Senin, 03 November 2014

Flashback

Kadang,

Kangen sama mereka.
Kangen cara mereka (maksa) membuat saya ketawa lagi.
Kangen cara mereka knocking in some sense in my head.
Kangen cara mereka melihat kenyataan dengan cara yang aneh, tapi benar.

Dulu kami bertengkar, rame, kadang saling menyalahkan, kadang melewati batas bercanda dan bertengkar beneran.
Tapi karena mereka ada, saya baik-baik saja saat saya pikir saya akan kenapa-kenapa.

Ne, ano toki wa hontoo ni samishi deshita. Dakedo, kono hito tachi ga itta ra, atashi wa daijoubu datta. Kono hito tachi no okage de.

Minggu, 19 Oktober 2014

Quest 7: unBEARable


Welcome to the House of the unBEARables!

This is the tail of the bears. Since this is just a tail, you can choose to follow the tail and believe it, or not. Well, once upon a time, there is a chivalrous knight named Exazio which befriends a laid back wizard named Cromag. Both of them like bear for its unbearably strange features. Together they formed a guild and Cromag made Exazio step up as the compulsory guild master.



Bear 1: Exazio (hybrid - damage-per-second knight)

Not only being the one who stated the idea of forming a guild, Exazio was the one who first came up with the idea of the guild name. He serves as the guildmaster and one of the main attackers in the guild. Exazio used to specialize in attack and not too much in defense, but recently the comeback of Zegro inspires him to pursue the path of defender. Being the most dynamic person, he levels up faster than anyone in the guild. He catches up with Zegro in term of defense without sacrificing too much offensive power. Exazio is currently the knight in the guild with highest offensive power and only second to Zegro in term of defense. With this advanced skill, Exazio excels at both solo fighting and in party. Cromag calls him ‘the bearmaster’, which is then followed by other guildsmen.
Theme song: 200 Miles  


Bear 2: Cromag (fire - wind wizard)

Cromag was the first guildsman of the guild. He specializes in fire elements and has high ability of magic among people of his level. He is the first guild member to ever reach 1000+ offensive powers. This greatness is greatly compensated with his terrifying defense, even though Cromag has actually mastered the art of defense for wizards. Cromag is blessed with high luck in upgrading his own magical weapon to boost his magic power, which made Exazio frequently states him as ‘troublesome magic bear’. He likes to help the guild apprentices more than leveling up by his own. Bluefeather often said that he used to have blue hair, which turned red after he started to study fire magic. True or not, Cromag himself never confirms.
Theme song: Shooting Star  


Bear 3: Zegro (hybrid knight)

Almost contrary to Exazio who specializes as attacker, Zegro serves a role of both attacker and defender. He has both high defense and high attack power, though his attack is not as high as the guildmaster. Zegro has the highest survivability rate among the guildsmen due to his balance hybrid skills. He used to stay back and let the other surpassed him but recently he got back his title as the number one defender of the guild by surpassing most guildsmen in term of both defensive and offensive power. He has mature aura around him which makes many apprentices like his guidance. Still, as a member of the guild, he shows ability to blend into pranks and quarrels with the youngsters.
Theme song: Happy People  


Bear 4: Ermira (katar – damage-per-second assassin)

She was the first female to join the guild. Though she easily befriended Bluefeather who joined afterwards, Ermira likes to venture on her own. Ermira is third in line after Cromag and Zalbard in term of offensive power. She is frequently compared to Furato in term of girlish action and thus made the two easily clashes with each other. Despite of her demeanor, Ermira excels in wielding deadly weapons, and sometimes scares away people with her cunning outer persona. So far she is the only katar user between assassins of the guild. 
Theme song: Life    

Rabu, 01 Oktober 2014

One Brain

One brain is never enough to solve anything.
So forgive your imperfection.
And forgive others who over expected you to be so very perfect.
Solve things like you have nothing to lose, because no one can actually do better than what you are doing right now.

#selftalk
#selfmotivation

Jumat, 19 September 2014

Stay positive, myself

Biasanya, kalau mulai sering nulis blog, artinya kadar stress mulai menumpuk mendekati ambang batas toleransi.

Is this a diary of me? Sort of it..

Jumat pagi,
Kembali sekali lagi diingatkan oleh Allah bahwa, untuk setiap hal yang dilebihkan, ada hal lain yg dikurangkan,
Dan untuk setiap hal yang dikurangkan, ada hal lain yang dilebihkan,
Allah tidak akan membebankan pada seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Jadi, tidak ada alasan untuk berkecil hati, tidak ada alasan untuk besar kepala, dan tidak ada alasan untuk kurang percaya diri.

Jika setiap hal yang terjadi adalah bagian dari biografi yang ditulis oleh-Nya tentang kita, maka dalam biografi itu pula akan ada pintu keluar dari setiap ruang permasalahan.
Jika tidak ada pintu, mungkin ada jendela.

Hang in there, myself,
Stay positive.

Rabu, 17 September 2014

Kalau Hidup Banyak Rasa...

Ya itulah hidup,
Banyak rasa, kemarin semangat naikin sang wizard, sekarang mendadak dapat tamu PENTING.
Penting sehingga masa depan saya di negeri orang dapat tergantung pada ketemunya saya dengan beliau saat ini...
Banyak rasa, kemarin mbulet kirim surat undangan, hari ini tadi surat undangan dikembalikan karena ada salah tulis.
Banyak rasa, dulu proposal sudah jalan jauh, tetiba harus rombak total sang proposal karena ada anggaran yang belum masuk.
Notabene, posisi saya sekretaris lho, bukan ketua apalagi bendahara.
Lalu kenapa saya yang heboh?
Ya begitulah... hahahaha :p
Banyak rasa, saat kemarin malam (seperti yang saya bilang) saya semangat naikin level sang wizard, saya baru ingat hari ini saya ada jadwal memberi kuliah.
Alhamdulillaah, dengan sedikit acara buka buku ekspress, saya bisa kembali memahami apa yang mau saya ceritakan ke mahasiswa.
Banyak rasa, saat saya beberapa jam yang lalu masih bingung mau cari laptop dengan VGA keren, sekarang mendadak merasa ndak bakalan sempat mindah file kalau jadi beli laptop baru.
Ndak ngaruh sih, saya tetep pingin beli laptop.

Jadi,
Kalau ada yang tanya ke saya,
"Kau lagi sibuk ta?"
Jawaban saya adalah,
"Ndak sibuk kok, cuma lagi pelihara beberapa ekor gajah diatas kepala, doakan aja mereka ndak pipis sembarangan ya..."

Mungkin saya butuh liburan.
Ahaha.... *ketawa aneh*

Kamis, 11 September 2014

My Dream

I do not need anyone to tell me that I have to go and get my dream.
I have told you, I will shine, everywhere I am. I shine through everything.
My dream is set, and no matter where my road comes to, I will get it, my own way.
I am not chasing my dream for anyone or because of anyone telling me to. I chase it, shape it, run to it, because of my own determination, as a child, as adolescence, as teenager, and now, as an adult.
Do not bother to tell me what to do with my dream,
Ever.
Because for me, it is insulting.

Hmm...did I just post another happy post in Malioboro Express?
Well iya sih saya masih di kereta yang sama, cuma tetiba pingin posting saja :p

Rabu, 10 September 2014

23.52, Malioboro Express

Saat ini 23.52, harus segera ditulis sebelum ganti hari.
Setelah petualangan saya ke Jogja sejak beberapa hari yang lalu demi monitoring evaluasi riset bimbingan iptekdok, saya pulang juga, hehe..
Mixed feeling sih meninggalkan Jogja, apalagi waktu kereta sampai di Solo Balapan.
Duh what am I doing?
Beberapa jam lagi, saya akan kembali ke rutinitas, dikejar deadline menemukan kuman tertentu dan segudang chain of activities lainnya.
Dalam gerbong berisi dengkuran dari segala penjuru ini, alhamdulillah, saya saat ini bisa duduk mensyukuri semua hal yg saya alami.
Semoga dengan ini semuanya akan menjadi lebih baik,
Semoga kuman saya yang jadi the most wanted in South East Asia segera muncul kembali,
Semoga riset saya berjalan lebih lancar lagi,
Semoga dengan ini cita-cita masa kecil saya bisa terwujud,
Apa itu? Hmm... i'm not telling, tapi berhubungan dengan Doraemon dan Ultraman, hahaha :D
Good night, road, wherever I am right now,
I really love this world.

Alhamdulillaah...
23.58, Malioboro Express.

Rabu, 20 Agustus 2014

Quest 22: Brave

Siennra is one of the bravest people I have ever known. Yang benar saja? Hahaha, seperti sebagian besar manusia lain, maka saya pun tersusun atas kumpulan fearsworries, oksigen, plus, tentu saja, tanah. Pilihan ada di tangan saya, untuk terus terpaku dalam kenegatifan atau memutuskan untuk bergerak ke kutub positif.

Bukan hal mudah memang, apalagi dengan so many people stare at me like that I am the most saddened person in the world, haha :p

Lha terus kenapa? Saya sih ndak mau menganggap diri sebagai korban, dan saya ndak begitu peduli juga orang-orang mau menilai seperti apa. Toh saya juga tidak punya waktu, dan, tidak mau mengorbankan waktu, buat re-explaining. People may judge, hak mereka. Saya pun juga, punya judgement seperti mereka.

Tapi memang, saat saya benar-benar menarik diri dari komunitas untuk menenangkan diri, saat itulah saya tahu siapa yang cukup care untuk mencari saya. Waktu itu saya tidak berharap ditemukan, tapi syukurlah, saat saya membuka mata, saya tidak pernah sendirian.

Mau lari kemana? Tidak ada tempat lari. Mau menutup mata dan telinga seperti apa? Tidak akan pernah bisa, kecuali saya buta dan tuli secara harfiah. Tapi saya masih disini, di tempat dan posisi yang sama, peran yang sama, dengan mata dan telinga yang masih berfungsi, menandakan bahwa peran saya disini belum selesai. Masih ada banyak hal yang harus saya lakukan, apapun itu yang pernah terjadi pada saya.

Saya mungkin tidak se-brave yang dilihat banyak orang, apalagi setegar yang didefinisikan orang-orang terdekat saya, tapi saya cukup pede untuk bangga dengan logika yang saya punya. Saya bangga ketika logika saya bisa menopang saya untuk berdiri sedikit lebih tinggi daripada saya yang dulu.

Bohong banget kalau dibilang there is no lingering feeling,  well duh I do hate some parts of my past,  lha terus kenapa? Semua hal yang saya lakukan adalah setulus-tulusnya, sejujur-jujurnya. I never lied of being who I am, with all the similarities and differences. I was lost to fake-and-obviously-compelled similarities, and so what? Walaupun dunia tidak cukup peduli untuk bersaksi, Allah tidak pernah tidur. Cukuplah Ia yang tahu, cukuplah Ia yang menentukan.


I am brave enough to say that all that I ever care of is my world, and those who are parts of it. 

Minggu, 03 Agustus 2014

9 Years in Review: Tales of The Abyss


You are living your own life. Your memories are yours alone. Don’t deny them. You are here. (Tear to Luke) 

A beautiful story adalah kesan saya secara keseluruhan saat saya menyelesaikan acara nonton anime ini. Diangkat dari game berjudul sama (yang memang pernah saya mainkan) yang pertama kali dirilis pada tahun 2005, anime ini merangkum 70 jam perjalanan dalam game menjadi dongeng 600 menit.

To think this piece of trash is my replica?! I was robbed of my family and my home by this trash?! (Asch to himself)


---------------------------------------------------------------------------------------------------------

One Third Part of the Story Begins…

Planet Auldrant adalah dunia yang dihuni oleh makhluk hidup yang tersusun atas fonon (deskripsi fonon adalah frekuensi suara yang membedakan satu individu dan individu lain seperti fingerprint). Auldrant tersusun atas enam fonon dan satu fonon ketujuh (seventh fonon). Setiap manusia memiliki akses terhadap fonon, namun hanya sebagian kecil yang mampu menguasai seventh fonon. Selain fonon, kehidupan di Auldrant berjalan dengan tuntunan Score. Setiap orang dianjurkan untuk hidup sesuai dengan tuntunan Score agar mereka mendapatkan prosperity yang telah dijanjikan. Para seventh fonist (pengguna seventh fonon) mampu membaca seventh fonstone (Score bagian terakhir) yang dipercaya menyembunyikan rahasia terakhir mengenai planet Auldrant. Oleh karena itulah, kedua kerajaan besar di Auldrant: Kimlasca-Lanvaldear dan Malkuth tak pernah berhenti memperebutkan seventh fonist dan seventh fonstone.

Auldrant meyakini rahasia masa depan yang tercantum dalam Score tidak akan bisa dirubah, hingga suatu teknologi yang disebut fomicry merubah keyakinan tersebut…

Who am i? Why was I born?! (Luke to Van)


Fokus utama Tales of the Abyss adalah Luke fon Fabre, pewaris lini ketiga Kerajaan Kimlasca-Lanvaldear yang dibesarkan dalam kungkungan Fabre Manor sejak ia selamat dari penculikan oleh Kerajaan Malkuth. Akibat insiden penculikan tersebut, Luke kehilangan seluruh ingatannya (dan maksud saya semuanya, bahkan ia harus belajar bicara dan berjalan kembali sejak diselamatkan) atas sebab yang tidak diketahui. Dalam kehidupan serba dilayani dan awareness terhadap commoner yang sangat rendah, ia tumbuh menjadi bangsawan manja yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan. Satu-satunya hal yang menghibur Luke adalah sesi latihan pedang oleh tutornya, Van Grants.

Harapan Luke untuk keluar dari kehidupan membosankan pun terwujud saat Tear Grants menyusup masuk ke Fabre Manor untuk membunuh Van. Bukannya berhasil membunuh sasarannya, Tear justru tanpa sengaja menimbulkan hyperresonance dan membawa serta Luke bersamanya ke Tataroo Valley, wilayah Kerajaan Malkuth. Maka perjalanan Tear untuk membawa Luke pulang ke Fabre Manor pun dimulai…

Idiot. (Tear to Luke)


Minggu, 27 Juli 2014

under the blue sky

my favorite color of the sky, blue with no cloud

Looking back at my days,
I had beautiful happiness, which was irreplaceable.
It was crushed like nothing though.
Then I chose to hate, to get angry, to forget, all halfheartedly.

But,
The more I thought of it, the more I found out that I was not someone like that.
After being calmed down a bit, logic took over my sanity and led me to where I had to be.
It was a lot more saddening than what I had experienced years ago, but I was also a lot more powerful than I had been years ago.
I don’t need to be comforted anymore.
I am my own valor healer.

By the end of this Ramadhan, I find my renewed resolution to step forward.
It would be lying to say that I do not have any lingered feeling, either that I forget about what have been done,
It would be lying to say that it is easy to forgive,
It is hard to forgive,
Let alone to forget.

But,
I guess to forget is to try rewriting the history, which is obviously impossible.
I may never be able to forget, but at least, I do have to forgive.
I may still have difficulty to forgive, but at least, I forgive myself,
For being such a fool,
And accept myself as a whole, with all good memories and the bad.
I just have to do what I can do for now and let the rest follow.

Today, under the blue sky of my beloved place, I state a prayer to Allah, to forgive me for having such hatred in my past.
To forgive me for being so blind and deaf through every chance He gave me.
To forgive me for being so stubborn to follow the path that was completely not for me.
To forgive me for being the way I was.
And to give me one more chance to start anew.

Amin…

Senin, 14 Juli 2014

signed, bluefeather, a tribute to Nano's Hysteria

do not judge a song by it's cover. hear it out and then you're allowed to give a comment. this is a song of Nano, titled Hysteria.


lyric of this song consists of chain of truthful words. it tells us about dealing with things we could not accept earlier. this first video link leads you to the acoustic version of the song, meanwhile the second one leads you to the original version. 
i like them both and listen to them alternately. 

oh, and this lyric below is just the creation i made during my stressed-out day.

signed, bluefeather.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

P.S. for one of my best friends who gave me this song, thanks, it means a lot :)
P.S. bluefeather? oh, it is my name in a world. that cute girl on the picture is her portrait :p

Senin, 23 Juni 2014

Aku, Ibu, dan Juni 2014

Tidak ada yang lebih tidak saya sukai di dunia ini daripada kepercayaan yang dihancurkan.  
Ini adalah cerita spontan yang saya alami pada periode 17 Juni 2014 sampai dengan 23 Juni 2014.


Sudah selesai kah?” tanya ibu saya pagi ini, 23 Juni 2014.
Dengan poker face dan ketap ketip saya menelengkan kepala dan kemudian mengerutkan dahi.
Marahmu, sudah selesai?”
Saya tertawa kecil mendengar ibu saya bertanya demikian, “… yah…
Oke, yuk dibahas,”
Sambil melet, saya pun akhirnya bersedia untuk bicara tentang penyebab kemarahan saya yang memuncak dengan agak kurang ‘wajar’ (kata ibu saya). Beliau berkata demikian karena kemarahan saya sempat bocor di Facebook, sementara selama ini tidak pernah sampai segitunya.
(padahal di twitter kata teman saya semacam rapuh porak poranda alias rapopo alias tidak apa apa)

Kepada ibu, saya bercerita semuanya. Mulai dari mimpi buruk yang saya alami satu setengah bulan yang lalu (yang ternyata definitely adalah pertanda), kemudian ‘Suggestion to Follow’ di Twitter (yang sepertinya fitur ini lebih ‘indigo’ dari kelihatannya :p), sampai dengan telepon yang saya terima pada hari Selasa, 17 Juni 2014 sekitar pukul setengah empat sore.
Saya ceritakan alasan kemarahan saya dengan sejujur-jujurnya. Diatas segalanya, kemarahan saya disebabkan karena bohongnya seorang yang sungguh-sungguh saya percayai. Rasanya sulit bagi saya untuk percaya bahwa kepercayaan saya padanya berujung pada kondisi yang seperti saat ini. Saya akui pada ibu, sebelumnya saya selalu percaya bahwa ia adalah orang yang baik dan honest, sehingga saat saya menemukan hal krusial yang ia belokkan, saya pun marah.
Saya merasa kepercayaan saya dikhianati.
Saya sih tidak terlalu mempermasalahkan soal ending (ya masalah sih, tapi tidak ada apa-apanya dibanding dibohongi selama sebulan lebih), tapi janganlah mengkhianati kepercayaan saya. Pada dasarnya saya berhak tahu sejak awal, tapi entah kenapa, entah bagaimana, ia yang saya percayai, justru bertindak sebaliknya.

Satu sisi yang lain adalah saya marah pada diri saya sendiri karena tidak bisa mempergunakan petunjuk di sekeliling saya dengan benar. I should have known, kata saya berkali-kali pada diri saya sendiri. Seharusnya saya lebih percaya pada logika saya dibandingkan hal lain yang saya rasakan di muka bumi ini.
Ibu saya pun berkomentar, “Tapi logikamu itu kadang membuatmu jadi orang kejam,”
Haha, memang sih, saya kejam. Saya bilang pada ibu bahwa sahabat saya bilang, curse yang saya keluarkan terlalu sadis dan saya harus istigfar.

Saya pun bilang pada ibu, bahwa seorang sahabat saya yang lain bilang seperti ini, “Understandable kok kau marah sampai ke taraf seperti itu. Yah semua bahkan bereaksi sama sepertimu. Aku sih mau-mau aja lempar ban serep (yang saya suruh nambahi bom ala kuciang) ke alamat dia, secara alamatnya deket sama alamatku disini, tapi kamu bukan orang yang bisa sungguh-sungguh berharap keburukan bagi orang lain lho… You will forgive, I know that,”

Plus komentar dari sahabat saya yang lain, “Been there. Damn hurt. Kau emang lagi apes. Let it go lah…

Intinya, semua orang terdekat saya bilang bahwa pada akhirnya saya akan memaafkan, karena biasanya saya tidak tahan memiliki emosi negatif terlalu lama (baca: biasanya sebentar tapi intensitas tinggi, katanya).

Ibu saya pun ngakak mendengar cerita saya. “Terus, kasi tau ibu dong, hikmah apa yang kamu dapat sekarang?
 “Orang Jawa adalah yang terbaik?” adalah komentar pertama saya sambil ketap ketip dan garuk-garuk kepala. Tapi dengan segera saya menambahkan, “Ndak juga sih, semua orang pada dasarnya baik. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa meminta ingin lahir di mana dan ingin orang tua seperti apa. Itu bukan alasan untuk memberi judgement ke orang lain,”
Terus?
Setiap kesalahan itu ya bawaan orangnya sendiri-sendiri. Hidup itu isinya cuma pilihan dan konsekuensi,” kata saya sambil nyengir.
Ibu pun tertawa kecil sambil menambahkan, “Ndak lah… isinya juga bisa usaha,”
Saya mengangguk, “Iya. Paling tidak, dengan percaya sama dia, aku sudah berusaha semampuku. Paling tidak, aku ndak bakalan lebih menyesal daripada kalau aku ndak ngapa-ngapain,”

Ibu ikutan mengangguk, “Terus, apa isi doamu sekarang?”
Semoga kebenaran yang tersembunyi bakal terungkap. Semoga hal-hal yang terbelokkan bakal terluruskan. Semoga yang benar akan tetap benar, dan semoga yang salah diberikan kemudahan,”
Ibu saya agak kaget, “Hah? Kemudahan apa?
Sambil memasang muka serius saya menjawab, “Kemudahan bertemu dengan karma,”
Ya ampun, sudahlah, semakin kamu memberatkan yang sudah lewat, semakin langkahmu terbebani lho nduk,”
Saya menghela napas sambil mencucu, “Habisnya, enak aja dia dengan entengnya bohong gitu. Aku lho disini percaya bahwa dia orang yang baik,”
Maafin saja lah…
Dengan keras kepala saya pun menjawab, “Hah? Enak banget? Dia bohong sebegitu lama dan aku disuruh memaafkan gitu?

Ibu saya menghela napas, “Ya sudah, ndak usah dimaafkan juga gakpapa, tapi…”
Tapi…?
Pernah ndak kamu mikir hal seperti apa yang dia alami disana? Apa alasan dia membohongimu? Kenapa dia harus bohong? Apakah murni keinginannya sendiri?
Saya agak melongo, tapi ibu saya melanjutkan dengan serius.
Kamu tu bukan orang yang bodoh lho. Kamu tahu alasan kenapa kamu percaya dan kenapa kamu tidak percaya. Alasan kepercayaanmu ke dia kurang lebih adalah karena kamu tahu dia orang yang baik kan?
Iya sih, tapi bisa saja itu akal-akalan dia biar aku percaya kan?” protes saya.
Ibu saya mengangguk, “Memang. Tapi gimana kalau dia aslinya memang sebaik yang kamu tahu tapi dia terpaksa bohong sama kamu?
Saya tertawa, “Tetep aja, bohong ya bohong,”
Menurut Ibu sih, pasti ada alasannya, dan Ibu yakin kalau kamu bisa meredakan marahmu, kamu tahu apa yang Ibu maksud... Kadang-kadang ya nduk, ada kebenaran yang memang tidak akan pernah terungkap. Bukan karena itu bukan kebenaran, tapi itu hanya sekedar jalan untuk kebenaran lain yang lebih besar,”
Dengan keras kepala saya protes lagi, “Tapi aku masih marah,”
Iya keliatan jelas kok (dan saya nyengir waktu ibu bilang ini). Tapi seperti yang dibilang temen-temenmu, kamu bakal memaafkan, entah kapan. Kayaknya sih ndak lama, eh ya ndak tau sih, kamu tu kadang aneh dan ndak bisa ditebak (aih… ini ibu saya yang bilang lho). Yah, apapun lah, mau kamu tetep marah atau mau maafin pun, yang jelas, yang sudah selesai ya sudah, ndak bisa kamu bawa kemana-mana lagi. Ibu yakin, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kedepan,”

Setelah diam mencerna kata-kata ibu, saya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan keluar. Dua pertiga amarah saya menguap saat saya berbincang dengan ibu saya (walaupun saya mungkin tidak mengakui sih ke ibu).

Semoga yang benar akan terungkap. Semoga yang benar akan dimunculkan. Semoga yang salah-salah akan tenggelam dengan cara yang damai. Semoga semua hal benar yang terbelokkan akan terluruskan kembali dan dunia akan paham apa yang sebenarnya terjadi.

Saya sih ndak mau berubah, akan tetap all out dalam segalanya. Saya sudah belajar sejak bertahun-tahun silam bahwa menyesal karena gagal masih selalu lebih baik daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa.

the mementos of 'don't be angry' and 'we are here by your side'

(ditulis sambil reminiscence tentang hal yang saya alami sejak Maret hingga Juni 2014 sambil ditemani lagu instrumental favorit saya FALLING DOWN (by Shoji Meguro). Kemudian buru-buru mandi dan berangkat ngampus :p)

Kamis, 19 Juni 2014

Pikiran yang Terdalam

In my deepest thought.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you die that easily.
It would be better if you lost your will.
You will not die, but inside, you die literally.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you suffer that instant.
It would be better if you lost your happiness.
You will not die, but inside, you suffer endlessly.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you smile on your death.
It would be better if you lost your precious.
You will not die, but inside, you cry in loneliness.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you enjoy your last breath.
It would be better if you lost your nerves.
You will not die, but inside, you breathe in difficulty.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you feel forgiven.
It would be better if you lost your sanity.
You will not die, but inside, you lost your insight.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you die easily.
It would be better if you lost in the dark.
You will not die, but inside, you rot and blind.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not kill anyone.
Angels around me said I could not do that.
It will only lessen my level to yours.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not dirt my hands.
Angels around me stated our difference.
I will not kill someone like you once did, literally.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not see any blood.
Angels around me showed the lives I have to protect.
I live to protect and never to abandon.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not kill you.
You are not worthy even a second to be killed by me.

So let life do its turn and kill you itself the way it wants.

Kamis, 01 Mei 2014

Quest 15: Right and Wrong Answer, Co-exist in Every Decision

Here goes, my favorite screencapture from my favorite Patrick:


From Malang, April 2nd, 2014.

...and, that is so true,
thanks Pat, I hope you will not kill me because I put your original name and photo :p