Senin, 05 Oktober 2015

Jika Anda Bukan Hakim


dreamstime.com
 sometimes it's scary to watch how people easily judge others

Satu hal pertama yang ingin saya tekankan disini adalah saya tidak sedang membicarakan seseorang dengan nama 'Hakim', dan saya masih ingat bahwa saya punya beberapa teman dengan nama 'Hakim', jadi semoga mereka tidak ge er :p

Semua orang di Indonesia (atau dunia ini, dan dunia lain mungkin) tahu bahwa tidak semua hakim adalah hakim yang baik, tapi masih banyak juga kok hakim yang adil dan bijaksana. Sesungguhnya, seperti profesi sebagai 'healer' yang dapat memiliki bentuk macam-macam di dunia ini, maka profesi sebagai 'judge' pun juga dapat muncul sebagai berbagai macam dalam kehidupan ini.

Merasa anda cukup adil dan bijaksana jika nanti jadi hakim? Go read this post with me to find out.

-----------

Ada pepatah yang mengatakan: 

"Orang yang tidak tahu apa-apa biasanya diam. Orang yang sudah tahu persis biasanya diam. Orang yang tahunya hanya sedikit-sedikit biasanya tidak bisa diam. Biasanya,"

Darimana munculnya pepatah itu? Sebenarnya saya lupa pepatah aslinya, hanya saja intinya seperti yang diatas itu. Yang penting intinya sama ndakpapa kan ya? (agak sedikit maksa).

Eniwei,
Ada alasan kenapa hakim harus sekolah. 

Ada alasan kenapa hakim tak hanya harus adil tapi juga harus bijaksana. 

Ada alasan kenapa hakim dan sekian banyak makhluk lain yang berprofesi sebagai pengambil keputusan berdiri dengan satu kaki di surga dan satu kaki di tempat yang bukan surga (monggo diartikan sendiri).

Ada alasan kenapa ayam tidak akan dituduh main hakim sendiri walaupun ada perang antar ras (mungkin ras ayam horen dan ras ayam petelur; apa bedanya horen dan petelur? Ndak ada, itu tadi kan maksudnya perang saudara gitu)

-----------

Oke kita bahas yang pertama (iya, ndak pakai x karena tetangga saya pakai Pertal*te)

Kenapa hakim harus sekolah? Cobalah tanyai teman-teman kita yang bergelar SH, apa sih yang mereka pelajari? Hukum. Ya, mereka belajar di Hukum, mohon jangan hilangkan spasi diantara di dan Hukum. Jangan satukan mereka karena saat ini mereka belum ditakdirkan tanpa spasi.

Teman-teman disana belajar tentang ilmu hukum yang berlaku dalam kehidupan sosial, baik hukum adat, hukum agama, hukum pemerintahan, dan mungkin hukum-hukum lain yang saya tidak tahu. Tapi apa intinya?

Mereka belajar bahwa dalam kehidupan ini ada norma dan aturan. Aturan itu bisa muncul dalam berbagai macam bentuk, dari A sampai Z, mungkin ada teta, miu, beta, alfa, omega tiga, DHA, dan sebagainya. Sebagai catatan, DHA dan omega tiga (katanya sih) sama.

(Lah kenapa ngomongin itu?)

Intinya adalah, 
today's life is all about demand of regularity, and for that, we bear rules and regulation.  
Jadi bukan hal yang aneh jika kemanapun kita pergi, kita pasti ketabrak aturan. 
Jadi bukan hal yang aneh jika untuk menjadi adil kita perlu tahu aturan.
Jadi bukan hal uang aneh jika untuk memberi judgement kita harus tahu aturan.

(baris diatas bukan 'yang' tapi 'uang', saya sengaja)

So, it will be wiser to take a while and ask, why there should be a rule over every little thing?.

-----------

Oke, sekarang yang kedua (jelas ndak pakai x, ngapain pula dikasi x disini?)

Apa tadi?

Oh iya, ada alasan kenapa hakim tidak hanya harus adil tapi juga harus bijaksana. 
Adil saja tidak cukup untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

Apa itu bijaksana? Hmm.. kalau anda coba masukkan ke lubang hidung mbak gugel, anda akan dapat banyak sekali pengertian tentang bijaksana. Di mata saya, orang yang bijak adalah orang yang bisa melihat dan mengambil keputusan yang paling tepat diantara sekian banyak belitan aturan dan tuntutan.

Orang yang bijak takkan mungkin memuaskan semua pihak.
Pasti akan ada yang merasa dirugikan, tapi yang menjadi catatan adalah apakah yang merasa dirugikan ini tadi memang sudah (kasarannya) waktunya dirugikan atau tidak.

Oke, begini, hidup adalah rantai hak dan kewajiban. Dimana ada hak, disitu ada sepatu.

#eh

Tidak semua hak akan terpenuhi di waktu yang sama, dan ada banyak hak manusia di dunia ini yang terbatasi oleh peraturan, regulasi, norma, kaidah, dan sebagainya.

(ini kenapa jadi berat begini ya tulisannya?)

Maksud saya adalah, kita tidak bisa mengharapkan orang yang paling bijak untuk memenuhi keinginan kita. Yuk mari kita coba untuk melihat ke depan kaca, dan ngaca (ya iyalah), apakah kita sudah berhak atas hak yang kita minta? 

Kalau kita ndengerin ego sih jawabannya pasti iya. Coba deh dengerin si egi, dia lebih jujur.

 -----------

Oke sekarang yang ketiga (ya mesti ndak ada x nya lah)

Ada alasan kenapa orang yang kerjanya sebagai pengambil keputusan bakalan memiliki kaki ajaib. Gimana tidak, satu kaki ada di surga, sementara satu kaki ada di tempat yang bukan surga.

Pertanyaan saya adalah:
Kalau kaki mereka ada disana, terus sekarang ini mereka berdiri pake apa?

(poker face)

Menurut saya, satu-satunya alasan kenapa ada yang mengatakan bahwa satu kaki ada di sana yang satu disini itu adalah karena kaki si pengambil keputusan itu hanya dua: kaki kanan, dan, kaki kiri.
Bingung?

Well, kalau mereka punya tiga kaki, pasti si pembuat pepatah akan menambah satu tempat lagi selain surga dan tempat-yang-bukan-surga.

Iya kan? Nyengir aja ndak bayar kok.

Oke serius nih, sadarkah kita bahwa berada di posisi sebagai pengambil keputusan itu gampang-gampang susah. Gampang ditabrak, gampang disalahin, susah dipahami. Singkatnya gampang-gampang susah.

Kadang kita hanya bisa menyalahkan mereka yang membuat keputusan, tapi kita jarang meluangkan sedikit waktu kita untuk mencoba memahami mengapa mereka membuat keputusan semacam itu, pemikiran macam apa yang berjalan diantara sel-sel dalam fungsi luhurnya dan kondisi perasaan macam apa yang ia punya saat ia mengambil keputusan dan segudang hal lain yang tidak akan bisa pahami kecuali kita hidup sebagai dia.

Kecuali kalau dari awal dia memang sudah menunjukkan kemauannya untuk berpihak pada salah satu kaki.

But trust me, everyone has their own reason for their own judgement, so take a little time to respect it, and ask the reason behind it. 

Okelah tidak usah sampai presiden atau pejabat diatas, misalkan itu orang disebelah kita memutuskan untuk membuang sesuatu tidak berwarna dari sistem gastrointestinalnya dan kita pun mendadak kabur karena merasa nyawa kita 'terancam kontaminasi gas beracun'. Don't you worry, saya pun juga akan kabur jika mengalami hal yang sama, hahahaha :D

Tapi bisa jadi, saat kita menyumpah terompahi orang tersebut, dia mungkin bersyukur karena akhirnya sistem gastrointestinalnya menjadi normal kembali.

Well, who knows. Yang diatas ini hanya contoh super ekstrim.

Intinya adalah, cobalah untuk melihat dari sudut pandang orang yang berbeda pendapat dengan kita.
Cobalah untuk melihat dari sudut pandang pembuat keputusan yang kita anggap merugikan kita.

Dan sebaliknya,

Jangan naif, ini bukan band jaman 2000an, ini hidup dan kenyataan.

Jadilah kritis tentang segala hal 'ambigu' yang disampaikan pada orang lain. Pengalaman saya membuktikan bahwa bahkan tidak semua hal yang dikatakan oleh orang yang lebih tua berarti hal yang benar.
Kenapa?
Mungkin karena saya kelewat kritis.
Mungkin karena saya kelewat tidak mau tidak punya pilihan.
Mungkin karena saya tahu bahwa waktu terus berjalan.
Mungkin karena saya tahu bahwa waktu akan membuktikan yang mana yang benar dan mana yang salah.

Jadi, tahan dulu sebelum memberi judgement.
Jangan keburu main hakim sendiri, ketahuilah bahwa hakim itu dapat merupakan nama orang, jadi jangan dipermainkan.

#eh?

Someday, even the most perfectly covered fishbone will be found by the cleverest cat.

(ah, lagi-lagi saya bikin peribahasa sendiri, gomennasai)

-----------

Oke hal keempat (yang tentunya tanpa x, should I really mention it?)

Ada alasan mengapa manusia yang akan disebut main hakim sendiri, bukan ayam, bukan kucing, bukan kupu-kupu, apalagi bakteri (maaf saya memang bersahabat sama mikroskop).

Why?

Karena manusia diciptakan dengan akal.

Gunanya apa? Okelah saya tidak mau jadi penceramah disini, jadi saya akan mengatakan satu hal sederhana:

Buat mikir.

Yep, jangan hanya merasakan dan mengira-ngira. Perasaan itu kadang terlalu subjektif, padahal kadang kita pun perlu predikat dan objek. Kenapa perasaan itu subjektif? Ya karena isi hati kita beda-beda, walaupun saya yakin isi liver kita sama-sama sel Kupffer dan sel hepatosit.

Kalau bakteri, boro--boro punya hati, punya paru-paru aja enggak, makanya dia suka nempel di kita. Jadi jangan khawatir, di hidup ini kita tak pernah sendirian, karena paling tidak kita selalu punya bakteri bersama kita.

(apasih)

Ketahuilah bahwa tak mungkin satu orang selalu benar.
Ketahuilah bahwa tak mungkin satu orang selalu salah.

Setiap individu adalah campuran dari benar dan salah,
dalam tubuhnya ada yin dan yang,
ada chi,
ada id ego dan supergo (dan mungkin ada egi),
ada hak dan kewajiban,
ada pengalaman,
ada ajaran,
ada tekanan,
ada aturan,
dsb,
semua hal diatas akan menjelma menjadi satu hal yang lazimnya kita namai pilihan, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya hidup ini isinya hanya pilihan dan konsekuensi.

(aduh kok berat) f(-___-")

Jadi intinya kita ini bukan ayam, jadi... .... .... er... .... .... (mau bilang 'jadi jangan kayak ayam' tapi kok ndak tega)

(ndak bilang tapi ditulis, jadi kan orang tetep bisa baca)

(sengaja)

Eniwei, tahukah kenapa ayam matanya tidak menghadap ke depan seperti kita? Karena dia hanya diprogram untuk bisa melihat sebelah kanan dan sebelah kiri secara terpisah tapi bersama-sama. Jadi jangan salahkan dia kalau dia suka main keroyokan dan gampang digebah.

Kalau tidak percaya coba deh jadi ayam.

#eh?

Salah satu alasan mengapa kita punya mata yang menghadap depan sesungguhnya adalah karena kita diberi jalan untuk melihat sesuatu secara menyeluruh dari berbagai macam aspek sebelum membuat judgement.

Jangan salah, membuat judgement itu mudah, semudah bernapas.
Yang sulit adalah memiliki kemauan untuk mengumpulkan fakta dan mensintesisnya menjadi landasan sebuah judgement.

Eits, saya tidak bilang bahwa saya ahli membuat judgement, for your information, saya pun menulis ini sambil introspeksi.

Saya juga bukan hakim, btw, hehehe :p

-----------  

Ah, tepat sekali hp saya kehabisan batere karena tethering, hahaha :)

That's it for today, semoga bisa menjadi introspeksi bagi kita semua, terutama saya


4 komentar:

  1. He he...salah fokus, gambarnya itu lho unyu bgt^^
    Wah, sedikit nyelekit lho kkkk...filosofi ayamnya, mg2 gak ad yg kesentil hnya bs melihat dgn cara ayam ngeliat....
    Eh, katanya nih selain perasaan terus pikiran, ad lgi yg lebih tinggi kualitas & posisinya yaitu intuisi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayam itu.... enak kalau dibakar *ketapketip* (mendadak lapar)

      iya sy pernah baca juga tentang intuisi, nah tinggal kita bisa mbedakan itu beneran intuisi atau cuma emosi kita aja ya? hihihi :D

      Hapus
  2. sukaaaa bahasanya
    ngalir banget, meski isinya errrr ... rada buat mikir

    kalau ikutan mikir, emang berasa beratnya
    jadi pengen balik jadi anak2 lagi #IniBecanda
    tapi kalau nggak dipikir, juga nggak enak
    tapi, apapun itu, kita emang harus banyak2 melihat dan mendengar
    karena telinga dan mata ada dua, sementara mulut cuma satu

    BalasHapus
    Balasan
    1. (kemudian menghitungn jumlah telinga dan mata saya)

      hihihi, bener juga ya, mulut cuma satu :D

      kalo saya sih... emang masih anak-anak (nama asli saya berarti 'anak' soalnya :p)

      (maksa)

      Hapus

terima kasih sudah membaca, have a good day!

siennra

Foto saya

I am Enneagram type 7 with ENTP, highly imaginative, lots of flight of ideas, yield many hobbies and skills, and unsurprisingly extraordinary. Yes, why do people even bother to define themselves as ordinary while every soul is downright created as extraordinary? :p