Selasa, 20 Desember 2011

oleh-oleh dari Solo

sebenarnya ada yang sedikir salah dengan judul diatas, soalnya kita tidak jalan kemana-mana selama di Solo, justru kita perginya ke Jogja...
tapi ya sudah deh :p


jadi, saya memutuskan berangkat ke Solo sejak bulan November, dengan menggandeng dua sahabat saya, Uul dan Adrian,
maka hari itupun kami berkumpul di pool Ro*alia Indah di daerah Bunul Malang pada jam 9 pagi,
saya duduk sebelahan dengan Uul, di belakang sopir (seat yang sudah saya pesan sejak seminggu sebelumnya..)
bang Adrian
kurang beruntung, ndak dapat depan, dan harus puas duduk di urutan kedua di belakang Uul,


ini masih di Malang

ini Terminal Tamanan Kediri

bis kami berangkat jam 9.15 menit, menuju Solo,
yey.. ngeng ngeeeeng... >.<"

saya bayangkan, bahwa nanti skeitar jam 5 sore, harusnya saya sudah sampai,
kenapa?
saya sudah cukup sering ke Solo, dan biasanya saya memerlukan waktu 7 jam untuk sampai ke Solo dari kota Malang,

buat yang belum pernah atau ndak hapal rutenya, kira2 sperti ini: Malang >> Blitar >> Kediri (Terminal Baru) >> Nganjuk >> Saradan >> Caruban >> Alas Suryo >> Ngawi >> Sragen >> Karanganyar >> Solo 
ini saya ambil di Jl Raya Ngawi-Solo
ini candi yang bisa kita temui dekat
gerbang masuk Jawa Tengah






sesuai nama kota saya, nasib saya sedang agak malang karena perjalanan kami diuji,
masuk daerah Blitar, entah bagaimana banyak kemacetan disana-sini,
selidik punya selidik, ternyata emang bisnya beberapa kali lewat masjid, padahal hari itu kan hari Jumat dan waktunya waktu pasca sholat Jumat,
yo mesthi ae -__-"

lepas blitar, bis melaju hingga Saradan, saat bis kami terhenti lagi,
kali
ini merayap pelan-pelan,
setelah beberapa meter maju kedepan, ternyata ada kecelakaan,
sudah dibersihkan sih sisa-sisanya, tapi masih kelihatan pak polisi pak polisi yang seliweran dan penduduk yang nginceng nginceng,
"
ooo.. makane macet.." komentar kami,

lepas Saradan, masuk ke Ngawi, bis kami melambat lagi,
kali
ini mandeg total dan lumayan suwiiii -___-"
setelah mulai berjalan pelan pelan, kami bisa lihat kalau ada truk terguling di belokan, menimpa pohon sampai rencek,
dan banyak orang pun mulai berbincang-bincang membicarakan apa saja kira-kira yang menyebabkan tergulingnya truk tersebut dan bagaimana nasib orang-orang di dalamnya,
saat masuk ke Sragen, kejadian diatas terulang,
ada truk pembawa kayu yang terguling, juga di belokan,
dan pak sopir di depan kami pun berkelakar, "halah nek kayu se yo enteng," (kalau cuma kayu sih enteng...)
dan kami pun mengomentari, "menawi kayu namung setunggal nggih enteng pak, lha niku sakgebok e...." (kalau kayunya cuma satu tidak apa-apa, tapi ini setumpuk kayu lho pak...)
saat itu sudah pukul5 sore, dan kami sadar kalau perjalanan kamii molor setidaknya 2 jam perjalanan ToT

belum selesai disitu, saat meninggalkan Palur (pusat Pool Ro*alia Solo) pun, ada satu kecelakaan lagi,
haduuuuh, jadi cerita tentang kecelakaan dong ini  kalau diteruskan.. -__-"
ganti...

intinya kami sampai di rumah ndoro putri kami kali ini, Ela, di Banyuanyar, Solo pada pukul setengah 7 malam,
di rumah Ela, ia dan ajudan putrinya, Wati, sudah menunggu kedatangan kami,
hmmm...
ini perjalanan Malang Solo terpanjang yang pernah saya tempuh -___-"

tapi baiklah, kami pun memutuskan untuk istirahat saja malam itu,

tapi,
namanya juga empat orang cewek ditaruh bubuk di satu kamar, maka yang jadi adalah kita nggosip selama setidaknyan sejam lebih 30 menit sebelum masing-masing dari kami tertidur,
apa isi gosipnya?
hehehe.. :p
ada deh...


nasi liwet
hari kedua, kesepakatan yang terbuat adalah pergi ke Jogja,
tapi sebelumnya sarapan dulu,
kita jalan-jalan di sepanjang Jl Mataram Solo, beli liwet,
hmm... saya suka nasi liwet, soalnya rasanya unik, 
tapi, kalau boleh milih sih, saya lebih suka timlo,
sebenarnya pingin juga sih makan timlo lagi, tapi penjual timlo favorit saya jualannya di Jl Sugiyopranoto Solo (dekat Mangkunegaran), jauh dari tempat kami nginep,
jadi sudahlah,
save for next time :)




tumbas liwet dulu buat sarapan :)
maka berangkatlah kami ke Stasiun Balapan, beli tiket Pramex buat lima orang (kalau kata Ela sih, Paramex, dan dengan pedenya berkata, "Pak mau beli tiket Paramex," yang langsung diikuti tawa ngakak kami..)


sembari menunggu datangnya kereta P(a)ramex tersebut, kami (seperti halnya turis-turis lain) masih sempat-sempat foto-foto dulu di stasiunseakan tidak peduli sama apapun itu kata orang tentang segerombolan wong ndeso yang gak pernah liyat peron dan berlaku lebai -__-"

saya baru pertama kali naik kereta Pramex ini, model keretanya kaya kereta-kereta di Jepang sana,

(denger-denger sih, emang 'hibah' dari Negeri Sakura sana)
unik, tempat duduknya di samping kanan kiri, jadi ndak hadap kedepan,
plus, ada pegangan khusus tangan (yah... masa kaki.. -__-") buat yang ga dapat tempat duduk,
dan juga, ada gerbong khusus perempuan, yang dijaga satpam khusus, sehingga isinya benar-benar kaum hawa (kecuali satpamnya yang kaum adam :p)


interior Pramex
saat kereta datang...
waahahaha, ini seru (maklum saya jarang naik kereta),kami harus spekulasi di titik mana pintu kereta bakal terbuka,
kalau salah spot, bisa-bisa ndak kebagian tempat duduk,
maka begitu kereta memelankan laju, kami (dan juga sebagian besar orang di sekitar kami) bersahut-sahutan tentang pintu dan gerbong,
beruntung, pintu berhenti di depan spot Ela dan Adrian, sehingga dua makhluk tersebut bisa langsung menyerbu kedalam,
bodonya kami (karena itu pertama kali kami naik Pramex), kami ngambil reserved seat yang aslinya dikhususkan buat penderita cacat, lansia, bumil, ataupun orang tua dengan anaknya...
maka kami pun berdoa supaya ndak ada yang mengusir kami dari situ, hehehehe XD

kami pun mencoba duduk senyaman mungkin di seat mungil yang kami bagi buat berlima, mungkin panjang seat yang kami tempati itu cuma sekitar satu meter, jadi kami berusaha menjaga agak bokong kami tidak melebihi 20cm XD

sirkulasi udara menurut saya awalnya cukup pengap,
dan setelah mendongak keatas saya sadar kalau jendelanya belum dibuka,
maka saya mencoba beberapa manuver membuka jendela kereta Pramex, mulai dari sekedar ngangkat jendela keatas dari satu sisi, dua sisi, sampe akhirnya saya termenung memandangi jendela seat seberang yang bisa terbuka,
sementara Uul yang duduk di sebelah kiri saya sudah ndak kooperatif, et causa GCSnya sudah menurun drastis sejak masuk kereta,
saya coba sekali lagi membuka jendela dan alhasil tangan saya nyaris kecepit jendela -___-"
mau bertanya pada sebelah kanan saya juga tidak mungkin, kenapa? karena sebelah saya itu tembok gerbong -__-"
atau dengan kata lain, emang saya nyepit di pojokan gitu -___-"

sebel,
saya pun berdiri, mencoba membuka lagi jendela diatas kami,
dan saat itulah Adrian yang sedari tadi terbius di alam gosip bersama Ela dan Wati menunjukkan saya cara membuka jendela yang benar,
ternyata, ada slot kecil yang harus digeser supaya jendelanya ndak mrusut lagi,

*
bodoooo... kok gak keliatan slot-nya sih..? -___-"*


kereta api Pramex nih..
bukan Paramex :p
sampailah kami di Stasiun Tugu, ujung Malioboro Jogja,
disinilah kami sudah membuat kesalahan konyol,
apakah itu?
karena kami berjalan ke arah sebaliknya dari arah ke Malioboro padahal kami hendak ke Malioboro,
-___-"
kenapa bisa demikian,
hehehehe.. (gak tega bilangnya :p)


untungnya kami akhirnya sadar dan berjalan ke arah yang benar,
yupi, Malioboro :D


kami berjalan sepanjang Malioboro dan akhirnya sampai di Pasar Beringharjo,
tapi stamina kami nampaknya sudah meleleh karena panas yang (bagi kami) luar biasa sekali,
(maklum, kami kan 'pinguin' alias 'pinghuni daerah dingin')
akhirnya kami metu dari pasar dan ngadem di Ramayana, ahahahahahaha XD
dodol banget sih, ke Jogja akhir-akhirnya njujug ke mall,
-___-"
pinguin :p
etapi ada untungnya juga, hehehe, saya jadi dapat oleh-oleh spesial buat sahabat saya lhoo disini..
lumayan lah :)


oiya, kami juga sempat makan gudeg di Malioboro, di Jl Dagen tepatnya,
penjual kaki lima, dan rame banget,
serunya adalah ketika ada mbak-mbak (eh apa mas mas ya..?) yang datang menghampiri dari satu kios ke kios lain sambil menyanyikan hits Alam*t Palsu ditemani genjreng dan senyum lebar,
euuu... no offense, tapi kita sempet merinding juga -__-"


dan ketika sampai di tempat kami, Adrian buru-buru ngasi duit,
maksudnya si supaya mbaknya (eh, masnya..) cepet pergi,
emang pergi sih, tapi dengan sedikit pujian buat Adrian, "duuuuhh... makasiiii sayangkuu.."
egh... lagi, no offense, tapi saya merinding hanya dengan mengingatnya saja,
alhamdulillah yah, itu ndak mengganggu nafsu makan saya (maklum laper..)


kalau boleh memberi masukan,
ada mbah penjual gudeg yang uenyaaak banget di Jogja,
tapi beliaunya jualannya pagi, skitar jam 5-7 pagi, di depan hotel Grace, dekat Malioboro Jogja,
saya lupa nama jalannya,
tapi gudeg mbah itu uenaaakk banget, gudeg terenak yang pernah saya makan,
sempet pingin maem gudeg mbahnya lagi tapi karena kita sampai Jogja sudah siang jadi beliaunya pastinya sudah ndak jual,
selain itu, saya juga ndak tau mbahnya masih sugeng atau tidak... semoga saja masih... :')


bakpia pathok ini
next stop adalah kita pingin cari bakpia,
dan akhirnya kita memutuskan buat naik 'kereta',
'kereta' disini bukan kereta api, tapi semacam andong,
hanya saja, 'kereta' itu rodanya ada 4, kalau andong rodanya cuman 2,
dan 'kereta' ini salah satu ciri khas Jogja lhoo...
saya beruntung (dengan sedikit maksa) karena saya bisa duduk di depan :D
*ku duduk disamping pak kusir yang sedan bekerja, mengendarai kuda supaya baik jalannya*


kereta di Jogja
kalau boleh berpendapat,
saya sudah mencoba banyak sekali macam bakpia Jogja, 
ada satu toko bakpia di Jl Dagen (di dekat Malioboro), namanya Bakpia Djo*ja, itu bakpia terenak kalau menurut saya,
rasanya pas, ndak terlalu manis,
dan teksturnya lembut, pas banget pokoknya,
sayang sekali, kali ini saya ndak bisa kesana, karena abang keretanya ndak tau tempatnya,
tapi,
sebenarnya,
di Jogja itu memang ada semacam jaringan khusus antara becak/kereta dan toko bakpia,
masing masing pemilik becak/kereta sudah punya semacam 'perjanjian' nantinya wisatawannya bakal dibawa kemana,
jadi, biasanya becak/kereta tidak bisa direquest buat ke toko bakpia tertentu (atau mungkin bisa tapi saya belum berhasil...)


dan kami pun pulang ke Solo :D
alhasil, malam itu pun berlalu tanpa penggosipan di kasur,
sebagai gantinya, saya mendapat bonus tangan-gdebuk-di-wajah dari teman sekasur saya :p


hari ketiga, hari terakhir kami di Solo,
kami punya acara serius hari ini, yaitu seminar Wound Healing di Hotel Sunan, Solo,
satu hal pertama yang menonjol yang saya langsung sadari adalah, "woooww... PDDMnya acara ini keren abis..."
(maklum saya mantan PDDMer sejati. PDDM: publikasi dokumentasi dekorasi multimedia)
sayang saya lupa ndak motret tempatnya,
tapi dengan balutan warna dominan ungu, keren banget pokoknya...


dan kemudian kami pulang ke rumah Ela pada sore hari,
dan main badminton, hahahaha XD
dan menyangsangkan kok ke unreachable place  (bukan saya lhoo..)

dan menghabiskan waktu saling bercerita tentang hidup dan kehidupan (baca: sesi curhat),


jam10 malam, travel kami menjemput, dan kami pun memulai perjalanan kembali ke Malang,
keren sekali saya, karena dalam waktu tidak sampai sejam, saya sudah tidak tahu apa yang terjadi di sekitar saya, tiba-tiba saja sudah jam 1 pagi dan kami dibangunkan untuk transit sebentar di sebuah warung makan, 


selesai transit, saya mulai tidak bisa tidur,
segala macam yang terjadi selama tiga hari ini berputar kembali di benak saya,
tiga hari kembali menjadi pribadi yang melepaskan segala beban kehidupan untuk sementara dan meniatkan khususon untuk berlibur,
dan hari itu saya kembali ke kenyataan, kembali ke dunia sebenarnya,


sesuatu memang terasa kurang dari kunjungan saya ke Solo kali ini,


karena saya tidak bisa bertemu dengan pak timlo di Sugiyopranoto itu.. *dilempar sandal sama Ela, hehehehe, becanda Jeng...*


juga karena kami tidak berkesempatan bertandang ke PGS (pusat grosir solo), tempat favorit ibu saya buat belanja batik (murah lhoo... hehehehe :p)


dan terutama karena saya tidak lagi jalan-jalan di sekitar Mangkunegaran saat pagi tiba (saya cukup sering nyelinap masuk kalau pas pagi :p)


tapi kali ini saya datang kesana memang tidak bersama keluarga saya seperti biasanya,
saya kesana bersama sahabat-sahabat saya, dan ini merupakan kepuasan sendiri yang bisa menggantikan segala hal yang tidak bisa saya dapatkan dari kunjungan saya ke Solo kali ini..


lepas dari mimpi dan balutan kenangan yang kental menyelimuti setiap langkah saya di kota Solo (dan Jogja), saya kembali pada rutinitas dan kenyataan di kota Malang,




tiga hari yang singkat,
tapi penuh makna,
kapan-kapan...
hmmm... kemana lagi ya? hehehehe XD
tapi kalau ada yang mau ajak saya ke Solo-Jogja, saya mau banget lhoo :p

semoga kesampaian, amiiinn :)


thanks for Uul Adrian Wati, for all the laughter and crazy things we shared :p
special thanks for Ela, thankyou sooooo much for giving us shelter for three days :')


pictures taken from: my personal collection, solopos.com, torinuariza.blog.uns.ac.id, tourjogja.com, lh3.ggpht.com, emperor-penguin.com
(maaf saya sering keasyikan main jadi lupa ga foto2 :p)

2 komentar:

  1. kok ga ada foto ela nya sama sekali, hoho..
    Btw, pasti salah satu hal yang digosipin malem2 itu aku, haha, abis tiba2 stat blog langsung melonjak, haha

    BalasHapus
  2. iya ya mar, kok gak ada ya fotonya ela?
    *baru sadar*

    emang waktu itu kita lagi ngomongin blogger2 dari anak 2005 juga, hehehe, ya maklum lah kalo kamu juga kecipratan XD

    BalasHapus

terima kasih sudah membaca, have a good day!