uniqueinfinities.wordpress.com |
Quest 4: Ignorance is bliss, not bless. Sejak kapan ‘selalu merasa benar’ bakal membawa berkah?
Yep, sejak
kapan ketidakpedulian bakal membawa berkah?
Ketidakpedulianmu
terhadap orang lain, lebih tepatnya.
Kau yang
lebih peduli dengan image-mu di mata
orang-orang yang tak setiap hari kau temui. Kau tinggikan dirimu diantara
orang-orang yang nyaris tak tahu apapun tentang dirimu.
Oh? Kau
bilang mereka paham dirimu?
Kurasa tidak,
karena kalau mereka paham, mereka akan banyak mengingatkanmu, seperti kami.
Kau nikmati
rasa hormat dan penghargaan yang tinggi dari orang yang tak tahu seperti apa
sebenarnya dirimu.
Apa? Jadi kau
juga menghormati mereka?
Oh please, I’ve laughed too much today.
Bagimu yang
penting adalah image. Bagimu yang
penting adalah tampil sempurna di persepsi orang yang hampir tak
pernah kau temui.
Bagimu yang
penting adalah kebenaran. Uniknya, hanya kebenaran milikmu-lah yang kau akui
benar.
Tidak?
Oh, ayolah,
aku yang disini-lah (dan sejumlah besar orang yang sering kau temui) yang bisa
melihatnya sejelas siang, bukan dirimu yang terbutakan oleh waham kebesaran
yang berkabut di sudut pikiranmu.
Kau melupakan
satu hal penting: menjaga perasaan orang lain.
Ya, ya, aku
selalu dengar kau bilang bahwa mereka takkan mempermasalahkan.
Oke, tapi
apakah itu berarti kau bisa seenaknya? Kau njaga perasaan atau ngetes?
Kau lupa
bahwa ada azas saling memberi saling menerima di dunia ini.
Kau lupa
bahwa kau tak bisa hanya meminta orang lain memahamimu tanpa KAU SENDIRI juga
mencoba memahami orang lain.
Kau lupa
bahwa kau tak bisa sekedar hidup di duniamu sendiri tanpa menjadi orang yang
baik di mata (bukan persepsi) orang yang sering kau temui.
Tahukah kamu,
lebih terhormat membuat orang lain tertawa bersamamu, bukan menertawakanmu,
karena ketidaksinkronan diri aslimu dan image
yang kau buat.
Lebih
tepatnya, bahkan imagemu pun sangat
paradoksal, jika orang lain mau mengamati dengan seksama.
Kau lupa bahwa
kau juga manusia.
Kau bukan
makhluk yang selalu benar.
Kau tak
berhak menyalahkan begitu banyak hal dan selalu merasa benar saat kau sendiri, sama seperti kami, bersimbah
kesalahan.
Oh, sori, aku
sih tidak menyalahkanmu, hanya menunjukkan dimana hal yang kau lupakan.
Saat kau
merasa kami menyalahkanmu, bukankah itu berarti kau memang mengakui ‘sesuatu’?
Ayolah,
bahkan tidak satu nama pun tercantum di postingan ini…
Anyway,
Nice work, buddy, are you happy?
Quest Reward:
Mudah sekali
menyalahkan orang lain. Mudah sekali merasa paling benar. Mudah sekali merasa
bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk kebaikan. Mudah sekali merasa keadaan sedang tak berpihak pada kita. Mudah sekali merasa bahwa diri sendiri-lah yang paling menderita.
Oh, ayolah...
Tak ada
manusia yang selalu benar di muka bumi ini.
Orang yang
selalu merasa paling benar, selalu menyalahkan keadaan, selalu mencari alasan atas ketidakmampuan, dan
selalu melakonkan permintaan simpati adalah orang yang paling salah, paling
tidak mampu dan paling tidak mendapatkan simpati.
Legowo.
Hormati orang lain (bukan hanya saat kau perlu mereka saja).
Dengan
demikian, niscaya kau akan menemukan kebahagiaan yang kau cari.
Selama kau TAK MAU melakukannya, bahkan tanpa kami
mendoakan sesuatu yang buruk pun, kebahagiaanmu akan menjauh dengan sendirinya
kok…
#eh
Dan ayolah,
kami sih mending berdoa untuk diri kami sendiri kok daripada mendoakanmu.
Tanpa mengurangi rasa hormat, semoga kau segera disadarkan dari mimpi indahmu, dan kembali disadarkan bahwa kakimu masih menginjak bumi, tak peduli seberapa tinggi kau telah berdiri di kaki langit.
-----