Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2015

Senin, 23 Juni 2014

Aku, Ibu, dan Juni 2014

Tidak ada yang lebih tidak saya sukai di dunia ini daripada kepercayaan yang dihancurkan.  
Ini adalah cerita spontan yang saya alami pada periode 17 Juni 2014 sampai dengan 23 Juni 2014.


“Sudah selesai kah?” tanya ibu saya pagi ini, 23 Juni 2014.
Dengan poker face dan ketap ketip saya menelengkan kepala dan kemudian mengerutkan dahi.
“Marahmu, sudah selesai?”
Saya tertawa kecil mendengar ibu saya bertanya demikian, “… yah…”
“Oke, yuk dibahas,”
Sambil melet, saya pun akhirnya bersedia untuk bicara tentang penyebab kemarahan saya yang memuncak dengan agak kurang ‘wajar’ (kata ibu saya). Beliau berkata demikian karena kemarahan saya sempat bocor di Facebook, sementara selama ini tidak pernah sampai segitunya.
(padahal di twitter kata teman saya semacam rapuh porak poranda alias rapopo alias tidak apa apa)

Kepada ibu, saya bercerita semuanya. Mulai dari mimpi buruk yang saya alami satu setengah bulan yang lalu (yang ternyata definitely adalah pertanda), kemudian ‘Suggestion to Follow’ di Twitter (yang sepertinya fitur ini lebih ‘indigo’ dari kelihatannya :p), sampai dengan telepon yang saya terima pada hari Selasa, 17 Juni 2014 sekitar pukul setengah empat sore.
Saya ceritakan alasan kemarahan saya dengan sejujur-jujurnya. Diatas segalanya, kemarahan saya disebabkan karena bohongnya seorang yang sungguh-sungguh saya percayai. Rasanya sulit bagi saya untuk percaya bahwa kepercayaan saya padanya berujung pada kondisi yang seperti saat ini. Saya akui pada ibu, sebelumnya saya selalu percaya bahwa ia adalah orang yang baik dan honest, sehingga saat saya menemukan hal krusial yang ia belokkan, saya pun marah.
Saya merasa kepercayaan saya dikhianati.
Saya sih tidak terlalu mempermasalahkan soal ending (ya masalah sih, tapi tidak ada apa-apanya dibanding dibohongi selama sebulan lebih), tapi janganlah mengkhianati kepercayaan saya. Pada dasarnya saya berhak tahu sejak awal, tapi entah kenapa, entah bagaimana, ia yang saya percayai, justru bertindak sebaliknya.

Satu sisi yang lain adalah saya marah pada diri saya sendiri karena tidak bisa mempergunakan petunjuk di sekeliling saya dengan benar. I should have known, kata saya berkali-kali pada diri saya sendiri. Seharusnya saya lebih percaya pada logika saya dibandingkan hal lain yang saya rasakan di muka bumi ini.
Ibu saya pun berkomentar, “Tapi logikamu itu kadang membuatmu jadi orang kejam,”
Haha, memang sih, saya kejam. Saya bilang pada ibu bahwa sahabat saya bilang, curse yang saya keluarkan terlalu sadis dan saya harus istigfar.

Saya pun bilang pada ibu, bahwa seorang sahabat saya yang lain bilang seperti ini, “Understandable kok kau marah sampai ke taraf seperti itu. Yah semua bahkan bereaksi sama sepertimu. Aku sih mau-mau aja lempar ban serep (yang saya suruh nambahi bom ala kuciang) ke alamat dia, secara alamatnya deket sama alamatku disini, tapi kamu bukan orang yang bisa sungguh-sungguh berharap keburukan bagi orang lain lho… You will forgive, I know that,”

Plus komentar dari sahabat saya yang lain, “Been there. Damn hurt. Kau emang lagi apes. Let it go lah…”

Intinya, semua orang terdekat saya bilang bahwa pada akhirnya saya akan memaafkan, karena biasanya saya tidak tahan memiliki emosi negatif terlalu lama (baca: biasanya sebentar tapi intensitas tinggi, katanya).

Ibu saya pun ngakak mendengar cerita saya. “Terus, kasi tau ibu dong, hikmah apa yang kamu dapat sekarang?”
 “Orang Jawa adalah yang terbaik?” adalah komentar pertama saya sambil ketap ketip dan garuk-garuk kepala. Tapi dengan segera saya menambahkan, “Ndak juga sih, semua orang pada dasarnya baik. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa meminta ingin lahir di mana dan ingin orang tua seperti apa. Itu bukan alasan untuk memberi judgement ke orang lain,”
“Terus?”
“Setiap kesalahan itu ya bawaan orangnya sendiri-sendiri. Hidup itu isinya cuma pilihan dan konsekuensi,” kata saya sambil nyengir.
Ibu pun tertawa kecil sambil menambahkan, “Ndak lah… isinya juga bisa usaha,”
Saya mengangguk, “Iya. Paling tidak, dengan percaya sama dia, aku sudah berusaha semampuku. Paling tidak, aku ndak bakalan lebih menyesal daripada kalau aku ndak ngapa-ngapain,”

Ibu ikutan mengangguk, “Terus, apa isi doamu sekarang?”
“Semoga kebenaran yang tersembunyi bakal terungkap. Semoga hal-hal yang terbelokkan bakal terluruskan. Semoga yang benar akan tetap benar, dan semoga yang salah diberikan kemudahan,”
Ibu saya agak kaget, “Hah? Kemudahan apa?”
Sambil memasang muka serius saya menjawab, “Kemudahan bertemu dengan karma,”
“Ya ampun, sudahlah, semakin kamu memberatkan yang sudah lewat, semakin langkahmu terbebani lho nduk,”
Saya menghela napas sambil mencucu, “Habisnya, enak aja dia dengan entengnya bohong gitu. Aku lho disini percaya bahwa dia orang yang baik,”
“Maafin saja lah…”
Dengan keras kepala saya pun menjawab, “Hah? Enak banget? Dia bohong sebegitu lama dan aku disuruh memaafkan gitu?”

Ibu saya menghela napas, “Ya sudah, ndak usah dimaafkan juga gakpapa, tapi…”
“Tapi…?”
“Pernah ndak kamu mikir hal seperti apa yang dia alami disana? Apa alasan dia membohongimu? Kenapa dia harus bohong? Apakah murni keinginannya sendiri?”
Saya agak melongo, tapi ibu saya melanjutkan dengan serius.
“Kamu tu bukan orang yang bodoh lho. Kamu tahu alasan kenapa kamu percaya dan kenapa kamu tidak percaya. Alasan kepercayaanmu ke dia kurang lebih adalah karena kamu tahu dia orang yang baik kan?”
“Iya sih, tapi bisa saja itu akal-akalan dia biar aku percaya kan?” protes saya.
Ibu saya mengangguk, “Memang. Tapi gimana kalau dia aslinya memang sebaik yang kamu tahu tapi dia terpaksa bohong sama kamu?”
Saya tertawa, “Tetep aja, bohong ya bohong,”
“Menurut Ibu sih, pasti ada alasannya, dan Ibu yakin kalau kamu bisa meredakan marahmu, kamu tahu apa yang Ibu maksud... Kadang-kadang ya nduk, ada kebenaran yang memang tidak akan pernah terungkap. Bukan karena itu bukan kebenaran, tapi itu hanya sekedar jalan untuk kebenaran lain yang lebih besar,”
Dengan keras kepala saya protes lagi, “Tapi aku masih marah,”
“Iya keliatan jelas kok (dan saya nyengir waktu ibu bilang ini). Tapi seperti yang dibilang temen-temenmu, kamu bakal memaafkan, entah kapan. Kayaknya sih ndak lama, eh ya ndak tau sih, kamu tu kadang aneh dan ndak bisa ditebak (aih… ini ibu saya yang bilang lho). Yah, apapun lah, mau kamu tetep marah atau mau maafin pun, yang jelas, yang sudah selesai ya sudah, ndak bisa kamu bawa kemana-mana lagi. Ibu yakin, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kedepan,”

Setelah diam mencerna kata-kata ibu, saya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan keluar. Dua pertiga amarah saya menguap saat saya berbincang dengan ibu saya (walaupun saya mungkin tidak mengakui sih ke ibu).

Semoga yang benar akan terungkap. Semoga yang benar akan dimunculkan. Semoga yang salah-salah akan tenggelam dengan cara yang damai. Semoga semua hal benar yang terbelokkan akan terluruskan kembali dan dunia akan paham apa yang sebenarnya terjadi.

Saya sih ndak mau berubah, akan tetap all out dalam segalanya. Saya sudah belajar sejak bertahun-tahun silam bahwa menyesal karena gagal masih selalu lebih baik daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa.

the mementos of 'don't be angry' and 'we are here by your side'

(ditulis sambil reminiscence tentang hal yang saya alami sejak Maret hingga Juni 2014 sambil ditemani lagu instrumental favorit saya FALLING DOWN (by Shoji Meguro). Kemudian buru-buru mandi dan berangkat ngampus :p)

Senin, 22 Juli 2013

Juli 2011 - Juli 2013

“Sejuta cerita,” adalah satu-satunya kalimat yang bisa menggambarkan apa yang terjadi dalam rentang waktu itu,
Sekian banyak tawa, sekian banyak kekecewaan, sekian banyak pertemuan dan sekian banyak perpisahan, semua terangkum dalam dua tahun penuh warna selama saya kuliah magister,
What the? Saya kuliah magister bukan untuk cari masalah tapi…

Tapi kenyataannya memang banyak permasalahan yang muncul, dan bukan hanya sekedar banyak,
Banyak sekali, ehehehe XD

Dua tahun sekolah magister, saya disuguhi sekian banyak macam manusia yang bahkan lebih variatif dibanding dua puluh tiga tahun saya hidup,
Tanpa saya sadari, justru yang banyak saya pelajari bukannya masalah materi perkuliahan (karena perkuliahan saya amat sangat membahagiakan, hohoho), tapi bagaimana terus hidup dan terus tersenyum apapun yang terjadi,
Kenapa?
Karena permasalahan akan terus muncul, terus dan terus, dan selama kita masih bernapas maka masalah itu akan selalu ada,
Tinggal bagaimana saya menghadapinya :)

Bisa dibilang, selama tahun 2012, saya seperti kitiran, muter sana-muter sini, mencari tempat dimana saya harus berpijak, mencari rasa aman dan rasa terlindungi, menjauhkan diri dari rasa khawatir dan takut kehilangan,
Uniknya, selepas tahun 2012 saya menemukan bahwa saya sudah berpijak di tempat saya ingin berada, dan saya sadar bahwa tak ada yang lebih bisa membuat saya merasa aman dan terlindungi, selain diri saya sendiri,
Well, to tell you the truth, ada harga yang luar biasa mahal yang harus saya bayar demi melewati 2012,
Harga yang tak semua orang tahu karena saya selalu ketawa ketiwi ngalor ngidul, ahahaha XD
Jangan ditanya, karena bakal butuh SATU BLOG SENDIRI buat menjelaskan apa yang terjadi sejak 1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2012 *halah, lebay*

Nope, seriously, kalau ditanya kapan saat-saat tersulit dalam dua puluh lima tahun hidup saya, itu adalah sepanjang tahun 2012 :’)

Heran juga kok saya masih hidup setelah sempet jadi butiran debu *heh*
Dan ternyata saya masih punya LIVER lho sodara-sodara, hehehehehe XD

Setelah 2012 yang penuh konflik, saya menemukan diri saya menjadi beberapa tingkat lebih dewasa dibandingkan tahun 2011,
Dan saya pun sadar, mungkin karena saya yang tahun 2011 ‘masih seperti itu’-lah, sehingga saya pun dipisahkan Tuhan dari salah satu mimpi terindah yang pernah saya punya,
Dengan cara yang mengenaskan pula, ahahaha XD
Etapi toh sekarang saya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala :p

2013, saya akhirnya sadar kenapa saya mengalami segala macam hal di 2012, kenapa saya dihadapkan pada sekian banyak orang yang bermacam-macam, kenapa saya diharuskan melalui fase-fase yang saya sama sekali tidak suka,
Itu semua karena hidup saya baru saja akan dimulai,
The real one, on my own,

Dua tahun yang lalu, saya ingat pernah bertanya pada saudara saya, “Gimana caramu terus tersenyum?”
Dan dia menjawab agak kebingungan, “Itu… lirik lagu?”
*ngakak*
Yah, sekarang kalau saya lihat kembali sih… iya sih ya… itu kalimat kok berasa kayak lirik lagu ya? *ngakak*

Dulu saya selalu berpikir bahwa orang lain-lah yang merubah saya,
Dan memang, ada beberapa orang dalam kehidupan saya yang memiliki andil besar dalam pembentukan kepribadian saya yang terus berubah sejak saya masuk kepala dua,
Seumur hidup, saya berhutang budi pada mereka, karena seandainya tidak ada mereka, tidak akan ada saya yang sekarang ini,
Hanya saja,
Ternyata sebesar apapun, tetap kita sendirilah yang membuat perubahan terbesar, tentang bagaimana kita memutuskan untuk menanggapi kehidupan dan segala macam bebatuan yang kita temukan di perjalanan kita menuju akhir…

Dua puluh lima tahun, akhirnya saya sampai di titik ini, sebuah poin dimana saya sadar bahwa hidup ini indah,  bukan karena semata-mata takdir, tapi karena kita yang memilih untuk membuatnya indah :)

Oh well… where is my sense of emergency anyway? I kinda lose it for good…


#np Shooting Star, Owl City

Rabu, 03 April 2013

Ikatan Batin Memang Benar-Benar Ada


Saat saya menulis ini, saya mengalami malam yang penuh tawa,
Lebih tepatnya ketawa ngakak,
Menertawakan diri sendiri kalau detilnya,
Menertawakan keadaan kalau agak lengkapnya,

Tahukah kamu? Yang dinamakan ikatan batin itu ternyata memang benar-benar ada. Tidak perlu selalu bersama sepanjang waktu, asal ada yang namanya ketulusan untuk satu sama lain, ikatan batin itu bisa melampaui jarak dan waktu.

picture from here

Dengan siapa ikatan batin itu terbentuk? Dengan orang-orang yang dekat di hati kita, bisa keluarga, saudara, sahabat, orang spesial? Well, ikatan batin itu milik siapa saja kok, tidak terbatas.
Yang jelas agak lucu saat kita menyadarinya tanpa sengaja, semacam tetiba ada event dimana mereka tetiba terhubung dengan kita tanpa kita berharap tentang munculnya kondisi tersebut.
Hihihi…

But trust me, kondisi seperti itu akan membuat kita bersyukur sekali,
Bersyukur karena ternyata Yang Di Atas masih menjaga mereka, mengingatkan tentang kita pada mereka seperti kita ingat tentang mereka, mengisi sedikit waktu mereka dengan ingatan tentang kita, dan membuktikan bahwa ikatan itu memang benar-benar ada.

Maka dimulailah edisi kangen karena tetiba kita akan teringat betapa indahnya waktu yang pernah kita lalui bersama mereka dan betapa inginnya kita kembali ada diantara mereka.
Namun jika memang tak mungkin kembali bersama mereka, toh ikatan batin itu ada, dan seterusnya akan terus dijaga oleh-Nya,

Asal kita tulus dan asal kita percaya.

Karena Dia Maha Penjaga :)

----------------------------------------------------------------------------------------------

“Circle me and the needle moves gracefully, back and forth, If my heart was a compass you’d be north.
Risk it all cause I’ll catch you when you fall, wherever you go if my heart was a house you’d be home,”
#np If My Heart was A House  -Owl City-
(one of the most beautiful song I’ve ever heard)

picture from here

Sabtu, 29 Desember 2012

June 2012. Finding.



Saya tidak menemukan satupun postingan yang bisa mewakili apa yang terjadi pada saya pada bulan Juni, jadi saya buat postingan baru disini. Saya ingat betul bahwa satu lagu yang menjadi teman setia saya sepanjang bulan ini adalah To Make You Feel My Love versi Kelly Clarkson. Lagu ini banyak menguatkan saya, dan menginspirasi saya untuk kembali membuat ibu saya tersenyum.

Satu kejadian ter-paling-tak-bisa-terlupakan adalah kejadian di awal bulan Juni, kalau tidak salah sekitar tanggal 10-13 Juni (lupa), saat saya pulang sambil ketawa-ketiwi.
Tapi rupanya ibu saya lebih paham, dan justru menanyai saya apa yang terjadi.
Kalau dulu berkaitan dengan bulan Januari saya bisa dengan mudah menyembunyikan perasaan saya, maka hari itu yang saya lakukan adalah memeluk ibu saya dan menangis sekuat tenaga.

Jelas saja, ibu saya kaget, soalnya selama dua puluh empat tahun saya hidup, saya tidak pernah menangis seperti itu,
Terakhir kali ibu saya melihat saya nangis adalah saat saya masih duduk di kelas satu SD, saat saya pulang sambil menangis gara-gara digangguin sama teman sekelas saya.
That’s why, saat melihat saya nangis seperti itu, ibu saya kebingungan,

Saya nangis selama tiga puluh menit, lalu menceritakan kepada ibu saya apa yang terjadi di kampus pada siang harinya,
Bagaimana hal yang saya percayai justru berbalik menjadi kelemahan terbesar yang membuat saya prone to crashing,

Tapi segera setelah saya selesai cerita, saya agak menyesal, karena saya merasa sudah membuat ibu saya khawatir,
Dan saya merasa bahwa setelah itu, berapa kalipun saya bilang saya baik-baik saja, itu tidak akan merubah kekhawatiran ibu,

Yang ternyata salah,

Ibu saya justru meminta saya untuk menerima kenyataan sebagai kenyataan, bukan sebagai sesuatu yang harus ditunda untuk diakui,
Kalau memang terjadinya seperti itu ya sudah berarti harus diterima seperti itu,
Karena ada beberapa hal di dunia ini yang walaupun kita berusaha merubah sampai seperti apapun, memang ditakdirkan tidak akan berubah,
Dan kalau memang hidup mengambil kembali kepercayaan saya, maka yang harus saya lakukan adalah menerima bahwa kepercayaan memang sesuatu yang datang dan pergi, dan saat itu adalah saatnya kepercayaan saya pergi,

Intinya, ibu mengatakan pada saya bahwa, ya itulah hidup, kita harus menjalaninya dengan serius, tapi tidak harus menseriusi semua hal dalam hidup,

Ajaibnya, perlahan setelah kejadian itu terjadi, saya dan ibu saya dengan sendirinya mengetahui fakta yang selama ini tertutupi dengan sempurna,
Semacam akhirnya kami memahami kenapa Allah tidak mengizinkan kami untuk percaya lebih jauh,
Semacam akhirnya kami memahami kenapa Allah mempersulit jalan menuju kepercayaan yang lebih besar,
Karena ternyata apa yang kami percayai adalah sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dipercayai,

Menemukan fakta yang bertolak belakang dari apa yang saya pikirkan adalah sesuatu yang sangat menguras tenaga saya, tenaga untuk merasionalisasi kenapa kok bisa seperti itu,
Maklum, saya terlanjur percaya sih… :p

Lucunya, saya dan ibu saya menyadari bahwa sebenarnya saya sudah mendapat beberapa firasat jauh sebelum bulan Juni, namun saya memilih untuk mengesampingkan hal tersebut dan tetap percaya,

Sejak saat itu saya belajar bahwa hidup memang penuh dengan hal tidak terduga,
Hal-hal yang menurut saya sempurna di bulan Mei, dalam waktu beberapa hari di bulan Juni langsung berubah menjadi hal yang paling membuat saya pingin melempar sesuatu ke seseorang,
Bisa meja, bisa kursi, bisa granat, bisa macan, yang jelas bukan beruang madu,
#oposeh

Hikmah yang bisa saya ambil adalah bahwa Allah memiliki caranya sendiri untuk menceritakan petuahnya tentang kehidupan, bisa dengan cara yang mudah dipahami, bisa dengan cara yang amat sangat sulit dipahami.
Tapi yang jelas, di setiap hal sulit yang kita lalui, Allah menyimpan alasan mengapa Dia membuat hidup jadi demikian desperate.
Tinggal kapan Allah memutuskan untuk mengungkapkan semua hal yang tadinya tidak bisa kita lihat,

Kalo dipikir-pikir, dibandingkan bulan Januari, bulan Juni ini sebenarnya JAUH lebih sulit saya lalui,
Tapi alhamdulillaah, saat ini saya bisa mengenangnya sambil bersyukur dan sambil berjanji bahwa saya tidak akan jadi sebodoh ini lagi :p


back to Kaleidoscope

May 2012. Smiling.

 Ini memang copas, saya pernah memposting ini. Tapi ndakpapa kali, merepost postingan sendiri, hehehe… soalnya dari semua tulisan saya di bulan Mei, tulisan ini yang paling mewakili apa yang terjadi pada saya di bulan yang selalu paling saya nantikan setiap tahun.



-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



-24th birthday-

ulang tahun ke-24 ini adalah ulang tahun paling spesial yang pernah saya alami,
kenapa?
hehe... begini ceritanya :)


satu,
ada sebuah game yang jadi favorit saya sejak saya masih SMA dulu, yaitu Romancing Saga Minstrel Song yang saya mainkan dengan konsol PS2,
karena satu dan lain hal, sudah 6 tahun ini saya ndak main game itu lagi,
yang membuat saya terharu adalah adek saya tercinta ternyata menyiapkan kejutan berupa munculnya game itu lagi di konsol PS2 di rumah,

jadi, adek saya dengan agak rahasia mencari DVD Romancing Saga dan nginstal ke konsol,
saya tahu itu susah, karena game itu DVDnya sudah gak ada yang jual lagi,
ketika akhirnya adek saya gagal, dia rela begadang buat donlod langsung via internet (4G bo' ukuran filenya!),
dan ketika akhirnya berhasil, saya sampe hampir nangis saking terharunya,
alasannya adek saya simpel: "aku pingin mbak bisa main game ini lagi sebelum mbak nikah dan nggak tinggal disini lagi ":')

dua,
orang tua saya keduanya masih ada, dalam keadaan sehat wal'afiat tidak kurang suatu apapun,
dan saya sangat bersyukur sekali,
dalam usia saya yang semakin beranjak ke seperempat abad ini, saya masih punya kesempatan untuk melakukan yang terbaik buat mereka,
dan saya sangat bersyukur karena mereka begitu menyayangi saya, begitu memikirkan saya, dan tak pernah lelah mendoakan saya,
alhamdulillaahh :')

tiga,
saya ditelpun sama sahabat dekat saya sejak SMA, yang sudah berapa bulan tidak ketemu,
entah gimana saya sama dia emang terbiasa punya semacam link yang menghubungkan kami,
saya sayang banget sama dia dan sudah menganggap dia seperti saudara,
saya sempet kebingungan soalnya dia mendadak galau e.c putus sama pacarnya dan menolak diajak jalan-jalan,
hal yang membuat saya bahagia adalah, hari itu dia menelepon saya pagi-pagi dan dia memberi tahu saya bahwa dia sudah balikan sama pacarnya,
legaaaa banget,
walopun saya gak gitu kenal sama pacarnya karena mereka LDR-an, tapi tahu sahabat saya ini bahagia membuat saya senang sekali, karena terus terang saya khawatir :')

empat,
sepupu saya nginep di rumah,
di sela-sela kesibukannya sehari-hari kuliah di salah satu fakultas di Univ Brawijaya, dia datang ke rumah,
dan tidak cuman sendirian,
dia datang bareng keluarganya,
rameeee deh rumah saya,
sepupu saya ini emang dari kecil mainnya sama saya, dan orang tuanya sudah kayak orang tua kedua saya, jadi rasanya semakin komplit saja hari ultah saya hari itu :')

lima,
dua teman saya yang sedang PTT di salah satu kepulauan di NTT sengaja nelpun saya buat ngucapin selamat ulang tahun,
waaaaa... seneng dan terharu banget rasanya :')
saya jadi ingat idealisme lama saya buat PTT saat ngobrol panjang dengan mereka,
sempat terbersit perasaan: kenapa ya aku kok gak jadi berangkat PTT?
dan saya menjawab sendiri: kalo saya PTT, ceritanya gak akan seperti sekarang ini :')

enam,
dikaruniai orang-orang geje sekelas S2 ini,
lihat saja tuh, gara-gara pengaruh mereka, saya jadi suka mbuat postingan-postingan geje dan gak masuk akal (tapi mbuat ngakak),
sebel sih kadang-kadang sama mereka, lha bayangin saja, saya sedang sedih bin galau, mereka malah menertawakan saya dan mbuat kegalauan saya seakan lelucon yang gak ada habisnya ToT
tapi sisi baiknya, lewat 'kekejaman' mereka itu, mereka mengajak saya buat melihat hidup dengan lebih realistis dan lebih bijak,
lewat mereka juga saya paham, bahwa hidup itu adalah serangkaian hal-hal yang pasti ada jalan keluarnya,
intinya, saya gak pernah sempat galau lagi selama saya sama mereka,
bersama mereka saya paham apa itu namanya partner in crime dalam artian harfiah :')

tujuh,
er... hehehe...
ada sesuatu yang membuat ulang tahun saya begitu bermakna tahun ini,
tapi,
hehe, kapan-kapan aja ya saya buat postingan tentang yang ketujuh ini, hehehehe *ngacir*


tujuh hal diatas adalah yang membuat saya menjadi sangat bersyukur dikaruniai kehidupan yang seperti sekarang ini,
24 tahun saya hidup di dunia, saya sadar hidup saya tidak sempurna,
ada banyak 'rompal' disana-sini,
ada banyak kegagalan, kekecewaan dan sebagainya yang mewarnai,
tapi saya sadar, bahwa semua hal yang terjadi pada diri saya sampai dengan hari ini, adalah yang membuat saya seperti sekarang ini,

alhamdulillaah,
saya bersyukur sekali dengan semua hal yang saya miliki saat ini :')


May  7th, 2012
#np Call Me Maybe (Carly Rae Jepsen)


------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saat ini di bulan Desember, saya berani mengatakan bahwa ultah yang ini memang ultah ter- ter- ter, terbaik, termembahagiakan, terbanyak-senyuman, tertidak-terduga, tapi termenyebalkan-untuk-diingat. Ini adalah awal dari saya mengetahui fakta lain yang nyaris lepas dari saya. Saya bersyukur bahwa saya sangat bahagia di hari ulang tahun saya ini, tapi saya jauh lebih beryukur bahwa walaupun ulang tahun ini almost means nothing untuk insiden yang akan segera terjadi, tapi itu tanda bahwa Allah sedang melindungi saya dan keluarga saya.

Poin ketujuh tidak pernah sempat saya realisasikan, selain karena saya pada akhirnya kehilangan ide, juga karena pada akhirnya saya tahu bahwa poin ketujuh ini justru ruining almost everything :p 

Kalau sekarang saya membaca tulisan saya tentang bulan Mei ini, I feel so very stupid, so very blind, and so very unaware of danger, tapi yah, yang penting saya di bulan Desember ini baik-baik saja kan?


back to Kaleidoscope

Rabu, 13 Juni 2012

arti kalimat: "What Doesn't Kill You Makes You Stronger"

setelah biasanya buat postingan geje, saya mau buat postingan yang agak serius dikit! change of pace!!


Stronger,
sebuah judul lagu dari Kelly Clarkson ini tak sengaja mampir ke telinga saya pagi ini,
entah karena takdir macam apaan, tiba-tiba saja ada yang muterin di radio, hahaha ^^v

saya teringat pembicaraan saya dengan empat orang sahabat saya, sekitar enam bulan yang lalu saat saya berjuang untuk berhenti menyesali rasa kehilangan yang saat itu adalah rasa kehilangan terbesar yang pernah saya alami,
mereka berempat saat itu keheranan bagaimana saya masih bisa ketawa ketiwi, dan masih bisa ndengerin orang lain curhat dan membantu mereka move on dan tersenyum lagi, padahal di dalam hati saya ada gempa bumi 15 skala Richter,

tapi menurut mereka, itu adalah kelebihan sekaligus kekurangan yang saya miliki,
saya bisa jadi sangat tegar, dan tak akan ada seorang pun yang menyadari isi hati saya saat saya tersenyum dan tertawa,
mau bergejolak macam apapun, senyum adalah topeng terbaik yang saya punya dan saya tidak pernah berencana membuang topeng kesayangan saya yang satu itu,

seorang sahabat saya berkata bahwa siennra adalah orang yang gak bakal bisa nangis di depan orang lain,
seorang sahabat lain berkata bahwa siennra itu bisa begitu lembut sama orang lain, tapi keras sama diri sendiri,
seorang sahabat lagi berkata bahwa hanya dengan melihat siennra sekilas, maka gak bakal kelihatan betapa saya bisa memendam perasaan yang 'sampai segitunya'
seorang sahabat lagi berkata bahwa salah satu hal paling inspiratif adalah bagaimana saya bisa tetap begitu tegar walaupun sudah jatuh nyungsep dan guling-guling f(-__-")

pura-pura kuat?
nggak juga,
aslinya saya kuat kok,
kuat tidur berjam-jam dan kuat makan coklat 100 batang, hahaha ^^v

nope, seriously, saya punya beberapa alasan yang membuat saya harus jadi pribadi yang tegar,

yang pertama adalah, karena kita takkan tahu kapan dan siapa yang bakal memerlukan kita,
saat seseorang curhat sama saya, saya ndak bisa tidak pasti merasa harus membantu sampai selesai,
bagaimana saya bisa membantu seseorang yang sudah mempercayakan ceritanya pada kita kalau saya sendiri sibuk nyungsep dan gak bisa move on?
salah satu hal yang paling melegakan adalah saat kita bisa membuat seseorang yang awalnya sibuk dengan emosi negatifnya menjadi kembali tersenyum, terutama jika itu adalah orang-orang terdekat kita,


yang kedua adalah, karena kita takkan tahu siapa yang terkuatkan hatinya karena melihat kita tersenyum,
yep, terkadang hanya butuh satu senyuman dari seseorang yang dekat dengan kita untuk kembali menemukan kekuatan dan keyakinan yang kita punya,
makanya, itu adalah satu alasan kuat untuk tetap tersenyum,

yang ketiga adalah, memberi energi positif bagi diri sendiri,
sudah tahu kitanya sedang dipenuhi energi negatif berupa kesedihan dan rasa kehilangan, masa mau dilanjutkan pake muka cemberut dan nangis yang keterusan?
nggak kalee,
itu adalah saat kita berdamai dengan diri sendiri dan memberikan energi positif buat diri kita sendiri,
nobody is cute when they're crying..

yang keempat adalah, belum tentu yang nyakitin kita itu bermaksud demikian,
mungkin saja dia melakukan hal tersebut buat melindungi kita (yap, saya pernah mengalami ini),
that's why, bakal amat sangat lebih bijak kalau kita juga mau mencoba untuk berada dalam posisi orang yang menyakiti kita,
kenapa dia seperti itu?
haruskah dia melakukan hal seperti itu?
kalau aku jadi dia, apakah aku bakal melakukan hal yang sama?
jika kita bisa menggunakan pemikiran jernih kita buat melihat dari sisi pandang orang lain, kita akan lebih bijak dalam menghadapi emosi kita, dan gak buru-buru memutuskan seseorang itu buruk,
seorang sahabat saya mengirimi saya suatu ungkapan yang bener-bener saya inget (tapi saya tahu dia copas) seperti ini:
"when someone is really care about you, they will never hurt you; but if they do hurt you, you can see that in their eyes, they're hurting too,"

yang kelima adalah, kita takkan tahu apa maksud Allah memberikan jalan seperti ini,
kita mungkin menyesal, merasa sedih, merasa kehilangan, merasa ini itu, tapi mirip dengan postingan saya sebelumnya, Allah tak pernah telat, dan tak pernah buru-buru,
Dia memiliki maksud di balik semua hal yang kita alami, jadi kita pun harus lebih bijak dan lebih berpikiran positif terhadap kehidupan,
semua pasti ada waktunya,
dan waktunya pasti tepat,

yang terakhir adalah, karena kita tidak sendirian,
akhir tahun kemarin, mungkin saya tidak akan bisa bangkit dari rasa kehilangan saya jika tidak ada mereka,
mereka adalah orang-orang yang memberi saya alasan untuk tetap tegar, tetap tersenyum, tetap moving on, dan tetap berpikiran positif,
karena saya memiliki mereka, saya selalu yakin bahwa saya pasti bisa menghadapi apapun kedepannya nanti,


stronger,
sebuah kata yang muncul dan berkembang saat kita mampu melihat sisi positif dari sebuah kejadian,
seperti halnya sabar itu pilihan, maka stronger juga pilihan,
kita bisa memilih apakah kita mau tetap mutung sambil gali lobang di pojokan atau keluar dan menghadapi dunia, saya cuman mau ngasi saran kalau mau gali lobang, jangan lupa ditutup sekalian biar gak bikin orang lain kecemplung (eh..)
saat kita digampar sesuatu yang sangat menyakitkan, gakpapa kok kalau mau nyungsep dulu, tapi jangan lama-lama, soalnya seperti quote favorit saya yang dilontarkan oleh dhiyan:
"waktu itu gak punya lampu merah, lampunya ijo terus, dan kalau kau berhenti, kau cuma bikin macet!" (Dhiyan, 2012)
emangnya aku si Komo??! enggak lah f(-__-")

dan sesuai dengan lirik lagu Kelly Clarkson juga,
"in the end, what doesn't kill you makes you stronger, stand a little taller, doesn't mean i'm lonely when i'm alone,"

----------------------------------------------------------------------
NB: alasan mbuat postingan ini? pingin aja, soalnya lagu Stronger ini sudah banyak menginspirasi saya selama beberapa bulan terakhir ^^v

Senin, 07 Mei 2012

24th birthday

ulang tahun ke-24 ini adalah ulang tahun paling spesial yang pernah saya alami,
kenapa?
hehe... begini ceritanya :)


satu,
ada sebuah game yang jadi favorit saya sejak saya masih SMA dulu, yaitu Romancing Saga Minstrel Song yang saya mainkan dengan konsol PS2,
karena satu dan lain hal, sudah 6 tahun ini saya ndak main game itu lagi,
yang membuat saya terharu adalah adek saya tercinta ternyata menyiapkan kejutan berupa munculnya game itu lagi di konsol PS2 di rumah,

jadi, adek saya dengan agak rahasia mencari DVD Romancing Saga dan nginstal ke konsol,
saya tahu itu susah, karena game itu DVDnya sudah gak ada yang jual lagi,
ketika akhirnya adek saya gagal, dia rela begadang buat donlod langsung via internet (4G bo' ukuran filenya!),
dan ketika akhirnya berhasil, saya sampe hampir nangis saking terharunya,
alasannya adek saya simpel: "aku pingin mbak bisa main game ini lagi sebelum mbak nikah dan nggak tinggal disini lagi ":')

dua,
orang tua saya keduanya masih ada, dalam keadaan sehat wal'afiat tidak kurang suatu apapun,
dan saya sangat bersyukur sekali,
dalam usia saya yang semakin beranjak ke seperempat abad ini, saya masih punya kesempatan untuk melakukan yang terbaik buat mereka,
dan saya sangat bersyukur karena mereka begitu menyayangi saya, begitu memikirkan saya, dan tak pernah lelah mendoakan saya,
alhamdulillaahh :')

tiga,
saya ditelpun sama sahabat dekat saya sejak SMA, yang sudah berapa bulan tidak ketemu,
entah gimana saya sama dia emang terbiasa punya semacam link yang menghubungkan kami,
saya sayang banget sama dia dan sudah menganggap dia seperti saudara,
saya sempet kebingungan soalnya dia mendadak galau e.c putus sama pacarnya dan menolak diajak jalan-jalan,
hal yang membuat saya bahagia adalah, hari itu dia menelepon saya pagi-pagi dan dia memberi tahu saya bahwa dia sudah balikan sama pacarnya,
legaaaa banget,
walopun saya gak gitu kenal sama pacarnya karena mereka LDR-an, tapi tahu sahabat saya ini bahagia membuat saya senang sekali, karena terus terang saya khawatir :')

empat,
sepupu saya nginep di rumah,
di sela-sela kesibukannya sehari-hari kuliah di salah satu fakultas di Univ Brawijaya, dia datang ke rumah,
dan tidak cuman sendirian,
dia datang bareng keluarganya,
rameeee deh rumah saya,
sepupu saya ini emang dari kecil mainnya sama saya, dan orang tuanya sudah kayak orang tua kedua saya, jadi rasanya semakin komplit saja hari ultah saya hari itu :')

lima,
dua teman saya yang sedang PTT di salah satu kepulauan di NTT sengaja nelpun saya buat ngucapin selamat ulang tahun,
waaaaa... seneng dan terharu banget rasanya :')
saya jadi ingat idealisme lama saya buat PTT saat ngobrol panjang dengan mereka,
sempat terbersit perasaan: kenapa ya aku kok gak jadi berangkat PTT?
dan saya menjawab sendiri: kalo saya PTT, ceritanya gak akan seperti sekarang ini :')

enam,
dikaruniai orang-orang geje sekelas S2 ini,
lihat saja tuh, gara-gara pengaruh mereka, saya jadi suka mbuat postingan-postingan geje dan gak masuk akal (tapi mbuat ngakak),
sebel sih kadang-kadang sama mereka, lha bayangin saja, saya sedang sedih bin galau, mereka malah menertawakan saya dan mbuat kegalauan saya seakan lelucon yang gak ada habisnya ToT
tapi sisi baiknya, lewat 'kekejaman' mereka itu, mereka mengajak saya buat melihat hidup dengan lebih realistis dan lebih bijak,
lewat mereka juga saya paham, bahwa hidup itu adalah serangkaian hal-hal yang pasti ada jalan keluarnya,
intinya, saya gak pernah sempat galau lagi selama saya sama mereka,
bersama mereka saya paham apa itu namanya partner in crime dalam artian harfiah :')

tujuh,
er... hehehe...
ada sesuatu yang membuat ulang tahun saya begitu bermakna tahun ini,
tapi,
hehe, kapan-kapan aja ya saya buat postingan tentang yang ketujuh ini, hehehehe *ngacir*


tujuh hal diatas adalah yang membuat saya menjadi sangat bersyukur dikaruniai kehidupan yang seperti sekarang ini,
24 tahun saya hidup di dunia, saya sadar hidup saya tidak sempurna,
ada banyak 'rompal' disana-sini,
ada banyak kegagalan, kekecewaan dan sebagainya yang mewarnai,
tapi saya sadar, bahwa semua hal yang terjadi pada diri saya sampai dengan hari ini, adalah yang membuat saya seperti sekarang ini,

alhamdulillaah,
saya bersyukur sekali dengan semua hal yang saya miliki saat ini :')