...this route is indescribable, funny yet angsty, encouraging yet hurtful, then end in bittersweet.
Tampilkan postingan dengan label reviewer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reviewer. Tampilkan semua postingan
Minggu, 18 Februari 2018
Sabtu, 21 Januari 2017
Kimi No Na Wa: A Review
They converge and take shape,
they twist, tangle, sometimes unravel, then connect again, that’s… time.
Title: Kimi No Na Wa / 君の名は / Your Name
Director: Makoto Shinkai
Producer: Noritaka Kawaguchi, Genki Kawamura
Seiyuu: Ryunosuke Kamiki, Mone Kamishiraishi, Masami Nagasawa, Etsuko Ichihara, etc.
Music: Radwimps
Cinematography: Makoto Shinkai
Distributor: Toho
Released: August 2016 (Japan), December 2016 (worldwide)
Duration: 107 minutes
Language: Japanese
Awards:
Best Animated Feature Length Film (49th Sitges Film Festival)
Best Animated Feature Special Distinction Prize, Best Animated Feature Audiences Prize (18th Bucheon International Animation Festival)
Nominated as Best Film (60th BFI London)
Arigatō Award for Makoto Shinkai (29th Tokyo International Film Festival)
Special Prize for Radwimps (58th Japan Record Award)
Best Film (2016 Yahoo! Japan Search Award)
Best Director for Makoto Shinkai (29th Nikkan Sports Film Award)
Best Animated Film (2016 LACSA Award)
Special Distinction Prize (Best Team of The Year 2016)
Nominated as Best Picture (41st Hochi Film Award)
and many other nominations...
Pertama kali saya lihat trailer
movie ini di pesawat, saya cuma sempat browsing sekilas setibanya saya di
tujuan, melihat deretan award yang diraih, tapi tidak (belum) sempat
benar-benar nonton maupun download. Jadi, akhirnya saya berkesempatan nonton movie
ini di penerbangan lima bulan berikutnya, dan… sempat bingung mencegah supaya
tidak-nampak-seperti-orang-aneh (if you know what I mean) di sepertiga terakhir
movie.
Because my face must showed too
many emotions at once.
Senin, 25 Juli 2016
Tantangan menjadi ENTP
Senin, 04 Juli 2016
Photograph (Instrumental)
straight to your mind.
There are many-many instrumental version of Ed Sheeran's Photograph, but this one stole my heart right the moment I heard the first note.
Courtesy of Alegretto and Joel Miranda
Minggu, 29 Mei 2016
Minggu, 28 Februari 2016
Snow White with the Red Hair - Review
"if there is any 'princess' story that makes me feel envious by watching it, then this must be the one and only,"
Minggu, 10 Januari 2016
Rabu, 06 Januari 2016
Minggu, 03 Agustus 2014
9 Years in Review: Tales of The Abyss
You are living your own life. Your memories are yours alone. Don’t deny them. You are here. (Tear to Luke)
A beautiful story adalah kesan saya secara keseluruhan saat saya menyelesaikan acara nonton anime ini. Diangkat dari game berjudul sama (yang memang pernah saya mainkan) yang pertama kali dirilis pada tahun 2005, anime ini merangkum 70 jam perjalanan dalam game menjadi dongeng 600 menit.
To think this piece of trash is my replica?!
I was robbed of my family and my home by this trash?! (Asch to himself)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
One Third Part of the Story Begins…
Planet
Auldrant adalah dunia yang dihuni oleh makhluk hidup yang tersusun atas fonon
(deskripsi fonon adalah frekuensi suara yang membedakan satu individu dan
individu lain seperti fingerprint).
Auldrant tersusun atas enam fonon dan satu fonon ketujuh (seventh fonon). Setiap manusia memiliki akses terhadap fonon, namun hanya sebagian kecil yang mampu menguasai seventh fonon. Selain fonon, kehidupan di Auldrant berjalan dengan tuntunan Score. Setiap orang dianjurkan untuk
hidup sesuai dengan tuntunan Score agar mereka mendapatkan prosperity yang telah dijanjikan. Para seventh fonist (pengguna seventh fonon) mampu membaca seventh fonstone (Score bagian terakhir) yang dipercaya menyembunyikan rahasia terakhir mengenai planet Auldrant. Oleh karena itulah, kedua kerajaan besar di Auldrant: Kimlasca-Lanvaldear dan Malkuth tak pernah berhenti memperebutkan seventh fonist dan seventh fonstone.
Auldrant meyakini rahasia masa depan yang tercantum dalam Score tidak akan bisa dirubah, hingga suatu
teknologi yang disebut fomicry
merubah keyakinan tersebut…
Who am i? Why was I born?! (Luke to Van)
Fokus utama Tales of the Abyss adalah Luke fon Fabre, pewaris lini ketiga
Kerajaan Kimlasca-Lanvaldear yang dibesarkan dalam kungkungan Fabre Manor sejak ia selamat
dari penculikan oleh Kerajaan Malkuth. Akibat insiden penculikan tersebut, Luke
kehilangan seluruh ingatannya (dan maksud saya semuanya, bahkan ia harus
belajar bicara dan berjalan kembali sejak diselamatkan) atas sebab yang tidak
diketahui. Dalam kehidupan serba dilayani dan awareness terhadap commoner
yang sangat rendah, ia tumbuh menjadi bangsawan manja yang selalu
mendapatkan apapun yang ia inginkan. Satu-satunya hal yang menghibur Luke
adalah sesi latihan pedang oleh tutornya, Van
Grants.
Harapan Luke
untuk keluar dari kehidupan membosankan pun terwujud saat Tear Grants menyusup masuk ke Fabre Manor untuk membunuh Van.
Bukannya berhasil membunuh sasarannya, Tear justru tanpa sengaja menimbulkan hyperresonance dan membawa serta Luke
bersamanya ke Tataroo Valley, wilayah Kerajaan Malkuth. Maka perjalanan Tear
untuk membawa Luke pulang ke Fabre Manor pun dimulai…
Idiot. (Tear to Luke)
Kamis, 05 September 2013
Tomorrow I'll Love You - A Song from Her Heart
Lagu ini adalah insert song Yamada and
Seven Witches yang dinyanyikan oleh Takigawa Noa (Airi Matsui). Pertama dengar
lagu ini sambil lihat scene-nya
bikin terharu :')
Fyi, Yamada and Seven
Witches di Jepang sana sangat diapresiasi oleh penontonnya, termasuk mangaka favorit saya, Hiro Mashima! XD
Well, inilah hasil percobaan
kuping saya yang jelas banyak kekurangan. Tuh lihat, ada bagian yang saya gak
bisa denger dengan baik soalnya waktu Noa nyanyi ternyata si Yamadanya juga
ngomong -___-"
Tapi kayaknya hasilnya
sudah cukup memberi gambaran tentang apa yang dinyanyikan Noa ^^
Semoga lagu ini juga
segera dirilis. Maknanya bagus ^^
minute: 27.15 - 28.49
tomorrow
tomorrow I'll love you
tomorrow
tomorrow
ashita
wa shiawase (tomorrow I will be
happy)
asa
ga kureba (when morning comes)
tomorrow
ii koto ga aru (tomorrow good things
will appear)
tomorrow
ashita
yume miru dake de (tomorrow is the only thing I dreamed of)
tomorrow tsurai koto mo wasureru (tomorrow painful things will be forgotten)
tomorrow tsurai koto mo wasureru (tomorrow painful things will be forgotten)
minna samishikuteru utsu na hi ni wa mune no hate utau no (everyone will free their mind from lonely and painful days)
asa ga kureba (when morning comes)
tomorrow
namida no ato mo kiete yuku wa (tomorrow even the tears
will disappear)
tomorrow
tomorrow I'll love you
tomorrow
ashita wa shiawase (tomorrow I will
be happy)
tomorrow
tomorrow I'll love you
tomorrow
ashita
wa shiawase (tomorrow I will
be happy)
Gimana? Semoga bisa ditangkap maksudnya ^^ meskipun hasil listening-nya geje :p
Untuk yang ingin tahu tentang Yamada and Seven Witches lebih jauh, klik disini. Ceritanya gokil abis, bikin ngakak guling-guling dengan segala efek samping XD
NB:
Menerima masukan perbaikan lirik. Tolong bantu kuping saya :p
Kamis, 15 Agustus 2013
The Bartimaeus Trilogy - Review - Novel Favorit Saya
Salah satu hobi saya adalah tenggelam di balik
novel, jujur saja. Novel-novel pilihan saya adalah novel fantasi yang memuat
cerita tentang alternate universe dan
berhubungan dengan magic alias sihir.
Hehehe…
Sejak kecil, saya memiliki ketertarikan khusus
pada cerita-cerita yang mengedepankan
adanya unsur sihir-menyihir, sebut saja koleksi saya ketika kecil adalah
benda-benda yang saya yakini sebagai topi kerucut penyihir dan jubah penyihir
*nyengir*. Bagi saya, seru aja sih, memiliki kemampuan magis (tolong jangan
dibayangkan sebagai sihir tradisional yang bercat hitam macam santet dan
sebagainya yak…), bisa terbang di udara dengan naik sapu terbang dan sebagainya
*nyengir lagi*
Jadi jangan heran kalau koleksi novel saya 98%
akan memiliki korelasi terhadap sesuatu yang magikal dalam ceritanya…
Oh ya, just
to let you know, saya bukan penikmat Harry Potter. Saya sempat baca sampai
dengan novel keempatnya lalu mandeg. Kenapa? Terlalu dipanjang-panjangin, saya
jadi bosan, belum lagi biaya yang luar biasa besar untuk beli satu novel Harry
Potter yang bisa saya pake beli novel serupa yang tidak kalah seru atau bahkan
lebih seru *ups, ini pendapat pribadi lho*
Novel ini adalah seri novel pertama yang saya
punya, dan kalau boleh dikatakan, merupakan salah satu novel tertua yang saya
punya. Judulnya adalah The Bartimaeus Trilogy, karangan Jonathan Stroud, yang
diterbitkan di Indonesia pada tahun 2007. Novel ini menjadi satu-satunya novel
yang bisa membuat saya harus menahan rasa pingin jejingkrakan di toko buku saat
rilis, dan juga merupakan satu-satunya novel dengan ending (di jilid ketiga)
yang bisa membuat saya banjir air mata dan merasa mencelos saat membacanya.
Btw, dalam cerita magis kali ini, diceritakan
bahwa penyihir sebenarnya tidak memiliki kekuatan sama sekali, tapi
melaksanakan sihirnya melalui bantuan makhluk halus yang secara umum disebut demon. Penyihir harus mengikat demon yang dipanggilnya (summon) dalam pentakel yang
melindunginya dari kekuatan mahabesar yang dimiliki si demon.
Kekuatan penyihir dinilai dari seberapa banyak dan seberapa
besar kekuatan entitas yang ia panggil. Semakin lama demon terikat di Bumi, ia akan semakin kesakitan dan mendekati
kematian, karena itulah setiap demon
menganggap pemanggilannya ke dunia adalah perbudakan. Namun mereka tidak kuasa
melawan penyihir, yang walaupun tidak berkekuatan, tapi dapat menaklukkan
mereka dengan sejumlah mantra.
Satu-satunya yang dapat melindungi demon dari siksa sang master adalah
pengetahuan mereka terhadap nama lahir dari penyihir (yang biasanya
disembunyikan oleh penyihir bersangkutan).
Yah, kira-kira begitulah sebagai
prolognya.
Buku
Pertama: The Amulet of Samarkand.
Buku ini bercerita tentang keinginan seorang
murid penyihir bernama lahir Nathaniel untuk diakui oleh komunitas penyihir.
Setelah dibuang oleh orang tuanya, Nathaniel menjalani hidup sebagai apprentice dari seorang penyihir senior
bernama Arthur Underwood. Nathaniel terlibat insiden ‘kecil’ dengan seorang
penyihir berpengaruh bernama Simon Lovelace dan ia pun berniat balas dendam
pada Lovelace.
Yah, sebenarnya, karena Nathaniel masih bocah,
ia hanya berniat sedikit usil dengan mencuri salah satu artefak berharga milik
Lovelace, yaitu Amulet Samarkand dengan cara memanggil jin bernama asli
Bartimaeus sebagai budaknya.
Dengan julukan Sakhr-Al-Jinni, Bartimaeus
merupakan salah satu jin kuno berusia 5000 tahun yang terkenal akan
kepiawaiannya terhindar dari berbagai macam ‘nasib buruk’ dan (kasih bold
italic underline nih!) kepiawaiannya memuntahkan sejuta macam usaha untuk
membuat sebal siapapun yang pernah bertemu dengannya, termasuk Nathaniel.
Seakan
belum cukup buruk berurusan dengan jin super cerewet ini, Bartimaeus tanpa
sengaja mengetahui nama lahir sang penyihir muda (pemanggilan jin tidak
disertai dengan perkenalan antara jin dan penyihir, apalagi tuker-tukeran nama
dan nomor hape :p) dan menggunakan nama tersebut sebagai pembalik mantra
Nathaniel sehingga Nathaniel tidak bisa menghukum Bartimaeus yang super
slengek’an dengan cara apapun.
Lucu ya sejauh ini? Yah memang sih, selera
humor Bartimaeus yang sarkastik tapi fresh
akan membuat novel ini jadi ringan. Tapi masalahnya, Nathaniel (dan Bartimaeus,
pada awalnya) tidak menduga bahwa ada rahasia besar yang terkandung di balik
Amulet Samarkand. Akibatnya? Sang penyihir muda dan jinnya pun terlibat dalam
arus peperangan makhluk halus, nyaris dibunuh oleh kelompok pemberontak
pemerintahan (Resistance) dan
terjebak kejar-kejaran dengan pembunuh haus darah.
Buku
Kedua: The Golem’s Eye
Buku ini bercerita tentang kehidupan Nathaniel,
yang kini berganti nama menjadi John Mandrake, sebagai bagian dari pemerintahan
Inggris. Dalam usianya yang masih belia, ia telah menjadi apprentice yang bersinar dari salah satu menteri paling berpengaruh
di pemerintahan, Jessica Whitwell.
Dalam kegemilangannya, karir Mandrake terjegal
kegiatan Resistance. Akhirnya,
bertentangan dengan sumpahnya, ia terpaksa memanggil kembali Bartimaeus,
lengkap satu set dengan sejuta sifat buruknya. Berita ‘baik’nya, belum selesai
dengan urusan Resistance, Mandrake kembali terjegal oleh kemunculan Golem di
kota London.
Mandrake dan Bartimaeus pun kembali
bersinggungan jalan dengan Kitty Jones, pemimpin Resistance yang juga merupakan
salah satu dari sedikit anggota Resistance yang selamat setelah merampok makam
Gladstone (penyihir terpenting dalam sejarah Inggris). Kitty telah mencuri
Tongkat Gladstone dan tanpa sengaja melepaskan afrit (ifrit, kalau bahasa
Inggrisnya) Honorius ke dunia bebas.
Ketamakan Mandrake atas kekuasaan dan sifat
paranoidnya yang tumbuh pesat membuat Bartimaeus merasa (kalau bahasa
Bartimaeus sih) jijik. Mandrake dan Kitty juga terlibat ‘baku hantam’, baik
secara harfiah maupun tidak, segera setelah Mandrake menemukan gadis tersebut.
Mandrake pun akhirnya terjebak dalam situasi hidup dan mati saat ia
dikejar-kejar Honorius, gagal mengendalikan Tongkat Gladstone dan berada dalam
belas kasihan sang Golem. Siapakah yang pada akhirnya menyelamatkan Mandrake?
Sampai pada batas manakah loyalitas Bartimaeus sebagai budak Mandrake, dan
sampai batas manakah kekeraskepalaan Kitty dapat dipertaruhkan?
Buku
Ketiga: Ptolemy’s Gate
Buku ini bercerita tentang masa lalu
Bartimaeus, pencarian jati diri Mandrake dan keinginan terselubung Kitty. Mandrake
yang paranoid karena pengetahuan Bartimaeus terhadap nama lahirnya, memaksa
sang jin menjadi budaknya selama dua tahun tanpa diberi kesempatan
beristirahat. Karir Mandrake yang melesat cepat merupakan hasil ‘pengorbanan’
Bartimaeus yang tiada henti.
Kekuatan Mandrake yang semakin besar memberikan
sang penyihir kemampuan untuk memanggil banyak jin berkekuatan besar secara
bersamaan dan menghilangkan hak prerogatif Bartimaeus sebagai satu-satunya jin
milik Mandrake (baca: Bartimaeus jadi kehilangan nyaris semua kesempatan
berekspresi dengan selera humornya yang mengguncang langit).
Sementara itu,
Kitty yang menyadari kebutaannya terhadap sihir, melakukan riset terhadap sihir
dan menemukan bukti tentang masa lalu Bartimaeus serta hubungan sang jin dengan
penyihir Mesir yang hingga kini masih memiliki hati sang jin, Ptolemy.
Setelah insiden dimana Bartimaeus nyaris tewas,
Mandrake memutuskan untuk membebaskan Bartimaeus. Namun dengan segera ia
menemukan bahwa sang jin dipanggil oleh ‘penyihir lain’ dan tidak merespon
pemanggilannya. Hampir disaat bersamaan, Mandrake bertemu kembali dengan Kitty
dan kembali terlibat pertengkaran sengit dengan mantan pemimpin Resistance
tersebut.
Masih dibutakan oleh kehausan atas kekuasaan
dan paranoia tingkat tinggi, Mandrake kembali mengirim Bartimaeus menuju misi
berbahaya segera setelah sang jin dapat ia kuasai kembali, tanpa memerdulikan
‘kesehatan’ Bartimaeus. Namun, sepeninggal sang jin tukang gosip itu, Mandrake
dan Kitty justru terlibat pemberontakan demon
terbesar sepanjang sejarah.
Tanpa perlindungan Bartimaeus dan di tengah-tengah
pembantaian besar-besaran yang dilakukan demon
terhadap manusia, mampukah Mandrake bertahan hidup? Dan sekali lagi, sampai
dimanakah kekerasan hati Kitty bertahan
saat para penyihir yang dibencinya kini mati satu demi satu di depan matanya?
Dan saat Bartimaeus pada akhirnya memiliki kebebasan untuk memilih lagi setelah
2000 tahun berlalu, maukah dia kembali untuk menyelamatkan ‘Nathaniel’ yang
telah dibencinya selama bertahun-tahun?
Terakhir, adakah master yang akhirnya
dapat menyamai rasa cinta Bartimaeus terhadap Ptolemy? Jawabannya… ah, ini lho,
tisu…
Spin-off:
The Ring of Solomon
Buku ini bercerita tentang kehidupan
Bartimaeus, jin berusia 2000 tahun pemilik ejekan terbanyak di seluruh dunia. Gara-gara
melakukan kesalahan ‘kecil’ (baca: menelan masternya hidup-hidup), Bartimaeus
kini menjadi budak dari Khaba, salah satu penyihir berbahaya kepercayaan
Solomon, sang raja Jerusalem.
Pada saat itu, daratan Arabia dikuasai oleh
Solomon dengan bantuan Cincin magis yang mampu menjadi portal yang memungkinkan
Solomon memanggil sebanyak mungkin demon
ke muka bumi. Arabia pun mematuhi Solomon karena campuran rasa takut dan
kekaguman.
Setelah nyaris tanpa sengaja melempar batu
berukuran raksasa ke kepala Solomon, Bartimaeus dan kompi jinnya kini dikirim
untuk menangani pembantaian di jalur perdagangan Jerusalem. Sang jin pun
akhirnya bertemu dengan Asmira, satu-satunya yang selamat dari pembantaian.
Menyembunyikan niat aslinya, Asmira berhasil membujuk Khaba untuk membebaskan
Bartimaeus sebagai balasan atas nyawanya yang diselamatkan sang jin. Namun
dengan segera, Asmira menyadari bahwa Khaba berkhianat dan ia pun ‘merebut’
Bartimaeus untuk dipekerjakannya sendiri. Tugas pertama Asmira untuk Bartimaeus
adalah: membunuh Solomon dan merebut Cincin Solomon untuk dibawa ke Ratu Sheba.
Walaupun memiliki karir tak terpatahkan selama
2000 tahun, Bartimaeus harus terlibat kucing-kucingan dengan puluhan demon berkekuatan besar yang menjadi
pelindung Solomon sambil melindungi
Asmira. Dalam sekejap, Jerusalem menjadi tempat pertempuran untuk memperebutkan
Cincin Solomon. Tapi adakah yang cukup jeli untuk mengetahui kenyataan tentang
Solomon sendiri?
Kelebihan dari cerita ini berasal dari personalisasi
tokoh-tokoh sentralnya yang unik, yaitu Bartimaeus, Nathaniel (John Mandrake), Kitty
Jones, juga Asmira, kalau mau melihat spin-off-nya.
Nih sedikit review tentang betapa bertentangannya mereka:
Bartimaeus
Bartimaeus adalah jin yang mengalami masa jaya pada
2000 tahun sebelum dipanggil oleh Nathaniel. Ia adalah jin tingkat menengah
dengan sejuta keberuntungan, yang menyebabkan dia selalu mampu berkelit dalam
situasi berbahaya dan masih hidup hingga 5000 tahun lamanya.
Kelebihan utama (atau kelemahan?) Bartimaeus
ada pada kemampuannya untuk membuat semua orang sebal terhadapnya. Ia memiliki
persediaan ejekan yang tiada habis, dan tidak terlalu memperdulikan hukuman
yang diterimanya dari penyihir akibat lidahnya yang tak bertulang (kalau dia
punya lidah sih). Kelebihan utamanya ini sebenarnya ditunjang dengan
kecerdasannya yang (kalau saya boleh menyimpulkan) sangat tinggi dibandingkan demon lainnya. Bartimaeus menggunakan
kecerdasannya ini untuk mengakali siapa saja, menyabet kesempatan apa saja dan
melenggang santai setelahnya (aduh… ketularan gaya bahasa Bartimaeus ini
sepertinya, maafkan… ).
Namun demikian, Bartimaeus memiliki sisi lembut
yang hanya ditunjukkan pada Ptolemy. Loyalitas Bartimaeus terhadap Ptolemy
adalah yang tertinggi, sampai ke taraf kesediaan Bartimaeus mengorbankan diri
untuk sang penyihir. Alasannya? Ada tuh di Ptolemy’s
Gate ^^
Bartimaeus ini memiliki banyak nama, misalkan
Sakhr-Al-Jinni, N’gorso, dan yang spesial untuknya adalah Rekhyt, nama yang
diberikan Ptolemy. Selain Ptolemy, Bartimaeus menganggap rendah manusia dan
terutama, pernyihir. Ia tanpa sengaja mengetahui nama lahir Mandrake, yaitu
Nathaniel, dan ini (sedikit) menyejajarkannya dengan sang penyihir muda.
Bartimaeus membenci Nathaniel, seperti halnya ia membenci penyihir lainnya, dan
selalu mencari kesempatan untuk menjatuhkan sang master.
Nathaniel
(John Mandrake)
Sebagian besar buku pertama akan menyebutkan
Nathaniel, sebagian besar buku kedua akan menyebutkan Mandrake, dan buku ketiga
membagi keduanya nyaris hampir sama. Nathaniel memiliki masa kecil yang
menyedihkan, dimana ia dijual oleh kedua orang tuanya karena alasan ekonomi. Ia
tumbuh menjadi bocah tertutup dan tidak pernah bergaul dengan sesamanya.
Nathaniel memiliki kehausan luar biasa terhadap
ilmu pengetahuan, dan hal ini ditunjang dengan otaknya yang encer. Namun
demikian, master penyihirnya yang skeptis tidak mengakui kehebatan Nathaniel
dan hal tersebut membuat sang bocah frustasi. Puncak rasa frustasi Nathaniel
tumpah menjadi pemanggilan terhadap Bartimaeus dan pencurian Amulet Samarkand,
yang membuka cerita trilogi ini.
Dengan menggunakan nama John Mandrake,
Nathaniel mengunci diri aslinya yang rapuh dan kesepian. Setelah lepas dari
master pertamanya, ia tumbuh menjadi remaja jenius yang disegani di kalangan
penyihir. Mandrake menjadi kesayangan Perdana Menteri dan dengan mudah
mengungguli orang-orang yang meremehkannya di masa lalu.
Namun, seperti halnya remaja lainnya, Mandrake
terus terhubung dengan keinginannya untuk mencari tempat yang terbaik untuknya.
Ia ingin aman, ingin diakui serta ingin
berkuasa, dan efek sampingnya ia menjadi paranoid.
Mandrake membenci Bartimaeus, namun mengakui
bahwa jin tersebut merupakan jin paling efektif yang pernah ia miliki, dan juga
satu-satunya jin yang mengetahui nama lahirnya, sehingga ia selalu
mempergunakan Bartimaeus dengan sangat hati-hati. Sedangkan hubungan Mandrake
dan Kitty, hmm… seperti simbiosis parasitisme. Mandrake sangat memandang rendah
Kitty, dan didukung dengan kekalahan-kekalahan telaknya melawan sang pemimpin
Resistance, ia pun juga membenci Kitty.
Sedikit kontras dengan kebencian demi kebencian
yang menumpuk dalam hati Mandrake, ia merupakan remaja cerdas dengan tingkat
kepercayaan diri jauh diatas rata-rata. Ia memiliki kemampuan menganalisis
situasi seperti halnya Bartimaeus, yang makin terasah seiring ia dewasa, namun
hal tersebut justru sering menempatkannya pada situasi hidup dan mati, sambil
membawa-bawa sang jin, tentunya. Kalau menurut saya, kelemahan terbesar dari
Mandrake justru adalah diri kecilnya yang bernama Nathaniel…
Kitty
Jones
Berbeda kontras dengan Mandrake, Kitty adalah commoner, manusia biasa yang tidak
dikaruniai kemampuan menyihir. Karena sebuah insiden yang nyaris membuatnya
terbunuh, ia menemukan bahwa dirinya memiliki kemampuan bertahan terhadap
sihir. Kitty menggunakan kemampuan tersebut untuk membangun Resistance,
kelompok kecil berisi orang-orang dengan ‘kelebihan’ serupa dengan dirinya
untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah.
Sudut pandang Kitty yang dipenuhi
ketidakpercayaan terhadap penyihir semakin kuat ketika kelompok Resistance-nya
dibantai oleh Honorius, namun juga memberikan pemahaman pada Kitty tentang
ketidakberdayaan yang ia miliki. Pertemuannya dengan Bartimaeus saat keduanya
berada dalam kuasa Mandrake mengawali keingintahuan Kitty terhadap Dunia Lain,
dunia asal para demon.
Kitty memiliki kemauan keras dan tidak mudah
dibantah, sekalipun oleh Mandrake. Persamaannya dengan Mandrake adalah bahwa
keduanya sama-sama mengalami perlakuan tidak adil bertubi-tubi di masa muda
mereka. Kitty, yang tidak seberuntung Mandrake memiliki kualitas gabungan
antara keras kepala dan kemampuan survival
yang hebat.
Ia tidak pernah sungguh-sungguh menampilkan
emosi aslinya di depan orang lain. Kitty menggunakan topeng kepribadian yang
bermacam-macam sehingga dapat membaur dengan banyak orang, terutama setelah ia
kehilangan hampir seluruh anggota Resistance-nya.
Asmira
Tokoh yang hanya muncul di Ring of Solomon ini di benak saya mirip dengan gambaran Kagura
Mikazuchi di Fairy Tail. Asmira cerdas, memiliki keberanian tinggi dan
loyalitas yang tak perlu dipertanyakan. Ia merupakan prajurit terbaik yang
dikirim oleh Ratu Balkis, penguasa Sheba untuk membunuh Raja Solomon di
Jerusalem.
Asmira dikaruniai kemampuan tinggi dalam
pertahanan diri, termasuk terhadap demon (dengan
bersenjatakan perak), dan juga memiliki kemampuan memanggil makhluk halus,
seperti halnya pendeta matahari yang lain. Loyalitas Asmira digambarkan sebagai
blindfold yang mencegah Asmira
bertindak rasional dan menggunakan akal sehat (ini kata Bartimaeus lho).
Agak sulit juga mendeskripsikan Asmira, tapi
yang jelas, dia mengalami perubahan kepribadian yang cukup drastis dari orang
berpikiran tertutup menjadi jauh lebih bijaksana, tanpa mengurangi keberanian
yang sudah ia miliki sejak awal.
In My Eyes:
Phew, kalau boleh dibilang, versi The Ring of Solomon adalah yang paling
‘ceria’ diantara keempat buku diatas. Boleh dibilang juga, selera humor
Bartimaeus dalam buku tersebut jauh lebih ‘mengerikan’. Kalau triloginya sudah
membuat saya ngakak sambil geleng-geleng kepala keheranan dengan ide cemerlang
Bartimaeus, boleh dibilang si spin-off
ini membuat saya gegulingan sambil berjuang berhenti tertawa. Boleh dibilang
lagi sih, kalau The Ring of Solomon
merupakan obat yang mujarab setelah kisah trilogi yang rilis sebelumnya.
Emangnya kenapa dengan kisah triloginya?
Hahaha, saya tidak mau komentar di bagian ini.
Kisah trilogi Bartimaeus merupakan campuran
yang tidak sederhana dari intrik dan humor. Sisi lucu dan sisi dark berjalan beriringan dengan
kecepatan yang sama, menjadikannya cerita yang memiliki kemampuan untuk bermain
dengan emosi pembacanya. Dalam satu titik, kita akan disuguhi kepolosan
Nathaniel yang berubah menjadi ketamakan Mandrake, di titik lain kita disuguhi
kekeraskepalaan Kitty, dan di titik lain kita disuguhi luka masa lalu dan
kebencian Bartimaeus. Tapi, di sisi lain kita akan menemukan kekonyolan
perilaku Nathaniel (dan juga Mandrake sih), dan yang mendominasi kocokan
lambung, humor ngejleb Bartimaeus.
Menurut saya, buku yang paling seru adalah buku
ketiga dari trilogi ini. Selain memberikan konklusi dari cerita luar biasa ini,
buku ketiga juga sarat dengan pertentangan batin dari masing-masing tokoh utama
(ini mencakup Bartimaeus lho) dengan tanpa melupakan humor sama sekali. Ending…
ah, bagaimana saya menjelaskan ya? Sudahkah saya bilang bahwa saya banjir air
mata saat pertama kali membacanya? Eniwei, banjir air mata ini masih terjadi
setiap saya membaca kembali bagian endingnya ini (setelah agak lama tidak
membaca tentunya).
Cerita ini jelas fiktif, jelas tidak masuk
akal, jelas hanya imajinasi, jelas tidak mungkin jadi nyata, dan jelas-jelas
lumayan panjang untuk diikuti. Tapi novel ini punya daya tarik kuat yang
memungkinkan pembacanya untuk tersedot masuk ke dalam dunia yang dihuni
Bartimaeus dan Nathaniel. Deskripsi yang detil dan gaya bahasanya yang unik
mengajak kita memvisualisasi apa-apa yang sedang disaksikan Bartimaeus,
Nathaniel, Kitty, dan juga Asmira.
Kekuatan lain dari serial ini adalah kemampuan
sang pengarang menghubungkan kehebatan Bartimaeus dengan berbagai sejarah lama,
baik di Mesir, Praha, dan Yunani. Sebut saja Tembok Besar Praha (Prague Great
Wall), tenggelamnya Atlantis, juga cerita Nefertiti dan Sphinx. Deskripsi
hubungan Bartimaeus dengan Jerusalem, Asiria, Babilonia dan Sheba juga muncul lumayan
mendetil. Berubahnya aliran sungai Mesopotamia dan Legenda Minotaur juga jadi
bagian deskripsi karir Bartimaeus di novel ini. Menurut saya, yang paling
fantastis adalah cerita tentang Solomon dan Cincin Magis yang ia gunakan.
Termasuk kemampuan Cincin memanggil ribuan entitas makhluk halus, penolakan
lamaran Solomon, deskripsi perjalanan Ratu Balkis dari Sheba yang singkat tapi
akurat, dan istana Solomon yang memang
mirip dengan cerita yang sudah pernah saya dengar sejak kecil.
Ya tentu saja lah, semua itu merupakan parodi,
tapi tetap saja, kemampuan Jonathan Stroud menggabungkan kesemuanya itu kedalam
satu kepribadian bersejarah yang ia namai Bartimaeus merupakan sesuatu yang
patut diacungi jempol. Kemampuan parodi ini membengkak ke arah yang hebat dan
memberikan jaminan ngakak guling-guling pada spin-off dari trilogi ini, The
Ring of Solomon.
Oke, sekarang kita beranjak ke *ehm* kelemahan
dari novel ini. Novel ini disampaikan dalam tiga POV (point of view), yaitu dari Bartimaeus sendiri, Nathaniel dan Kitty
(dan pada Ring of Solomon terdapat
POV Asmira). Dengan kepribadian ketiganya yang lumayan (sangat) berbeda, maka
sepertinya POV-POV tersebut akan memiliki fans sendiri-sendiri.
Yah, jujur saja sih, berhubung saya adalah
orang berkepribadian ceria *halah* maka membaca POV dari Kitty, walaupun
menarik, namun tidak semenarik POV Bartimaeus dan Nathaniel. POV Kitty mulai
muncul di buku kedua, The Golem’s Eye,
dan jujur saja, saya baru benar-benar tertarik dengan POV Kitty di setengah
akhir buku ketiga.
POV favorit saya, jelas saja, POV Bartimaeus,
yang banyak mengandung catatan kaki alias footnote
yang informatif dan konyol sekaligus. Biasanya pada catatan kaki, sang jin akan
membeberkan penjelasan tentang apa yang sedang ia bicarakan, biasanya sambil
disertai dengan narsisme tingkat tinggi dan sikap merendahkan terhadap manusia.
Lucunya, cara penyampaian Bartiameus yang blak-blakan malah membuat saya betah
membaca POV miliknya.
POV Nathaniel sedikit lebih kelam dari POV
Bartimaeus, dan penuh dengan segala macam hal manusiawi, seperti misalnya rasa
frustasi, rasa takut, dan kepercayaan diri yang naik turun. Tapi justru
pertentangan internal antara Mandrake dan Nathaniel menurut saya menarik. POV
yang juga saya suka adalah POV Asmira, yang penuh dengan petualangan, mulai
dari Sheba sampai di punggung Solomon. Personally,
saya suka personalisasi Asmira dan perubahan cara pikir yang ia alami selama ia
bersama Bartimaeus :)
Heh? Kok sudah panjang? Well, that’s it. Saya sih, merekomendasikan novel ini untuk yang
menyukai bacaan berbobot dan penuh cerita historis, tanpa membuang unsur humor
dan sarkasme unik. Unsur psikologis sebenarnya juga cukup menonjol jadi bisa
deh saya rekom untuk penyuka serial yang mengeksplor kepribadian
tokoh-tokohnya. Yang suka cerita action,
deskripsi aksi Bartimaeus dkk di novel ini sangat detil, jadi saya rekom juga. Untuk
penyuka cerita ringan, saya menyarankan The
Ring of Solomon sebagai pilihan, tapi saya pikir cerita triloginya juga
ndak berat-berat amat kok jadi bisa lah saya rekom keempat-empatnya, hahahaha
*gak konsisten*
Intinya, cerita Bartimaeus memiliki aura yang berbeda diantara sekian banyak tebaran cerita yang merupakan hibrida dari magis, action dan petualangan. Sayang untuk tidak dibaca, dan sayang untuk tidak segera diangkat ke layar lebar *whooooiii… yang merasa produser, whoooooiiii! Ayolah cepetan dirilis movienyaaa*
Selasa, 07 Mei 2013
12 Most 'Listenable' Songs
Kurang kerjaan banget bikin tulisan ini.
Salah.
Justru saking banyaknya kerjaan, kuping saya jadi super familiar dengan
banyak lagu yang menjaga saya tetap melek, dan saya menyadari beberapa lagu
yang membuat saya mengalami adiksi pendengaran *halah*.
Intinya, semakin sibuk saya, semakin banyak neuron di otak saya bekerja,
dan semakin banyak impuls yang akan mengalami pe-nimbul-an *emangnya Srimulat?*
ke permukaan. Sepertinya secara fisiologis, atau maksud saya secara normal,
impuls yang menimbul di otak saya bukan hanya Tessy, eh maksud saya, bukan
hanya yang terkait pekerjaan, tapi juga yang terkait dengan yang lain-lain.
Mungkin itu cara saya mencapai kesetimbangan *kalau di fisika bukan
‘keseimbangan’ tapi ‘kesetimbangan’, jadi antara keset dan timbangan*. Duh…
sepertinya impulsnya terlalu variatif kalau prolognya kepanjangan jadi marilah
saya mulai saja.
Jadi berikut adalah beberapa lagu yang menurut saya merupakan lagu
paling indah untuk didengarkan, berikut alasannya, yang tentu saja menurut
saya. Tapi ndak ada salahnya dicoba dengarkan lagu-lagu berikut, because, they’re so beautiful :)
Fine, kuping saya memang amat sangat naksir sama
Owl City, baik yang lirikal maupun yang instrumental semua ada di lepi saya
:’). Termasuk lagu yang satu ini, “back
and forth, if my heart was a compass you’d be north,” inti dari lagu ini
adalah bahwa si Owl memiliki orang yang seperti kutub utara di kompas. Jarum
kompas selalu menunjukkan arah utara, termasuk si Owl yang hidupnya akan selalu
mengarah ke ‘utara’. Semacam cara unik khas Owl City untuk mendeskripsikan soal
perasaan yang kita punya untuk orang lain. Very
very beautiful song, very-nya ada dua :)
Coba dengarkan pula versi instrumentalnya. Tidak kalah bagus dan tidak
kalah membuat hati terasa sejuk sekali :’) *maaf agak sedikit lebai*
“risk it all cause I’ll catch you
when you fall, wherever you go if my heart was a house you’d be home,”
Clarity (Zedd ft. Foxes)
“don’t speak as I try to leave
cause we both know what we choose,”
Satu penggal lirik yang ini menurut saya adalah yang paling unik,
semacam Foxes sedang bicara tentang masa depan yang sudah pernah dia lihat. Lirik
lagunya semacam maju mundur antara pingin lepas dan tidak pingin lepas. Dia
sudah tahu endingnya, tapi segala sesuatu di sekelilingnya tetap membuat dia
merasa mungkin ending itu bisa berubah jadi lebih baik dari yang dia ketahui.
Saya pertama dengar lagu ini waktu videoklipnya muncul di penutup sebuah
acara berita sebuah stasiun tivi, dan wow, keren! Zedd memang terkenal dengan
kemampuannya membuat efek dramatis dari sebuah videoklip dan klip garapannya
bersama Foxes ini juga tidak kalah keren :D
Seperti apa videoklipnya? Search aja di Youtube dengan kata kunci
Clarity Zedd ft. Foxes Official Video. Isinya tentang tabrakan yang (sangat)
hiperbolis, hehehe… keren dan manis sekaligus :)
“if our love's insanity why are you my clarity?”
The Beginning (One OK Rock)
Ngerock dulu bentar, lagu ini adalah lagu yang langsung menjadi zat
adiktif bagi membran timpani saya sejak saya nonton movie Rurouni Kenshin beberapa bulan yang lalu. Sekitar 30% lirik
lagunya dalam bahasa Inggris, dan sisanya dalam bahasa Jepang, tapi dibuka
dengan satu bait berbahasa Inggris,
“just give me a reason to keep my
heart beating,”
Jadi inti dari lagu ini adalah devotion,
bahwa kita hidup demi sesuatu yang kita anggap berharga. Selama masih ada satu
alasan itu, maka kita akan dapat bertahan hidup dengan sendirinya, sekejam
apapun dunia ini. Jujur sih, videoklipnya juga agak kejam kalau menurut saya
:’(
Buat yang belum pernah tahu ttg One OK Rock, jadi dia adalah salah satu
band rock Jepang yang terkenal karena suara vokalisnya yang khas. Kayak gimana
khasnya? Ya kayak gitu, haha :p *plak!*. Vokalisnya bernama Taka *dan saya
mendengar ada suara fangirl dari suatu tempat f(-__-“)* dan dia punya English pronounciation yang bagus.
Jujur, waktu pertama kali dengar lagu ini di bait-bait awal saya tidak
menyangka kalau ternyata yang menyanyikannya adalah orang Jepang tulen :p
“I’ll risk everything if it’s for
you,”
“keep in faith just in case all
the magic dies, cause this is driving me crazy,”
Dementia, atau dalam bahasa Indonesia disebut ‘demensia’ adalah suatu
terminologi internasional untuk istilah ‘pikun’. Lagu ini unik, seperti juga
sederetan lagu Owl City lain, karena dia bercerita tentang bagaimana kondisi
demensia itu bisa membuat seseorang jadi gila. Bayangkan saja, kita ingin
mengingat sesuatu, tapi ternyata kita lupa tanpa sengaja, atau kita ingin
bersikap sesuatu, tapi endingnya kita bersikap sangat jauh dari keinginan kita.
Dan semuanya tanpa kita sadari.
Dibalut pakai musik yang riuh dan unik khas Owl City di album
terbarunya, lagu ini suer bisa membuat saya melek sampai pagi. Dan seperti
halnya hasil kerja Owl City lainnya, bukan hanya lirikal, versi instrumentalnya
pun luar biasa keren sekali. Saya penasaran videoklipnya, jadi kalau ada yang
punya link-nya saya mau lho dibagi :)
“this is love, this is war, this
is pure insanity,”
Rachmaninoff. 01 Piano Concerto No.2
in C Minor Op.18
Jangan tanya saya bagaimana lengkapnya tulisan lagu ini *saya menerima
masukan tentang musik klasik yang satu ini*. Yupi, lagu ini adalah pure
instrumental, yang pertama kali saya dengarkan di serial Nodame Chantabile
Special 2 (dimainkan oleh karakter Son Rui), dan kemudian saya dengarkan lagi
sebagai lagu latar adegan battle di
sebuah film yang saya tonton. Lagu ini langsung menancapkan melodinya di korteks
parietal saya dengan sempurna.
Rachmaninoff yang bagian ini memang sering dimainkan dalam Piano
Concerto, jadi paduan antara permainan piano dan orkestra lengkap. Melodinya
terasa agak iritatif sih sebenarnya *silakan bayangkan sendiri melodi iritatif
itu bagaimana* tapi juga terasa seperti ‘mengangkat’ sesuatu dalam hati untuk
dapat dipertahankan dalam situasi yang amat sulit. Intinya, walaupun merupakan
musik klasik, memang melodinya cocok untuk battle.
Bingung? Sudah, coba dengarkan saja supaya tahu maksud saya :p
Untukku (Chrisye)
“saat lautan kau seberangi,
janganlah ragu bersauh,”
(Dulu) ini adalah lagu favorit saya, sebelum saya tahu lautan itu bisa ‘lebih
berbahaya’ dibanding apapun, percayalah, hahaha ^^. Yah, walaupun lagu ini tak
lagi menjadi lagu yang selalu mampir di list mp3 saya, tapi saya cukup sportif
untuk mengatakan bahwa lagu ini adalah salah satu lagu paling indah yang pernah
mampir ke kuping saya.
Yupi, saya adalah fans Alm. Chrisye, karena bagi saya keunikan suaranya
tidak ada yang menyamai, sampai saat ini. Lagu ini bercerita tentang satu orang
yang pergi mengarungi samudra, dan satu orang lagi yang menunggu orang pertama
tadi untuk kembali. Dia yang pergi akan tetap setia, dan dia yang menunggu pun
juga sama. Tipikal kisah dongeng ya? Hehe.. Tapi memang lagu ini indah sekali. Yakin,
bahwa dia hanya untukku. Yakin… … Eh, yakin?
“karena ku yakin, kau hanya
untukku,”
All I Know (Five For Fighting)
“I love you and that’s all I
know,”
Lagu ini pertama kali mampir ke telinga saya saat saya masih SMA, dan
saat itu pula sedang booming Naruto disana-sini *maaf gak nyambung* dan saya
masih ingat seorang teman SMA saya ngeprin lagu ini di kertas yang ada gambar
Sasuke-nya, hahaha masa muda XD.
Lagu ini adalah lagu penutup dari movie Chicken Little yang sampai sekarang belum pernah saya tonton. Isi lagu ini mengingatkan kita bahwa kita baru akan sadar betapa berharganya seseorang saat ia sudah tak lagi ada bersama kita. Kalau masih ada bersama kita, seringkali kita justru saling menyakiti tanpa kita menyadarinya. Jaman lagu ini keluar, Five For Fighting sedang jaya-jayanya, dan saya masih suka gaya musiknya sampai sekarang. Unik!
Lagu ini adalah lagu penutup dari movie Chicken Little yang sampai sekarang belum pernah saya tonton. Isi lagu ini mengingatkan kita bahwa kita baru akan sadar betapa berharganya seseorang saat ia sudah tak lagi ada bersama kita. Kalau masih ada bersama kita, seringkali kita justru saling menyakiti tanpa kita menyadarinya. Jaman lagu ini keluar, Five For Fighting sedang jaya-jayanya, dan saya masih suka gaya musiknya sampai sekarang. Unik!
“endings always come too fast,
they come too fast and they pass too slow,”
200 Miles (Jang Geun Suk)
“just speed up don’t be afraid!
Run! Run! Get it started!”
Bijim, walaupun yang nyanyi orang Korea, tapi lagu ini adalah lagu
berbahasa Jepang campuran bahasa Inggris yang ngebeat sekali. Melodinya juga
agak surprising kalau menurut saya
*menurut saya loh…*. Seperti halnya satu bait lirik yang saya tulis, isi
lagunya berbicara tentang lari! Lari!
Cepet! Cepet! Apapun yang terjadi, jangan takut dengan keadaan, tetap
berjalan kedepan dan terus percaya bahwa kita bisa melampaui batasan yang kita
buat terhadap diri kita sendiri. Asal kita bisa meyakinkan diri sendiri,
percaya deh, tidak akan ada yang bisa menghentikan kita :)
Ini adalah lagu pertama dan satu-satunya lagu dari penyanyi Korea yang
dengan setia mampir di list mp3 saya, soalnya (sama sekali) tidak bisa berbahasa Korea *though i'm a girl, I know
just so NOTHING about Korean, be it language or artist*.
“exceed the limits of you!”
Brand New Day (Joshua Radin)
“most story has a hero to fight
and make the past to pass,”
Sebagai penyanyi country, nama
Radin mungkin tidak setenar Taylor Swift *yah.. iyalah..* dan sebagian besar
lagunya memang agak ‘suram’. Tapi entah bagaimana, satu lagu ini kesannya
begitu bright saat saya pertama kali
mendengar. Liriknya simpel, tapi menggambarkan dengan baik mengenai ‘lahir
kembali’ setelah mlungker di masa lalu.
Lagu ini juga menggambarkan bahwa untuk bisa keluar dari kemlungkeran
tadi, kita mungkin akan membutuhkan orang lain. Orang yang tepat, supaya kita
bisa keluar dari cangkang dan menemukan dunia yang benar-benar baru. Aneh sih,
dunia kan ya gitu itu aja, jadi barunya sebelah mana :p
Intinya, beautiful song! :)
“for the first time in such a
long long time I know I’ll be okay,”
You and Me (Lifehouse)
Siapa yang tidak kenal dengan lirik “there’s
you and me and all the people when nothing to do nothing to lose,” ini? Saya
pikir semua orang yang pernah naksir orang dalam bentuk apapun dan pakai
mangkir dari pengakuan model apapun, pernah mendengar dan senyum dengar lagu
ini, ahahaha XD. Lagu ini memang salah satu kanon lagu romantis. Bahkan dengan
mendengar intronya saja, orang bisa mudah mengidentifikasi judul lagu ini. Yah
mungkin separah-parahnya tau lagunya tapi ndak tau judulnya sampai berabad-abad
kemudian *lirik diri sendiri di cermin*
Yang membuat saya ingat lagu ini bukan judulnya, tapi melodinya. Bahkan
dulu saat bahasa Inggris saya masih as mencla-mencle as possible, saya sudah
merekam melodinya dengan sempurna di memori saya. Terbukti, lagu ini adalah
salah satu lagu termanis yang pernah saya dengar :)
“and there’s you and me and all
of the people and I don’t know why I can’t keep my eyes off of you,”
Summer Paradise (Simple Plan ft.
Taka)
“I can’t believe I’m leaving oh I
don’t know what I’m gonna do,”
lagu ini adalah rangkaian kata-kata yang simpel dan mudah diingat. Ada beberapa
versi dari lagu ini, tapi versi ft. Taka ini yang paling saya suka, karena yang
memiliki lirik yang paling friendly
dengan kuping saya, hahaha XD
Sekali dengar, lirik “I’ll be
there in the heartbeat,” langsung mancep dengan indahnya di kuping
pendengar. Dengan melodi yang juga enak didengarkan, lagu ini salah satu lagu
yang jadi most wanted di kuping saya.
Semacam vokal dan musiknya bisa bercampur dengan sangat baik dan tidak kelewat
ngebeat tapi juga tidak melon… eh, maksud saya melow :p. Memang sih, sebenarnya
lagu ini bercerita tentang perpisahan (yang harusnya sedih), tapi dikemas dalam
lirik dan melodi yang tidak akan membuat pendengarnya galau *menurut saya sih…*.
“tell me how to get back to
summer paradise with you,”
Tentu saja, ada setumpuk lagu lain yang ada di list mp3 saya, rata-rata
sih bukan lagu lokal, karena Chrisye sudah tidak lagi berkarya (ya tentu saja)
dan saya belum menemukan penyanyi lokal yang bisa saya kagumi seperti saya
kagum sama Chrisye. Bukannya tidak cinta Indonesia, tapi nyatanya lagu-lagu
lokal temanya kurang variatif dan saya seringkali langsung bosan dengan hanya
mendengarkan satu dua kali *pengakuan* :p
fine then, o saki ni, dengan selesainya tulisan ini akhirnya saya ngantuk juga. Terima kasih sudah membaca, boleh lho share lagu apa yang bagus untuk didengarkan :D
note: tulisan ini dibuat dalam waktu 15 menit
P.S. setelah saya hitung-hitung lagi ternyata isinya 11 lagu, bukan 10 *tanda sudah ngantuk*
jaa oyasuminasaaaaiii :)
-100413, 11.03 pm-
Updated from '10 Most 'Listenable' Songs to '12 Most 'Listenable' Songs' on 111013, 6.30pm-
P.S. setelah saya hitung-hitung lagi ternyata isinya 11 lagu, bukan 10 *tanda sudah ngantuk*
jaa oyasuminasaaaaiii :)
-100413, 11.03 pm-
Updated from '10 Most 'Listenable' Songs to '12 Most 'Listenable' Songs' on 111013, 6.30pm-
Senin, 05 Maret 2012
Minggu, 04 Maret 2012
Persona 4 The Animation
Kalau review saya sebelumnya tentang definisi Persona,
nah sekarang saya mereview tentang anime berjudul sama.
Kenapa saya membuat review
ini?
Karena ini anime yang bagus, dan saya rasa perlu dishare dengan
banyak orang. Jaman sekarang ini banyak anime beredar, mulai dari yang gak
genah sampe yang sarat makna. Persona 4 The Animation diangkat dari Game
besutan Atlus: Persona 4, yang menuai sukses tahun 2011 kemarin.
Buat para
gamer, mungkin game ini sudah tidak asing lagi, tapi buat yang baru pertama
kali ini baca tentang Persona, siapa tahu laman ini bisa menghibur dan memberi
informasi tentang apa sih Persona itu.
Gak perlu main gamenya buat nyambung sama cerita anime
ini. Karena seperti halnya versi manga Persona 4, versi anime dari Persona 4
juga memiliki alur cerita sendiri dari awal hingga akhir, walaupun tidak
terlalu jauh beda dengan gamenya. Jadi jangan khawatir, siapapun pasti bisa
tetep menikmati anime ini J
Judul : Persona 4 The Animation
Format : Anime Series
Developer :
Aniplex-Atlus
On air : Oktober 2011-sekarang
OST
Opening
1. Pursuing My True Self (ini juga opening di game)
2. Sky’s The Limit
3. True Story
4. Key Plus Words
5. Burn My Dread
Ending
1. Sky’s The Limit
2. Beauty of Destiny
3. Koisuru Meitantei
4. The Way of Memories
Background music, insert song: seluruh album Never More
–Reincarnation—
(i don't own this anime, i don't own any Persona, but i do own this review and this blog ^^v)
Cerita dimulai saat Yu Narukami pindah ke kota kecil yang
bernama Inaba. Pada malam hari kedatangannya di Inaba, ia tidak sengaja menatap
televisi dan mendengar suara dalam dirinya sendiri. Yu yang kebingungan tanpa
sadar menyentuh layar televisi dan terkejut saat ia nyaris tersedot masuk ke
dalam televisi.
Yu kemudian menemukan bahwa ia memiliki kemampuan untuk masuk ke
dalam dunia di balik televisi, dan dengan bantuan teman-temannya ia mencoba
memecahkan kasus pembunuhan misterius yang terjadi di Inaba, yang ternyata
berhubungan dengan dunia di balik TV. Yu dkk terlibat eksplorasi dunia di balik
televisi, yang mereka yakini sebagai cara terbunuhnya korban secara misterius
dan mengenaskan.
Yu berusaha membuka lapis demi lapis misteri yang terjadi
di balik legenda malam berkabut di Inaba, hingga akhirnya ia menemukan pola
tertentu dari pembunuhan misterius tersebut: setiap orang yang mendadak menjadi
bahan pembicaraan di Inaba akan menjadi sasaran pembunuhan. Dari pola tersebut,
Yu dkk berusaha mencegah upaya pembunuhan berlanjut sambil mencari tahu siapa
dalang di balik pembunuhan yang sama sekali tidak meninggalkan trace apapun itu.
Tak hanya harus memecahkan misteri pembunuhan misterius,
Yu (seperti di versi gamenya) harus bisa menyeimbangkan kehidupannya
sehari-hari diantara keluarga dan teman-temannya. Ia butuh ‘ikatan’ (bond)
untuk memperkuat Persona miliknya agar tetap dapat memecahkan permasalahan di
Inaba.
Seperti pada versi game, setiap bond yang ditemukan
oleh Yu akan bermanifestasi sebagai Arcana. Arcana akan memungkinkan Yu untuk
mensummon berbagai macam Persona yang merepresentasikan Arcana tersebut.
Setiap Arcana Persona yang didapat Yu terekam dalam Compendium yang
dibawa oleh Margaret.
Persona
Definisi Persona dalam serial Persona 4 adalah shift
dari Shadow, yaitu bentukan yang muncul dari ego yang disupresi (human ego
given form). Shadow muncul sebagai sisi diri yang ditolak, dan menuntut
untuk diterima sebagai bagian dari diri. Shadow yang diterima oleh diri, akan
mengalami shift menjadi Persona. Persona akan terealisasi keluar saat
berada di dunia di balik televisi, dan terinternalisasi kedalam saat berada di
dunia manusia.
-The Investigation Team-
Yu Narukami
Arcana: Fool
Persona: Izanagi, Izanagi no Ookami, dan semua Persona
dari semua Arcana
Alias: Souji Seta (versi manga)
Yu merupakan anak dari pasangan super sibuk yang tidak
sempat mengurus dirinya sehingga walaupun tinggal di kota besar dan serba
kecukupan, Yu selalu berpindah-pindah tempat tinggal dari satu kerabat ke
kerabat lain.
Saat Yu datang ke Inaba untuk tinggal dengan keluarga Dojima, ia
menemukan bahwa ia memiliki kemampuan membuka portal ke dunia di balik
televisi. Dalam satu tahun, Yu harus memecahkan misteri pembunuhan
misterius yang terjadi di Inaba.
Agak berbeda dengan versi gamenya, di versi anime ini Yu
digambarkan sebagai remaja jenius, dengan kepribadian yang… er… menurut saya
sih, ‘aneh’. Yu bisa jadi sangat cool dan bisa jadi sangat ancur sekaligus.
Namun, Yu memiliki kemampuan alami untuk menempatkan diri di antara banyak
orang sehingga ia banyak disukai.
Secara natural, karena Yu adalah yang pertama mendapatkan
Persona, ia menjadi leader diantara teman-temannya. Petualangan Yu tak
hanya didampingi oleh teman-temannya, tapi juga oleh Margaret dan Igor, dari
sebuah ruang yang disebut Velvet Room yang hanya dapat dimasuki oleh Yu
(dan Kuma).
Yu adalah erabareshimono (the chosen one) yang dipilih oleh salah
satu spirit dalam legenda yang
menghuni Inaba, dan karenanya Yu tidak pernah menghadapi Shadow dari dirinya
sendiri.
Yu akhirnya menemukan adanya hubungan antara pembunuhan misterius, mayonaka terebi, kabut tebal dan legenda
dari kota Inaba sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
































