Tampilkan postingan dengan label reviewer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reviewer. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Sabtu, 21 Januari 2017

Kimi No Na Wa: A Review




They converge and take shape, they twist, tangle, sometimes unravel, then connect again, that’s… time.

Title: Kimi No Na Wa / 君の名は / Your Name
Director: Makoto Shinkai
Producer: Noritaka Kawaguchi, Genki Kawamura
Seiyuu: Ryunosuke Kamiki, Mone Kamishiraishi, Masami Nagasawa, Etsuko Ichihara, etc.
Music: Radwimps
Cinematography: Makoto Shinkai
Distributor: Toho
Released: August 2016 (Japan), December 2016 (worldwide)
Duration: 107 minutes
Language: Japanese
Awards: 
Best Animated Feature Length Film (49th Sitges Film Festival)
Best Animated Feature Special Distinction Prize, Best Animated Feature Audiences Prize (18th Bucheon International Animation Festival)
Nominated as Best Film (60th BFI London)
Arigatō Award for Makoto Shinkai (29th Tokyo International Film Festival)
Special Prize for Radwimps (58th Japan Record Award)
Best Film (2016 Yahoo! Japan Search Award)
Best Director for Makoto Shinkai (29th Nikkan Sports Film Award)
Best Animated Film (2016 LACSA Award)
Special Distinction Prize (Best Team of The Year 2016)
Nominated as Best Picture (41st Hochi Film Award)
and many other nominations... 

Pertama kali saya lihat trailer movie ini di pesawat, saya cuma sempat browsing sekilas setibanya saya di tujuan, melihat deretan award yang diraih, tapi tidak (belum) sempat benar-benar nonton maupun download. Jadi, akhirnya saya berkesempatan nonton movie ini di penerbangan lima bulan berikutnya, dan… sempat bingung mencegah supaya tidak-nampak-seperti-orang-aneh (if you know what I mean) di sepertiga terakhir movie.

Because my face must showed too many emotions at once.

Senin, 25 Juli 2016

Tantangan menjadi ENTP


8tracks.com

We value logic first, then feeling second. It is not that we don't have feeling, but we go with what must be done, not what we must feel.

Senin, 04 Juli 2016

Photograph (Instrumental)

straight to your mind.

There are many-many instrumental version of Ed Sheeran's Photograph, but this one stole my heart right the moment I heard the first note.


Courtesy of Alegretto and Joel Miranda

Minggu, 28 Februari 2016

Snow White with the Red Hair - Review

"if there is any 'princess' story that makes me feel envious by watching it, then this must be the one and only,"

Rabu, 06 Januari 2016

Minggu, 03 Agustus 2014

9 Years in Review: Tales of The Abyss


You are living your own life. Your memories are yours alone. Don’t deny them. You are here. (Tear to Luke) 

A beautiful story adalah kesan saya secara keseluruhan saat saya menyelesaikan acara nonton anime ini. Diangkat dari game berjudul sama (yang memang pernah saya mainkan) yang pertama kali dirilis pada tahun 2005, anime ini merangkum 70 jam perjalanan dalam game menjadi dongeng 600 menit.

To think this piece of trash is my replica?! I was robbed of my family and my home by this trash?! (Asch to himself)


---------------------------------------------------------------------------------------------------------

One Third Part of the Story Begins…

Planet Auldrant adalah dunia yang dihuni oleh makhluk hidup yang tersusun atas fonon (deskripsi fonon adalah frekuensi suara yang membedakan satu individu dan individu lain seperti fingerprint). Auldrant tersusun atas enam fonon dan satu fonon ketujuh (seventh fonon). Setiap manusia memiliki akses terhadap fonon, namun hanya sebagian kecil yang mampu menguasai seventh fonon. Selain fonon, kehidupan di Auldrant berjalan dengan tuntunan Score. Setiap orang dianjurkan untuk hidup sesuai dengan tuntunan Score agar mereka mendapatkan prosperity yang telah dijanjikan. Para seventh fonist (pengguna seventh fonon) mampu membaca seventh fonstone (Score bagian terakhir) yang dipercaya menyembunyikan rahasia terakhir mengenai planet Auldrant. Oleh karena itulah, kedua kerajaan besar di Auldrant: Kimlasca-Lanvaldear dan Malkuth tak pernah berhenti memperebutkan seventh fonist dan seventh fonstone.

Auldrant meyakini rahasia masa depan yang tercantum dalam Score tidak akan bisa dirubah, hingga suatu teknologi yang disebut fomicry merubah keyakinan tersebut…

Who am i? Why was I born?! (Luke to Van)


Fokus utama Tales of the Abyss adalah Luke fon Fabre, pewaris lini ketiga Kerajaan Kimlasca-Lanvaldear yang dibesarkan dalam kungkungan Fabre Manor sejak ia selamat dari penculikan oleh Kerajaan Malkuth. Akibat insiden penculikan tersebut, Luke kehilangan seluruh ingatannya (dan maksud saya semuanya, bahkan ia harus belajar bicara dan berjalan kembali sejak diselamatkan) atas sebab yang tidak diketahui. Dalam kehidupan serba dilayani dan awareness terhadap commoner yang sangat rendah, ia tumbuh menjadi bangsawan manja yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan. Satu-satunya hal yang menghibur Luke adalah sesi latihan pedang oleh tutornya, Van Grants.

Harapan Luke untuk keluar dari kehidupan membosankan pun terwujud saat Tear Grants menyusup masuk ke Fabre Manor untuk membunuh Van. Bukannya berhasil membunuh sasarannya, Tear justru tanpa sengaja menimbulkan hyperresonance dan membawa serta Luke bersamanya ke Tataroo Valley, wilayah Kerajaan Malkuth. Maka perjalanan Tear untuk membawa Luke pulang ke Fabre Manor pun dimulai…

Idiot. (Tear to Luke)


Kamis, 05 September 2013

Tomorrow I'll Love You - A Song from Her Heart

Lagu ini adalah insert song Yamada and Seven Witches yang dinyanyikan oleh Takigawa Noa (Airi Matsui). Pertama dengar lagu ini sambil lihat scene-nya bikin terharu :')
Fyi, Yamada and Seven Witches di Jepang sana sangat diapresiasi oleh penontonnya, termasuk mangaka favorit saya, Hiro Mashima! XD

Well, inilah hasil percobaan kuping saya yang jelas banyak kekurangan. Tuh lihat, ada bagian yang saya gak bisa denger dengan baik soalnya waktu Noa nyanyi ternyata si Yamadanya juga ngomong -___-"

Tapi kayaknya hasilnya sudah cukup memberi gambaran tentang apa yang dinyanyikan Noa ^^
Semoga lagu ini juga segera dirilis. Maknanya bagus ^^

minute: 27.15 - 28.49


tomorrow tomorrow I'll love you 
tomorrow 
ashita wa shiawase (tomorrow I will be happy)
asa ga kureba (when morning comes)
tomorrow ii koto ga aru (tomorrow good things will appear)
tomorrow
ashita yume miru dake de (tomorrow is the only thing I dreamed of)
tomorrow tsurai koto mo wasureru (tomorrow painful things will be forgotten)
minna samishikuteru utsu na hi ni wa mune no hate utau no (everyone will free their mind from lonely and painful days)
asa ga kureba (when morning comes)
tomorrow namida no ato mo kiete yuku wa (tomorrow even the tears will disappear)
tomorrow tomorrow I'll love you 
tomorrow 
ashita wa shiawase  (tomorrow I will be happy)
tomorrow tomorrow I'll love you 
tomorrow 
ashita wa shiawase  (tomorrow I will be happy)


Gimana? Semoga bisa ditangkap maksudnya ^^ meskipun hasil listening-nya geje :p

Untuk yang ingin tahu tentang Yamada and Seven Witches lebih jauh, klik disini. Ceritanya gokil abis, bikin ngakak guling-guling dengan segala efek samping XD

NB:
Menerima masukan perbaikan lirik. Tolong bantu kuping saya :p

Kamis, 15 Agustus 2013

The Bartimaeus Trilogy - Review - Novel Favorit Saya

Salah satu hobi saya adalah tenggelam di balik novel, jujur saja. Novel-novel pilihan saya adalah novel fantasi yang memuat cerita tentang alternate universe dan berhubungan dengan magic alias sihir. Hehehe…

Sejak kecil, saya memiliki ketertarikan khusus pada cerita-cerita  yang mengedepankan adanya unsur sihir-menyihir, sebut saja koleksi saya ketika kecil adalah benda-benda yang saya yakini sebagai topi kerucut penyihir dan jubah penyihir *nyengir*. Bagi saya, seru aja sih, memiliki kemampuan magis (tolong jangan dibayangkan sebagai sihir tradisional yang bercat hitam macam santet dan sebagainya yak…), bisa terbang di udara dengan naik sapu terbang dan sebagainya *nyengir lagi*

Jadi jangan heran kalau koleksi novel saya 98% akan memiliki korelasi terhadap sesuatu yang magikal dalam ceritanya…

Oh ya, just to let you know, saya bukan penikmat Harry Potter. Saya sempat baca sampai dengan novel keempatnya lalu mandeg. Kenapa? Terlalu dipanjang-panjangin, saya jadi bosan, belum lagi biaya yang luar biasa besar untuk beli satu novel Harry Potter yang bisa saya pake beli novel serupa yang tidak kalah seru atau bahkan lebih seru *ups, ini pendapat pribadi lho*

---

Novel ini adalah seri novel pertama yang saya punya, dan kalau boleh dikatakan, merupakan salah satu novel tertua yang saya punya. Judulnya adalah The Bartimaeus Trilogy, karangan Jonathan Stroud, yang diterbitkan di Indonesia pada tahun 2007. Novel ini menjadi satu-satunya novel yang bisa membuat saya harus menahan rasa pingin jejingkrakan di toko buku saat rilis, dan juga merupakan satu-satunya novel dengan ending (di jilid ketiga) yang bisa membuat saya banjir air mata dan merasa mencelos saat membacanya. 

Btw, dalam cerita magis kali ini, diceritakan bahwa penyihir sebenarnya tidak memiliki kekuatan sama sekali, tapi melaksanakan sihirnya melalui bantuan makhluk halus yang secara umum disebut demon. Penyihir harus mengikat demon yang dipanggilnya (summon) dalam pentakel yang melindunginya dari kekuatan mahabesar yang dimiliki si demon

Kekuatan penyihir dinilai dari seberapa banyak dan seberapa besar kekuatan entitas yang ia panggil. Semakin lama demon terikat di Bumi, ia akan semakin kesakitan dan mendekati kematian, karena itulah setiap demon menganggap pemanggilannya ke dunia adalah perbudakan. Namun mereka tidak kuasa melawan penyihir, yang walaupun tidak berkekuatan, tapi dapat menaklukkan mereka dengan sejumlah mantra. 

Satu-satunya yang dapat melindungi demon dari siksa sang master adalah pengetahuan mereka terhadap nama lahir dari penyihir (yang biasanya disembunyikan oleh penyihir bersangkutan). 

Yah, kira-kira begitulah sebagai prolognya.


Buku Pertama: The Amulet of Samarkand.

Buku ini bercerita tentang keinginan seorang murid penyihir bernama lahir Nathaniel untuk diakui oleh komunitas penyihir. Setelah dibuang oleh orang tuanya, Nathaniel menjalani hidup sebagai apprentice dari seorang penyihir senior bernama Arthur Underwood. Nathaniel terlibat insiden ‘kecil’ dengan seorang penyihir berpengaruh bernama Simon Lovelace dan ia pun berniat balas dendam pada Lovelace.

Yah, sebenarnya, karena Nathaniel masih bocah, ia hanya berniat sedikit usil dengan mencuri salah satu artefak berharga milik Lovelace, yaitu Amulet Samarkand dengan cara memanggil jin bernama asli Bartimaeus sebagai budaknya.

Dengan julukan Sakhr-Al-Jinni, Bartimaeus merupakan salah satu jin kuno berusia 5000 tahun yang terkenal akan kepiawaiannya terhindar dari berbagai macam ‘nasib buruk’ dan (kasih bold italic underline nih!) kepiawaiannya memuntahkan sejuta macam usaha untuk membuat sebal siapapun yang pernah bertemu dengannya, termasuk Nathaniel. 

Seakan belum cukup buruk berurusan dengan jin super cerewet ini, Bartimaeus tanpa sengaja mengetahui nama lahir sang penyihir muda (pemanggilan jin tidak disertai dengan perkenalan antara jin dan penyihir, apalagi tuker-tukeran nama dan nomor hape :p) dan menggunakan nama tersebut sebagai pembalik mantra Nathaniel sehingga Nathaniel tidak bisa menghukum Bartimaeus yang super slengek’an dengan cara apapun.

Lucu ya sejauh ini? Yah memang sih, selera humor Bartimaeus yang sarkastik tapi fresh akan membuat novel ini jadi ringan. Tapi masalahnya, Nathaniel (dan Bartimaeus, pada awalnya) tidak menduga bahwa ada rahasia besar yang terkandung di balik Amulet Samarkand. Akibatnya? Sang penyihir muda dan jinnya pun terlibat dalam arus peperangan makhluk halus, nyaris dibunuh oleh kelompok pemberontak pemerintahan (Resistance) dan terjebak kejar-kejaran dengan pembunuh haus darah.


Buku Kedua: The Golem’s Eye
Buku ini bercerita tentang kehidupan Nathaniel, yang kini berganti nama menjadi John Mandrake, sebagai bagian dari pemerintahan Inggris. Dalam usianya yang masih belia, ia telah menjadi apprentice yang bersinar dari salah satu menteri paling berpengaruh di pemerintahan, Jessica Whitwell. 

Dalam kegemilangannya, karir Mandrake terjegal kegiatan Resistance. Akhirnya, bertentangan dengan sumpahnya, ia terpaksa memanggil kembali Bartimaeus, lengkap satu set dengan sejuta sifat buruknya. Berita ‘baik’nya, belum selesai dengan urusan Resistance, Mandrake kembali terjegal oleh kemunculan Golem di kota London.

Mandrake dan Bartimaeus pun kembali bersinggungan jalan dengan Kitty Jones, pemimpin Resistance yang juga merupakan salah satu dari sedikit anggota Resistance yang selamat setelah merampok makam Gladstone (penyihir terpenting dalam sejarah Inggris). Kitty telah mencuri Tongkat Gladstone dan tanpa sengaja melepaskan afrit (ifrit, kalau bahasa Inggrisnya) Honorius ke dunia bebas.

Ketamakan Mandrake atas kekuasaan dan sifat paranoidnya yang tumbuh pesat membuat Bartimaeus merasa (kalau bahasa Bartimaeus sih) jijik. Mandrake dan Kitty juga terlibat ‘baku hantam’, baik secara harfiah maupun tidak, segera setelah Mandrake menemukan gadis tersebut. 

Mandrake pun akhirnya terjebak dalam situasi hidup dan mati saat ia dikejar-kejar Honorius, gagal mengendalikan Tongkat Gladstone dan berada dalam belas kasihan sang Golem. Siapakah yang pada akhirnya menyelamatkan Mandrake? Sampai pada batas manakah loyalitas Bartimaeus sebagai budak Mandrake, dan sampai batas manakah kekeraskepalaan Kitty dapat dipertaruhkan?


Buku Ketiga: Ptolemy’s Gate
Buku ini bercerita tentang masa lalu Bartimaeus, pencarian jati diri Mandrake dan keinginan terselubung Kitty. Mandrake yang paranoid karena pengetahuan Bartimaeus terhadap nama lahirnya, memaksa sang jin menjadi budaknya selama dua tahun tanpa diberi kesempatan beristirahat. Karir Mandrake yang melesat cepat merupakan hasil ‘pengorbanan’ Bartimaeus yang tiada henti. 

Kekuatan Mandrake yang semakin besar memberikan sang penyihir kemampuan untuk memanggil banyak jin berkekuatan besar secara bersamaan dan menghilangkan hak prerogatif Bartimaeus sebagai satu-satunya jin milik Mandrake (baca: Bartimaeus jadi kehilangan nyaris semua kesempatan berekspresi dengan selera humornya yang mengguncang langit). 

Sementara itu, Kitty yang menyadari kebutaannya terhadap sihir, melakukan riset terhadap sihir dan menemukan bukti tentang masa lalu Bartimaeus serta hubungan sang jin dengan penyihir Mesir yang hingga kini masih memiliki hati sang jin, Ptolemy.

Setelah insiden dimana Bartimaeus nyaris tewas, Mandrake memutuskan untuk membebaskan Bartimaeus. Namun dengan segera ia menemukan bahwa sang jin dipanggil oleh ‘penyihir lain’ dan tidak merespon pemanggilannya. Hampir disaat bersamaan, Mandrake bertemu kembali dengan Kitty dan kembali terlibat pertengkaran sengit dengan mantan pemimpin Resistance tersebut.

Masih dibutakan oleh kehausan atas kekuasaan dan paranoia tingkat tinggi, Mandrake kembali mengirim Bartimaeus menuju misi berbahaya segera setelah sang jin dapat ia kuasai kembali, tanpa memerdulikan ‘kesehatan’ Bartimaeus. Namun, sepeninggal sang jin tukang gosip itu, Mandrake dan Kitty justru terlibat pemberontakan demon terbesar sepanjang sejarah. 

Tanpa perlindungan Bartimaeus dan di tengah-tengah pembantaian besar-besaran yang dilakukan demon terhadap manusia, mampukah Mandrake bertahan hidup? Dan sekali lagi, sampai dimanakah kekerasan hati Kitty  bertahan saat para penyihir yang dibencinya kini mati satu demi satu di depan matanya? Dan saat Bartimaeus pada akhirnya memiliki kebebasan untuk memilih lagi setelah 2000 tahun berlalu, maukah dia kembali untuk menyelamatkan ‘Nathaniel’ yang telah dibencinya selama bertahun-tahun? 

Terakhir, adakah master yang akhirnya dapat menyamai rasa cinta Bartimaeus terhadap Ptolemy? Jawabannya… ah, ini lho, tisu…


Spin-off: The Ring of Solomon
Buku ini bercerita tentang kehidupan Bartimaeus, jin berusia 2000 tahun pemilik ejekan terbanyak di seluruh dunia. Gara-gara melakukan kesalahan ‘kecil’ (baca: menelan masternya hidup-hidup), Bartimaeus kini menjadi budak dari Khaba, salah satu penyihir berbahaya kepercayaan Solomon, sang raja Jerusalem. 

Pada saat itu, daratan Arabia dikuasai oleh Solomon dengan bantuan Cincin magis yang mampu menjadi portal yang memungkinkan Solomon memanggil sebanyak mungkin demon ke muka bumi. Arabia pun mematuhi Solomon karena campuran rasa takut dan kekaguman.

Setelah nyaris tanpa sengaja melempar batu berukuran raksasa ke kepala Solomon, Bartimaeus dan kompi jinnya kini dikirim untuk menangani pembantaian di jalur perdagangan Jerusalem. Sang jin pun akhirnya bertemu dengan Asmira, satu-satunya yang selamat dari pembantaian. 

Menyembunyikan niat aslinya, Asmira berhasil membujuk Khaba untuk membebaskan Bartimaeus sebagai balasan atas nyawanya yang diselamatkan sang jin. Namun dengan segera, Asmira menyadari bahwa Khaba berkhianat dan ia pun ‘merebut’ Bartimaeus untuk dipekerjakannya sendiri. Tugas pertama Asmira untuk Bartimaeus adalah: membunuh Solomon dan merebut Cincin Solomon untuk dibawa ke Ratu Sheba.

Walaupun memiliki karir tak terpatahkan selama 2000 tahun, Bartimaeus harus terlibat kucing-kucingan dengan puluhan demon berkekuatan besar yang menjadi pelindung Solomon sambil melindungi Asmira. Dalam sekejap, Jerusalem menjadi tempat pertempuran untuk memperebutkan Cincin Solomon. Tapi adakah yang cukup jeli untuk mengetahui kenyataan tentang Solomon sendiri?

---

Kelebihan dari cerita ini berasal dari personalisasi tokoh-tokoh sentralnya yang unik, yaitu Bartimaeus, Nathaniel (John Mandrake), Kitty Jones, juga Asmira, kalau mau melihat spin-off-nya. Nih sedikit review tentang betapa bertentangannya mereka:


Bartimaeus
Bartimaeus adalah jin yang mengalami masa jaya pada 2000 tahun sebelum dipanggil oleh Nathaniel. Ia adalah jin tingkat menengah dengan sejuta keberuntungan, yang menyebabkan dia selalu mampu berkelit dalam situasi berbahaya dan masih hidup hingga 5000 tahun lamanya.

Kelebihan utama (atau kelemahan?) Bartimaeus ada pada kemampuannya untuk membuat semua orang sebal terhadapnya. Ia memiliki persediaan ejekan yang tiada habis, dan tidak terlalu memperdulikan hukuman yang diterimanya dari penyihir akibat lidahnya yang tak bertulang (kalau dia punya lidah sih). Kelebihan utamanya ini sebenarnya ditunjang dengan kecerdasannya yang (kalau saya boleh menyimpulkan) sangat tinggi dibandingkan demon lainnya. Bartimaeus menggunakan kecerdasannya ini untuk mengakali siapa saja, menyabet kesempatan apa saja dan melenggang santai setelahnya (aduh… ketularan gaya bahasa Bartimaeus ini sepertinya, maafkan… ).

Namun demikian, Bartimaeus memiliki sisi lembut yang hanya ditunjukkan pada Ptolemy. Loyalitas Bartimaeus terhadap Ptolemy adalah yang tertinggi, sampai ke taraf kesediaan Bartimaeus mengorbankan diri untuk sang penyihir. Alasannya? Ada tuh di Ptolemy’s Gate ^^

Bartimaeus ini memiliki banyak nama, misalkan Sakhr-Al-Jinni, N’gorso, dan yang spesial untuknya adalah Rekhyt, nama yang diberikan Ptolemy. Selain Ptolemy, Bartimaeus menganggap rendah manusia dan terutama, pernyihir. Ia tanpa sengaja mengetahui nama lahir Mandrake, yaitu Nathaniel, dan ini (sedikit) menyejajarkannya dengan sang penyihir muda. Bartimaeus membenci Nathaniel, seperti halnya ia membenci penyihir lainnya, dan selalu mencari kesempatan untuk menjatuhkan sang master.


Nathaniel (John Mandrake)
Sebagian besar buku pertama akan menyebutkan Nathaniel, sebagian besar buku kedua akan menyebutkan Mandrake, dan buku ketiga membagi keduanya nyaris hampir sama. Nathaniel memiliki masa kecil yang menyedihkan, dimana ia dijual oleh kedua orang tuanya karena alasan ekonomi. Ia tumbuh menjadi bocah tertutup dan tidak pernah bergaul dengan sesamanya.

Nathaniel memiliki kehausan luar biasa terhadap ilmu pengetahuan, dan hal ini ditunjang dengan otaknya yang encer. Namun demikian, master penyihirnya yang skeptis tidak mengakui kehebatan Nathaniel dan hal tersebut membuat sang bocah frustasi. Puncak rasa frustasi Nathaniel tumpah menjadi pemanggilan terhadap Bartimaeus dan pencurian Amulet Samarkand, yang membuka cerita trilogi ini.

Dengan menggunakan nama John Mandrake, Nathaniel mengunci diri aslinya yang rapuh dan kesepian. Setelah lepas dari master pertamanya, ia tumbuh menjadi remaja jenius yang disegani di kalangan penyihir. Mandrake menjadi kesayangan Perdana Menteri dan dengan mudah mengungguli orang-orang yang meremehkannya di masa lalu.

Namun, seperti halnya remaja lainnya, Mandrake terus terhubung dengan keinginannya untuk mencari tempat yang terbaik untuknya. Ia ingin aman, ingin diakui  serta ingin berkuasa, dan efek sampingnya ia menjadi paranoid.

Mandrake membenci Bartimaeus, namun mengakui bahwa jin tersebut merupakan jin paling efektif yang pernah ia miliki, dan juga satu-satunya jin yang mengetahui nama lahirnya, sehingga ia selalu mempergunakan Bartimaeus dengan sangat hati-hati. Sedangkan hubungan Mandrake dan Kitty, hmm… seperti simbiosis parasitisme. Mandrake sangat memandang rendah Kitty, dan didukung dengan kekalahan-kekalahan telaknya melawan sang pemimpin Resistance, ia pun juga membenci Kitty.  

Sedikit kontras dengan kebencian demi kebencian yang menumpuk dalam hati Mandrake, ia merupakan remaja cerdas dengan tingkat kepercayaan diri jauh diatas rata-rata. Ia memiliki kemampuan menganalisis situasi seperti halnya Bartimaeus, yang makin terasah seiring ia dewasa, namun hal tersebut justru sering menempatkannya pada situasi hidup dan mati, sambil membawa-bawa sang jin, tentunya. Kalau menurut saya, kelemahan terbesar dari Mandrake justru adalah diri kecilnya yang bernama Nathaniel…


Kitty Jones
Berbeda kontras dengan Mandrake, Kitty adalah commoner, manusia biasa yang tidak dikaruniai kemampuan menyihir. Karena sebuah insiden yang nyaris membuatnya terbunuh, ia menemukan bahwa dirinya memiliki kemampuan bertahan terhadap sihir. Kitty menggunakan kemampuan tersebut untuk membangun Resistance, kelompok kecil berisi orang-orang dengan ‘kelebihan’ serupa dengan dirinya untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah.

Sudut pandang Kitty yang dipenuhi ketidakpercayaan terhadap penyihir semakin kuat ketika kelompok Resistance-nya dibantai oleh Honorius, namun juga memberikan pemahaman pada Kitty tentang ketidakberdayaan yang ia miliki. Pertemuannya dengan Bartimaeus saat keduanya berada dalam kuasa Mandrake mengawali keingintahuan Kitty terhadap Dunia Lain, dunia asal para demon.

Kitty memiliki kemauan keras dan tidak mudah dibantah, sekalipun oleh Mandrake. Persamaannya dengan Mandrake adalah bahwa keduanya sama-sama mengalami perlakuan tidak adil bertubi-tubi di masa muda mereka. Kitty, yang tidak seberuntung Mandrake memiliki kualitas gabungan antara keras kepala dan kemampuan survival yang hebat.

Ia tidak pernah sungguh-sungguh menampilkan emosi aslinya di depan orang lain. Kitty menggunakan topeng kepribadian yang bermacam-macam sehingga dapat membaur dengan banyak orang, terutama setelah ia kehilangan hampir seluruh anggota Resistance-nya.  


Asmira
Tokoh yang hanya muncul di Ring of Solomon ini di benak saya mirip dengan gambaran Kagura Mikazuchi di Fairy Tail. Asmira cerdas, memiliki keberanian tinggi dan loyalitas yang tak perlu dipertanyakan. Ia merupakan prajurit terbaik yang dikirim oleh Ratu Balkis, penguasa Sheba untuk membunuh Raja Solomon di Jerusalem.

Asmira dikaruniai kemampuan tinggi dalam pertahanan diri, termasuk terhadap demon (dengan bersenjatakan perak), dan juga memiliki kemampuan memanggil makhluk halus, seperti halnya pendeta matahari yang lain. Loyalitas Asmira digambarkan sebagai blindfold yang mencegah Asmira bertindak rasional dan menggunakan akal sehat (ini kata Bartimaeus lho).

Agak sulit juga mendeskripsikan Asmira, tapi yang jelas, dia mengalami perubahan kepribadian yang cukup drastis dari orang berpikiran tertutup menjadi jauh lebih bijaksana, tanpa mengurangi keberanian yang sudah ia miliki sejak awal.

---

In My Eyes:

Phew, kalau boleh dibilang, versi The Ring of Solomon adalah yang paling ‘ceria’ diantara keempat buku diatas. Boleh dibilang juga, selera humor Bartimaeus dalam buku tersebut jauh lebih ‘mengerikan’. Kalau triloginya sudah membuat saya ngakak sambil geleng-geleng kepala keheranan dengan ide cemerlang Bartimaeus, boleh dibilang si spin-off ini membuat saya gegulingan sambil berjuang berhenti tertawa. Boleh dibilang lagi sih, kalau The Ring of Solomon merupakan obat yang mujarab setelah kisah trilogi yang rilis sebelumnya.

Emangnya kenapa dengan kisah triloginya? Hahaha, saya tidak mau komentar di bagian ini.

Kisah trilogi Bartimaeus merupakan campuran yang tidak sederhana dari intrik dan humor. Sisi lucu dan sisi dark berjalan beriringan dengan kecepatan yang sama, menjadikannya cerita yang memiliki kemampuan untuk bermain dengan emosi pembacanya. Dalam satu titik, kita akan disuguhi kepolosan Nathaniel yang berubah menjadi ketamakan Mandrake, di titik lain kita disuguhi kekeraskepalaan Kitty, dan di titik lain kita disuguhi luka masa lalu dan kebencian Bartimaeus. Tapi, di sisi lain kita akan menemukan kekonyolan perilaku Nathaniel (dan juga Mandrake sih), dan yang mendominasi kocokan lambung, humor ngejleb Bartimaeus.

Menurut saya, buku yang paling seru adalah buku ketiga dari trilogi ini. Selain memberikan konklusi dari cerita luar biasa ini, buku ketiga juga sarat dengan pertentangan batin dari masing-masing tokoh utama (ini mencakup Bartimaeus lho) dengan tanpa melupakan humor sama sekali. Ending… ah, bagaimana saya menjelaskan ya? Sudahkah saya bilang bahwa saya banjir air mata saat pertama kali membacanya? Eniwei, banjir air mata ini masih terjadi setiap saya membaca kembali bagian endingnya ini (setelah agak lama tidak membaca tentunya).

Cerita ini jelas fiktif, jelas tidak masuk akal, jelas hanya imajinasi, jelas tidak mungkin jadi nyata, dan jelas-jelas lumayan panjang untuk diikuti. Tapi novel ini punya daya tarik kuat yang memungkinkan pembacanya untuk tersedot masuk ke dalam dunia yang dihuni Bartimaeus dan Nathaniel. Deskripsi yang detil dan gaya bahasanya yang unik mengajak kita memvisualisasi apa-apa yang sedang disaksikan Bartimaeus, Nathaniel, Kitty, dan juga Asmira.

Kekuatan lain dari serial ini adalah kemampuan sang pengarang menghubungkan kehebatan Bartimaeus dengan berbagai sejarah lama, baik di Mesir, Praha, dan Yunani. Sebut saja Tembok Besar Praha (Prague Great Wall), tenggelamnya Atlantis, juga cerita Nefertiti dan Sphinx. Deskripsi hubungan Bartimaeus dengan Jerusalem, Asiria, Babilonia dan Sheba juga muncul lumayan mendetil. Berubahnya aliran sungai Mesopotamia dan Legenda Minotaur juga jadi bagian deskripsi karir Bartimaeus di novel ini. Menurut saya, yang paling fantastis adalah cerita tentang Solomon dan Cincin Magis yang ia gunakan. Termasuk kemampuan Cincin memanggil ribuan entitas makhluk halus, penolakan lamaran Solomon, deskripsi perjalanan Ratu Balkis dari Sheba yang singkat tapi akurat, dan istana Solomon yang memang mirip dengan cerita yang sudah pernah saya dengar sejak kecil.

Ya tentu saja lah, semua itu merupakan parodi, tapi tetap saja, kemampuan Jonathan Stroud menggabungkan kesemuanya itu kedalam satu kepribadian bersejarah yang ia namai Bartimaeus merupakan sesuatu yang patut diacungi jempol. Kemampuan parodi ini membengkak ke arah yang hebat dan memberikan jaminan ngakak guling-guling pada spin-off ­dari trilogi ini, The Ring of Solomon.

Oke, sekarang kita beranjak ke *ehm* kelemahan dari novel ini. Novel ini disampaikan dalam tiga POV (point of view), yaitu dari Bartimaeus sendiri, Nathaniel dan Kitty (dan pada Ring of Solomon terdapat POV Asmira). Dengan kepribadian ketiganya yang lumayan (sangat) berbeda, maka sepertinya POV-POV tersebut akan memiliki fans sendiri-sendiri.

Yah, jujur saja sih, berhubung saya adalah orang berkepribadian ceria *halah* maka membaca POV dari Kitty, walaupun menarik, namun tidak semenarik POV Bartimaeus dan Nathaniel. POV Kitty mulai muncul di buku kedua, The Golem’s Eye, dan jujur saja, saya baru benar-benar tertarik dengan POV Kitty di setengah akhir buku ketiga.

POV favorit saya, jelas saja, POV Bartimaeus, yang banyak mengandung catatan kaki alias footnote yang informatif dan konyol sekaligus. Biasanya pada catatan kaki, sang jin akan membeberkan penjelasan tentang apa yang sedang ia bicarakan, biasanya sambil disertai dengan narsisme tingkat tinggi dan sikap merendahkan terhadap manusia. Lucunya, cara penyampaian Bartiameus yang blak-blakan malah membuat saya betah membaca POV miliknya.

POV Nathaniel sedikit lebih kelam dari POV Bartimaeus, dan penuh dengan segala macam hal manusiawi, seperti misalnya rasa frustasi, rasa takut, dan kepercayaan diri yang naik turun. Tapi justru pertentangan internal antara Mandrake dan Nathaniel menurut saya menarik. POV yang juga saya suka adalah POV Asmira, yang penuh dengan petualangan, mulai dari Sheba sampai di punggung Solomon. Personally, saya suka personalisasi Asmira dan perubahan cara pikir yang ia alami selama ia bersama Bartimaeus :)

Heh? Kok sudah panjang? Well, that’s it. Saya sih, merekomendasikan novel ini untuk yang menyukai bacaan berbobot dan penuh cerita historis, tanpa membuang unsur humor dan sarkasme unik. Unsur psikologis sebenarnya juga cukup menonjol jadi bisa deh saya rekom untuk penyuka serial yang mengeksplor kepribadian tokoh-tokohnya. Yang suka cerita action, deskripsi aksi Bartimaeus dkk di novel ini sangat detil, jadi saya rekom juga. Untuk penyuka cerita ringan, saya menyarankan The Ring of Solomon sebagai pilihan, tapi saya pikir cerita triloginya juga ndak berat-berat amat kok jadi bisa lah saya rekom keempat-empatnya, hahahaha *gak konsisten*

Intinya, cerita Bartimaeus memiliki aura yang berbeda diantara sekian banyak tebaran cerita yang merupakan hibrida dari magis, action dan petualangan. Sayang untuk tidak dibaca, dan sayang untuk tidak segera diangkat ke layar lebar *whooooiii… yang merasa produser, whoooooiiii! Ayolah cepetan dirilis movienyaaa*


---
dan saya masih menunggu kabar rilis movie ini, hohoho ^^ 

Selasa, 07 Mei 2013

12 Most 'Listenable' Songs


Kurang kerjaan banget bikin tulisan ini.
Salah.
Justru saking banyaknya kerjaan, kuping saya jadi super familiar dengan banyak lagu yang menjaga saya tetap melek, dan saya menyadari beberapa lagu yang membuat saya mengalami adiksi pendengaran *halah*.
Intinya, semakin sibuk saya, semakin banyak neuron di otak saya bekerja, dan semakin banyak impuls yang akan mengalami pe-nimbul-an *emangnya Srimulat?* ke permukaan. Sepertinya secara fisiologis, atau maksud saya secara normal, impuls yang menimbul di otak saya bukan hanya Tessy, eh maksud saya, bukan hanya yang terkait pekerjaan, tapi juga yang terkait dengan yang lain-lain.
Mungkin itu cara saya mencapai kesetimbangan *kalau di fisika bukan ‘keseimbangan’ tapi ‘kesetimbangan’, jadi antara keset dan timbangan*. Duh… sepertinya impulsnya terlalu variatif kalau prolognya kepanjangan jadi marilah saya mulai saja.
Jadi berikut adalah beberapa lagu yang menurut saya merupakan lagu paling indah untuk didengarkan, berikut alasannya, yang tentu saja menurut saya. Tapi ndak ada salahnya dicoba dengarkan lagu-lagu berikut, because, they’re so beautiful :)



If My Heart Was A House (Owl City)
Fine, kuping saya memang amat sangat naksir sama Owl City, baik yang lirikal maupun yang instrumental semua ada di lepi saya :’). Termasuk lagu yang satu ini, “back and forth, if my heart was a compass you’d be north,” inti dari lagu ini adalah bahwa si Owl memiliki orang yang seperti kutub utara di kompas. Jarum kompas selalu menunjukkan arah utara, termasuk si Owl yang hidupnya akan selalu mengarah ke ‘utara’. Semacam cara unik khas Owl City untuk mendeskripsikan soal perasaan yang kita punya untuk orang lain. Very very beautiful song, very-nya ada dua :)
Coba dengarkan pula versi instrumentalnya. Tidak kalah bagus dan tidak kalah membuat hati terasa sejuk sekali :’) *maaf agak sedikit lebai*
“risk it all cause I’ll catch you when you fall, wherever you go if my heart was a house you’d be home,”



Clarity (Zedd ft. Foxes)
“don’t speak as I try to leave cause we both know what we choose,”
Satu penggal lirik yang ini menurut saya adalah yang paling unik, semacam Foxes sedang bicara tentang masa depan yang sudah pernah dia lihat. Lirik lagunya semacam maju mundur antara pingin lepas dan tidak pingin lepas. Dia sudah tahu endingnya, tapi segala sesuatu di sekelilingnya tetap membuat dia merasa mungkin ending itu bisa berubah jadi lebih baik dari yang dia ketahui.
Saya pertama dengar lagu ini waktu videoklipnya muncul di penutup sebuah acara berita sebuah stasiun tivi, dan wow, keren! Zedd memang terkenal dengan kemampuannya membuat efek dramatis dari sebuah videoklip dan klip garapannya bersama Foxes ini juga tidak kalah keren :D
Seperti apa videoklipnya? Search aja di Youtube dengan kata kunci Clarity Zedd ft. Foxes Official Video. Isinya tentang tabrakan yang (sangat) hiperbolis, hehehe… keren dan manis sekaligus :)
“if our love's insanity why are you my clarity?”



The Beginning (One OK Rock)
Ngerock dulu bentar, lagu ini adalah lagu yang langsung menjadi zat adiktif bagi membran timpani saya sejak saya nonton movie Rurouni Kenshin beberapa bulan yang lalu. Sekitar 30% lirik lagunya dalam bahasa Inggris, dan sisanya dalam bahasa Jepang, tapi dibuka dengan satu bait berbahasa Inggris,
“just give me a reason to keep my heart beating,”
Jadi inti dari lagu ini adalah devotion, bahwa kita hidup demi sesuatu yang kita anggap berharga. Selama masih ada satu alasan itu, maka kita akan dapat bertahan hidup dengan sendirinya, sekejam apapun dunia ini. Jujur sih, videoklipnya juga agak kejam kalau menurut saya :’(
Buat yang belum pernah tahu ttg One OK Rock, jadi dia adalah salah satu band rock Jepang yang terkenal karena suara vokalisnya yang khas. Kayak gimana khasnya? Ya kayak gitu, haha :p *plak!*. Vokalisnya bernama Taka *dan saya mendengar ada suara fangirl dari suatu tempat f(-__-“)* dan dia punya English pronounciation yang bagus. Jujur, waktu pertama kali dengar lagu ini di bait-bait awal saya tidak menyangka kalau ternyata yang menyanyikannya adalah orang Jepang tulen :p
“I’ll risk everything if it’s for you,”



Dementia (Owl City ft. Mark Hoppus)
“keep in faith just in case all the magic dies, cause this is driving me crazy,”
Dementia, atau dalam bahasa Indonesia disebut ‘demensia’ adalah suatu terminologi internasional untuk istilah ‘pikun’. Lagu ini unik, seperti juga sederetan lagu Owl City lain, karena dia bercerita tentang bagaimana kondisi demensia itu bisa membuat seseorang jadi gila. Bayangkan saja, kita ingin mengingat sesuatu, tapi ternyata kita lupa tanpa sengaja, atau kita ingin bersikap sesuatu, tapi endingnya kita bersikap sangat jauh dari keinginan kita. Dan semuanya tanpa kita sadari.
Dibalut pakai musik yang riuh dan unik khas Owl City di album terbarunya, lagu ini suer bisa membuat saya melek sampai pagi. Dan seperti halnya hasil kerja Owl City lainnya, bukan hanya lirikal, versi instrumentalnya pun luar biasa keren sekali. Saya penasaran videoklipnya, jadi kalau ada yang punya link-nya saya mau lho dibagi :)
“this is love, this is war, this is pure insanity,”



Rachmaninoff. 01 Piano Concerto No.2 in C Minor Op.18
Jangan tanya saya bagaimana lengkapnya tulisan lagu ini *saya menerima masukan tentang musik klasik yang satu ini*. Yupi, lagu ini adalah pure instrumental, yang pertama kali saya dengarkan di serial Nodame Chantabile Special 2 (dimainkan oleh karakter Son Rui), dan kemudian saya dengarkan lagi sebagai lagu latar adegan battle di sebuah film yang saya tonton. Lagu ini langsung menancapkan melodinya di korteks parietal saya dengan sempurna.
Rachmaninoff yang bagian ini memang sering dimainkan dalam Piano Concerto, jadi paduan antara permainan piano dan orkestra lengkap. Melodinya terasa agak iritatif sih sebenarnya *silakan bayangkan sendiri melodi iritatif itu bagaimana* tapi juga terasa seperti ‘mengangkat’ sesuatu dalam hati untuk dapat dipertahankan dalam situasi yang amat sulit. Intinya, walaupun merupakan musik klasik, memang melodinya cocok untuk battle. Bingung? Sudah, coba dengarkan saja supaya tahu maksud saya :p



Untukku (Chrisye)
“saat lautan kau seberangi, janganlah ragu bersauh,”
(Dulu) ini adalah lagu favorit saya, sebelum saya tahu lautan itu bisa ‘lebih berbahaya’ dibanding apapun, percayalah, hahaha ^^. Yah, walaupun lagu ini tak lagi menjadi lagu yang selalu mampir di list mp3 saya, tapi saya cukup sportif untuk mengatakan bahwa lagu ini adalah salah satu lagu paling indah yang pernah mampir ke kuping saya.
Yupi, saya adalah fans Alm. Chrisye, karena bagi saya keunikan suaranya tidak ada yang menyamai, sampai saat ini. Lagu ini bercerita tentang satu orang yang pergi mengarungi samudra, dan satu orang lagi yang menunggu orang pertama tadi untuk kembali. Dia yang pergi akan tetap setia, dan dia yang menunggu pun juga sama. Tipikal kisah dongeng ya? Hehe.. Tapi memang lagu ini indah sekali. Yakin, bahwa dia hanya untukku. Yakin… … Eh, yakin?
“karena ku yakin, kau hanya untukku,”



All I Know (Five For Fighting)
“I love you and that’s all I know,”
Lagu ini pertama kali mampir ke telinga saya saat saya masih SMA, dan saat itu pula sedang booming Naruto disana-sini *maaf gak nyambung* dan saya masih ingat seorang teman SMA saya ngeprin lagu ini di kertas yang ada gambar Sasuke-nya, hahaha masa muda XD.
Lagu ini adalah lagu penutup dari movie Chicken Little yang sampai sekarang belum pernah saya tonton. Isi lagu ini mengingatkan kita bahwa kita baru akan sadar betapa berharganya seseorang saat ia sudah tak lagi ada bersama kita. Kalau masih ada bersama kita, seringkali kita justru saling menyakiti tanpa kita menyadarinya. Jaman lagu ini keluar, Five For Fighting sedang jaya-jayanya, dan saya masih suka gaya musiknya sampai sekarang. Unik!
“endings always come too fast, they come too fast and they pass too slow,”



200 Miles (Jang Geun Suk)
“just speed up don’t be afraid! Run! Run! Get it started!”
Bijim, walaupun yang nyanyi orang Korea, tapi lagu ini adalah lagu berbahasa Jepang campuran bahasa Inggris yang ngebeat sekali. Melodinya juga agak surprising kalau menurut saya *menurut saya loh…*. Seperti halnya satu bait lirik yang saya tulis, isi lagunya berbicara tentang lari! Lari! Cepet! Cepet! Apapun yang terjadi, jangan takut dengan keadaan, tetap berjalan kedepan dan terus percaya bahwa kita bisa melampaui batasan yang kita buat terhadap diri kita sendiri. Asal kita bisa meyakinkan diri sendiri, percaya deh, tidak akan ada yang bisa menghentikan kita :)
Ini adalah lagu pertama dan satu-satunya lagu dari penyanyi Korea yang dengan setia mampir di list mp3 saya, soalnya (sama sekali) tidak bisa berbahasa Korea *though i'm a girl, I know just so NOTHING about Korean, be it language or artist*.
“exceed the limits of you!”



Brand New Day (Joshua Radin)
“most story has a hero to fight and make the past to pass,”
Sebagai penyanyi country, nama Radin mungkin tidak setenar Taylor Swift *yah.. iyalah..* dan sebagian besar lagunya memang agak ‘suram’. Tapi entah bagaimana, satu lagu ini kesannya begitu bright saat saya pertama kali mendengar. Liriknya simpel, tapi menggambarkan dengan baik mengenai ‘lahir kembali’ setelah mlungker di masa lalu.
Lagu ini juga menggambarkan bahwa untuk bisa keluar dari kemlungkeran tadi, kita mungkin akan membutuhkan orang lain. Orang yang tepat, supaya kita bisa keluar dari cangkang dan menemukan dunia yang benar-benar baru. Aneh sih, dunia kan ya gitu itu aja, jadi barunya sebelah mana :p
Intinya, beautiful song! :)
“for the first time in such a long long time I know I’ll be okay,”



You and Me (Lifehouse)
Siapa yang tidak kenal dengan lirik “there’s you and me and all the people when nothing to do nothing to lose,” ini? Saya pikir semua orang yang pernah naksir orang dalam bentuk apapun dan pakai mangkir dari pengakuan model apapun, pernah mendengar dan senyum dengar lagu ini, ahahaha XD. Lagu ini memang salah satu kanon lagu romantis. Bahkan dengan mendengar intronya saja, orang bisa mudah mengidentifikasi judul lagu ini. Yah mungkin separah-parahnya tau lagunya tapi ndak tau judulnya sampai berabad-abad kemudian *lirik diri sendiri di cermin*
Yang membuat saya ingat lagu ini bukan judulnya, tapi melodinya. Bahkan dulu saat bahasa Inggris saya masih as mencla-mencle as possible, saya sudah merekam melodinya dengan sempurna di memori saya. Terbukti, lagu ini adalah salah satu lagu termanis yang pernah saya dengar :)
“and there’s you and me and all of the people and I don’t know why I can’t keep my eyes off of you,”



Summer Paradise (Simple Plan ft. Taka)
“I can’t believe I’m leaving oh I don’t know what I’m gonna do,” 
lagu ini adalah rangkaian kata-kata yang simpel dan mudah diingat. Ada beberapa versi dari lagu ini, tapi versi ft. Taka ini yang paling saya suka, karena yang memiliki lirik yang paling friendly dengan kuping saya, hahaha XD
Sekali dengar, lirik “I’ll be there in the heartbeat,” langsung mancep dengan indahnya di kuping pendengar. Dengan melodi yang juga enak didengarkan, lagu ini salah satu lagu yang jadi most wanted di kuping saya. Semacam vokal dan musiknya bisa bercampur dengan sangat baik dan tidak kelewat ngebeat tapi juga tidak melon… eh, maksud saya melow :p. Memang sih, sebenarnya lagu ini bercerita tentang perpisahan (yang harusnya sedih), tapi dikemas dalam lirik dan melodi yang tidak akan membuat pendengarnya galau *menurut saya sih…*.
“tell me how to get back to summer paradise with you,”




Tentu saja, ada setumpuk lagu lain yang ada di list mp3 saya, rata-rata sih bukan lagu lokal, karena Chrisye sudah tidak lagi berkarya (ya tentu saja) dan saya belum menemukan penyanyi lokal yang bisa saya kagumi seperti saya kagum sama Chrisye. Bukannya tidak cinta Indonesia, tapi nyatanya lagu-lagu lokal temanya kurang variatif dan saya seringkali langsung bosan dengan hanya mendengarkan satu dua kali *pengakuan* :p

fine then, o saki ni, dengan selesainya tulisan ini akhirnya saya ngantuk juga. Terima kasih sudah membaca, boleh lho share lagu apa yang bagus untuk didengarkan :D
note: tulisan ini dibuat dalam waktu 15 menit

P.S. setelah saya hitung-hitung lagi ternyata isinya 11 lagu, bukan 10  *tanda sudah ngantuk*
jaa oyasuminasaaaaiii :)

-100413, 11.03 pm-
Updated from '10 Most 'Listenable' Songs to '12 Most 'Listenable' Songs' on 111013, 6.30pm-

Minggu, 04 Maret 2012

Persona 4 The Animation


Opening Note

Kalau review saya sebelumnya tentang definisi Persona, nah sekarang saya mereview tentang anime berjudul sama. 

Kenapa saya membuat review ini? 

Karena ini anime yang bagus, dan saya rasa perlu dishare dengan banyak orang. Jaman sekarang ini banyak anime beredar, mulai dari yang gak genah sampe yang sarat makna. Persona 4 The Animation diangkat dari Game besutan Atlus: Persona 4, yang menuai sukses tahun 2011 kemarin. 
Buat para gamer, mungkin game ini sudah tidak asing lagi, tapi buat yang baru pertama kali ini baca tentang Persona, siapa tahu laman ini bisa menghibur dan memberi informasi tentang apa sih Persona itu. 
Gak perlu main gamenya buat nyambung sama cerita anime ini. Karena seperti halnya versi manga Persona 4, versi anime dari Persona 4 juga memiliki alur cerita sendiri dari awal hingga akhir, walaupun tidak terlalu jauh beda dengan gamenya. Jadi jangan khawatir, siapapun pasti bisa tetep menikmati anime ini J


Judul                        : Persona 4 The Animation
Format                     : Anime Series
Developer                : Aniplex-Atlus
On air                      : Oktober 2011-sekarang

OST                         
Opening
1. Pursuing My True Self (ini juga opening di game)
2. Sky’s The Limit
3. True Story
4. Key Plus Words
5. Burn My Dread

Ending
1. Sky’s The Limit
2. Beauty of Destiny
3. Koisuru Meitantei
4. The Way of Memories

Background music, insert song: seluruh album Never More –Reincarnation—

(i don't own this anime, i don't own any Persona, but i do own this review and this blog ^^v)


Cerita dimulai saat Yu Narukami pindah ke kota kecil yang bernama Inaba. Pada malam hari kedatangannya di Inaba, ia tidak sengaja menatap televisi dan mendengar suara dalam dirinya sendiri. Yu yang kebingungan tanpa sadar menyentuh layar televisi dan terkejut saat ia nyaris tersedot masuk ke dalam televisi. 
Yu kemudian menemukan bahwa ia memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam dunia di balik televisi, dan dengan bantuan teman-temannya ia mencoba memecahkan kasus pembunuhan misterius yang terjadi di Inaba, yang ternyata berhubungan dengan dunia di balik TV. Yu dkk terlibat eksplorasi dunia di balik televisi, yang mereka yakini sebagai cara terbunuhnya korban secara misterius dan mengenaskan.

Yu berusaha membuka lapis demi lapis misteri yang terjadi di balik legenda malam berkabut di Inaba, hingga akhirnya ia menemukan pola tertentu dari pembunuhan misterius tersebut: setiap orang yang mendadak menjadi bahan pembicaraan di Inaba akan menjadi sasaran pembunuhan. Dari pola tersebut, Yu dkk berusaha mencegah upaya pembunuhan berlanjut sambil mencari tahu siapa dalang di balik pembunuhan yang sama sekali tidak meninggalkan trace apapun itu.

Tak hanya harus memecahkan misteri pembunuhan misterius, Yu (seperti di versi gamenya) harus bisa menyeimbangkan kehidupannya sehari-hari diantara keluarga dan teman-temannya. Ia butuh ‘ikatan’ (bond) untuk memperkuat Persona miliknya agar tetap dapat memecahkan permasalahan di Inaba.
Seperti pada versi game, setiap bond yang ditemukan oleh Yu akan bermanifestasi sebagai Arcana. Arcana akan memungkinkan Yu untuk mensummon berbagai macam Persona yang merepresentasikan Arcana tersebut. Setiap Arcana Persona yang didapat Yu terekam dalam Compendium yang dibawa oleh Margaret.


Persona
 Definisi Persona dalam serial Persona 4 adalah shift dari Shadow, yaitu bentukan yang muncul dari ego yang disupresi (human ego given form). Shadow muncul sebagai sisi diri yang ditolak, dan menuntut untuk diterima sebagai bagian dari diri. Shadow yang diterima oleh diri, akan mengalami shift menjadi Persona. Persona akan terealisasi keluar saat berada di dunia di balik televisi, dan terinternalisasi kedalam saat berada di dunia manusia.



-The Investigation Team-

Yu Narukami

Arcana: Fool
Persona: Izanagi, Izanagi no Ookami, dan semua Persona dari semua Arcana
Alias: Souji Seta (versi manga)

Yu merupakan anak dari pasangan super sibuk yang tidak sempat mengurus dirinya sehingga walaupun tinggal di kota besar dan serba kecukupan, Yu selalu berpindah-pindah tempat tinggal dari satu kerabat ke kerabat lain. 
Saat Yu datang ke Inaba untuk tinggal dengan keluarga Dojima, ia menemukan bahwa ia memiliki kemampuan membuka portal ke dunia di balik televisi. Dalam satu tahun, Yu harus memecahkan misteri pembunuhan misterius yang terjadi di Inaba.
Agak berbeda dengan versi gamenya, di versi anime ini Yu digambarkan sebagai remaja jenius, dengan kepribadian yang… er… menurut saya sih, ‘aneh’. Yu bisa jadi sangat cool dan bisa jadi sangat ancur sekaligus. Namun, Yu memiliki kemampuan alami untuk menempatkan diri di antara banyak orang sehingga ia banyak disukai.
Secara natural, karena Yu adalah yang pertama mendapatkan Persona, ia menjadi leader diantara teman-temannya. Petualangan Yu tak hanya didampingi oleh teman-temannya, tapi juga oleh Margaret dan Igor, dari sebuah ruang yang disebut Velvet Room yang hanya dapat dimasuki oleh Yu (dan Kuma). 
Yu adalah erabareshimono (the chosen one) yang dipilih oleh salah satu spirit dalam legenda yang menghuni Inaba, dan karenanya Yu tidak pernah menghadapi Shadow dari dirinya sendiri. 
Yu akhirnya menemukan adanya hubungan antara pembunuhan misterius, mayonaka terebi, kabut tebal dan legenda dari kota Inaba sendiri.