Senin, 03 Juli 2017

I'm female and I don't like pink too much... so?

  

 Others: "As a female, you should like pink! It's feminine, it's soft, it's 'female'!"
Me: shrugged it off and said, "Sorry, are you saying something?"

(Just saying, I'm writing this when suffering from CTS, so sorry for any typos here and there)

Okay, jadi, quote di bawah dua warna itu sudah lama saya dengar, dan selalu saya dengar.
Jadi, er... saya sudah kebal ditanyai begituan, hahaha :'D

I'm a female. You don't believe? Let's have my cell karyotyped!

Bukannya saya tidak suka pink.

Tapi pink adalah warna terakhir yang akan saya pilih.

Why?

Because... why not?

Seorang yang dekat dengan saya pernah mengatakan bahwa kepribadian asli saya terlalu dinamis untuk disandingkan dengan pink, dan saya lebih cocok pakai warna kuning, atau oranye, yang lebih FLARING. 
Mungkin maksud dia saat itu maunya bilang, "Kamu tuh gak ada manis-manisnya!" lol XD

Tbh, ortu saya tidak pernah mengarahkan saya pada preferensi warna tertentu sejak saya lahir.
Saat saya kecil, kata ortu saya, saya memang sudah menunjukkan tanda-tanda 'agak menghindar' dari warna pink, tapi saya suka banget warna merah menyala-nyala layaknya semangat bangsa Indonesia!

Masuk ke usia SD, kata ortu saya, saya mulai suka warna-warna yang lebih 'membumi', seperti biru dan hijau. Kecintaan pada warna merah masih kelihatan, tapi ndak secinta masa kecil sebelum SD.

Masuk SMP, warna biru mulai menjadi preferensi saya. Masuk SMA, saklek sudah, warna biru jadi warna teratas yang saya pilih jika dihadapkan dengan mejikuhibiniu.

Masuk kuliah, saya mulai ngepoin spektrum warna dan menyadari bahwa ada banyak sekali spektrum warna biru. Pilihan spektrum warna favorit saya jatuh ke 'azure' (klik untuk definisi spektrum warna azure), bahkan spektrum warna yang ini saya jadikan warna penutup di 30 Days Writing Challenge tahun 2015 lalu (klik disini untuk menuju ke postingan).

Jadi, basically, pink was never my favorite color to begin with

Why?

Because... why not? Told you, asked you, why not?

Saat ini, OTP warna favorit saya kira-kira seperti ini:
  1. Azure
  2. White
  3. Black
  4. Other colors / shades of color but the four in this list.
  5. Pink

I don't hate pink, but I do raise my eyebrows and/or frown when I see somebody (a female usually) being a fanatic of pink. 
Pink clothes, pink bags, pink purse, pink veil, pink shoes, pink motorcycle, pink car, pink eyes, pink nails, next time maybe they'll brag about pink blood, pink urine or some other pink colored things.

(If I can choose, I like being blue-blooded person since in Indonesia it means I'm a part of royal family :p)

Anyway. Pink is just a color. Blue is just a color.

It is downright hilarious to restrict yourself only for ONE damn color! 

The world is a colorful place.
No color is predetermined for gender.
No color should be forced for a gender.

(Eh, kenapa saya esmosi?) 

I am a female, but I happen to not liking pink as much as other females do.
Because why not?
Seperti layaknya beberapa orang tidak bisa menjelaskan mengapa mereka tidak suka biru dan lebih suka pink, saya juga tidak bisa menjelaskan mengapa saya tidak (seberapa) suka pink dan (jauh) lebih suka biru.

So when someone said to me this: "As a female, you should like pink! It's feminine, it's soft, it's 'female'!"

Ini jawaban saya:

Being feminine does not mean you become a lemper colored in pink. You don't know lemper? Here, check this out.

Being a female means that your gene has X and X alleles. Even if you only have one X allele, nobody can blame you if you wear pink. I said it, pink is just a color. You don't die for being a female with low interest in pink things.

Being soft means that you're graceful enough to put yourselves between people. Not becoming a lemper colored in pink. Oh sorry, I said that already.

So, do I never wear pink?

Hmm... saya pakai baju atau jilbab pink kok dari waktu ke waktu.
Tapi kalau saya pakai baju atau jilbab pink, kemungkinan karena:
  1. Itu seragam
  2. Warnanya lagi match dengan baju atau aksesoris yang pas warnanya pink
  3. Warna lain belum dicuci / diseterika
  4. Itu atas nama 'demi' (jaman koas dulu ada lho dosen senior yang 'hanya' akan ngasi nilai bagus kalau presenternya pake warna pink -____-")

That's all XD

Baiklah, mari kita akhiri postingan ini karena keburu lemper di meja habis digasak.
See you in the next post and thanks for reading :)



---
Note: tulisan ini dibuat sebagai ekspresi diri yang independen, bukan sebagai cara menyudutkan satu atau beberapa atau banyak pihak. Jika anda merasa tersudut, silakan pindah ke tengah, di tengah masih longgar. Terima kasih.

Note: postingan ini disponsori oleh lemper yang lupa saya foto saat menyelesaikan postingan ini. You don't know lemper? Seriously? Here, stare at this picture from Wiki:


2 komentar:

  1. jadi pengen makan lemper wkwkwkwk

    sebenarnya sy juga ga suka pink lbh prefer ke biru, tp entah kenapa kebanyakan kerundung dan bajunya warna pink hahaha #nggak nyambung kan wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya soalnya kita mikirnya, it is just a color, gitu kan? Hihihi...
      Jadi ndak masalah mau pake warna apapun, yang penting cantik :p

      Hapus

terima kasih sudah membaca, have a good day!

siennra

Foto saya

I am Enneagram type 7 with ENTP, highly imaginative, lots of flight of ideas, yield many hobbies and skills, and unsurprisingly extraordinary. Yes, why do people even bother to define themselves as ordinary while every soul is downright created as extraordinary? :p