Jumat, 03 April 2015

Like A Hero

I simply hate people who claim what is not theirs to begin with. Depending on situation, the outcome varies from a simple smile of understanding until a full-blown raging war.


Saya tidak pernah menyangka akan menemukan hal seperti ini lagi. Tanpa saya tutupi saya akan mengatakan ini, seorang pembimbing mencoba untuk mempublikasi hasil kerja mahasiswanya. Wajar? Ya, wajar, kecuali kalau pembimbing ini ngotot jadi penulis pertama. Haha, bahkan si pembimbing ini tidak paham metode penelitian mahasiswa tadi yang memang di luar expertise beliau. Let's be clear, beliau bahkan tak tahu suka duka mahasiswa ini yang pernah gagal dalam penelitiannya dan mengulang dari awal. 

(oke stop, posisi saya disini adalah sama-sama pembimbing dengan pembimbing diatas, bukan mahasiswa, dan saya bukan pembimbing yang minta diletakkan sebagai penulis pertama)

Lalu apa yang terjadi saat mahasiswa ini mengatakan pada saya bahwa pembimbing satunya ingin menjadi penulis pertama? 

Kejadian ini bermula beberapa hari yang lalu saat pembimbing tersebut menghubungi saya dan menanyakan kesediaan saya untuk ikut mempublikasikan hasil kerja mahasiswa saya. Jawaban saya adalah bahwa saya akan ikut keputusan mahasiswa saya, jika ia bersedia maka saya pun tidak keberatan. Sang pembimbing ini mengatakan pada saya bahwa sang mahasiswa bersedia dan akan segera mengirimkan manuskrip ke email saya.

(Note: sang pembimbing ini mengaku sudah menambahi sedikit manuskrip tersebut)

Saat saya menerima manuskrip ke email, let's just say clearly that i began to dislike the advisor right on the spot. Nama beliau berada di nama pertama, nama saya ada di nomor dua, dan nama mahasiswa kami ada di nomor tiga. Kesimpulan saya hanya ada dua: satu, sang pembimbing ini tidak tahu bahwa ada etika dalam penempatan nama author, dua, pembimbing ini sengaja ingin mengambil apa yang bukan haknya.

Ketidakrelaan saya beralasan,
Satu, ide penelitian itu original dari mahasiswa, bukan ide kami sebagai pembimbing.
Dua, seluruh bahan penelitian dan biaya penelitian ditanggung oleh mahasiswa, bukan kami.
Tiga, konsep penelitian disusun oleh mahasiswa.
Empat, bidang penelitian yang diusung adalah bidang infeksi, yang merupakan bidang saya, bukan bidang beliau.
Lima, beliau tidak paham metode penelitian yang sudah dilaksanakan, yang saya buktikan dengan pertanyaan beliau yang 'aneh' saat ujian akhir mahasiswa tersebut, sehingga saya pun mencoba menjelaskan ulang metode penelitian mahasiswa tersebut. 
Enam, beliau tidak pernah banyak mengoreksi isi tulisan mahasiswa. Saya yang justru banyak mengoreksi.
Tujuh, beliau tidak menyaksikan sendiri upaya keras mahasiswa tersebut menyelesaikan penelitiannya.
Delapan, beliau kurang mujur, hahaha (atau sebenarnya mujur) karena berpartner dengan saya yang tidak pernah respek terhadap pencuri ide orang lain.

Saat saya mengkonfrontasi beliau tentang penempatan nama author ini, beliau menjawab bahwa selama ini setahu beliau, mahasiswa selalu ditulis di belakang saat publikasi. 


Which further clears her true form and intention. How many student you have deceived so far?


Dengan tegas saya katakan pada beliau bahwa menurut pengalaman saya beberapa kali publikasi baik nasional maupun internasional, tidak ada yang namanya pembedaan antara pembimbing dan mahasiswa di mata publisher. Semuanya berpangkat sama, peneliti. Dengan tegas pula saya katakan bahwa sangat tidak etis jika pembimbing meminta menjadi penulis pertama hanya karena alasan 'karena saya adalah pembimbing'.

Saya tidak terlalu peduli kalau beliau merasa tertampar, tertohok, terlempar palu, tersayat pisau ataupun terpanggang malu. Saya merasa sangat perlu memberi tahu beliau bahwa inilah prinsip saya dan saya menolak untuk menyamakan prinsip saya dengan prinsip beliau. Saya sadar kok kalau beliau sepuluh tahun lebih senior daripada saya, tapi lha terus so what?

Ini sudah jaman modern, sudah bukan jaman batu dimana senioritas adalah segalanya.
Di depan ilmu pengetahuan, pemegang ide adalah yang ada di baris terdepan. 

Setelah beberapa konfrontasi lainnya, akhirnya beliau pun setuju dengan syarat yang saya ajukan, yaitu mahasiswa kamilah yang menjadi first author, beliau ada di nomor dua, dan saya ada di nomor tiga. Penempatan saya di belakang sendiri juga bukan tanpa alasan. Lebih dari 80% isi penelitian tersebut adalah area expertise saya, maka saya lebih berhak berada di situ daripada beliau.

(Lucunya beliau mengisyaratkan bahwa beliau tidak berkenan diletakkan di nama terakhir, padahal nama terakhir justru lebih keren daripada nama yang ada di tengah)

Kedepan, saya bisa memproyeksikan beberapa hal yang akan terjadi terkait keputusan konfrontasi ini. Mungkin saya akan diblacklist oleh beliau, yang saya tidak terlalu peduli. Yang menjadi pemikiran saya adalah tentang mahasiswa saya yang masih harus menjalani masa profesi bersama beliau.
Mahasiswa saya pernah mengungkapkan rasa khawatir serupa dan sempat bingung karena di sisi lain ia pun tidak bersedia idenya diambil begitu saja.
Mungkin saya bukan orang yang paling tepat mengatakan ini, 
"Lebih baik kita kesulitan saat ini tapi kita tetap berpegang pada prinsip yang benar, jadi kita tidak akan menyesal kedepannya nanti,"

Sejujurnya juga saya bisa mengatakan hal itu karena sedikit refleksi dari yang saya jalani sih. 
Fyi, saya juga pernah menjadi korban pencurian ide dan saya merasakan sendiri bagaimana tidak enak hati yang saya alami saat tahu si pencuri tersebut dipuji atas kerja keras saya, sementara saya sendiri didepak tanpa penghargaan apapun.


I will not let myself steep so low by joining force with someone who steal ideas. I can promise this much.


'Like a hero' adalah komentar seorang teman dekat saya saat saya menceritakan hal ini. Sebenarnya bukan masalah jadi sok pahlawan sih, saya cuma melakukan hal yang saya anggap benar dan sesuai dengan prinsip saya. Saya akan menyesal seumur hidup jika saya diam saja, maka apapun resikonya, saya akan tetap berkeras kepala dalam hal yang satu ini.

Semoga Allah memberikan perlindungan untuk mahasiswa saya ini. Saya tahu ia adalah mahasiswa yang baik dan dia berhak atas semua kemudahan yang bisa ia raih. Semoga saya selalu dijaga pula dari hal-hal seperti itu kedepannya. Amiiinn.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih sudah membaca, have a good day!

siennra

Foto saya

I am Enneagram type 7 with ENTP, highly imaginative, lots of flight of ideas, yield many hobbies and skills, and unsurprisingly extraordinary. Yes, why do people even bother to define themselves as ordinary while every soul is downright created as extraordinary? :p