Selasa, 18 Agustus 2015

Bangkok, Smile to Me


Unpredictability is the charm of future life while wisdom is the charm of past life. 


Apa yang ada di pikiran anda jika saya menyebut kata 'Bangkok'?
Hehe, belum genap dua kali saya kesana, kota ini sudah memberikan makna yang cukup mendalam buat saya.

Kenapa?
Ini ceritanya...

Tahun lalu, 2014, sekitar akhir bulan Mei, ayah dan ibu saya bertolak ke Bangkok. Rencananya memang beliau berdua akan menghabiskan waktu disana selama empat malam.
Karena saya dan adik saya sudah biasa ditinggal oleh beliau berdua, awalnya sih, kami hepi-hepi saja dan mengantar beliau berdua dengan senyam-senyum.

Namun, siapa sangka, belum ada 24 jam sejak beliau berdua tiba disana, terjadilah kudeta militer terhadap PM Shinawatra. See this.

Okelah, saya bukan orang militer, dan saat itu saya juga belum pernah merasakan atmosfer kota Bangkok, jadi separuh diri saya langsung freak out saat mendengar kombinasi dari kata 'kudeta', 'demonstrasi' dan 'pemberlakuan jam malam' di Bangkok.
Okelah, saya mungkin elebe aye, tapi bayangkan sajalah, jika ayah dan ibu kalian sendiri yang sedang ada disana. Can you imagine how it feels like?

Saya makin freak out lagi karena whatsapp saya belum juga terbaca oleh beliau berdua.

Beberapa jam setelah berita kudeta militer itu muncul di tivi, muncullah berita bahwa kondisi kota Bangkok aman terkendali, plus Kemenlu dan KBRI memberikan travel advice mereka bagi WNI yang akan dan sedang berwisata di Bangkok.

Apakah isi travel advice? Sama seperti travel advice yang barusan dikeluarkan pasca bom di Kuil Erawan: 'Kami menghimbau bagi warga negara Indonesia (WNI) untuk tetap berhati-hati dst,'.
Baca lengkapnya disini.

Oke kembali ke ayah dan ibu saya,

Apakah saya terus mendadak tenang gitu saat berita menyampaikan bahwa kondisi sudah aman terkendali? Ya nggak lah T___T
Saya masih freak out, bahkan setelah ibu saya membalas whatsapp saya (yang sudah saya kirim entah berapa jam jauuuuh sebelumnya) bahwa orang-orang sudah mulai keluar bangunan dan mulai beraktivitas, walaupun banyak toko dan usaha lain yang masih tutup.

Mungkin kalau ndak pakai 'walaupun' saya justru lebih tenang.

Mungkin.

Mungkin saja iya.

Tapi lebih mungkin tidak.

Er...

Oh dan sesungguhnya kedua bandara internasional Bangkok sempat ditutup saat kudeta terjadi.
Reaksi saya? Hahaha you know me all too well to say that yes, I freaked out!
Gimana kalau ortu saya tidak bisa pulang?

Alhamdulillah, saya sungguh-sungguh merasa lega saat berita di tivi menyatakan bahwa bandara internasional Suvarnabhumi dibuka tepat beberapa jam sebelum hari berganti ke hari saat orang tua saya dijadwalkan pulang ke Indonesia.
Rasa syukur itu makin lengkap saat akhirnya beliau berdua menelepon saya dengan menggunakan nomor berawalan +62 dan bilang, 'Nduk, kita sudah di Soeta,'

Rasanya?
Seperti balon kempes yang bahagia. Bayangkan saja gimana.

Jadi... kurang lebih saya jadi reminiscence saat membaca travel advice lagi hari ini.
Saya masih jengah saat mencoba mengingat perasaan saya saat saya tidak bisa menjangkau ayah dan ibu saya.
Er... yah, begitulah...

Pengalaman itu lumayan 'berlanjut' saat saya akhirnya berkesempatan berangkat ke Bangkok bersama delegasi fakultas saya untuk mengikuti olimpiade di salah satu universitas disana di awal tahun 2015 ini.
Setelah dua insiden cukup mengerikan saat keberangkatan saya kesana (satu insiden membuat saya trauma naik pesawat berinisial AA dan satu lagi melibatkan berubahnya kode koper saya sesampainya kami di bandara Don Mueang #YouKnowWhatIMean) akhirnya saya sampai juga disana.

Kesan saya?

Satu. Hmm... mirip banget sama Indonesia, ribetnya hampir mirip kayak Jakarta tapi orang-orangnya pada ndak ngefans sama klakson :p
Coba kalau Indonesia? I love klakson dong, hehehe XD

Dua. Buset kabelnya ndak pernah dicukur -___-"

Tiga. Ini kenapa taksinya banyak yang warna pink? *mukaserius*

Awalnya saya dan delegasi Indonesia yang lain-lain menikmati sekali momen saat kita ketemu satu sama lain sambil merasa aneh bahwa kita semua sesungguhnya sungguh-sungguh berasal dari Sabang sampai Merauke tapi ketemunya malah bukan di negara sendiri.
Plus saya (kami, lebih tepatnya) akhirnya membuktikan hipotesis kami bahwa keranjingan foto and selfie orang Indonesia sungguh secara legendaris tak tertandingi oleh negara manapun :p

Lalu saat kami yang dari Jawa berniat mengomentari sesuatu, kami pun menggunakan kromo inggil agar supaya tak ada orang yang tahu maksud kami, hihihi... XD

Intinya, kita enjoy sekali disana.

Lalu... meledaklah sebuah bom di salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota Bangkok... see this.

Dua hal,

Satu. Saya hampir saja berangkat kesana, untunglah seorang teman saya berhasil menyeret saya ke tempat lain.
Dua. Seorang teman saya dari Sulawesi baru saja keluar tidak sampai satu jam dari mall tersebut saat ledakan terjadi.

Reaksi saya?
Mangap.

Insiden bom yang itu tampaknya tidak terlalu besar dan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka sehingga saya tidak sempat melihat beritanya di tipi Indonesia sepulangnya saya dari sana.
Dan juga orang tua saya nampaknya tidak seheboh saya saat beliau berdua terjebak suasana kudeta di Bangkok.


Tapi kemudian saya sadar bahwa sebenarnya bom itu tetaplah bom dan sepertinya itu adalah bagian dari konspirasi sesuatu untuk membuat kacau sesuatu sehingga sesuatu akan menjadi sesuatu.
Tahu kan maksudnya?
Saya bersyukur masa satu minggu saya disana terlewati dengan aman dana tentram, walaupun sempat mengalami reschedule pesawat dari Soeta ke Juanda karena Juanda ditutup, sempat menyaksikan sedikitnya 40 kilat dari jendela pesawat saya, plus ransel saya sempat kecantol di rel x-ray dan dikira hilang sampai salah seorang delegasi saya nyaris adu jotos dengan sekuriti.

Well, what an experience =____="

Ada rasa khawatir tersendiri saat saya sadar bahwa saya akan kembali kesana dalam waktu dekat ini.

Apakah semua akan baik-baik saja?
Secara hari ini saya bangun jam 1 pagi saat teman saya mengatakan, 'Eh, Bangkok dibom lagi lho...'
Sip banget, teman saya yang satu ini membuat saya lumayan kepikiran.
Walaupun akhirnya beliau juga yang meralat-ralat sendiri dan bilang, 'Santai aja, semua bakal baik-baik saja kok...'

'Tapi kan aku belum nikah....'

Dan saya bisa membayangkan teman saya itu tepok jidat saat membaca whatsapp saya, hahahahaha XD

Dear Bangkok, smile to me this time, okay? Let me know your real charm and beauty, though I do wish that your people can speak English even just a liiiiiiiiiittle bit more :p

kiri atas: taksi pinky; kanan atas: spiderweb?; kiri bawah: Chao Praya; kanan bawah: sebuah kuil di salah satu rumah sakit di Bangkok.

4 komentar:

  1. He he...iya ya, lumayan sering insiden bom di sana, kudeta militernya jg.
    Tp aman kan pas skrng kesono :)

    BalasHapus
  2. alhamdulillah kemarin waktu ke Bangkok, kondisinya aman, tapi venuenya dipindah, dari yang awalnya dua lokasi jadi cuman satu lokasi,
    trus ada warning dari pihak hotel dan panitia acara untuk keluar melebihi jam malam dan permohonan untuk menghindari tempat keramaian,
    plus, mall sudah mulai banyak yang tutup setelah jam 7.30 pm, jadi kurang puas belanjanya,

    #eh

    tapi ini sudah jauuuuuhhh lebih menyenangkan daripada pengalaman saya pas pertama kesana dulu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk 'tidak' keluar.

      tidaknya ilang :p

      Hapus
    2. Lumayanlah msh bs belanja he he...me ski that as waktu.
      Kyknya kondisi bangkok sering g terduga gtu, syukurlah klo msh menyenangkan ^^

      Hapus

terima kasih sudah membaca, have a good day!

siennra

Foto saya

I am Enneagram type 7 with ENTP, highly imaginative, lots of flight of ideas, yield many hobbies and skills, and unsurprisingly extraordinary. Yes, why do people even bother to define themselves as ordinary while every soul is downright created as extraordinary? :p