"everyone is worthy of second chance,"
Tampilkan postingan dengan label introspeksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label introspeksi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 November 2015
Minggu, 15 November 2015
Antara Ego dan Kewajiban
Senin, 05 Oktober 2015
Rabu, 25 Maret 2015
365
Some people said that nothing beats the hand of time. The most beautiful thing in the past will turn into less than most beautiful as time goes. The most painful thing in the past will turn into less than most painful as time goes. People’s memory is not that powerful to hold onto their past unless they try so hard to forget anything else.
365 hari berlalu sejak masa saya di sebuah tempat di kawasan
Sarangan, Depok, Jawa Barat.
Pagi hari di
masa itu saya akan bangun dalam kamar bersama dua orang rekan senasib saya
untuk memulai hari. Aktivitas akan dimulai sejak pukul 5 pagi hingga pukul 4
atau 5 sore hari.
Apa saja
aktivitasnya? Duduk, manis, ngopi, ngemil, ngechat (bukan ngecat), dan nge nge
yang lainnya :p
365 hari berlalu sejak saya dipertemukan dengan puluhan orang yang
sebelumnya tidak pernah saya kenal.
Mereka datang
di tempat itu dari seluruh pelosok Indonesia, dikirim oleh instansinya
masing-masing untuk menimba ilmu di tempat yang sama dengan saya selama kurang
lebih 21 hari (atau kurang, soalnya saya lupa kapan start program dan kapan end
program, hahaha).
365 hari berlalu sejak saya dipertemukan dengan puluhan orang di
rentang usia saya yang memiliki kehebatan jauh di atas saya.
Mereka membuka
wawasan saya bahwa di luar sana ada dunia yang sangat luas, tempat segala macam
hal menunggu untuk ditemukan, tempat segala kesempatan menunggu untuk diambil. Sejujurnya,
saya sempat merasa agak minder diantara mereka.
365 hari berlalu sejak saya merasakan hangatnya persahabatan dengan
mereka.
Mereka
menawarkan sebuah tipe persahabatan yang unik, dewasa dan relaks. Dengan merekalah
saya memahami bahwa seperti inilah menjadi orang dewasa.
Kurang dari 365 hari berlalu sejak saya kembali teringat tentang
adanya ‘persona’ yang ditampilkan oleh manusia dalam waktu tertentu.
Apa yang
terlihat di permukaan, kadang adalah cerminan lain dari diri sendiri.
Some people said that dream is a gate of
your sub consciousness. It shows you what you really hold dear, what you really
want, or what you really hate. In dream world, you are unrestrained by
anything.
Jumat, 21 November 2014
Selamat Datang Kembali
Well it is such a troublesome November.
Belum 100 jam setelah Work and Weekend saya posting, sesuatu yang berbeda (baca; sangat berbeda) justru terjadi.
Okay sebagai starter, saya menemukan gentamisin milik saya, yang notabene amat sangat saya perlukan dalam penelitian saya. Si genta ini sudah menghilang selama beberapa minggu dan saya sudah memutuskan untuk menghentikan pencarian karena cuaca kurang mendukung...
... uhuk... karena saya sudah lelah mencarinya.
Dan ternyata si genta ini duduk manis nicely tucked like so very safe and sound di ceruk pintu kulkas bahan.
Dan si genta ini menghadap ke depan, yang seharusnya (baca: SEHARUSNYA) akan langsung terlihat begitu kulkas dibuka.
Argh, okay, begitulah, saat otak jadi tumpul, maka t-rex di pelupuk mata pun tak nampak...
(bayangkanlah seberapa gede matanya).
Singkat cerita, saya berangkat dari Lab menuju Pasca untuk mempersiapkan kuliah tamu dengan gembira dan penuh semangat (sesuatu yang sudah selama sebulan terakhir nyaris hilang dari keseharian saya bersama Mbah Deadline)
Jadi... ... menjelang kuliah tamu terjadi kehebohan soal moderator, karena moderator yang sudah terpilih entah bagaimana ingin undur diri.
Strictly speaking, sebagai rakyat jelata yang membantu sebuah acara di program studi, normally saya tidak akan terlalu memperhatikan siapa moderatornya. Tugas saya sebagai petugas multimedia tidak menaruh 'perhatikan moderator' dalam tupoksi, tapi 'perhatikan speaker'.
Tapi saya melanggar tupoksi saya dan memperhatikan gerak gerik sang moderator.
Kenapa? Tentunya karena moderator saya ini spesial buat saya (wadaw, ada yang ngelempar sepatu) karena beliau adalah mantan penguji saya.
Well, lebih tepatnya nyaris menjadi penguji, karena saya berhasil meraih nilai cukup untuk bebas ujian akhir dan tidak bertemu dengan beliau di kursi panas. Sekilas terkenang upaya saya untuk membebaskan diri dari ujian karena saya amat sangat SANGAT khawatir dengan nilai ujian saya. Saya hampir yakin bahwa saya tidak akan lulus jika saya tidak bisa membebaskan diri dari ujian akhir.
Well I made it alive, sodara-sodara. Worth a fight banget endingnya di tahun 2013.
Maka kuliah tamu pun berjalan lancar, saya berhasil mengawal multimedia dan terutama kelancaran presentasi speaker selama acara berlangsung.
(Oke, sejak dulu saya 'dipercaya' punya skill khusus soal pengawalan yang satu ini dan saya selalu enjoy menjadi pengawal)
Begitu kuliah tamu selesai, saya memasang diri untuk dihujani permintaan mahasiswa yang ngopi kuliah. maka saya menyodorkan laptop untuk mereka isi dengan alamat email mereka sementara saya kukut-kukut peralatan lainnya.
And then that was the moment of truth saat mantan penguji saya mendatangi saya dan menghujani dengan sejumlah besar pertanyaan bernada ketidakpuasan beliau atas kuliah hari itu.
Saya (yang notabene bukan orang yang bertanggung jawab penuh atas hal tersebut) pastinya memiliki dua opsi: diam ketika disalahkan atau mengklarifikasi dengan sopan.
Santai saja, saya lakukan yang kedua kok.
Well at least I was trying to do the second choice, until it got in my nerves so hard and I... uh... kind of... change into offensive mode.
Haha... mungkin saya masih sakit hati atas perlakuan beliau di masa lalu, mungkin saya sudah dalam kondisi terlalu lelah, mungkin sederhananya saya tidak suka disalahkan atas sesuatu yang tidak saya lakukan, atau mungkin ketiga-tiganya benar...
Tapi ya itulah, I shot back the fire thrown at me.
Dan terjadilah sinetron.
Padahal saya pinginnya jadi serial laga.
#eh
Kemudian saya kembali ke Lab dan beberapa orang langsung menanyai saya, "Udah selesai nih perangnya?" dan membuat saya ketawa ngakak. Terakhir kali saya membela diri saat disalahkan pada saat saya masih berstatus koas di sebuah rumah sakit, nilai akhir saya kena diskon.
Tapi saya bukan lagi mahasiswa. Saya berdiri di tempat yang sama dengan mereka.
Yah begitulah,
Event selanjutnya yang saya alami adalah badai mahasiswa yang mencari saya untuk konsultasi. Yep, bukan hanya kami yang dikerjain sama Mbak Deadline, tapi juga mahasiswa.
Yang mengejutkan, justru saya malah banyak tertawa dan tertawa bersama mereka. Bahkan kami sempat membahas perbedaan umur diantara kami yang sebenarnya tidak begitu jauh.
Membimbing penelitian mereka tanpa diduga memberikan efek positif pada saya. Pada dasarnya saya adalah orang yang sangat kepo, jadi penelitian adalah sesuatu yang sangat saya sukai, karena saat meneliti, saya bebas mengaplikasikan kekepoan saya sampai di tahap manapun.
Dengan meneliti juga, saya memperluas cakrawala kepo saya menjadi lebih dan lebih lebar lagi.
Kegiatan pun lalu berlanjut dengan kuliah di siang hari pada hari Jumat. Saat masuk kelas, saya sudah mendeklarasikan bahwa saya tidak akan melarang mereka tertidur karena anginnya sangat semilir. Maklum kelas tersebut semi-outdoor, jadi angin semilir di siang yang panas tidak akan terhalang oleh apapun untuk membelai benak-benak yang lelah.
Saya sebenarnya tidak punya tips apapun dalam menghadapi kelas di siang hari seperti itu, jadi ya saya jujur saja mengatakan bahwa mereka bebas untuk tidur dengan tambahan 'tapi saya akan sangat bersyukur jika kalian mau meluangkan waktu untuk mendengarkan saya sebentar saja'
Dan di akhir sesi tersebut, sembilan dari delapan puluh orang mengacungkan jari untuk bertanya, padahal jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Guess I did a good job then :)
Setelah kuliah tersebut, saya pun berjalan (sempat kesandung) menuju Plue sambil tersenyam-senyum. Ada suatu rasa puas tersendiri yang sudah lama tidak saya rasakan karena pressure yang saya alami. Sejujurnya, saya menikmati berdiri di depan kelas seperti itu karena pada saat itulah juga saya bisa menularkan kekepoan saya pada semua yang hadir.
Hahaha, tidak selalu berhasil sih, tapi cukup membuat suasana lebih tidak seperti kuburan saat kuliah berlangsung :p
Bersama Plue, saya pun menempuh perjalanan pulang. Saat sadar, saya sudah karaokean di dalam Plue dan saya pun tertawa (sendirian).
Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya pulang dengan perasaan seperti itu. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya pulang sambil karaokean seperti itu.
So i giggled along the road for the sake of weirdness. THIS IS MY OLD UNRESTRAINED SELF.
Saya menyimpulkan bahwa jika ada hal yang paling memberikan kekuatan pada saya, maka hal itu adalah kebebasan.
Bukan kebebasan sebebas-bebasnya, tapi bebas menggunakan potensi saya seperti yang saya inginkan, bebas berdiri di atas kaki saya sendiri tanpa terjebak keharusan tunduk pada sesuatu yang bertentangan dengan saya dan... bebas kepo semau saya.
Hari ini, saya mengucapkan selamat datang kembali pada diri saya yang sebenarnya, diri saya yang bebas berpikir semau saya, bebas mengeksplorasi potensi diri saya sendiri dan mengaplikasikannya sesuai yang saya inginkan (... ... dalam batas normal, tentunya).
Saya mungkin masih bukan siapa-siapa, tapi semua orang juga mulainya dari situ kan? Kalau seseorang sudah di puncak maka ia tidak punya jalan lain kecuali diam atau kembali turun ke bawah.
Life is interesting again once I get hold of my own self again. Once again, I'll do my best once again. If I ever fail again, I will get back up and try again. If I ever cry again, I will accept my sadness and wipe my tears again. If I ever fear again, I will accept the fear and learn to overcome it again.
This is my life, this is my magic.
Belum 100 jam setelah Work and Weekend saya posting, sesuatu yang berbeda (baca; sangat berbeda) justru terjadi.
*
Okay sebagai starter, saya menemukan gentamisin milik saya, yang notabene amat sangat saya perlukan dalam penelitian saya. Si genta ini sudah menghilang selama beberapa minggu dan saya sudah memutuskan untuk menghentikan pencarian karena cuaca kurang mendukung...
... uhuk... karena saya sudah lelah mencarinya.
Dan ternyata si genta ini duduk manis nicely tucked like so very safe and sound di ceruk pintu kulkas bahan.
Dan si genta ini menghadap ke depan, yang seharusnya (baca: SEHARUSNYA) akan langsung terlihat begitu kulkas dibuka.
*
Argh, okay, begitulah, saat otak jadi tumpul, maka t-rex di pelupuk mata pun tak nampak...
(bayangkanlah seberapa gede matanya).
Singkat cerita, saya berangkat dari Lab menuju Pasca untuk mempersiapkan kuliah tamu dengan gembira dan penuh semangat (sesuatu yang sudah selama sebulan terakhir nyaris hilang dari keseharian saya bersama Mbah Deadline)
*
Jadi... ... menjelang kuliah tamu terjadi kehebohan soal moderator, karena moderator yang sudah terpilih entah bagaimana ingin undur diri.
Strictly speaking, sebagai rakyat jelata yang membantu sebuah acara di program studi, normally saya tidak akan terlalu memperhatikan siapa moderatornya. Tugas saya sebagai petugas multimedia tidak menaruh 'perhatikan moderator' dalam tupoksi, tapi 'perhatikan speaker'.
Tapi saya melanggar tupoksi saya dan memperhatikan gerak gerik sang moderator.
Kenapa? Tentunya karena moderator saya ini spesial buat saya (wadaw, ada yang ngelempar sepatu) karena beliau adalah mantan penguji saya.
Well, lebih tepatnya nyaris menjadi penguji, karena saya berhasil meraih nilai cukup untuk bebas ujian akhir dan tidak bertemu dengan beliau di kursi panas. Sekilas terkenang upaya saya untuk membebaskan diri dari ujian karena saya amat sangat SANGAT khawatir dengan nilai ujian saya. Saya hampir yakin bahwa saya tidak akan lulus jika saya tidak bisa membebaskan diri dari ujian akhir.
Well I made it alive, sodara-sodara. Worth a fight banget endingnya di tahun 2013.
Maka kuliah tamu pun berjalan lancar, saya berhasil mengawal multimedia dan terutama kelancaran presentasi speaker selama acara berlangsung.
(Oke, sejak dulu saya 'dipercaya' punya skill khusus soal pengawalan yang satu ini dan saya selalu enjoy menjadi pengawal)
Begitu kuliah tamu selesai, saya memasang diri untuk dihujani permintaan mahasiswa yang ngopi kuliah. maka saya menyodorkan laptop untuk mereka isi dengan alamat email mereka sementara saya kukut-kukut peralatan lainnya.
And then that was the moment of truth saat mantan penguji saya mendatangi saya dan menghujani dengan sejumlah besar pertanyaan bernada ketidakpuasan beliau atas kuliah hari itu.
Saya (yang notabene bukan orang yang bertanggung jawab penuh atas hal tersebut) pastinya memiliki dua opsi: diam ketika disalahkan atau mengklarifikasi dengan sopan.
Santai saja, saya lakukan yang kedua kok.
Well at least I was trying to do the second choice, until it got in my nerves so hard and I... uh... kind of... change into offensive mode.
Haha... mungkin saya masih sakit hati atas perlakuan beliau di masa lalu, mungkin saya sudah dalam kondisi terlalu lelah, mungkin sederhananya saya tidak suka disalahkan atas sesuatu yang tidak saya lakukan, atau mungkin ketiga-tiganya benar...
Tapi ya itulah, I shot back the fire thrown at me.
Dan terjadilah sinetron.
Padahal saya pinginnya jadi serial laga.
#eh
*
Kemudian saya kembali ke Lab dan beberapa orang langsung menanyai saya, "Udah selesai nih perangnya?" dan membuat saya ketawa ngakak. Terakhir kali saya membela diri saat disalahkan pada saat saya masih berstatus koas di sebuah rumah sakit, nilai akhir saya kena diskon.
Tapi saya bukan lagi mahasiswa. Saya berdiri di tempat yang sama dengan mereka.
*
Yah begitulah,
Event selanjutnya yang saya alami adalah badai mahasiswa yang mencari saya untuk konsultasi. Yep, bukan hanya kami yang dikerjain sama Mbak Deadline, tapi juga mahasiswa.
Yang mengejutkan, justru saya malah banyak tertawa dan tertawa bersama mereka. Bahkan kami sempat membahas perbedaan umur diantara kami yang sebenarnya tidak begitu jauh.
Membimbing penelitian mereka tanpa diduga memberikan efek positif pada saya. Pada dasarnya saya adalah orang yang sangat kepo, jadi penelitian adalah sesuatu yang sangat saya sukai, karena saat meneliti, saya bebas mengaplikasikan kekepoan saya sampai di tahap manapun.
Dengan meneliti juga, saya memperluas cakrawala kepo saya menjadi lebih dan lebih lebar lagi.
*
Kegiatan pun lalu berlanjut dengan kuliah di siang hari pada hari Jumat. Saat masuk kelas, saya sudah mendeklarasikan bahwa saya tidak akan melarang mereka tertidur karena anginnya sangat semilir. Maklum kelas tersebut semi-outdoor, jadi angin semilir di siang yang panas tidak akan terhalang oleh apapun untuk membelai benak-benak yang lelah.
Saya sebenarnya tidak punya tips apapun dalam menghadapi kelas di siang hari seperti itu, jadi ya saya jujur saja mengatakan bahwa mereka bebas untuk tidur dengan tambahan 'tapi saya akan sangat bersyukur jika kalian mau meluangkan waktu untuk mendengarkan saya sebentar saja'
Dan di akhir sesi tersebut, sembilan dari delapan puluh orang mengacungkan jari untuk bertanya, padahal jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Guess I did a good job then :)
*
Setelah kuliah tersebut, saya pun berjalan (sempat kesandung) menuju Plue sambil tersenyam-senyum. Ada suatu rasa puas tersendiri yang sudah lama tidak saya rasakan karena pressure yang saya alami. Sejujurnya, saya menikmati berdiri di depan kelas seperti itu karena pada saat itulah juga saya bisa menularkan kekepoan saya pada semua yang hadir.
Hahaha, tidak selalu berhasil sih, tapi cukup membuat suasana lebih tidak seperti kuburan saat kuliah berlangsung :p
Bersama Plue, saya pun menempuh perjalanan pulang. Saat sadar, saya sudah karaokean di dalam Plue dan saya pun tertawa (sendirian).
Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya pulang dengan perasaan seperti itu. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya pulang sambil karaokean seperti itu.
So i giggled along the road for the sake of weirdness. THIS IS MY OLD UNRESTRAINED SELF.
Saya menyimpulkan bahwa jika ada hal yang paling memberikan kekuatan pada saya, maka hal itu adalah kebebasan.
Bukan kebebasan sebebas-bebasnya, tapi bebas menggunakan potensi saya seperti yang saya inginkan, bebas berdiri di atas kaki saya sendiri tanpa terjebak keharusan tunduk pada sesuatu yang bertentangan dengan saya dan... bebas kepo semau saya.
Hari ini, saya mengucapkan selamat datang kembali pada diri saya yang sebenarnya, diri saya yang bebas berpikir semau saya, bebas mengeksplorasi potensi diri saya sendiri dan mengaplikasikannya sesuai yang saya inginkan (... ... dalam batas normal, tentunya).
Saya mungkin masih bukan siapa-siapa, tapi semua orang juga mulainya dari situ kan? Kalau seseorang sudah di puncak maka ia tidak punya jalan lain kecuali diam atau kembali turun ke bawah.
Life is interesting again once I get hold of my own self again. Once again, I'll do my best once again. If I ever fail again, I will get back up and try again. If I ever cry again, I will accept my sadness and wipe my tears again. If I ever fear again, I will accept the fear and learn to overcome it again.
This is my life, this is my magic.
*
Rabu, 19 November 2014
Work and Weekend
Being an originally morning
person, this head works best in very early morning. Most of my leftover works are done by the time sun rises.
My family often says that my
head reaches the sharpest edge 15 minutes after I wake up in the morning. I
guess it is the compensation of not being accustomed to stay up too late
(except for a VERY few reasons). Days when I have duty to prepare breakfast
usually ends up with me waking up even earlier.
Inability to wake up early is an
initial cue that my life rhythm is being disrupted.
Another thing to consider is my
willingness to work hard to the bone during the weekdays. Not that I am saying I
am the most hard-working person out there but I do take my responsibility with
dead-serious dedication.
My fuel runs down by the end of
Friday. As the Friday sun sets, my loco needs recuperation time, which means a
nearly-absolute need of undisturbed weekend with my head out of things you
define as ‘work’. It also means as undisturbed weekend I can use to explore my
other side of life such as quality times with my family, playing around with my
friends, or maybe just an undisturbed time between me and my favorite games.
A disturbed weekend means that I
will lose some of my ability to do my best in the following weekdays because my fuel
is not full enough to tackle all the obstacles. Which is completely terrible
for me.
In summary, I work hard, I play
hard.
I do well under pressure. I do well
with expectations. High one. People can expect me to take high performance
responsibilities because I am confident enough with my willingness to learn and upbeat work-drive to complete my tasks under almost
all circumstances.
Note that this only applies with
my loco being recharged every week.
See where I am talking?
Sure I do not mind if people
texts or calls me in weekend, but I cannot repress my urge to turn my
phone into airplane mode if those text and call are all about work.
Come on, it is weekend! We are
all human and we need recuperation. Can’t some hard workers get their
undisturbed time for two days?
Fine, this happened quite frequently
these weeks, which means I work under pressure and high expectation for too
long. Way to long. Three months with disturbed weekends. The result is ultimate
slow disruption of my own rhythm due to excessive tiredness.
Sure I know that everyone is
furious to complete their projects because time is running so fast to the end
of the year. I cannot blame the situation. I guess this happens because I miscalculated
my own ability to stand too long in impression of she-can-do-anything-smoothly.
This year I certainly multitask way too much for my own sake.
For weeks, I gradually lose my
sharpness and continuously need to stop my work pace every now and then. Prolonged
work is undeniable.
Rebellion sounds sweet. Not that
I want to. Rephrase, not that I want to spend my energy in rebellion.
I gradually lose my ability to
wake up early like I used to be. I did try to maintain my rhythm but slowly I have
to surrender to my own tiredness. Especially after some ruined weekends. I almost
do not have any fuels left to think sharp and crisp.
Well I did not write this post
to blame nor criticize some leaders out there, but I do make a mental note to
be a leader that will not disturb their team members’ weekend. For the very
least.
I think the root of these
deadlines is sloppy time management of both me and the leaders. Like I have
said, I miscalculated my own ability. You can say that I overestimated myself. Yes,
I did.
I should have seen this time
coming. Now that I am already inside this spinning world of
everything-is-deadline, I have no choice but to move along and keep doing my
task.
As for the leaders, well, I do
understand completely that they are far more busier than me, aren’t they? Or
they aren’t, are they? Well, whatever, I will not try to badmouth anyone here, because
I DO ENJOY BEING THEIR TEAM MEMBER, but I do hope I can do better in future if
I have to step up as leaders.
Do not get me wrong, I do not
like being in too much spotlights. I enjoy being someone pulling strings from
behind the stage. I am confident with my leadership skill, but I do not have that high ambition
to become leader.
Leaders supposed to be the most
tired person. Responsible leaders, I mean. Though maybe not physically tired. Leaders
supposed to be the one with concept and has responsibility to guide (guide, I said,
guide) their team to achieve success.
Not that I am trying to say my
leaders are bad. They are great leaders, great skills, and great achievement
history. It is just that everyone is being chased with a demonic angel by the
name of deadline.
Well, let’s just let it go for
now. I already feel better when I am writing this down. After this, I just
simply have to do my best again. What do you expect? Me saying to my leaders
that I am no longer able to finish my task?
Nuh-huh, I will complete this
year smoothly. I mean as smooth as I can manage, because leaving work
unfinished leaves a really bad taste on my tongue.
Besides, this life is easy to
follow. Whenever it gives you difficult times, it supplies you with growing
ability to overcome it.
So what is my reason in writing
this in a first place? To have some written talk with myself about this
difficult time so I will never forget it.
Why English? Because it grasps
my emotion a lot more beautiful than my own language. Face it, it is the truth.
No worries, I do love my country.
Thanks for reading and I do hope
you have a good time.
Rabu, 20 Agustus 2014
Quest 22: Brave
Siennra is one of the bravest people I have
ever known. Yang benar saja? Hahaha, seperti sebagian besar manusia lain,
maka saya pun tersusun atas kumpulan fears, worries, oksigen, plus, tentu saja, tanah. Pilihan ada di tangan saya, untuk terus terpaku dalam kenegatifan atau
memutuskan untuk bergerak ke kutub positif.
Bukan hal
mudah memang, apalagi dengan so many
people stare at me like that I am the most saddened person in the world,
haha :p
Lha terus
kenapa? Saya sih ndak mau menganggap diri sebagai korban, dan saya ndak begitu
peduli juga orang-orang mau menilai seperti apa. Toh saya juga tidak punya
waktu, dan, tidak mau mengorbankan waktu, buat re-explaining. People may
judge, hak mereka. Saya pun juga, punya judgement
seperti mereka.
Tapi memang,
saat saya benar-benar menarik diri dari komunitas untuk menenangkan diri, saat
itulah saya tahu siapa yang cukup care untuk mencari saya. Waktu itu saya tidak
berharap ditemukan, tapi syukurlah, saat saya membuka mata, saya tidak pernah
sendirian.
Mau lari
kemana? Tidak ada tempat lari. Mau menutup mata dan telinga seperti apa? Tidak
akan pernah bisa, kecuali saya buta dan tuli secara harfiah. Tapi saya masih disini,
di tempat dan posisi yang sama, peran yang sama, dengan mata dan telinga yang
masih berfungsi, menandakan bahwa peran saya disini belum selesai. Masih ada
banyak hal yang harus saya lakukan, apapun itu yang pernah terjadi pada saya.
Saya mungkin
tidak se-brave yang dilihat banyak orang, apalagi setegar yang didefinisikan
orang-orang terdekat saya, tapi saya cukup pede untuk bangga dengan logika yang
saya punya. Saya bangga ketika logika saya bisa menopang saya untuk berdiri
sedikit lebih tinggi daripada saya yang dulu.
Bohong banget
kalau dibilang there is no lingering
feeling, well duh I do hate some parts of my past, lha terus kenapa? Semua
hal yang saya lakukan adalah setulus-tulusnya, sejujur-jujurnya. I never lied of being who I am, with all the
similarities and differences. I was lost to fake-and-obviously-compelled similarities,
and so what? Walaupun dunia tidak cukup peduli untuk bersaksi, Allah tidak
pernah tidur. Cukuplah Ia yang tahu, cukuplah Ia yang menentukan.
I am brave enough to say that all that I ever
care of is my world, and those who are parts of it.
Minggu, 27 Juli 2014
under the blue sky
I had beautiful happiness, which
was irreplaceable.
It was crushed like nothing
though.
Then I chose to hate, to get
angry, to forget, all halfheartedly.
But,
The more I thought of it, the
more I found out that I was not someone like that.
After being calmed down a bit, logic
took over my sanity and led me to where I had to be.
It was a lot more saddening than
what I had experienced years ago, but I was also a lot more powerful than I had
been years ago.
I don’t need to be comforted
anymore.
I am my own valor healer.
By the end of this Ramadhan, I find my renewed resolution to step forward.
It would be lying to say that I do
not have any lingered feeling, either that I forget about what have been done,
It would be lying to say that it
is easy to forgive,
It is hard to forgive,
Let alone to forget.
But,
I guess to forget is to try rewriting
the history, which is obviously impossible.
I may never be able to forget, but at least, I do have to forgive.
I may still have difficulty to
forgive, but at least, I forgive myself,
For being such a fool,
And accept myself as a whole,
with all good memories and the bad.
I just have to do what I can do
for now and let the rest follow.
Today, under the blue sky of my
beloved place, I state a prayer to Allah, to forgive me for having such hatred
in my past.
To forgive me for being so blind
and deaf through every chance He gave me.
To forgive me for being so
stubborn to follow the path that was completely not for me.
To forgive me for being the way I
was.
And to give me one more chance
to start anew.
Amin…
Langganan:
Postingan (Atom)


