Jumat, 24 Juli 2015

I Envy You


"Wong urip kuwi sawang-sinawang" (Ibu saya, 2013)

Terjemah bebas dari kalimat diatas adalah "orang hidup itu selalu saling mengamati".
Mengamati dalam hal apa? Hmm... dalam segala hal :)

Saat ada orang yang datang ke ruangan (apalagi kalau datangnya saat di dalam ruang sudah penuh orang dan kondisinya sedang serius), kita pasti mengamati.
Saat ada orang yang nyelonong masuk di antrian (apalagi kalau antriannya panjang bin mengular), kita pasti mengamati.

Saat ada orang yang diberitakan di TV bahwa ia 'lupa' membawa serta anaknya masuk mobil dan baru sadar 70 km kemudian, kita pasti mengamati.

Saat ada orang yang dipuja-puji oleh khalayak ramai dalam sebuah acara yang dihadiri para petinggi, kita pasti mengamati.

Saat ada orang yang berhasil dengan mulus mencapai hal yang selama ini kita idam-idamkan, kita pasti mengamati.

Saat ada artis cakep yang main dalam sebuah film yang super duper seru (apalagi kalau dia berperan jadi tokoh utama atau antagonis utama), kita pasti mengamati.

Pertanyaannya adalah,
Apa yang kita amati?

Bukan kali pertama saya mendiskusikan hal ini dengan salah seorang sahabat terdekat saya, yang notabene sudah sejak dulu saling terbuka dengan saya. Kita sesungguhnya bisa dibilang saling 'mengamati' satu sama lain, tapi sudah sejak lama saya dan dia belajar untuk saling terbuka tentang pandangan kita masing-masing, hihihi...
Dasarnya sebenarnya sama, saya memiliki apa yang tidak (atau belum) ia miliki, dan ia memiliki apa yang tidak (atau belum) saya miliki.

Saya sadar bahwa ada beberapa orang yang menganggap saya sangat beruntung.
Sebalilknya, saya juga menganggap beberapa orang jauh lebih beruntung daripada saya.

Kemudian saya menyadari bahwa manusia memang diciptakan dengan memiliki rasa iri dan rasa tidak ingin kalah :p
Setiap orang, walaupun hanya sekali, pasti pernah merasa insecure dengan eksistensi orang lain.

Pertanyaannya adalah,
Apa yang kita lakukan terhadap rasa tersebut?

Mencari-cari keburukan orang lain untuk mengimbangi kebaikannya, itu sih sudah biasa.
Mencari-cari kelemahan orang lain untuk mengimbangi kelemahannya, itu sih sudah biasa.
Mencari-cari backingan orang lain yang (supposedly) menyebabkan ia beruntung, itu sih sudah biasa.


Saya juga pernah, hihihi...
Well, I am not an angel, though yes, sometimes maybe I am a demonic angel XD

Saya rasa tidak mungkin jika kita harus menghapuskan semua hal itu sama sekali dari kepala kita, karena memang manusia tercipta dengan mata, telinga dan sekumpulan saraf yang kita sebut otak.

Saya dan sahabat saya setuju,
Yang penting bukan apa yang kita rasakan, tapi apa yang kita lakukan terhadap perasaan itu.

Kita bisa menjadikannya hal yang justru menyebabkan kita jadi 'tante-tante genit yang kurang kerjaan jadi isinya malah ngobrolin orang' atau kita bisa menjadikannya motivasi agar kita terpacu menjadi lebih baik.
Tapi... motivasi yang didasari karena orang lain biasanya hasilnya pun akan jadi milik orang lain, jadi sepertinya ada satu hal lagi yang ingin saya ajukan,

Bagaimana kalau kita menutup mata sejenak dan menghitung satu demi satu hal yang telah Ia anugerahkan pada kita?

Hitung saja:
kita masih hidup,
masih bernapas,
sempat buka internet,
punya cukup biaya untuk beli paket internet,
tahu cara menemukan blog ini,  
bisa membaca,
tahu apa arti kata 'I Envy You' diatas,
punya jari untuk menggerakkan mouse atau touchpad atau touchscreen,
punya penglihatan yang masih bisa kita andalkan,

masih memiliki cukup saraf untuk berpikir jernih,
hidup di Indonesia, bukan di medan perang,
hidup di jaman ini, bukan jaman penjajahan,
sempat berpuasa saat Ramadhan kemarin,
sempat sampai di hari Idul Fitri kemarin,
memiliki tempat bekerja atau tempat menuntut ilmu,

punya tempat untuk pulang,
ada atap yang melindungi dari hujan,

dan sejumlah anugerah lain yang nampak sepele bagi kita namun berarti segalanya bagi orang lain...
terutama,

Kita masih bisa tersenyum,

'Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?' (Ar-Rahman: 13)

Selalu lebih mudah melihat orang lain daripada melihat pada diri kita sendiri.
Kadang orang lain-lah yang lebih mengerti hal-hal yang harusnya kita syukuri daripada diri kita sendiri.
Jangan khawatir, itu normal kok...
Mungkin, itu adalah cara-Nya untuk mengajak kita berpikir dan melihat kembali ke diri kita masing-masing.

Lalu mensyukuri apa yang kita miliki sebelum merasa kurang dari orang lain.

Count your blessing, not your trouble.



---
Note:
Tulisan ini benar-benar selftalk, tidak bermaksud untuk menyiratkan, menyuratkan, menyaratkan, bahkan menyiretkan keinginan untuk menggurui.

2 komentar:

  1. hehe..pasti kykny, rasa tsb suka nyempil. yg terbaik sih (versi sy lho ya kkkk) nrima diri sendiri sepait appun, itu biasanya lbh menguatkn pertahanan diri#halah ini komen apalah

    BalasHapus
  2. hiraaaa... kangeeennn... #apasih

    kadang lebih mudah ngiri daripada bersyukur sih... :D

    BalasHapus

terima kasih sudah membaca, have a good day!

siennra

Foto saya

I am Enneagram type 7 with ENTP, highly imaginative, lots of flight of ideas, yield many hobbies and skills, and unsurprisingly extraordinary. Yes, why do people even bother to define themselves as ordinary while every soul is downright created as extraordinary? :p