Tampilkan postingan dengan label introspeksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label introspeksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 November 2015

Antara Ego dan Kewajiban


never look down on people, because it is never a good feeling to be looked like that.

you need to read the post to know why I put this pic here


Senin, 05 Oktober 2015

Rabu, 25 Maret 2015

365



Some people said that nothing beats the hand of time. The most beautiful thing in the past will turn into less than most beautiful as time goes. The most painful thing in the past will turn into less than most painful as time goes. People’s memory is not that powerful to hold onto their past unless they try so hard to forget anything else.


365 hari berlalu sejak masa saya di sebuah tempat di kawasan Sarangan, Depok, Jawa Barat.
Pagi hari di masa itu saya akan bangun dalam kamar bersama dua orang rekan senasib saya untuk memulai hari. Aktivitas akan dimulai sejak pukul 5 pagi hingga pukul 4 atau 5 sore hari.
Apa saja aktivitasnya? Duduk, manis, ngopi, ngemil, ngechat (bukan ngecat), dan nge nge yang lainnya :p

365 hari berlalu sejak saya dipertemukan dengan puluhan orang yang sebelumnya tidak pernah saya kenal.
Mereka datang di tempat itu dari seluruh pelosok Indonesia, dikirim oleh instansinya masing-masing untuk menimba ilmu di tempat yang sama dengan saya selama kurang lebih 21 hari (atau kurang, soalnya saya lupa kapan start program dan kapan end program, hahaha).

365  hari berlalu sejak saya dipertemukan dengan puluhan orang di rentang usia saya yang memiliki kehebatan jauh di atas saya.
Mereka membuka wawasan saya bahwa di luar sana ada dunia yang sangat luas, tempat segala macam hal menunggu untuk ditemukan, tempat segala kesempatan menunggu untuk diambil. Sejujurnya, saya sempat merasa agak minder diantara mereka.

365 hari berlalu sejak saya merasakan hangatnya persahabatan dengan mereka.
Mereka menawarkan sebuah tipe persahabatan yang unik, dewasa dan relaks. Dengan merekalah saya memahami bahwa seperti inilah menjadi orang dewasa.

Kurang dari 365 hari berlalu sejak saya kembali teringat tentang adanya ‘persona’ yang ditampilkan oleh manusia dalam waktu tertentu.
Apa yang terlihat di permukaan, kadang adalah cerminan lain dari diri sendiri.


Some people said that dream is a gate of your sub consciousness. It shows you what you really hold dear, what you really want, or what you really hate. In dream world, you are unrestrained by anything.

Jumat, 21 November 2014

Selamat Datang Kembali

Well it is such a troublesome November.

Belum 100 jam setelah Work and Weekend saya posting, sesuatu yang berbeda (baca; sangat berbeda) justru terjadi.

*

Okay sebagai starter, saya menemukan gentamisin milik saya, yang notabene amat sangat saya perlukan dalam penelitian saya. Si genta ini sudah menghilang selama beberapa minggu dan saya sudah memutuskan untuk menghentikan pencarian karena cuaca kurang mendukung...
... uhuk... karena saya sudah lelah mencarinya.

Dan ternyata si genta ini duduk manis nicely tucked like so very safe and sound di ceruk pintu kulkas bahan.

Dan si genta ini menghadap ke depan, yang seharusnya (baca: SEHARUSNYA) akan langsung terlihat begitu kulkas dibuka.

*

Argh, okay, begitulah, saat otak jadi tumpul, maka t-rex di pelupuk mata pun tak nampak...
(bayangkanlah seberapa gede matanya).
Singkat cerita, saya berangkat dari Lab menuju Pasca untuk mempersiapkan kuliah tamu dengan gembira dan penuh semangat (sesuatu yang sudah selama sebulan terakhir nyaris hilang dari keseharian saya bersama Mbah Deadline)

*

Jadi... ... menjelang kuliah tamu terjadi kehebohan soal moderator, karena moderator yang sudah terpilih entah bagaimana ingin undur diri.
Strictly speaking, sebagai rakyat jelata yang membantu sebuah acara di program studi, normally saya tidak akan terlalu memperhatikan siapa moderatornya. Tugas saya sebagai petugas multimedia tidak menaruh 'perhatikan moderator' dalam tupoksi, tapi 'perhatikan speaker'.

Tapi saya melanggar tupoksi saya dan memperhatikan gerak gerik sang moderator.

Kenapa? Tentunya karena moderator saya ini spesial buat saya (wadaw, ada yang ngelempar sepatu) karena beliau adalah mantan penguji saya.
Well, lebih tepatnya nyaris menjadi penguji, karena saya berhasil meraih nilai cukup untuk bebas ujian akhir dan tidak bertemu dengan beliau di kursi panas. Sekilas terkenang upaya saya untuk membebaskan diri dari ujian karena saya amat sangat SANGAT khawatir dengan nilai ujian saya. Saya hampir yakin bahwa saya tidak akan lulus jika saya tidak bisa membebaskan diri dari ujian akhir.

Well I made it alive, sodara-sodara. Worth a fight banget endingnya di tahun 2013.

Maka kuliah tamu pun berjalan lancar, saya berhasil mengawal multimedia dan terutama kelancaran presentasi speaker selama acara berlangsung.
(Oke, sejak dulu saya 'dipercaya' punya skill khusus soal pengawalan yang satu ini dan saya selalu enjoy menjadi pengawal)

Begitu kuliah tamu selesai, saya memasang diri untuk dihujani permintaan mahasiswa yang ngopi kuliah. maka saya menyodorkan laptop untuk mereka isi dengan alamat email mereka sementara saya kukut-kukut peralatan lainnya.
And then that was the moment of truth saat mantan penguji saya mendatangi saya dan menghujani dengan sejumlah besar pertanyaan bernada ketidakpuasan beliau atas kuliah hari itu.

Saya (yang notabene bukan orang yang bertanggung jawab penuh atas hal tersebut) pastinya memiliki dua opsi: diam ketika disalahkan atau mengklarifikasi dengan sopan.

Santai saja, saya lakukan yang kedua kok.
Well at least I was trying to do the second choice, until it got in my nerves so hard and I... uh... kind of... change into offensive mode.
Haha... mungkin saya masih sakit hati atas perlakuan beliau di masa lalu, mungkin saya sudah dalam kondisi terlalu lelah, mungkin sederhananya saya tidak suka disalahkan atas sesuatu yang tidak saya lakukan, atau mungkin ketiga-tiganya benar...
Tapi ya itulah, I shot back the fire thrown at me.

Dan terjadilah sinetron.
Padahal saya pinginnya jadi serial laga.
#eh

*

Kemudian saya kembali ke Lab dan beberapa orang langsung menanyai saya, "Udah selesai nih perangnya?" dan membuat saya ketawa ngakak. Terakhir kali saya membela diri saat disalahkan pada saat saya masih berstatus koas di sebuah rumah sakit, nilai akhir saya kena diskon.
Tapi saya bukan lagi mahasiswa. Saya berdiri di tempat yang sama dengan mereka.

*

Yah begitulah,
Event selanjutnya yang saya alami adalah badai mahasiswa yang mencari saya untuk konsultasi. Yep, bukan hanya kami yang dikerjain sama Mbak Deadline, tapi juga mahasiswa.
Yang mengejutkan, justru saya malah banyak tertawa dan tertawa bersama mereka. Bahkan kami sempat membahas perbedaan umur diantara kami yang sebenarnya tidak begitu jauh.

Membimbing penelitian mereka tanpa diduga memberikan efek positif pada saya. Pada dasarnya saya adalah orang yang sangat kepo, jadi penelitian adalah sesuatu yang sangat saya sukai, karena saat meneliti, saya bebas mengaplikasikan kekepoan saya sampai di tahap manapun.
Dengan meneliti juga, saya memperluas cakrawala kepo saya menjadi lebih dan lebih lebar lagi.

*

Kegiatan pun lalu berlanjut dengan kuliah di siang hari pada hari Jumat. Saat masuk kelas, saya sudah mendeklarasikan bahwa saya tidak akan melarang mereka tertidur karena anginnya sangat semilir. Maklum kelas tersebut semi-outdoor, jadi angin semilir di siang yang panas tidak akan terhalang oleh apapun untuk membelai benak-benak yang lelah.

Saya sebenarnya tidak punya tips apapun dalam menghadapi kelas di siang hari seperti itu, jadi ya saya jujur saja mengatakan bahwa mereka bebas untuk tidur dengan tambahan 'tapi saya akan sangat bersyukur jika kalian mau meluangkan waktu untuk mendengarkan saya sebentar saja'

Dan di akhir sesi tersebut, sembilan dari delapan puluh orang mengacungkan jari untuk bertanya, padahal jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.

Guess I did a good job then :)

*

Setelah kuliah tersebut, saya pun berjalan (sempat kesandung) menuju Plue sambil tersenyam-senyum. Ada suatu rasa puas tersendiri yang sudah lama tidak saya rasakan karena pressure yang saya alami. Sejujurnya, saya menikmati berdiri di depan kelas seperti itu karena pada saat itulah juga saya bisa menularkan kekepoan saya pada semua yang hadir.
Hahaha, tidak selalu berhasil sih, tapi cukup membuat suasana lebih tidak seperti kuburan saat kuliah berlangsung :p

Bersama Plue, saya pun menempuh perjalanan pulang. Saat sadar, saya sudah karaokean di dalam Plue dan saya pun tertawa (sendirian).
Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya pulang dengan perasaan seperti itu. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya pulang sambil karaokean seperti itu.
So i giggled along the road for the sake of weirdness. THIS IS MY OLD UNRESTRAINED SELF.

Saya menyimpulkan bahwa jika ada hal yang paling memberikan kekuatan pada saya, maka hal itu adalah kebebasan.
Bukan kebebasan sebebas-bebasnya, tapi bebas menggunakan potensi saya seperti yang saya inginkan, bebas berdiri di atas kaki saya sendiri tanpa terjebak keharusan tunduk pada sesuatu yang bertentangan dengan saya dan... bebas kepo semau saya.

Hari ini, saya mengucapkan selamat datang kembali pada diri saya yang sebenarnya, diri saya yang bebas berpikir semau saya, bebas mengeksplorasi potensi diri saya sendiri dan mengaplikasikannya sesuai yang saya inginkan (... ... dalam batas normal, tentunya).

Saya mungkin masih bukan siapa-siapa, tapi semua orang juga mulainya dari situ kan? Kalau seseorang sudah di puncak maka ia tidak punya jalan lain kecuali diam atau kembali turun ke bawah.

Life is interesting again once I get hold of my own self again. Once again, I'll do my best once again. If I ever fail again, I will get back up and try again. If I ever cry again, I will accept my sadness and wipe my tears again. If I ever fear again, I will accept the fear and learn to overcome it again.

This is my life, this is my magic.

*

Rabu, 19 November 2014

Work and Weekend

Being an originally morning person, this head works best in very early morning. Most of my leftover works are done by the time sun rises.
My family often says that my head reaches the sharpest edge 15 minutes after I wake up in the morning. I guess it is the compensation of not being accustomed to stay up too late (except for a VERY few reasons). Days when I have duty to prepare breakfast usually ends up with me waking up even earlier.
Inability to wake up early is an initial cue that my life rhythm is being disrupted.

Another thing to consider is my willingness to work hard to the bone during the weekdays. Not that I am saying I am the most hard-working person out there but I do take my responsibility with dead-serious dedication.
My fuel runs down by the end of Friday. As the Friday sun sets, my loco needs recuperation time, which means a nearly-absolute need of undisturbed weekend with my head out of things you define as ‘work’. It also means as undisturbed weekend I can use to explore my other side of life such as quality times with my family, playing around with my friends, or maybe just an undisturbed time between me and my favorite games.
A disturbed weekend means that I will lose some of my ability to do my best in the following weekdays because my fuel is not full enough to tackle all the obstacles. Which is completely terrible for me.
In summary, I work hard, I play hard.

I do well under pressure. I do well with expectations. High one. People can expect me to take high performance responsibilities because I am confident enough with my willingness to learn and upbeat work-drive to complete my tasks under almost all circumstances.
Note that this only applies with my loco being recharged every week.

See where I am talking?
Sure I do not mind if people texts or calls me in weekend, but I cannot repress my urge to turn my phone into airplane mode if those text and call are all about work.
Come on, it is weekend! We are all human and we need recuperation. Can’t some hard workers get their undisturbed time for two days?

Fine, this happened quite frequently these weeks, which means I work under pressure and high expectation for too long. Way to long. Three months with disturbed weekends. The result is ultimate slow disruption of my own rhythm due to excessive tiredness.
Sure I know that everyone is furious to complete their projects because time is running so fast to the end of the year. I cannot blame the situation. I guess this happens because I miscalculated my own ability to stand too long in impression of she-can-do-anything-smoothly. This year I certainly multitask way too much for my own sake.
For weeks, I gradually lose my sharpness and continuously need to stop my work pace every now and then. Prolonged work is undeniable.
Rebellion sounds sweet. Not that I want to. Rephrase, not that I want to spend my energy in rebellion.

I gradually lose my ability to wake up early like I used to be. I did try to maintain my rhythm but slowly I have to surrender to my own tiredness. Especially after some ruined weekends. I almost do not have any fuels left to think sharp and crisp.

Well I did not write this post to blame nor criticize some leaders out there, but I do make a mental note to be a leader that will not disturb their team members’ weekend. For the very least.
I think the root of these deadlines is sloppy time management of both me and the leaders. Like I have said, I miscalculated my own ability. You can say that I overestimated myself. Yes, I did.
I should have seen this time coming. Now that I am already inside this spinning world of everything-is-deadline, I have no choice but to move along and keep doing my task.

As for the leaders, well, I do understand completely that they are far more busier than me, aren’t they? Or they aren’t, are they? Well, whatever, I will not try to badmouth anyone here, because I DO ENJOY BEING THEIR TEAM MEMBER, but I do hope I can do better in future if I have to step up as leaders.
Do not get me wrong, I do not like being in too much spotlights. I enjoy being someone pulling strings from behind the stage. I am confident with my leadership skill, but I do not have that high ambition to become leader.

Leaders supposed to be the most tired person. Responsible leaders, I mean. Though maybe not physically tired. Leaders supposed to be the one with concept and has responsibility to guide (guide, I said, guide) their team to achieve success.
Not that I am trying to say my leaders are bad. They are great leaders, great skills, and great achievement history. It is just that everyone is being chased with a demonic angel by the name of deadline.

Well, let’s just let it go for now. I already feel better when I am writing this down. After this, I just simply have to do my best again. What do you expect? Me saying to my leaders that I am no longer able to finish my task?
Nuh-huh, I will complete this year smoothly. I mean as smooth as I can manage, because leaving work unfinished leaves a really bad taste on my tongue.
Besides, this life is easy to follow. Whenever it gives you difficult times, it supplies you with growing ability to overcome it.

So what is my reason in writing this in a first place? To have some written talk with myself about this difficult time so I will never forget it.
Why English? Because it grasps my emotion a lot more beautiful than my own language. Face it, it is the truth. No worries, I do love my country.


Thanks for reading and I do hope you have a good time.

Rabu, 20 Agustus 2014

Quest 22: Brave

Siennra is one of the bravest people I have ever known. Yang benar saja? Hahaha, seperti sebagian besar manusia lain, maka saya pun tersusun atas kumpulan fearsworries, oksigen, plus, tentu saja, tanah. Pilihan ada di tangan saya, untuk terus terpaku dalam kenegatifan atau memutuskan untuk bergerak ke kutub positif.

Bukan hal mudah memang, apalagi dengan so many people stare at me like that I am the most saddened person in the world, haha :p

Lha terus kenapa? Saya sih ndak mau menganggap diri sebagai korban, dan saya ndak begitu peduli juga orang-orang mau menilai seperti apa. Toh saya juga tidak punya waktu, dan, tidak mau mengorbankan waktu, buat re-explaining. People may judge, hak mereka. Saya pun juga, punya judgement seperti mereka.

Tapi memang, saat saya benar-benar menarik diri dari komunitas untuk menenangkan diri, saat itulah saya tahu siapa yang cukup care untuk mencari saya. Waktu itu saya tidak berharap ditemukan, tapi syukurlah, saat saya membuka mata, saya tidak pernah sendirian.

Mau lari kemana? Tidak ada tempat lari. Mau menutup mata dan telinga seperti apa? Tidak akan pernah bisa, kecuali saya buta dan tuli secara harfiah. Tapi saya masih disini, di tempat dan posisi yang sama, peran yang sama, dengan mata dan telinga yang masih berfungsi, menandakan bahwa peran saya disini belum selesai. Masih ada banyak hal yang harus saya lakukan, apapun itu yang pernah terjadi pada saya.

Saya mungkin tidak se-brave yang dilihat banyak orang, apalagi setegar yang didefinisikan orang-orang terdekat saya, tapi saya cukup pede untuk bangga dengan logika yang saya punya. Saya bangga ketika logika saya bisa menopang saya untuk berdiri sedikit lebih tinggi daripada saya yang dulu.

Bohong banget kalau dibilang there is no lingering feeling,  well duh I do hate some parts of my past,  lha terus kenapa? Semua hal yang saya lakukan adalah setulus-tulusnya, sejujur-jujurnya. I never lied of being who I am, with all the similarities and differences. I was lost to fake-and-obviously-compelled similarities, and so what? Walaupun dunia tidak cukup peduli untuk bersaksi, Allah tidak pernah tidur. Cukuplah Ia yang tahu, cukuplah Ia yang menentukan.


I am brave enough to say that all that I ever care of is my world, and those who are parts of it. 

Minggu, 27 Juli 2014

under the blue sky

my favorite color of the sky, blue with no cloud

Looking back at my days,
I had beautiful happiness, which was irreplaceable.
It was crushed like nothing though.
Then I chose to hate, to get angry, to forget, all halfheartedly.

But,
The more I thought of it, the more I found out that I was not someone like that.
After being calmed down a bit, logic took over my sanity and led me to where I had to be.
It was a lot more saddening than what I had experienced years ago, but I was also a lot more powerful than I had been years ago.
I don’t need to be comforted anymore.
I am my own valor healer.

By the end of this Ramadhan, I find my renewed resolution to step forward.
It would be lying to say that I do not have any lingered feeling, either that I forget about what have been done,
It would be lying to say that it is easy to forgive,
It is hard to forgive,
Let alone to forget.

But,
I guess to forget is to try rewriting the history, which is obviously impossible.
I may never be able to forget, but at least, I do have to forgive.
I may still have difficulty to forgive, but at least, I forgive myself,
For being such a fool,
And accept myself as a whole, with all good memories and the bad.
I just have to do what I can do for now and let the rest follow.

Today, under the blue sky of my beloved place, I state a prayer to Allah, to forgive me for having such hatred in my past.
To forgive me for being so blind and deaf through every chance He gave me.
To forgive me for being so stubborn to follow the path that was completely not for me.
To forgive me for being the way I was.
And to give me one more chance to start anew.

Amin…