi dosen.
Jauh di dalam hati sebenarnya saya ingin protes agar beliau lebih mendengarkan mahasiswa saya yang sedang presentasi, tapi entah kenapa atas nama sungkan akhirnya saya diam saja.
Bagaimanapun, beliau tetap dosen saya kan?

Kesabaran saya menipis saat sesi tanya jawab berlangsung.
Beliau menanyakan hal-hal yang… okelah memang penting, tapi (seperti dulu beliau tidak memberi kesempatan saya membela diri) beliau tidak memberikan kesempatan pada mahasiswa saya untuk menyampaikan argumentasinya.
Kalau film kartun, sudah muncul vena bersilangan di pelipis saya :p
Entah karena saya punya memori buruk atau karena memang sudah waktunya saya protes, saya akhirnya memotong beliau dan menyampaikan pendapat saya.

Ada emosi yang bercampur pada saat saya menyampaikan pendapat itu.
Ada sekelumit kemarahan disitu.
Ada rasa sakit karena saya kembali teringat bagaimana beliau menyalahkan saya atas hal yang tidak pernah saya lakukan.
Ada rasa tidak ingin kalah.
Ada rasa ingin menunjukkan pada beliau bahwa walaupun saya 20 tahun lebih muda dari beliau, saya bukannya tidak paham dengan apa yang dilakukan mahasiswa saya.

Diatas segalanya,
Saya tidak ingin menjadi orang tidak berdaya yang hanya bisa menerima saat disalahkan oleh beliau seperti diri saya lima tahun lalu.

Saya merasa punya hak untuk mempertahankan mahasiswa saya.
Plus, kayaknya itu juga kewajiban pembimbing deh…

Sampai akhir, adu pendapat kami seimbang.
Beliau tidak mau kalah dan saya juga tidak berniat untuk kalah (padahal kami berdua sama-sama pembimbing, gimana kalo salah satu dari kita penguji ya? Hmmm....)
Meskipun demikian, pada akhirnya sebagai ketua komisi saya harus menyudahi adu argumen tadi karena waktu sudah habis.

Pada dasarnya, sejak dahulu kala,
Saya tidak suka dosen yang tidak menghargai kerja keras mahasiswanya.
Saya tidak suka dosen yang tidak memberikan kesempatan mahasiswanya mempertahankan diri.
Saya tidak suka dosen yang mendominasi segala perbicangan dan merasa pendapatnya paling benar.
Dunia ini luas, semua orang berhak untuk memiliki pendapat.
Yang penting adalah alasan di balik pendapat itu kan?
Bukannya dalam sebuah ujian itu seharusnya mahasiswanya yang dominan menjelaskan?
Kenapa dosen harus sebegitunya mencari kesalahan dari mahasiswanya?
Berilah waktu untuk mereka menjelaskan dan menyampaikan isi pikiran mereka.
Mereka lho juga manusia.
Mereka berpikir.
Mereka mungkin jauh lebih brilian dari kita yang lahir duluan.
Apa sih kelebihan dosen dibandingkan mahasiswa? Hehe, dosen cuma kelebihan usia dibanding mahasiswanya kok..
Saat ujian, mahasiswa akan mencurahkan segalanya disitu.
Hargailah mereka.
Tanyai alasannya, jangan hanya bisa membuat judgement salah dan benar.
Diatas segalanya, mereka akan tumbuh dewasa, bahkan mungkin suatu saat nanti nyawa kita ada di tangan mereka.
Apa sih sulitnya memperlakukan mereka dengan baik?
(Tarik napas panjang….)

Oke itu dasarnya.
Dan ditambah dengan history, jadilah saya tadi memiliki hasrat untuk mengeluarkan sisi wolverine saya, hahahaha :p
Maafkan, saya agak emo hari ini. Sejujurnya saya tidak menyangka akan menjadi se-emo ini karena saya sungguh-sungguh mengira bahwa beliau tidaklah seperti image yang saya punya tentang beliau lima tahun lalu.
Saat ternyata image itu masih benar adanya, well, there goes my self control.

Mahasiswa saya?
Haha, wajahnya jadi kebingungan melihat saya.

Entahlah,
Saya kira hal ini akan berlanjut makin panas nanti saat ujian kompre.

Yah, kadang saya memang marah ke mahasiswa, secara memang ada kok mahasiswa yang ‘saking anehnya jadi nyebelin’, tapi semoga saya bisa selalu ingat untuk menanyai alasan yang dimiliki mahasiswa tersebut sehingga ia melakukan sesuatu yang membuat saya ngambek.

Satu hal yang saya tahu,
Saya harus belajar banyak.
Saya harus bisa lebih paham lagi dengan apa yang saya ajarkan pada mahasiswa saya.
Karena partner pembimbing saya sepertinya tidak berniat untuk memberikan bimbingan. Hanya judgement saja.
(Lhaiya to… beliau jadi pembimbing saja menjudge seperti itu, apalagi kalau jadi penguji? Haha, seems interesting enough :p)

Btw, ini saya ngomelnya panjang amat ya? -__-“
Sudah deh, saya setop disini.
Semoga kedepan saya bisa tetap membimbing dengan baik, dengan atau tanpa beliau.
Dan semoga saya akan selalu ingat bahwa saya tidak pernah mau menjadi dosen seperti beliau.
Amiiinn…


8 komentar:

  1. Sepakat banget ini, ngalamin juga sih... Dulu nya ia adalah rekan dosen, ga nyangka saat ini harus berdampingan menjadi pembimbing. Biasanya sebelum ujian mulai, aku bertanya2, setelah sekian tahun lamanya, apakah karakter beliau akan berubah? Atau masih sama seperti dahulu?

    Suka dg bagian ini,
    Yah, kadang saya memang marah ke mahasiswa, secara memang ada kok mahasiswa yang ‘saking anehnya jadi nyebelin’, tapi semoga saya bisa selalu ingat untuk menanyai alasan yang dimiliki mahasiswa tersebut sehingga ia melakukan sesuatu yang membuat saya ngambek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha iya, kirain sudah berubah, ternyata kok tidak ya, hihihihi :p

      Hapus
  2. makjleb bgt sih tulisan ini, pernah kasus seperti dimarah2in ga jelas untuk bukan kesalahan karena yg satu kebal omelan hahaha #miris ternyata di dunia kerja dimanapun dan apapun sama aja ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya dimanapun sama ternyata, semoga kita bisa lebih bijak ya :|

      Hapus
  3. Saia aj yg cm baca, geregetan apalagi yg ngalamin yak :)
    Harusny beliau sosok yg digugu dan ditiru, eh#usia en pendidikan kdng gak mjamin positifny karakter seseorang.
    He he....tp mmng d dunia ini banyak sosok2 seperti beliau, yg sepertinya butuh pencerahan#eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hasrat ingin lempar sandal, sayang sy pas pake sepatu, ahahaha XD
      Yah, semoga beliau segera disadarkan :|

      Hapus
  4. Mudah-mudahan makin banyak lagi dosen-dosen seperti Mbak, tapi alhamdulillah dosen anis d kampus yg sekarang tipe-tipenya memang ingin mendidik mahasiswanya.

    Jadi ingat pas bimbingan campuran sm mhssw beda univ dengan dosen pembimbing sekarang, beliau nanya, nanti kabarin saya ya, sebelum ujian pengujinya siapa? Saya kok heran waktu mendampingi mahasiswa bimbingan saya,"dosen di Indonesia kejam-kejam ya... seingat saya waktu jadi mahasiswa waktu sidang saya diberi masukan banyak untuk tesis saya." Btw, beliau lulusan durham

    Tapi selama ikut seminar hasil di kampus sekarang notabene dosen pembimbingnya kayak mbak siennra, membantu banget pas sidang. Biasanya agak strict kalo mahasiswanya baru datang bimbingan dekat" injury time. Bisa dibantai. Jehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiinnn... karna pernah mengalami jd mahasiswa yg dapat 'jackpot', jadi berusaha supaya tidak jadi jackpot.

      (Jackpot: kejam bin killer :p)

      Hapus

terima kasih sudah membaca, have a good day!

siennra

Foto saya

I am Enneagram type 7 with ENTP, highly imaginative, lots of flight of ideas, yield many hobbies and skills, and unsurprisingly extraordinary. Yes, why do people even bother to define themselves as ordinary while every soul is downright created as extraordinary? :p