Tampilkan postingan dengan label hidup - realita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup - realita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2016

My Extraordinary but Underestimated Bacteria

http://www.menzies.edu.au

One day, I lost count of how many people saying that I need to go back to mainstream to end a period of my life. My question is: what is 'mainstream'?




Note: this is just another rambling. Do not bother to read when you have any other more important thing to do.


Senin, 05 Oktober 2015

Kamis, 02 Juli 2015

Me vs My Lecturer, 2010 vs 2015


"Suatu saat, mahasiswa yang kau bilang ‘bocah’ itu akan dewasa. Ia akan ingat hal baik dan hal buruk yang kamu lakukan, dan percayalah, mahasiswa selalu punya ingatan yang lebih bagus daripada dosennya,” 
-- (ayah saya, 2012)

Selasa, 21 April 2015

Dear Friend, Somewhere Far Away...

Hey,
It has been so long since we last met,
And talk,

Well, it doesn't look like we have really talked to each other since we ever knew each other,
Do you even remember that we attended the same high school?
I will be doomed if you forget about that -___-"

I just really hope that you don't forget that we also attended the same college after all,

You were always...
Hmm... how should I put this...
You were always... shining, like a star, so bright and brilliant,
You were... so smart, beautiful, like really, we would find all the qualities of a girl in you,
I still remember when we were both working on the same exam, you easily excelled all the questions in no time while I was still trying so hard to answer one question,

Yeah, yeah, I knew it, you might have forgotten all about it,
Not that it surprised me,
It might not be a big deal for you, but for me, it felt like a very fond memory,
You're... one of the greatest person I have ever seen,

When I looked at you, I felt like looking at the high sky,
You resembled all the possibilities, all dreams that would come true,
Everything,

To be exact, sometimes I would be so jealous at you,
For being so smart, so bright, so very very skillful,
When compared to you, I felt like I was nothing special,

I still remember the way you looked at me, some time in 2012,
You were standing there, just looking at me, saying nothing,
Even when I walked to you and waved my hand in front of you, you seemed like you didn't really see me,
The time you smiled to me was after I started to talk to you,

Dear my friend,
At that time, I didn't really think about the reason why you acted like that,
And just today, I really know what happened,
And I can somehow, relate it to the way you looked at me that day,
Well, I might not be the one you want to hear (or read) this from but... at least let me say this one thing to you,

I really understand how you feel.

Well, okay, deep inside, we are not really what people call as 'friends', but I consider you as one,
I don't really know why I consider you as one, but, you know, no matter how much I want to deny, deep inside I did admire you,
For every single thing you mastered,
For every single thing you could do while I couldn't,
And no, I am not pitying you or something, I just want to tell you honestly that I understand it, I really, really, understand how you feel,
I really understand,
I was on the same boat anyway, though, my case was not as hard as yours,

Writing this post on my blog is just a silly effort, I knew, but we never really exchange contact number or something else, right?
Like I said, we were never really 'friends' to begin with, because, yeah, we were on two different worlds after all,
You were already so high on the sky when I was just learning how to fly,

And right now, I remember about you,
The decision you made must be so hard, and requiring so much bravery to take,
Yet, despite of all the great changes, you keep standing, you keep all your rationality with you,
And I know, I have one more reason to admire you after all,

I guess you really are a very great person,

Look, I understand that maybe life can be so unfair and cruel at the same time,
But I believe, every little thing happens for a reason,
While every hello will end with goodbye, every lose will be replaced with something more precious,
It doesn't matter where we are, as long as we stay true to ourselves, we will get by anything,

I hope you're doing well at the place you are now,
I hope that happiness will always be with you no matter how many hardship may lie ahead,

I know you will be fine,
Because you are... you.

---
NB: anyway, the song of Rascall Flatts titled as 'My Wish' may convey all the things I want to say to you too.

Jumat, 03 April 2015

Like A Hero

I simply hate people who claim what is not theirs to begin with. Depending on situation, the outcome varies from a simple smile of understanding until a full-blown raging war.


Saya tidak pernah menyangka akan menemukan hal seperti ini lagi. Tanpa saya tutupi saya akan mengatakan ini, seorang pembimbing mencoba untuk mempublikasi hasil kerja mahasiswanya. Wajar? Ya, wajar, kecuali kalau pembimbing ini ngotot jadi penulis pertama. Haha, bahkan si pembimbing ini tidak paham metode penelitian mahasiswa tadi yang memang di luar expertise beliau. Let's be clear, beliau bahkan tak tahu suka duka mahasiswa ini yang pernah gagal dalam penelitiannya dan mengulang dari awal. 

(oke stop, posisi saya disini adalah sama-sama pembimbing dengan pembimbing diatas, bukan mahasiswa, dan saya bukan pembimbing yang minta diletakkan sebagai penulis pertama)

Lalu apa yang terjadi saat mahasiswa ini mengatakan pada saya bahwa pembimbing satunya ingin menjadi penulis pertama? 

Kejadian ini bermula beberapa hari yang lalu saat pembimbing tersebut menghubungi saya dan menanyakan kesediaan saya untuk ikut mempublikasikan hasil kerja mahasiswa saya. Jawaban saya adalah bahwa saya akan ikut keputusan mahasiswa saya, jika ia bersedia maka saya pun tidak keberatan. Sang pembimbing ini mengatakan pada saya bahwa sang mahasiswa bersedia dan akan segera mengirimkan manuskrip ke email saya.

(Note: sang pembimbing ini mengaku sudah menambahi sedikit manuskrip tersebut)

Saat saya menerima manuskrip ke email, let's just say clearly that i began to dislike the advisor right on the spot. Nama beliau berada di nama pertama, nama saya ada di nomor dua, dan nama mahasiswa kami ada di nomor tiga. Kesimpulan saya hanya ada dua: satu, sang pembimbing ini tidak tahu bahwa ada etika dalam penempatan nama author, dua, pembimbing ini sengaja ingin mengambil apa yang bukan haknya.

Ketidakrelaan saya beralasan,
Satu, ide penelitian itu original dari mahasiswa, bukan ide kami sebagai pembimbing.
Dua, seluruh bahan penelitian dan biaya penelitian ditanggung oleh mahasiswa, bukan kami.
Tiga, konsep penelitian disusun oleh mahasiswa.
Empat, bidang penelitian yang diusung adalah bidang infeksi, yang merupakan bidang saya, bukan bidang beliau.
Lima, beliau tidak paham metode penelitian yang sudah dilaksanakan, yang saya buktikan dengan pertanyaan beliau yang 'aneh' saat ujian akhir mahasiswa tersebut, sehingga saya pun mencoba menjelaskan ulang metode penelitian mahasiswa tersebut. 
Enam, beliau tidak pernah banyak mengoreksi isi tulisan mahasiswa. Saya yang justru banyak mengoreksi.
Tujuh, beliau tidak menyaksikan sendiri upaya keras mahasiswa tersebut menyelesaikan penelitiannya.
Delapan, beliau kurang mujur, hahaha (atau sebenarnya mujur) karena berpartner dengan saya yang tidak pernah respek terhadap pencuri ide orang lain.

Saat saya mengkonfrontasi beliau tentang penempatan nama author ini, beliau menjawab bahwa selama ini setahu beliau, mahasiswa selalu ditulis di belakang saat publikasi. 


Which further clears her true form and intention. How many student you have deceived so far?


Dengan tegas saya katakan pada beliau bahwa menurut pengalaman saya beberapa kali publikasi baik nasional maupun internasional, tidak ada yang namanya pembedaan antara pembimbing dan mahasiswa di mata publisher. Semuanya berpangkat sama, peneliti. Dengan tegas pula saya katakan bahwa sangat tidak etis jika pembimbing meminta menjadi penulis pertama hanya karena alasan 'karena saya adalah pembimbing'.

Saya tidak terlalu peduli kalau beliau merasa tertampar, tertohok, terlempar palu, tersayat pisau ataupun terpanggang malu. Saya merasa sangat perlu memberi tahu beliau bahwa inilah prinsip saya dan saya menolak untuk menyamakan prinsip saya dengan prinsip beliau. Saya sadar kok kalau beliau sepuluh tahun lebih senior daripada saya, tapi lha terus so what?

Ini sudah jaman modern, sudah bukan jaman batu dimana senioritas adalah segalanya.
Di depan ilmu pengetahuan, pemegang ide adalah yang ada di baris terdepan. 

Setelah beberapa konfrontasi lainnya, akhirnya beliau pun setuju dengan syarat yang saya ajukan, yaitu mahasiswa kamilah yang menjadi first author, beliau ada di nomor dua, dan saya ada di nomor tiga. Penempatan saya di belakang sendiri juga bukan tanpa alasan. Lebih dari 80% isi penelitian tersebut adalah area expertise saya, maka saya lebih berhak berada di situ daripada beliau.

(Lucunya beliau mengisyaratkan bahwa beliau tidak berkenan diletakkan di nama terakhir, padahal nama terakhir justru lebih keren daripada nama yang ada di tengah)

Kedepan, saya bisa memproyeksikan beberapa hal yang akan terjadi terkait keputusan konfrontasi ini. Mungkin saya akan diblacklist oleh beliau, yang saya tidak terlalu peduli. Yang menjadi pemikiran saya adalah tentang mahasiswa saya yang masih harus menjalani masa profesi bersama beliau.
Mahasiswa saya pernah mengungkapkan rasa khawatir serupa dan sempat bingung karena di sisi lain ia pun tidak bersedia idenya diambil begitu saja.
Mungkin saya bukan orang yang paling tepat mengatakan ini, 
"Lebih baik kita kesulitan saat ini tapi kita tetap berpegang pada prinsip yang benar, jadi kita tidak akan menyesal kedepannya nanti,"

Sejujurnya juga saya bisa mengatakan hal itu karena sedikit refleksi dari yang saya jalani sih. 
Fyi, saya juga pernah menjadi korban pencurian ide dan saya merasakan sendiri bagaimana tidak enak hati yang saya alami saat tahu si pencuri tersebut dipuji atas kerja keras saya, sementara saya sendiri didepak tanpa penghargaan apapun.


I will not let myself steep so low by joining force with someone who steal ideas. I can promise this much.


'Like a hero' adalah komentar seorang teman dekat saya saat saya menceritakan hal ini. Sebenarnya bukan masalah jadi sok pahlawan sih, saya cuma melakukan hal yang saya anggap benar dan sesuai dengan prinsip saya. Saya akan menyesal seumur hidup jika saya diam saja, maka apapun resikonya, saya akan tetap berkeras kepala dalam hal yang satu ini.

Semoga Allah memberikan perlindungan untuk mahasiswa saya ini. Saya tahu ia adalah mahasiswa yang baik dan dia berhak atas semua kemudahan yang bisa ia raih. Semoga saya selalu dijaga pula dari hal-hal seperti itu kedepannya. Amiiinn.. 

Rabu, 19 November 2014

Work and Weekend

Being an originally morning person, this head works best in very early morning. Most of my leftover works are done by the time sun rises.
My family often says that my head reaches the sharpest edge 15 minutes after I wake up in the morning. I guess it is the compensation of not being accustomed to stay up too late (except for a VERY few reasons). Days when I have duty to prepare breakfast usually ends up with me waking up even earlier.
Inability to wake up early is an initial cue that my life rhythm is being disrupted.

Another thing to consider is my willingness to work hard to the bone during the weekdays. Not that I am saying I am the most hard-working person out there but I do take my responsibility with dead-serious dedication.
My fuel runs down by the end of Friday. As the Friday sun sets, my loco needs recuperation time, which means a nearly-absolute need of undisturbed weekend with my head out of things you define as ‘work’. It also means as undisturbed weekend I can use to explore my other side of life such as quality times with my family, playing around with my friends, or maybe just an undisturbed time between me and my favorite games.
A disturbed weekend means that I will lose some of my ability to do my best in the following weekdays because my fuel is not full enough to tackle all the obstacles. Which is completely terrible for me.
In summary, I work hard, I play hard.

I do well under pressure. I do well with expectations. High one. People can expect me to take high performance responsibilities because I am confident enough with my willingness to learn and upbeat work-drive to complete my tasks under almost all circumstances.
Note that this only applies with my loco being recharged every week.

See where I am talking?
Sure I do not mind if people texts or calls me in weekend, but I cannot repress my urge to turn my phone into airplane mode if those text and call are all about work.
Come on, it is weekend! We are all human and we need recuperation. Can’t some hard workers get their undisturbed time for two days?

Fine, this happened quite frequently these weeks, which means I work under pressure and high expectation for too long. Way to long. Three months with disturbed weekends. The result is ultimate slow disruption of my own rhythm due to excessive tiredness.
Sure I know that everyone is furious to complete their projects because time is running so fast to the end of the year. I cannot blame the situation. I guess this happens because I miscalculated my own ability to stand too long in impression of she-can-do-anything-smoothly. This year I certainly multitask way too much for my own sake.
For weeks, I gradually lose my sharpness and continuously need to stop my work pace every now and then. Prolonged work is undeniable.
Rebellion sounds sweet. Not that I want to. Rephrase, not that I want to spend my energy in rebellion.

I gradually lose my ability to wake up early like I used to be. I did try to maintain my rhythm but slowly I have to surrender to my own tiredness. Especially after some ruined weekends. I almost do not have any fuels left to think sharp and crisp.

Well I did not write this post to blame nor criticize some leaders out there, but I do make a mental note to be a leader that will not disturb their team members’ weekend. For the very least.
I think the root of these deadlines is sloppy time management of both me and the leaders. Like I have said, I miscalculated my own ability. You can say that I overestimated myself. Yes, I did.
I should have seen this time coming. Now that I am already inside this spinning world of everything-is-deadline, I have no choice but to move along and keep doing my task.

As for the leaders, well, I do understand completely that they are far more busier than me, aren’t they? Or they aren’t, are they? Well, whatever, I will not try to badmouth anyone here, because I DO ENJOY BEING THEIR TEAM MEMBER, but I do hope I can do better in future if I have to step up as leaders.
Do not get me wrong, I do not like being in too much spotlights. I enjoy being someone pulling strings from behind the stage. I am confident with my leadership skill, but I do not have that high ambition to become leader.

Leaders supposed to be the most tired person. Responsible leaders, I mean. Though maybe not physically tired. Leaders supposed to be the one with concept and has responsibility to guide (guide, I said, guide) their team to achieve success.
Not that I am trying to say my leaders are bad. They are great leaders, great skills, and great achievement history. It is just that everyone is being chased with a demonic angel by the name of deadline.

Well, let’s just let it go for now. I already feel better when I am writing this down. After this, I just simply have to do my best again. What do you expect? Me saying to my leaders that I am no longer able to finish my task?
Nuh-huh, I will complete this year smoothly. I mean as smooth as I can manage, because leaving work unfinished leaves a really bad taste on my tongue.
Besides, this life is easy to follow. Whenever it gives you difficult times, it supplies you with growing ability to overcome it.

So what is my reason in writing this in a first place? To have some written talk with myself about this difficult time so I will never forget it.
Why English? Because it grasps my emotion a lot more beautiful than my own language. Face it, it is the truth. No worries, I do love my country.


Thanks for reading and I do hope you have a good time.

Minggu, 27 Juli 2014

under the blue sky

my favorite color of the sky, blue with no cloud

Looking back at my days,
I had beautiful happiness, which was irreplaceable.
It was crushed like nothing though.
Then I chose to hate, to get angry, to forget, all halfheartedly.

But,
The more I thought of it, the more I found out that I was not someone like that.
After being calmed down a bit, logic took over my sanity and led me to where I had to be.
It was a lot more saddening than what I had experienced years ago, but I was also a lot more powerful than I had been years ago.
I don’t need to be comforted anymore.
I am my own valor healer.

By the end of this Ramadhan, I find my renewed resolution to step forward.
It would be lying to say that I do not have any lingered feeling, either that I forget about what have been done,
It would be lying to say that it is easy to forgive,
It is hard to forgive,
Let alone to forget.

But,
I guess to forget is to try rewriting the history, which is obviously impossible.
I may never be able to forget, but at least, I do have to forgive.
I may still have difficulty to forgive, but at least, I forgive myself,
For being such a fool,
And accept myself as a whole, with all good memories and the bad.
I just have to do what I can do for now and let the rest follow.

Today, under the blue sky of my beloved place, I state a prayer to Allah, to forgive me for having such hatred in my past.
To forgive me for being so blind and deaf through every chance He gave me.
To forgive me for being so stubborn to follow the path that was completely not for me.
To forgive me for being the way I was.
And to give me one more chance to start anew.

Amin…

Senin, 23 Juni 2014

Aku, Ibu, dan Juni 2014

Tidak ada yang lebih tidak saya sukai di dunia ini daripada kepercayaan yang dihancurkan.  
Ini adalah cerita spontan yang saya alami pada periode 17 Juni 2014 sampai dengan 23 Juni 2014.


Sudah selesai kah?” tanya ibu saya pagi ini, 23 Juni 2014.
Dengan poker face dan ketap ketip saya menelengkan kepala dan kemudian mengerutkan dahi.
Marahmu, sudah selesai?”
Saya tertawa kecil mendengar ibu saya bertanya demikian, “… yah…
Oke, yuk dibahas,”
Sambil melet, saya pun akhirnya bersedia untuk bicara tentang penyebab kemarahan saya yang memuncak dengan agak kurang ‘wajar’ (kata ibu saya). Beliau berkata demikian karena kemarahan saya sempat bocor di Facebook, sementara selama ini tidak pernah sampai segitunya.
(padahal di twitter kata teman saya semacam rapuh porak poranda alias rapopo alias tidak apa apa)

Kepada ibu, saya bercerita semuanya. Mulai dari mimpi buruk yang saya alami satu setengah bulan yang lalu (yang ternyata definitely adalah pertanda), kemudian ‘Suggestion to Follow’ di Twitter (yang sepertinya fitur ini lebih ‘indigo’ dari kelihatannya :p), sampai dengan telepon yang saya terima pada hari Selasa, 17 Juni 2014 sekitar pukul setengah empat sore.
Saya ceritakan alasan kemarahan saya dengan sejujur-jujurnya. Diatas segalanya, kemarahan saya disebabkan karena bohongnya seorang yang sungguh-sungguh saya percayai. Rasanya sulit bagi saya untuk percaya bahwa kepercayaan saya padanya berujung pada kondisi yang seperti saat ini. Saya akui pada ibu, sebelumnya saya selalu percaya bahwa ia adalah orang yang baik dan honest, sehingga saat saya menemukan hal krusial yang ia belokkan, saya pun marah.
Saya merasa kepercayaan saya dikhianati.
Saya sih tidak terlalu mempermasalahkan soal ending (ya masalah sih, tapi tidak ada apa-apanya dibanding dibohongi selama sebulan lebih), tapi janganlah mengkhianati kepercayaan saya. Pada dasarnya saya berhak tahu sejak awal, tapi entah kenapa, entah bagaimana, ia yang saya percayai, justru bertindak sebaliknya.

Satu sisi yang lain adalah saya marah pada diri saya sendiri karena tidak bisa mempergunakan petunjuk di sekeliling saya dengan benar. I should have known, kata saya berkali-kali pada diri saya sendiri. Seharusnya saya lebih percaya pada logika saya dibandingkan hal lain yang saya rasakan di muka bumi ini.
Ibu saya pun berkomentar, “Tapi logikamu itu kadang membuatmu jadi orang kejam,”
Haha, memang sih, saya kejam. Saya bilang pada ibu bahwa sahabat saya bilang, curse yang saya keluarkan terlalu sadis dan saya harus istigfar.

Saya pun bilang pada ibu, bahwa seorang sahabat saya yang lain bilang seperti ini, “Understandable kok kau marah sampai ke taraf seperti itu. Yah semua bahkan bereaksi sama sepertimu. Aku sih mau-mau aja lempar ban serep (yang saya suruh nambahi bom ala kuciang) ke alamat dia, secara alamatnya deket sama alamatku disini, tapi kamu bukan orang yang bisa sungguh-sungguh berharap keburukan bagi orang lain lho… You will forgive, I know that,”

Plus komentar dari sahabat saya yang lain, “Been there. Damn hurt. Kau emang lagi apes. Let it go lah…

Intinya, semua orang terdekat saya bilang bahwa pada akhirnya saya akan memaafkan, karena biasanya saya tidak tahan memiliki emosi negatif terlalu lama (baca: biasanya sebentar tapi intensitas tinggi, katanya).

Ibu saya pun ngakak mendengar cerita saya. “Terus, kasi tau ibu dong, hikmah apa yang kamu dapat sekarang?
 “Orang Jawa adalah yang terbaik?” adalah komentar pertama saya sambil ketap ketip dan garuk-garuk kepala. Tapi dengan segera saya menambahkan, “Ndak juga sih, semua orang pada dasarnya baik. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa meminta ingin lahir di mana dan ingin orang tua seperti apa. Itu bukan alasan untuk memberi judgement ke orang lain,”
Terus?
Setiap kesalahan itu ya bawaan orangnya sendiri-sendiri. Hidup itu isinya cuma pilihan dan konsekuensi,” kata saya sambil nyengir.
Ibu pun tertawa kecil sambil menambahkan, “Ndak lah… isinya juga bisa usaha,”
Saya mengangguk, “Iya. Paling tidak, dengan percaya sama dia, aku sudah berusaha semampuku. Paling tidak, aku ndak bakalan lebih menyesal daripada kalau aku ndak ngapa-ngapain,”

Ibu ikutan mengangguk, “Terus, apa isi doamu sekarang?”
Semoga kebenaran yang tersembunyi bakal terungkap. Semoga hal-hal yang terbelokkan bakal terluruskan. Semoga yang benar akan tetap benar, dan semoga yang salah diberikan kemudahan,”
Ibu saya agak kaget, “Hah? Kemudahan apa?
Sambil memasang muka serius saya menjawab, “Kemudahan bertemu dengan karma,”
Ya ampun, sudahlah, semakin kamu memberatkan yang sudah lewat, semakin langkahmu terbebani lho nduk,”
Saya menghela napas sambil mencucu, “Habisnya, enak aja dia dengan entengnya bohong gitu. Aku lho disini percaya bahwa dia orang yang baik,”
Maafin saja lah…
Dengan keras kepala saya pun menjawab, “Hah? Enak banget? Dia bohong sebegitu lama dan aku disuruh memaafkan gitu?

Ibu saya menghela napas, “Ya sudah, ndak usah dimaafkan juga gakpapa, tapi…”
Tapi…?
Pernah ndak kamu mikir hal seperti apa yang dia alami disana? Apa alasan dia membohongimu? Kenapa dia harus bohong? Apakah murni keinginannya sendiri?
Saya agak melongo, tapi ibu saya melanjutkan dengan serius.
Kamu tu bukan orang yang bodoh lho. Kamu tahu alasan kenapa kamu percaya dan kenapa kamu tidak percaya. Alasan kepercayaanmu ke dia kurang lebih adalah karena kamu tahu dia orang yang baik kan?
Iya sih, tapi bisa saja itu akal-akalan dia biar aku percaya kan?” protes saya.
Ibu saya mengangguk, “Memang. Tapi gimana kalau dia aslinya memang sebaik yang kamu tahu tapi dia terpaksa bohong sama kamu?
Saya tertawa, “Tetep aja, bohong ya bohong,”
Menurut Ibu sih, pasti ada alasannya, dan Ibu yakin kalau kamu bisa meredakan marahmu, kamu tahu apa yang Ibu maksud... Kadang-kadang ya nduk, ada kebenaran yang memang tidak akan pernah terungkap. Bukan karena itu bukan kebenaran, tapi itu hanya sekedar jalan untuk kebenaran lain yang lebih besar,”
Dengan keras kepala saya protes lagi, “Tapi aku masih marah,”
Iya keliatan jelas kok (dan saya nyengir waktu ibu bilang ini). Tapi seperti yang dibilang temen-temenmu, kamu bakal memaafkan, entah kapan. Kayaknya sih ndak lama, eh ya ndak tau sih, kamu tu kadang aneh dan ndak bisa ditebak (aih… ini ibu saya yang bilang lho). Yah, apapun lah, mau kamu tetep marah atau mau maafin pun, yang jelas, yang sudah selesai ya sudah, ndak bisa kamu bawa kemana-mana lagi. Ibu yakin, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kedepan,”

Setelah diam mencerna kata-kata ibu, saya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan keluar. Dua pertiga amarah saya menguap saat saya berbincang dengan ibu saya (walaupun saya mungkin tidak mengakui sih ke ibu).

Semoga yang benar akan terungkap. Semoga yang benar akan dimunculkan. Semoga yang salah-salah akan tenggelam dengan cara yang damai. Semoga semua hal benar yang terbelokkan akan terluruskan kembali dan dunia akan paham apa yang sebenarnya terjadi.

Saya sih ndak mau berubah, akan tetap all out dalam segalanya. Saya sudah belajar sejak bertahun-tahun silam bahwa menyesal karena gagal masih selalu lebih baik daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa.

the mementos of 'don't be angry' and 'we are here by your side'

(ditulis sambil reminiscence tentang hal yang saya alami sejak Maret hingga Juni 2014 sambil ditemani lagu instrumental favorit saya FALLING DOWN (by Shoji Meguro). Kemudian buru-buru mandi dan berangkat ngampus :p)

Kamis, 19 Juni 2014

Pikiran yang Terdalam

In my deepest thought.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you die that easily.
It would be better if you lost your will.
You will not die, but inside, you die literally.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you suffer that instant.
It would be better if you lost your happiness.
You will not die, but inside, you suffer endlessly.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you smile on your death.
It would be better if you lost your precious.
You will not die, but inside, you cry in loneliness.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you enjoy your last breath.
It would be better if you lost your nerves.
You will not die, but inside, you breathe in difficulty.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you feel forgiven.
It would be better if you lost your sanity.
You will not die, but inside, you lost your insight.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you die easily.
It would be better if you lost in the dark.
You will not die, but inside, you rot and blind.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not kill anyone.
Angels around me said I could not do that.
It will only lessen my level to yours.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not dirt my hands.
Angels around me stated our difference.
I will not kill someone like you once did, literally.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not see any blood.
Angels around me showed the lives I have to protect.
I live to protect and never to abandon.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not kill you.
You are not worthy even a second to be killed by me.

So let life do its turn and kill you itself the way it wants.

Rabu, 19 Februari 2014

My third year as lecturer is…

So lively.
Setiap hari adalah hari yang berbeda. Selalu ada hal yang berbeda dari hari sebelumnya. Bisa lebih ruwet, bisa lebih sederhana, hahaha :p
Sensasi yang sama selalu saya dapatkan ketika muncul surat AMAT SEGER(a) menghampiri saya. Mungkin rapatinggenah lah, mungkin pelatihan apa lah, mungkin sosialisasi apa lah, mungkin dikasi kerjaan apa lah… dst dst…
Dulu, dalam bayangan saya, jadi dosen itu 80% ngajar, ternyata… fifty fifty lah sama pekerjaan yang lain.

So mobile.
Jadi kitiran? Ah, sudah biasa… Bolak balik dengan rute rumah-kampus-RS-kampus-rumah sudah sering saya lakoni kok, bisa dua tiga kali seminggu. Naik apa? Angkot. Alasan? Males parkir.
Kalau dihitung-hitung, jarak rumah-kampus sama dengan dua kali jarak rumah-RS. Sooo… sudah (harus ter)biasa…

So many students.
Gak hapal. Ini siapa. Itu siapa. Sana siapa. Sini siapa. Kamu siapa. Dia siapa. Aku siapa. #eh..
Wew… memang yang paling saya ingat adalah mahasiswa bimbingan saya, mahasiswa yang ujiannya sama saya, ATAU… mahasiswa yang paling bandel sekelas f(-__-“)
Kalau yang paling pinter sendiri biasanya malah ndak kelihatan mencolok, tapi yang bandel (misal: hobi nelat yang minimal 15 menit setelah kuliah/ praktikum mulai), yang kelewat endel (suka milin-milin rambut atau pake benda serba hellokitty ato pinkies), yang hobi flirting (‘wah liftnya jadi gak mau nutup habis ada dokter cantik yang masuk’), kok saya malah inget populasi yang itu f(-__-“)

So many hours.
Ehem… rasio dosen dan mahasiswa yang ‘wow banget’ bisa menguras energi luar biasa. Cuap cuap sepanjang hari bukan hal aneh lagi. Pagi ngajar, siang praktikum, sore praktikum. Pagi berdiri, siang berdiri, sore berdiri, juga bukan hal aneh… hahahaha XD
Saya menyediakan sepatu berhak rata demi mobilitas dan menjauhkan varises :p

So many emails.
Saya lebih suka mahasiswa mengirimkan makalah konsultasi via email daripada memberi saya hardcopy berlembar-lembar. Yak, konsekuensinya harus siap sedia dan responsif saat ada email masuk, plus, mengajarkan pada masing-masing mahasiswa bimbingan tentang cara menggunakan review system di MSWord.
Kenyataannya, mahasiswa yang mengimel seringkali ingin segera direspon, padahal dosennya masih nyantol di suatu tempat yang gak ada colokan lepi, hahaha XD
Nggak salah juga, kalo saya jadi mahasiswa (mungkin) juga seperti itu :p

So many things that I need to learn.
Makin kita tahu, makin kita tidak tahu. Makin sering saya mengajari orang lain, makin banyak hal yang saya rasa tidak saya ketahui.
Tentu saja dosen tidak mungkin tahu segala-galanya, tapi tampak cerdas dan kompeten di depan mahasiswa itu perlu. Konsekuensi menjadi dosen adalah harus selalu siap dengan pertanyaan macam apapun dari mahasiswa dan sejauh apapun pertanyaan tersebut diajukan. Artinya, harus selalu belajar! Belajar! Belajar!

So many lecturers I meet.
Bekerja di almamater sendiri sama dengan bertemu dengan dosen-dosen saya. Rasa sungkan pasti melekat. Banyak dosen saya yang tidak kenal saya sebelum ini (berarti jaman kuliah dulu saya ndak bandel soalnya dosennya gak inget, hahahahaha XD).

So many improvisations.
Lepas dari materi yang harus saya ajarkan, ada banyak sekali hal lain yang harus saya ajarkan ke mahasiswa, terutama yang berhubungan dengan profesionalisme dan cara belajar.
Semasa kuliah dulu, saya bukan mahasiswa yang cemerlang (ya cemerlang sih, tapi dikit :p), saya paham betul keluhan mahasiswa yang kesulitan menghapal sekian macam hal yang amat sangat banyak sekali. Saya juga paling tidak suka membaca uraian panjang dan grafik yang ruwet. Keterbatasan dan pitfalls (plus beberapa ketidakberuntungan) yang saya punya/ alami selama saya belajar sebagai mahasiswa ternyata banyak bermanfaat saat ini. Saya suka berbagi pengalaman cara mengatasi uraian panjang dan menganalogikan grafik sehingga lebih mudah dipahami.
Jauh lebih banyak mahasiswa yang biasa-biasa saja daripada mahasiswa yang cemerlang, maka saya selalu menekankan pada diri saya sendiri untuk mencari cara agar apa yang saya sampaikan bisa diterima, dipahami dan diingat oleh sebanyak mungkin mahasiswa.
Saya mungkin memang tidak bisa membantu satu persatu mahasiswa (bikaus banyak pake banget wui…) tapi setidaknya saya bisa mengusahakan agar mahasiswa saya tidak jatuh pada pitfalls yang sama dengan yang saya jatuhi dulu :p

So many stocks of patience.
Ngajar harus sabar, kata ayah saya. Seorang dosen bukan orang yang lebih pandai dari mahasiswanya. Dosen mah cuma menang lahir duluan dan mendapatkan kesempatan lebih dulu dari mahasiswanya.
Kadang, butuh kesabaran ekstra dan tabungan sabar untuk mengajari beberapa mahasiswa. Menurut ayah saya, disitulah tantangan menjadi pengajar…
Yah, saya selalu ingat ketidakbrilianan saya selama jadi mahasiswa jadi setidaknya saya bisa sedikit bersabar, hehehe… Walaupun tetap saja, belajar sabar juga salah satu mata pelajaran yang perlu diikuti oleh pengajar manapun :)
NB: dikira admin itu… sering.

So many things to say.
This is the place that I want. This is my place.
Sepertinya memang inilah panggilan jiwa saya. Ada sekian banyak hal yang bisa saya ceritakan setiap hari terkait pekerjaan saya yang satu ini.

...
Terakhir, sebagai penutup, kenapa tiba-tiba muncul tulisan ini?
Karena tadi siang ditanyai mahasiswa, “Dok kenapa sih milih jadi dosen? Saya kalau lihat dokter tu heran deh… “


Jumat, 27 Desember 2013

Quest 4: Ignorance is bliss, NOT BLESS

uniqueinfinities.wordpress.com

Quest 4: Ignorance is bliss, not bless. Sejak kapan ‘selalu merasa benar’ bakal membawa berkah?

Yep, sejak kapan ketidakpedulian bakal membawa berkah?
Ketidakpedulianmu terhadap orang lain, lebih tepatnya.

Kau yang lebih peduli dengan image-mu di mata orang-orang yang tak setiap hari kau temui. Kau tinggikan dirimu diantara orang-orang yang nyaris tak tahu apapun tentang dirimu.

Oh? Kau bilang mereka paham dirimu?
Kurasa tidak, karena kalau mereka paham, mereka akan banyak mengingatkanmu, seperti kami.

Kau nikmati rasa hormat dan penghargaan yang tinggi dari orang yang tak tahu seperti apa sebenarnya dirimu.

Apa? Jadi kau juga menghormati mereka?
Oh please, I’ve laughed too much today.

Bagimu yang penting adalah image. Bagimu yang penting adalah tampil sempurna di persepsi orang yang hampir tak pernah kau temui.
Bagimu yang penting adalah kebenaran. Uniknya, hanya kebenaran milikmu-lah yang kau akui benar.

Tidak?
Oh, ayolah, aku yang disini-lah (dan sejumlah besar orang yang sering kau temui) yang bisa melihatnya sejelas siang, bukan dirimu yang terbutakan oleh waham kebesaran yang berkabut di sudut pikiranmu.

Kau melupakan satu hal penting: menjaga perasaan orang lain.

Ya, ya, aku selalu dengar kau bilang bahwa mereka takkan mempermasalahkan.
Oke, tapi apakah itu berarti kau bisa seenaknya? Kau njaga perasaan atau ngetes?

Kau lupa bahwa ada azas saling memberi saling menerima di dunia ini.
Kau lupa bahwa kau tak bisa hanya meminta orang lain memahamimu tanpa KAU SENDIRI juga mencoba memahami orang lain.

Kau lupa bahwa kau tak bisa sekedar hidup di duniamu sendiri tanpa menjadi orang yang baik di mata (bukan persepsi) orang yang sering kau temui.
Tahukah kamu, lebih terhormat membuat orang lain tertawa bersamamu, bukan menertawakanmu, karena ketidaksinkronan diri aslimu dan image yang kau buat.

Lebih tepatnya, bahkan imagemu pun sangat paradoksal, jika orang lain mau mengamati dengan seksama.

Kau lupa bahwa kau juga manusia.
Kau bukan makhluk yang selalu benar.
Kau tak berhak menyalahkan begitu banyak hal dan selalu merasa benar saat kau sendiri, sama seperti kami, bersimbah kesalahan.

Oh, sori, aku sih tidak menyalahkanmu, hanya menunjukkan dimana hal yang kau lupakan.
Saat kau merasa kami menyalahkanmu, bukankah itu berarti kau memang mengakui ‘sesuatu’?
Ayolah, bahkan tidak satu nama pun tercantum di postingan ini…

Anyway,
Nice work, buddy, are you happy?

Quest Reward:
Mudah sekali menyalahkan orang lain. Mudah sekali merasa paling benar. Mudah sekali merasa bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk kebaikan. Mudah sekali merasa keadaan sedang tak berpihak pada kita. Mudah sekali merasa bahwa diri sendiri-lah yang paling menderita. 

Oh, ayolah...
Tak ada manusia yang selalu benar di muka bumi ini.

Orang yang selalu merasa paling benar, selalu menyalahkan keadaan, selalu mencari alasan atas ketidakmampuan, dan selalu melakonkan permintaan simpati adalah orang yang paling salah, paling tidak mampu dan paling tidak mendapatkan simpati.

Legowo. Hormati orang lain (bukan hanya saat kau perlu mereka saja).
Dengan demikian, niscaya kau akan menemukan kebahagiaan yang kau cari.
Selama kau TAK MAU melakukannya, bahkan tanpa kami mendoakan sesuatu yang buruk pun, kebahagiaanmu akan menjauh dengan sendirinya kok…
#eh


Dan ayolah, kami sih mending berdoa untuk diri kami sendiri kok daripada mendoakanmu.

Tanpa mengurangi rasa hormat, semoga kau segera disadarkan dari mimpi indahmu, dan kembali disadarkan bahwa kakimu masih menginjak bumi, tak peduli seberapa tinggi kau telah berdiri di kaki langit.
-----

Senin, 11 November 2013

Doa Saat Teraniaya?


Definisi teraniaya itu hanya Allah yang tahu...
Tapi,
Saat kau disakiti, kau bisa memilih untuk meratapi nasib, atau meresponnya dengan tersenyum.
Saat dalam hatimu terasa nyeri, kau bisa memilih untuk menangis, atau meresponnya dengan tertawa.
Saat yang harusnya milikmu diakui orang lain, kau bisa memilih untuk nelongso, atau meresponnya dengan ekspresi cuek.
Kau bisa saja maju dan menentang ketidakadilan yang menimpamu, menumpahkan kemarahanmu, menendang si pembuat onar sampai keujung galaksi.

Tapi jangan lupa untuk tetap terlihat BERKELAS dan KEREN saat melakukannya.

Pastikan kamera Yo*tube tidak memihak pada si pembuat onar agar kau tetap jadi pahlawan penegak keadilan.
Tapi yang lebih penting adalah tidak terlihat kalah.
Tersenyumlah.
Tertawalah.
Jangan biarkan mereka merasa menang walaupun hatimu membara.

Hadapi mereka dengan sportif, tunjukkan bahwa kau masih tetap tegar dan tak tergoyahkan sedikitpun walau apapun keburukan yang mereka lontarkan padamu.

Karena kemarahanmu, kesedihanmu, rasa putus asamu, adalah kemenangan bagi mereka.

Lalu saat berhadapan frontal tidak akan memberimu kehormatan yang lebih baik dari kondisimu saat ini, maka itu saatnya memikirkan hal lain.
Kau tahu? Tak ada gunanya mendoakan kejelekan mereka, karena toh mereka bahkan tidak berhak mendapatkan sesukukata pun doa darimu, sekalipun itu doa demi kehancuran mereka sendiri.
Jadi, saat kau merasa teraniaya (dan didefinisikan bahwa doamu pasti dikabulkan), maka doakanlah dirimu sendiri, agar kau menjadi lebih baik darinya, lebih sukses darinya, lebih diakui darinya, lebih keren darinya, lebih dicintai darinya, lebih kaya darinya, dilebihkan segala kebaikan untukmu daripada dia.
Doakanlah dirimu sendiri demi kelapangan hatimu, keindahan pribadimu dan kemampuan untuk belajar dari kesalahan mempercayai orang lain.

Bukan masalah kalau belum bisa memaafkan dia yang mencoba memburukkan dirimu, yang penting hatimu sudah lapang dan bisa menerima kehidupan selanjutnya.

Doakanlah dirimu sendiri agar mampu berjalan melalui apapun yang ada di depanmu, agar dihindarkan dari hambatan yang tak bisa atau sulit kau lalui, agar hidupmu senantiasa diberkahi dengan kemudahan.
Aku percaya, saat kita teraniaya, Allah mendengarkan doa baik yang kita ajukan pada-Nya dan aku percaya bahwa doa itulah yang dikabulkan.

Oh ya… Kau mau mendoakan dia agar jadi orang baik?
Silakan, tapi saya lebih suka berfokus mendoakan diri saya sendiri agar menjadi lebih baik daripada mereka.


Pada akhirnya, kesedihan dan kegembiraan adalah semata-mata keputusan kita. 
Jadi saat kau merasa teraniaya, putuskan apa yang akan kau lakukan.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Aku Pernah Dibully

Sejenak setelah re-run 35 Years Old High School Student, saya jadi ingat bahwa hal yang serupa juga pernah terjadi pada saya. Walaupun tingkat keparahannya sama-sekali tidak sebanding dengan yang saya lihat di drama tersebut sih...

Pembullyan nampak sangat memprihatinkan bagi sebagian besar orang. Mereka yang menonton sinetron atau drama pembullyan akan berkeluh kasihan dan berkaca-kaca, disertai hati mereka yang mencelos. Tapi segala perasaan itu takkan sebanding dengan apa yang dialami oleh korban bully.

Saya mungkin tampil sebagai orang yang ketawa-ketiwi ngalor-ngidul, bersikap enteng dan agak tidak pedulian. Orang mungkin melihat saya sebagai orang yang selalu beruntung dan tidak pernah susah.

Maka, bacalah tulisan ini.

Sabtu, 10 Agustus 2013

'Maaf'

Apalah arti sebuah kata 'maaf'?

Segalanya.
Atau,
Bukan apa-apa.

Bukan hal sulit untuk memaafkan,
memang sih,
tapi ada beberapa hal yang menyebabkan agak sulit untuk memberikan sebuah kata sederhana sebagai balasan permintaan maaf...

Dendam?
Entah ya? Saya lebih memilih menyebut sebagai 'khawatir'
Khawatir jika saya memaafkan dia, maka dia akan kembali mengecewakan saya bertubi-tubi seperti yang sering dia lakukan di masa lalu..

Bukan yang pertama kali buat saya menghadapi dilema seperti itu,
Separuh dari saya ingin memaafkan, namun separuh lagi tidak.
Saya tergoda untuk membiarkan silaturahmi kami terputus, tak peduli betapapun dia meminta,

Hidup ini cuma sekali,
apa salahnya sih menyambung silaturahmi?
Nah, apa salahnya sih memutuskan silaturahmi dengan orang yang tidak pernah menghargai kita sama sekali?

Saya bukan malaikat lho...

Intinya,
saya kapok berhubungan dengan orang tersebut.

Salahkah?

Haha,
Di dunia ini, ada beberapa orang yang sebaiknya kita hindari sampai dengan pemutusan silaturahmi,
Dengan alasan: melindungi diri sendiri

Yah, itulah hidup,
Mau tidak mau, pasti ada saatnya kita memilih tidak memaafkan daripada mengambil risiko dengan memberikan maaf yang sia-sia...

Pada akhirnya, sayalah yang harus meminta maaf,
'Maaf, saya belum bisa mempercayaimu...'

Senin, 22 Juli 2013

Juli 2011 - Juli 2013

Sejuta cerita,” adalah satu-satunya kalimat yang bisa menggambarkan apa yang terjadi dalam rentang waktu itu,
Sekian banyak tawa, sekian banyak kekecewaan, sekian banyak pertemuan dan sekian banyak perpisahan, semua terangkum dalam dua tahun penuh warna selama saya kuliah magister,
What the? Saya kuliah magister bukan untuk cari masalah tapi…

Tapi kenyataannya memang banyak permasalahan yang muncul, dan bukan hanya sekedar banyak,
Banyak sekali, ehehehe XD

Dua tahun sekolah magister, saya disuguhi sekian banyak macam manusia yang bahkan lebih variatif dibanding dua puluh tiga tahun saya hidup,
Tanpa saya sadari, justru yang banyak saya pelajari bukannya masalah materi perkuliahan (karena perkuliahan saya amat sangat membahagiakan, hohoho), tapi bagaimana terus hidup dan terus tersenyum apapun yang terjadi,
Kenapa?
Karena permasalahan akan terus muncul, terus dan terus, dan selama kita masih bernapas maka masalah itu akan selalu ada,
Tinggal bagaimana saya menghadapinya :)

Bisa dibilang, selama tahun 2012, saya seperti kitiran, muter sana-muter sini, mencari tempat dimana saya harus berpijak, mencari rasa aman dan rasa terlindungi, menjauhkan diri dari rasa khawatir dan takut kehilangan,
Uniknya, selepas tahun 2012 saya menemukan bahwa saya sudah berpijak di tempat saya ingin berada, dan saya sadar bahwa tak ada yang lebih bisa membuat saya merasa aman dan terlindungi, selain diri saya sendiri,
Well, to tell you the truth, ada harga yang luar biasa mahal yang harus saya bayar demi melewati 2012,
Harga yang tak semua orang tahu karena saya selalu ketawa ketiwi ngalor ngidul, ahahaha XD
Jangan ditanya, karena bakal butuh SATU BLOG SENDIRI buat menjelaskan apa yang terjadi sejak 1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2012 *halah, lebay*

Nope, seriously, kalau ditanya kapan saat-saat tersulit dalam dua puluh lima tahun hidup saya, itu adalah sepanjang tahun 2012 :’)

Heran juga kok saya masih hidup setelah sempet jadi butiran debu *heh*
Dan ternyata saya masih punya LIVER lho sodara-sodara, hehehehehe XD

Setelah 2012 yang penuh konflik, saya menemukan diri saya menjadi beberapa tingkat lebih dewasa dibandingkan tahun 2011,
Dan saya pun sadar, mungkin karena saya yang tahun 2011 ‘masih seperti itu’-lah, sehingga saya pun dipisahkan Tuhan dari salah satu mimpi terindah yang pernah saya punya,
Dengan cara yang mengenaskan pula, ahahaha XD
Etapi toh sekarang saya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala :p

2013, saya akhirnya sadar kenapa saya mengalami segala macam hal di 2012, kenapa saya dihadapkan pada sekian banyak orang yang bermacam-macam, kenapa saya diharuskan melalui fase-fase yang saya sama sekali tidak suka,
Itu semua karena hidup saya baru saja akan dimulai,
The real one, on my own,

Dua tahun yang lalu, saya ingat pernah bertanya pada saudara saya, “Gimana caramu terus tersenyum?”
Dan dia menjawab agak kebingungan, “Itu… lirik lagu?”
*ngakak*
Yah, sekarang kalau saya lihat kembali sih… iya sih ya… itu kalimat kok berasa kayak lirik lagu ya? *ngakak*

Dulu saya selalu berpikir bahwa orang lain-lah yang merubah saya,
Dan memang, ada beberapa orang dalam kehidupan saya yang memiliki andil besar dalam pembentukan kepribadian saya yang terus berubah sejak saya masuk kepala dua,
Seumur hidup, saya berhutang budi pada mereka, karena seandainya tidak ada mereka, tidak akan ada saya yang sekarang ini,
Hanya saja,
Ternyata sebesar apapun, tetap kita sendirilah yang membuat perubahan terbesar, tentang bagaimana kita memutuskan untuk menanggapi kehidupan dan segala macam bebatuan yang kita temukan di perjalanan kita menuju akhir…

Dua puluh lima tahun, akhirnya saya sampai di titik ini, sebuah poin dimana saya sadar bahwa hidup ini indah,  bukan karena semata-mata takdir, tapi karena kita yang memilih untuk membuatnya indah :)

Oh well… where is my sense of emergency anyway? I kinda lose it for good…


#np Shooting Star, Owl City

Minggu, 23 Juni 2013

If We Never Lose Anything, Our Hands Will Always Too Full to Receive Better Things.

Tak bermaksud curhat,
Postingan singkat ini hanya untuk mengajak yang membaca untuk sedikit menengok kembali dalam kehidupannya masing-masing…
Ada berapa banyak hal yang harus dikorbankan untuk menjadi diri kita yang sekarang?
Berapa banyak hal yang mengecewakan?
Berapa banyak hal yang hilang?
Berapa banyak hal yang berhasil kita lupakan?


Ternyata memang tidak mungkin memiliki segala hal dalam hidup yang entah kapan berakhir ini,
Selalu ada jumlah maksimal tentang berapa banyak hal yang bisa kita ‘punya’, yang kalau kita mau melihat, sebenarnya jumlah tersebut adalah sama pada semua orang,
Tidak ada yang sangat beruntung dan tidak ada yang tidak beruntung.

Semua orang adalah beruntung.

Selalu ada alasan untuk bersyukur atas apa yang kita punya, dan apa yang tak lagi kita punya.

Kalau kita tak pernah kehilangan, tangan kita akan selalu terlalu penuh untuk kebaikan lebih besar yang seharusnya kita dapatkan.
If we never lose anything, our hands will always too full to receive better things.

You Get Something, You Lose Something



Written in three minutes, inspired by the beautiful song of ‘Cactus In The Valley’ by Lights ft Owl City (you can find the lyric here)
Photocredit: Frostbox Blog Maggie

Jumat, 17 Mei 2013

Dokter dan Surat Dokter

Note: curhat detected :p


Di sore hari yang hujan deras tadi, seseorang menelepon saya,
Setelah memperkenalkan diri, singkatnya beginilah percakapan kami:


Penelepon: "Dokter, malam ini praktek tidak?"
Saya: (berhubung malam ini memang ada acara) "Maaf Bu, sepertinya kok malam ini saya tidak praktek. Ada apa Bu?"

Penelepon: "Ini, saya mau mintakan surat buat suami saya,"
Saya: (mulai merasakan tanda bahaya) "Surat apa ya?"

Penelepon: "Surat dokter buat tidak masuk kerja,"
Saya: (keheranan, kok tidak langsung bilang 'suami saya sakit' tapi menyebut 'surat' duluan?) "Lho, Pak A sakit?"

Penelepon: "Ndak sih dok... Tapi hari ini cutinya habis, maunya sih besok biar libur sekalian sampai hari Minggu,"
Saya: (dalam hati bicara: "Alarm tanda bahayaku masih joss ternyata,")






'Surat Dokter' yang dimaksud oleh penelepon diatas tak lain dan tak bukan adalah 'Surat Keterangan Sakit', yang biasa dibuat oleh dokter sebagai permohonan atas nama pasien agar pasien yang bersangkutan diperbolehkan tidak beraktivitas karena kondisi kesehatannya kurang mendukung, atau aktivitas biasa dapat membahayakan pasien.

Sebagai dokter, kami banyak dihadapkan dengan kenyataan seperti ini.
Pada kasus saya diatas, saya dihadapkan pada dua hal, yaitu ikatan Sumpah Dokter dan rasa persaudaraan dengan si Penelepon (karena kebetulan saya kenal cukup baik).
Pada akhirnya jelas, saya menolak dan berhubung si Penelepon ngengkel, saya persilakan dia mencari dokter lain,
*hehe... buat teman sejawat yang ternyata menjadi tujuan beliau berikutnya, hehe... semangat yaa..*

Sok suci?
Bukan.

Saya menolak karena dari awal dia sudah memberikan kesan 'nggampangno'  (eh, bahasa Indonesianya nggampangno apa yak? Oh.. ya... menyepelekan!).

Apa dan siapa yang digampangno?
Surat Dokter dan Dokter.
Dan saya sebagai dokter yang dia tuju.

Simak saja percakapan kami selanjutnya setelah si Penelepon ngengkel selama beberapa lamanya:

Saya: "Maaf Bu, kalau memang njenengan berpendapat begitu, monggo ke dokter lain saja ya..."
Penelepon: "Tapi kan dokter lain belum tentu mau Dok..."
Saya: (dalam hati: "Lha ini tadi apa kubilang diriku mau?" sambil keluar keringat di kepala model anime)


Hehehehe, lucu juga kalau mengingat-ingat lagi kejadian sore tadi ^ ^;
Intinya saya berhasil juga menolak permintaan tersebut.
Salah satu alasan terkuat adalah karena sebagai dokter, kami terikat Sumpah Dokter, dimana kami mempertaruhkan kehormatan kami dalam pelaksanaan profesi dokter,
Kalau, kalau lho ya... Kalau saya memberikan surat keterangan pada yang tidak berhak, yah... silakan dibaca sendiri deh Sumpah Dokter tersebut dan disimpulkan sendiri ya :)

Yakin sekali, bukan hanya saya yang mengalami hal ini,
Banyaaaaaaaaaak sekali sejawat yang juga mengalami kondisi tersebut, dan memang pada akhirnya semua itu kembali ke masing-masing orang,
Saya yakin, setiap dokter pasti pernah berhadapan dengan kondisi seperti ini,
Dan masing-masing punya cara mengatasi sendiri-sendiri juga :)

Setiap orang berhak menyatakan dirinya sakit.
Setiap orang berhak meminta Surat Sakit.
Tapi,
Setiap dokter juga berhak menolak membuatkan Surat Sakit, 
(hehehe... iya dong, kan sama-sama hak asasi juga tuh, malah wajib buat seorang dokter menolak pembuatan surat keterangan yang 'tidak seharusnya' seperti itu)


Lagipula,
Kalau memang tidak sakit, kenapa sih pura-pura sakit,
Ntar kalo sakit beneran gimana?
#eh