Rabu, 31 Desember 2014

Dreadliest Moment of the Year

Saat perjalanan udara pulang ke Juanda pertengahan bulan Desember.
Jam 8.30 malam, setelah guncangan terlama dan terkeras yang pernah saya alami saat naik pesawat, turunlah hujan dan kilatan petir yang kelihatan dari jendela di sebelah saya.

That... was the very first time I said to myself,
"I want to live,"

Memuakkan menyadari bahwa 'your life is on the edge' tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Ditambah bahwa saya sadar bahwa di bawah kami adalah laut dan saya tahu soal tekanan air walaupun nilai fisika saya maks cuma 70.

Rute yang saya lalui kebetulan adalah rute yang dilalui oleh sebuah maskapai lain yang dikonfirmasi jatuh di akhir Desember.
Saat saya menulis ini, ada rasa empati yang tidak pernah saya rasakan sebelum ini terkait kabar jatuhnya suatu pesawat. Kali ini entah kenapa ada rasa sedih bercampur syukur saat menonton berita di tivi.

Tak berhenti saya bersyukur bahwa saya masih berkesempatan membuat postingan ini, yang artinya saya masih hidup.

Semoga Allah memberikan kemudahan jalan dan pengampunan dosa bagi mereka yang dipanggil-Nya.
Amiiiinn...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih sudah membaca, have a good day!