Tampilkan postingan dengan label ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ringan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2016

Tales of Tas Kresek


ini bukan kresek yang saya maksud tapi ya sudahlah yang penting maksudnya kresek :p

destiny is such a funny thing, I'll tell you that many many times.

Jumat, 09 Januari 2015

Serba Pink.

Sore ini saya pulang bersama teman saya dan Plue. Seperti biasa, sayalah yang di belakang setir. Not that I mind it. Sampai di lampu merah perempatan Bandung-Veteran, saya mengurangi kecepatan karena lampu sudah merah. 

Saat akan merapat ke mobil di depan Plue, tetiba muncullah sebuah sepeda motor yang menyerobot masuk ke space antara Plue dan mobil di depannya.
Phew.

Saya dan teman saya ketap ketip melihat seorang wanita (jelas wanita soalnya berjilbab) dengan sepeda motor matic berstrip pinknya berhenti di depan kami. Dari belakang, yang bisa kami lihat adalah wanita tersebut menggunakan gaun (kata saya sih gaun, kata teman saya gamis. Well intinya baju panjang) warna pink. Baju tersebut melebar di bagian bawah dan saya tidak bisa melihat kaki kiri dari dari wanita tersebut.

Kepo, saya melongok kedepan dan melihat wanita tersebut menggunakan kaki kanannya untuk berpijak.

Kaki kanannya terbalut kaos kaki (saya yakin itu kaos kaki soalnya warnanya terlalu terang untuk ukuran orang Indonesia). Wanita tersebut menggunakan highheel dengan tinggi heel sekitar 7 senti. Oh saya yakin itu 7 senti, karena wedges saya heelnya 5 senti.  Saya cukup familiar dengan tampilan heel dengan tinggi 5 senti.

Wanita tersebut menggunakan jilbab panjang sesiku, warna pink (sewarna dengan warna bajunya, saya yakin dulu belinya satu set) dan menggunakan helm. Helmnya tidak berwarna pink, tapi putih pastel dan cover cembung warna biru yang hanya menutupi sampai ke hidung (saya lihat ketika wanita ini menoleh ke samping). Helmnya sama sekali bukan helem standar karena saya masih bisa melihat jelas tonjolan telinganya.

Plus, wanita ini tidak mengancingkan helmnya, jadi tali kulit warna hitam dengan bantalan dagu tergantung di samping telinga kanannya.

Maka satu hal yang menjadi kesimpulan saya, “Sangat tidak praktis,”
Dan dimulailah perdebatan saya dengan teman seperjalanan saya di lambung Plue.

Minggu, 19 Oktober 2014

Quest 7: unBEARable


Welcome to the House of the unBEARables!

This is the tail of the bears. Since this is just a tail, you can choose to follow the tail and believe it, or not. Well, once upon a time, there is a chivalrous knight named Exazio which befriends a laid back wizard named Cromag. Both of them like bear for its unbearably strange features. Together they formed a guild and Cromag made Exazio step up as the compulsory guild master.



Bear 1: Exazio (hybrid - damage-per-second knight)

Not only being the one who stated the idea of forming a guild, Exazio was the one who first came up with the idea of the guild name. He serves as the guildmaster and one of the main attackers in the guild. Exazio used to specialize in attack and not too much in defense, but recently the comeback of Zegro inspires him to pursue the path of defender. Being the most dynamic person, he levels up faster than anyone in the guild. He catches up with Zegro in term of defense without sacrificing too much offensive power. Exazio is currently the knight in the guild with highest offensive power and only second to Zegro in term of defense. With this advanced skill, Exazio excels at both solo fighting and in party. Cromag calls him ‘the bearmaster’, which is then followed by other guildsmen.
Theme song: 200 Miles  


Bear 2: Cromag (fire - wind wizard)

Cromag was the first guildsman of the guild. He specializes in fire elements and has high ability of magic among people of his level. He is the first guild member to ever reach 1000+ offensive powers. This greatness is greatly compensated with his terrifying defense, even though Cromag has actually mastered the art of defense for wizards. Cromag is blessed with high luck in upgrading his own magical weapon to boost his magic power, which made Exazio frequently states him as ‘troublesome magic bear’. He likes to help the guild apprentices more than leveling up by his own. Bluefeather often said that he used to have blue hair, which turned red after he started to study fire magic. True or not, Cromag himself never confirms.
Theme song: Shooting Star  


Bear 3: Zegro (hybrid knight)

Almost contrary to Exazio who specializes as attacker, Zegro serves a role of both attacker and defender. He has both high defense and high attack power, though his attack is not as high as the guildmaster. Zegro has the highest survivability rate among the guildsmen due to his balance hybrid skills. He used to stay back and let the other surpassed him but recently he got back his title as the number one defender of the guild by surpassing most guildsmen in term of both defensive and offensive power. He has mature aura around him which makes many apprentices like his guidance. Still, as a member of the guild, he shows ability to blend into pranks and quarrels with the youngsters.
Theme song: Happy People  


Bear 4: Ermira (katar – damage-per-second assassin)

She was the first female to join the guild. Though she easily befriended Bluefeather who joined afterwards, Ermira likes to venture on her own. Ermira is third in line after Cromag and Zalbard in term of offensive power. She is frequently compared to Furato in term of girlish action and thus made the two easily clashes with each other. Despite of her demeanor, Ermira excels in wielding deadly weapons, and sometimes scares away people with her cunning outer persona. So far she is the only katar user between assassins of the guild. 
Theme song: Life    

Minggu, 03 Agustus 2014

9 Years in Review: Tales of The Abyss


You are living your own life. Your memories are yours alone. Don’t deny them. You are here. (Tear to Luke) 

A beautiful story adalah kesan saya secara keseluruhan saat saya menyelesaikan acara nonton anime ini. Diangkat dari game berjudul sama (yang memang pernah saya mainkan) yang pertama kali dirilis pada tahun 2005, anime ini merangkum 70 jam perjalanan dalam game menjadi dongeng 600 menit.

To think this piece of trash is my replica?! I was robbed of my family and my home by this trash?! (Asch to himself)


---------------------------------------------------------------------------------------------------------

One Third Part of the Story Begins…

Planet Auldrant adalah dunia yang dihuni oleh makhluk hidup yang tersusun atas fonon (deskripsi fonon adalah frekuensi suara yang membedakan satu individu dan individu lain seperti fingerprint). Auldrant tersusun atas enam fonon dan satu fonon ketujuh (seventh fonon). Setiap manusia memiliki akses terhadap fonon, namun hanya sebagian kecil yang mampu menguasai seventh fonon. Selain fonon, kehidupan di Auldrant berjalan dengan tuntunan Score. Setiap orang dianjurkan untuk hidup sesuai dengan tuntunan Score agar mereka mendapatkan prosperity yang telah dijanjikan. Para seventh fonist (pengguna seventh fonon) mampu membaca seventh fonstone (Score bagian terakhir) yang dipercaya menyembunyikan rahasia terakhir mengenai planet Auldrant. Oleh karena itulah, kedua kerajaan besar di Auldrant: Kimlasca-Lanvaldear dan Malkuth tak pernah berhenti memperebutkan seventh fonist dan seventh fonstone.

Auldrant meyakini rahasia masa depan yang tercantum dalam Score tidak akan bisa dirubah, hingga suatu teknologi yang disebut fomicry merubah keyakinan tersebut…

Who am i? Why was I born?! (Luke to Van)


Fokus utama Tales of the Abyss adalah Luke fon Fabre, pewaris lini ketiga Kerajaan Kimlasca-Lanvaldear yang dibesarkan dalam kungkungan Fabre Manor sejak ia selamat dari penculikan oleh Kerajaan Malkuth. Akibat insiden penculikan tersebut, Luke kehilangan seluruh ingatannya (dan maksud saya semuanya, bahkan ia harus belajar bicara dan berjalan kembali sejak diselamatkan) atas sebab yang tidak diketahui. Dalam kehidupan serba dilayani dan awareness terhadap commoner yang sangat rendah, ia tumbuh menjadi bangsawan manja yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan. Satu-satunya hal yang menghibur Luke adalah sesi latihan pedang oleh tutornya, Van Grants.

Harapan Luke untuk keluar dari kehidupan membosankan pun terwujud saat Tear Grants menyusup masuk ke Fabre Manor untuk membunuh Van. Bukannya berhasil membunuh sasarannya, Tear justru tanpa sengaja menimbulkan hyperresonance dan membawa serta Luke bersamanya ke Tataroo Valley, wilayah Kerajaan Malkuth. Maka perjalanan Tear untuk membawa Luke pulang ke Fabre Manor pun dimulai…

Idiot. (Tear to Luke)


Senin, 14 Juli 2014

signed, bluefeather, a tribute to Nano's Hysteria

do not judge a song by it's cover. hear it out and then you're allowed to give a comment. this is a song of Nano, titled Hysteria.


lyric of this song consists of chain of truthful words. it tells us about dealing with things we could not accept earlier. this first video link leads you to the acoustic version of the song, meanwhile the second one leads you to the original version. 
i like them both and listen to them alternately. 

oh, and this lyric below is just the creation i made during my stressed-out day.

signed, bluefeather.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

P.S. for one of my best friends who gave me this song, thanks, it means a lot :)
P.S. bluefeather? oh, it is my name in a world. that cute girl on the picture is her portrait :p

Selasa, 15 April 2014

Sevens, the Enthusiasts.


Being seven is easy.

We just need to live our life, make it fun and choose to be happy. Sevens are strong people who always stay positive. We believe that everything will turn out fine, and we find powers to make fine endings simply from believing. Sevens see everything from both sides and try not to judge before pointing out positive traits. We love to spread out positive thoughts to people.

Some people state that Sevens are the children of Enneagram. Not that we are childish but more that we have childlike nature inside us. It is not difficult to attract Sevens’ attention. We are easily feel enthusiasm and fall in love with many things. We are easily drowned into things we love, and if it comes to our dream job, we are willing to do our best with tremendous stamina. We are commonly praised for our energetic and fast-paced nature, like we never run out of fuel.

Inside, Sevens value future perspective highly. We like to plan, brainstorm and daydream. We tend to let ourselves open to many changes and new things that are about to come. We are not afraid of changes, instead, we are thrilled. As we grow up, we start to learn about consequences and tend to choose the happiest choice when possible.

Sevens leave the past as it is, never seem to regret it more than once in a short time. We have natural ability to move on. Like others, some of us are easily hurt, but all of us have the same special reflex to think positively of our surrounding. In summary, we naturally seek positive traits of anything to feel blessed and happy because we never like negative feelings.

As we have many things that interest us, Sevens have very big chance to master many distinct abilities. Many people praise us for our wide array of skills, both as professionals and amateurs. Something that draws out our creativity and ideas usually becomes our subjects, as Sevens are unstoppable active thinkers. Point out any trouble to us, we will automatically spin our mind to make many way out.

Grown up Sevens usually take the best traits of Fives, the Observers. At best, we are up to par to Fives in listening, watching and reading our surrounding without making any intervention. This growth counterattacks our previous tendency to jump over things, but still, we retain the playful nature inside us. Push the right button, and we will back to full-Seven-mode.

Sevens’ wisdom usually is the cumulative experience from our habit to jump over things. At one point, we have experienced so many things that others might have never experienced before. Many people define Sevens’ wisdom as sobrieties, a state when we no longer make measurement of anything. We willingly accept ourselves and our surrounding with all positives and negatives, and let life happens as it is. Together with observation skill adapted from Fives, we are usually seen as people with broad perspective, one of the broadest in Enneagram.


http://www.enneagraminstitute.com

Being seven is hard.

We are not connected to our fear. Instead, we tend to avoid it. When we fear something, or being hurt by something, we tend to distract our mind so the negative feelings will not bother us. While it may seem positive, nobody can hide from their fear for too long. One day we will have to face it again.  Though, when faced with overly negative feeling, Sevens will withdraw themselves from the main cause and tend to choose other path in order to protect themselves.

Sevens tend to wish for many things. It will be very difficult for us if someone asks us, ‘What is one thing you want in life?’. We have many interests and many things that amaze us. Life is too broad for wanting only one thing. It comes in cost that we constantly need to experience as many things as possible. Some people call this trait as ‘gluttony of experience’.

Having a fully-fueled locomotive planted in our feet, sometimes Sevens are over-expecting other people to have the same pace as us. Some people define us as impatient community. Some people see us as shallow, because we seem to move on very quickly from one thing to another. It is not completely wrong, but we still have ability to feel strong connections to others. The only difference between us and non-Sevens is that we avoid being negative for too long, because our basic need is find bless and happiness. How can we do that if we are too busy dwelling on negative feelings?

It is true that we like to study many things, but we have a relatively short span of concentration. We need new things to explore from time to time or we will be easily subjected to boredom. It comes in cost that we might not be able to learn something very deeply because we tend to jump over from one thing to another.

Ideas are holy for us Sevens, which means that we work best at the place where ideas are appreciated. We are easily frustrated by repetitive works, inability to jump over things and mostly when our ideas are not appreciated. Moreover, although Sevens are excellent brainstormers, we are not as best as other Enneagrams in case of finishing things. This is due to unstoppable flow of ideas inside our head, and we have very high tendency to follow our new ideas than finishing the previous ones.

At worst, we are much like Ones in bad state. High stress environment and or having no time to enjoy our life might trigger this deprivation. We might still have tendency to spin our mind to find a way out, but our machine seems to work less accurate. As the result, we might become perfect perfectionists and overly critical about our surroundings.

Finally, Sevens are prone to ‘rebound phenomenon’ because of their constant need to stray away from negative feelings. Deep down we realize that the buried feeling might be a time bomb for us. Just to let you know, healthy Sevens learn to accept their negative feeling, but most of us refuse to let it dominate our mind. We choose to think positively after we accept the negative.

  
http://www.davetomlinson.co.uk
I am Seven and I feel blessed (Siennra, 2014)

Minggu, 23 Maret 2014

Seminggu di Pusbangtendik


Quest 10: Seminggu di Pusbangtendik

Kesan awal….  seram sekali bangunannya… bakalan betah nggak ya disini… bakalan sekamar sama siapa nih… gimana kalo begini dan gimana kalo begitu?

Senin, 27 Maret 2014, setelah melewati banjir dalam perjalanan dari Halim Perdana Kusuma ke Kota Depok, saya akhirnya sampai di Pusbangtendik sekitar pukul 14.00. Berangkat terpisah dari rombongan Brawijaya (yang sudah sampai di Pusbang sehari sebelumnya) membuat saya waswas dengan siapa saya harus berbagi tempat tinggal sementara. Sistem disini adalah siapa yang datang bersama-sama akan mendapatkan tempat yang sama. Nah saya yang kancrit ini… yah…

Yah, tentu saja, lebih menyenangkan jika bersama-sama dengan teman-teman senasib dari universitas yang sama kan?

Saya yang pertama datang di home saya pada saat itu dan kondisinya masih sangat gelap sekali karena belum ada lampu yang menyala. Teman sekamar saya datang beberapa menit setelah saya mulai bongkar-bongkar barang. Kesan pertama saya adalah… waduh… orangnya gimana ya? Bakal bisa get along nggak ya...

Hal lain yang membuat saya sedih di hari pertama saya di pusbang ini adalah saya kaliren. Hahahaha XD. Secara saya hanya sempat sarapan jam 6 pagi dan ternyata di pusbang hanya disediakan makan malam saja pada hari kedatangan saya. Wew… ingin sih keluar pusbang, tapi home saya letaknya lumayan jauh dari gerbang, dan saya tidak tahu harus kemana cari makanan. Apakah saya mencari teman-teman seuniv saya pada akhirnya?

Enggak lah… saya mah males jalan dan nyari mereka karena takut nyasar.

Jadi apa yang saya lakukan? Tidur sampai jam makan, yaitu jam 6 sore :p

Kesan awal memang seperti orang asing, padahal Brawijaya adalah penyumbang lebih dari 25% peserta diklat disini. Namun pada akhirnya karena rasa keterasingan saya itulah, saya justru merasa bebas. Kok bisa?

Ehem, jadi begini… wanita itu… biasanya… kemana-mana sukanya barengan. Saling tunggu. Saling gak mau duluan. Katanya sih toleransi. Lhah kalo saya? Ya kalo waktunya jalan ya jalan, ngapain dilama-lamain? Kalau pas waktu jalannya pas sama saya nanti pasti ketemu saya, itulah prinsip saya. Hal inilah yang membuat saya sering jalan ‘sendirian’, dalam artian tidak bergerombol dengan para wanita lainnya, meskipun tetap bersama-sama.

Apakah saya wanita? Hahaha f(-__-“)

Permasalahan termengerikan disini bagi saya adalah cuaca yang kering. Arid, kalau mau agak ekstrim. Akibatnya, kulit saya pun menjadi kering sekali, ada beberapa fisura di kulit wajah dan bibir pun pecah-pecah SEJAK hari pertama saya datang kemari. Pemakaian pelembab bibir dan pelembab wajah tidak banyak membantu, sehingga kadar kecantikan saya berkurang sekitar 5-7%.

Masih terkait cuaca, walaupun kering, anehnya, disini setiap hari hujan. Saya juga heran kenapa ekses hujan ini tidak bisa memperbaiki kekeringan di cuaca Depok. Akibat paling wow dari hal ini adalah sulitnya mengeringkan cucian. Maka akibat males mikir, saya pun ngeloundry pakaian-pakaian yang tebal.

Permasalahan lain adalah… hmmm… airnya yang agak keruh. Warna air disini agak kecoklatan dan hal itu cukup mengurangi poin kebetahan di tempat ini.

Kemudian soal makanan, banyak udang berkeliaran dimana-mana. Walaupun sang tersangka bukan cuma udang sih… Saya sempat mengalami kelompak mata mbendol akibat makan ikan asin. Namun terima kasih sekali pada Interhistin, kadar kecantikan saya tidak terlalu berkurang banyak (serasa ada yang ngelempar sandal gara-gara daritadi bilang kadar kecantikan).

Hal mengerikan lain yang terjadi disini adalah saya menemukan binatang melata di kamar mandi pas dibawah kaki saya sehingga saya nyaris berteriak sekeras-kerasnya. Sudah tidak usah dibahas. Saya tidak suka binatang melata.


Oke, sekarang hal yang menyenangkan…

Hmm… banyak bertemu orang-orang dari seluruh Indonesia, dengan berbagai latar belakang dan keahlian. Klise kah? Nggak juga, memang itu yang terjadi. Sisi baiknya adalah kita jadi bisa memperluas wawasan. Sisi buruknya adalah karena latar belakang berbeda jadi kalau kelompokan dengan yang suka ngeyel akibatnya jadi lamaaaaa gak selese selese, hahahaha XD

Kemudian saya jadi rajin olahraga lagi disini karena memang diwajibkan untuk senam pagi hampir setiap hari. Lumayan lah badan jadi segar dan tidak perlu khawatir masuk angin. Walaupun yah… bingung juga mau mandi habis senam soalnya badan masih keringetan dan sejam lagi harus apel dan belum sarapan pula. Ahahaha XD

Hal yang menyenangkan lagi… hmm… next time, next time, kalau sempet nulis lagi sih, ehehe…

Sekarang saya mau nggarap peer dulu karena besok maju presentasi :p

Minggu, 05 Januari 2014

Friendship Frenzy



Quest 5: A friend is someone to be extremely crazy with, no matter how sane you are

Tersebutlah pada suatu masa, Sandy dan Patrick sedang terhubung via Whats*pp di malam yang muram. Sandy sedang muram ditimpuki kerjaan awal tahun, dan Patrick sedang muram karena bersahabat dengan (maaf) toilet.

Inilah percakapan mereka di malam hari itu, Patrick sebagai (P) dan Sandy sebagai (S):

P            : San…. konsul…. obat anti spasmodic, yg isinya papaverine ekstrak iku opo?
S            : spasm*nal?
P            : spasm*nal? spasm*nal iku… sing bungkuse warna merah ta San?
S            : sing bungkuse enek tulisane spasm*nal lah Pat
P            : bukan itu maksude San…
S            : peace pat, peeeaaacceeee…. Puuuuiiiisssss….
P            : maksudnya… pada jaman dahulu kala… kira-kira tahun sebelum masehi… 
                dimana Pat pernah kena yang namanya diare…. Pat minum obat 
                yang bungkusnya warna merah, terus ada tulisan papaverine ekstrak… 
                Soale wes suwiiiii aku gak kena diare, makane 
                lupa nama obatnya…
S            : jadi yang diminum bungkusnya? #polos
P            : #swt, bukan lah…. Straplesnya…
S            : oooohhhh… pasti sembuhnya itu Pat… iya tho? #gembira
P            : iya sembuh diarenya, tapi jadi corpus alienum
S            : berapa aliena Pat? Biasane nek ujian BI disuruh minimal 5 aliena…
P            : iku dudu aliena…
S            : oh… lha terus alien dari planet mana?
P            : planet sailormoon…. San! Kuwi bukan aliena, tapi alinea! Hadew, kok bisa 
                dirimu lulus unas bahasa Indonesia? #swt
S            : ahahahahahaha chat kita malem ini kumasukin blog…. Seneng aku ada yang 
                bisa diajak menggila malem-malem pas aku sutris begini, mwahahahaha
P            : ………
S            : btw, jadi kau diare? Habis makan staples? (merasa disawat mejo)
                belakangan ini adekku bilang aku juga makin geje… #swt
P            : kesimpulannya… diare et causa straples papaverine ekstrak..
S            : biar sembuh minum bungkusnya… lalu coba kirim kapsulnya disertai kesan-kesan 
                anda sebanyak dua aliena dan kirimkan untuk mendapat tiket gratis ke planet 
                yang anda tuju
P            : akan lebih efektif jika bungkusnya dijadikan puyer racikan dengan straplesnya 
                trus dijadikan kapsul
S            : lebih bagus lagi kalo apotekernya tersertifikasi sebagai sailor.
P            : siapa tau anda beruntung mendapatkan tiket wisata ke mars bersama CJ-7. Bip-
                bip-bip-bip… kungfu fighting!
S            : Sailormoon….. Sailormars…... Sailorti… roti sailorti…
P            : roti yang bisa dikonsumsi hanya ketika berlayar soale butuh sail..
S            : oh jadi prosedur terbaik pas minum obat adalah sambil kungfu? Awas kapale 
                malik malah kecemplung….
P            : yo ora popo ta, kan kungfu panda fighting… lemu…
S            : Iyo yo membantu menelan kapsulnya, jadi pas masuk air harus sambil mangap
P            : jadi kampul-kampul di laut
S            : kampul-kampul jare, hwakakakakak XD
P            : iyo kan?! Kan melembung dadi kampul-kampul
S            : sudah lama ya kita gak kampul-kampul bareng Squid sm Spongie, 
                peloporilah Pat…
P            : iku kumpul-kumpul… makane ta ojo sinau Bahasa Jepang ae… pelajari S-P-O-K.
S            : iku kau nabok kah? Spok!
P            : ojo dadi P-O-P-O-K-S. Spoks. Spoks. Spoks.
S            : Lho nek gak popok bunyinya gubrak bukan ‘Spok!’. Nek ngguyu ojo sambil guling 
                guling ngono a… nggarai glundung…
P            : ……..
S            : jadi kau diare? Apa isinya?
P            : emas…. Intan….. permata….. sama berlian…. …. … …. …. Ya aer lah San….
S            : oh… biasane kan isi diare iku tentang pengalaman sehari-hari Pat…. Misal hari ini aku 
                nabok siapa, popok siapa yang kulempar, dll
P            : ^^%$^%#T%*(&^^%!!!
(dan makin kebawah makin gila saja jadi tidak usah dilanjutkan ngetik disini ya… #tobat)

Quest Reward:
Kalimat judul quest diatas memang top abiss. Saat stress melanda, kehidupan serasa ruwet dan penuh kewajiban, kehadiran sahabat yang bisa diajak menggila adalah oase di tengah gurun pasir…. #halah. Memang itulah ajaibnya sahabat, tak perlu selalu ketemu untuk bisa kembali menggila sama-sama :p
Sandy dan Patrick ini adalah dua sahabat yang tidak pernah ketemu. Pada zaman bahuela saat Whats*pp belum menjamur, mereka berdua anteng-anteng saja tidak berkomunikasi berbulan-bulan lamanya. Ajaibnya mereka berdua tetap bisa menggila dengan intensitas yang makin hebat setiap kali mereka bertemu.
Aneh memang. Tapi sahabat yang aneh biasanya lebih worthy daripada sahabat yang anteng, terutama untuk orang yang… ehem… aneh… seperti saya…

#eh

Kamis, 15 Agustus 2013

The Bartimaeus Trilogy - Review - Novel Favorit Saya

Salah satu hobi saya adalah tenggelam di balik novel, jujur saja. Novel-novel pilihan saya adalah novel fantasi yang memuat cerita tentang alternate universe dan berhubungan dengan magic alias sihir. Hehehe…

Sejak kecil, saya memiliki ketertarikan khusus pada cerita-cerita  yang mengedepankan adanya unsur sihir-menyihir, sebut saja koleksi saya ketika kecil adalah benda-benda yang saya yakini sebagai topi kerucut penyihir dan jubah penyihir *nyengir*. Bagi saya, seru aja sih, memiliki kemampuan magis (tolong jangan dibayangkan sebagai sihir tradisional yang bercat hitam macam santet dan sebagainya yak…), bisa terbang di udara dengan naik sapu terbang dan sebagainya *nyengir lagi*

Jadi jangan heran kalau koleksi novel saya 98% akan memiliki korelasi terhadap sesuatu yang magikal dalam ceritanya…

Oh ya, just to let you know, saya bukan penikmat Harry Potter. Saya sempat baca sampai dengan novel keempatnya lalu mandeg. Kenapa? Terlalu dipanjang-panjangin, saya jadi bosan, belum lagi biaya yang luar biasa besar untuk beli satu novel Harry Potter yang bisa saya pake beli novel serupa yang tidak kalah seru atau bahkan lebih seru *ups, ini pendapat pribadi lho*

---

Novel ini adalah seri novel pertama yang saya punya, dan kalau boleh dikatakan, merupakan salah satu novel tertua yang saya punya. Judulnya adalah The Bartimaeus Trilogy, karangan Jonathan Stroud, yang diterbitkan di Indonesia pada tahun 2007. Novel ini menjadi satu-satunya novel yang bisa membuat saya harus menahan rasa pingin jejingkrakan di toko buku saat rilis, dan juga merupakan satu-satunya novel dengan ending (di jilid ketiga) yang bisa membuat saya banjir air mata dan merasa mencelos saat membacanya. 

Btw, dalam cerita magis kali ini, diceritakan bahwa penyihir sebenarnya tidak memiliki kekuatan sama sekali, tapi melaksanakan sihirnya melalui bantuan makhluk halus yang secara umum disebut demon. Penyihir harus mengikat demon yang dipanggilnya (summon) dalam pentakel yang melindunginya dari kekuatan mahabesar yang dimiliki si demon. 

Kekuatan penyihir dinilai dari seberapa banyak dan seberapa besar kekuatan entitas yang ia panggil. Semakin lama demon terikat di Bumi, ia akan semakin kesakitan dan mendekati kematian, karena itulah setiap demon menganggap pemanggilannya ke dunia adalah perbudakan. Namun mereka tidak kuasa melawan penyihir, yang walaupun tidak berkekuatan, tapi dapat menaklukkan mereka dengan sejumlah mantra. 

Satu-satunya yang dapat melindungi demon dari siksa sang master adalah pengetahuan mereka terhadap nama lahir dari penyihir (yang biasanya disembunyikan oleh penyihir bersangkutan). 

Yah, kira-kira begitulah sebagai prolognya.


Buku Pertama: The Amulet of Samarkand.

Buku ini bercerita tentang keinginan seorang murid penyihir bernama lahir Nathaniel untuk diakui oleh komunitas penyihir. Setelah dibuang oleh orang tuanya, Nathaniel menjalani hidup sebagai apprentice dari seorang penyihir senior bernama Arthur Underwood. Nathaniel terlibat insiden ‘kecil’ dengan seorang penyihir berpengaruh bernama Simon Lovelace dan ia pun berniat balas dendam pada Lovelace.

Yah, sebenarnya, karena Nathaniel masih bocah, ia hanya berniat sedikit usil dengan mencuri salah satu artefak berharga milik Lovelace, yaitu Amulet Samarkand dengan cara memanggil jin bernama asli Bartimaeus sebagai budaknya.

Dengan julukan Sakhr-Al-Jinni, Bartimaeus merupakan salah satu jin kuno berusia 5000 tahun yang terkenal akan kepiawaiannya terhindar dari berbagai macam ‘nasib buruk’ dan (kasih bold italic underline nih!) kepiawaiannya memuntahkan sejuta macam usaha untuk membuat sebal siapapun yang pernah bertemu dengannya, termasuk Nathaniel. 

Seakan belum cukup buruk berurusan dengan jin super cerewet ini, Bartimaeus tanpa sengaja mengetahui nama lahir sang penyihir muda (pemanggilan jin tidak disertai dengan perkenalan antara jin dan penyihir, apalagi tuker-tukeran nama dan nomor hape :p) dan menggunakan nama tersebut sebagai pembalik mantra Nathaniel sehingga Nathaniel tidak bisa menghukum Bartimaeus yang super slengek’an dengan cara apapun.

Lucu ya sejauh ini? Yah memang sih, selera humor Bartimaeus yang sarkastik tapi fresh akan membuat novel ini jadi ringan. Tapi masalahnya, Nathaniel (dan Bartimaeus, pada awalnya) tidak menduga bahwa ada rahasia besar yang terkandung di balik Amulet Samarkand. Akibatnya? Sang penyihir muda dan jinnya pun terlibat dalam arus peperangan makhluk halus, nyaris dibunuh oleh kelompok pemberontak pemerintahan (Resistance) dan terjebak kejar-kejaran dengan pembunuh haus darah.


Buku Kedua: The Golem’s Eye
Buku ini bercerita tentang kehidupan Nathaniel, yang kini berganti nama menjadi John Mandrake, sebagai bagian dari pemerintahan Inggris. Dalam usianya yang masih belia, ia telah menjadi apprentice yang bersinar dari salah satu menteri paling berpengaruh di pemerintahan, Jessica Whitwell. 

Dalam kegemilangannya, karir Mandrake terjegal kegiatan Resistance. Akhirnya, bertentangan dengan sumpahnya, ia terpaksa memanggil kembali Bartimaeus, lengkap satu set dengan sejuta sifat buruknya. Berita ‘baik’nya, belum selesai dengan urusan Resistance, Mandrake kembali terjegal oleh kemunculan Golem di kota London.

Mandrake dan Bartimaeus pun kembali bersinggungan jalan dengan Kitty Jones, pemimpin Resistance yang juga merupakan salah satu dari sedikit anggota Resistance yang selamat setelah merampok makam Gladstone (penyihir terpenting dalam sejarah Inggris). Kitty telah mencuri Tongkat Gladstone dan tanpa sengaja melepaskan afrit (ifrit, kalau bahasa Inggrisnya) Honorius ke dunia bebas.

Ketamakan Mandrake atas kekuasaan dan sifat paranoidnya yang tumbuh pesat membuat Bartimaeus merasa (kalau bahasa Bartimaeus sih) jijik. Mandrake dan Kitty juga terlibat ‘baku hantam’, baik secara harfiah maupun tidak, segera setelah Mandrake menemukan gadis tersebut. 

Mandrake pun akhirnya terjebak dalam situasi hidup dan mati saat ia dikejar-kejar Honorius, gagal mengendalikan Tongkat Gladstone dan berada dalam belas kasihan sang Golem. Siapakah yang pada akhirnya menyelamatkan Mandrake? Sampai pada batas manakah loyalitas Bartimaeus sebagai budak Mandrake, dan sampai batas manakah kekeraskepalaan Kitty dapat dipertaruhkan?


Buku Ketiga: Ptolemy’s Gate
Buku ini bercerita tentang masa lalu Bartimaeus, pencarian jati diri Mandrake dan keinginan terselubung Kitty. Mandrake yang paranoid karena pengetahuan Bartimaeus terhadap nama lahirnya, memaksa sang jin menjadi budaknya selama dua tahun tanpa diberi kesempatan beristirahat. Karir Mandrake yang melesat cepat merupakan hasil ‘pengorbanan’ Bartimaeus yang tiada henti. 

Kekuatan Mandrake yang semakin besar memberikan sang penyihir kemampuan untuk memanggil banyak jin berkekuatan besar secara bersamaan dan menghilangkan hak prerogatif Bartimaeus sebagai satu-satunya jin milik Mandrake (baca: Bartimaeus jadi kehilangan nyaris semua kesempatan berekspresi dengan selera humornya yang mengguncang langit). 

Sementara itu, Kitty yang menyadari kebutaannya terhadap sihir, melakukan riset terhadap sihir dan menemukan bukti tentang masa lalu Bartimaeus serta hubungan sang jin dengan penyihir Mesir yang hingga kini masih memiliki hati sang jin, Ptolemy.

Setelah insiden dimana Bartimaeus nyaris tewas, Mandrake memutuskan untuk membebaskan Bartimaeus. Namun dengan segera ia menemukan bahwa sang jin dipanggil oleh ‘penyihir lain’ dan tidak merespon pemanggilannya. Hampir disaat bersamaan, Mandrake bertemu kembali dengan Kitty dan kembali terlibat pertengkaran sengit dengan mantan pemimpin Resistance tersebut.

Masih dibutakan oleh kehausan atas kekuasaan dan paranoia tingkat tinggi, Mandrake kembali mengirim Bartimaeus menuju misi berbahaya segera setelah sang jin dapat ia kuasai kembali, tanpa memerdulikan ‘kesehatan’ Bartimaeus. Namun, sepeninggal sang jin tukang gosip itu, Mandrake dan Kitty justru terlibat pemberontakan demon terbesar sepanjang sejarah. 

Tanpa perlindungan Bartimaeus dan di tengah-tengah pembantaian besar-besaran yang dilakukan demon terhadap manusia, mampukah Mandrake bertahan hidup? Dan sekali lagi, sampai dimanakah kekerasan hati Kitty  bertahan saat para penyihir yang dibencinya kini mati satu demi satu di depan matanya? Dan saat Bartimaeus pada akhirnya memiliki kebebasan untuk memilih lagi setelah 2000 tahun berlalu, maukah dia kembali untuk menyelamatkan ‘Nathaniel’ yang telah dibencinya selama bertahun-tahun? 

Terakhir, adakah master yang akhirnya dapat menyamai rasa cinta Bartimaeus terhadap Ptolemy? Jawabannya… ah, ini lho, tisu…


Spin-off: The Ring of Solomon
Buku ini bercerita tentang kehidupan Bartimaeus, jin berusia 2000 tahun pemilik ejekan terbanyak di seluruh dunia. Gara-gara melakukan kesalahan ‘kecil’ (baca: menelan masternya hidup-hidup), Bartimaeus kini menjadi budak dari Khaba, salah satu penyihir berbahaya kepercayaan Solomon, sang raja Jerusalem. 

Pada saat itu, daratan Arabia dikuasai oleh Solomon dengan bantuan Cincin magis yang mampu menjadi portal yang memungkinkan Solomon memanggil sebanyak mungkin demon ke muka bumi. Arabia pun mematuhi Solomon karena campuran rasa takut dan kekaguman.

Setelah nyaris tanpa sengaja melempar batu berukuran raksasa ke kepala Solomon, Bartimaeus dan kompi jinnya kini dikirim untuk menangani pembantaian di jalur perdagangan Jerusalem. Sang jin pun akhirnya bertemu dengan Asmira, satu-satunya yang selamat dari pembantaian. 

Menyembunyikan niat aslinya, Asmira berhasil membujuk Khaba untuk membebaskan Bartimaeus sebagai balasan atas nyawanya yang diselamatkan sang jin. Namun dengan segera, Asmira menyadari bahwa Khaba berkhianat dan ia pun ‘merebut’ Bartimaeus untuk dipekerjakannya sendiri. Tugas pertama Asmira untuk Bartimaeus adalah: membunuh Solomon dan merebut Cincin Solomon untuk dibawa ke Ratu Sheba.

Walaupun memiliki karir tak terpatahkan selama 2000 tahun, Bartimaeus harus terlibat kucing-kucingan dengan puluhan demon berkekuatan besar yang menjadi pelindung Solomon sambil melindungi Asmira. Dalam sekejap, Jerusalem menjadi tempat pertempuran untuk memperebutkan Cincin Solomon. Tapi adakah yang cukup jeli untuk mengetahui kenyataan tentang Solomon sendiri?

---

Kelebihan dari cerita ini berasal dari personalisasi tokoh-tokoh sentralnya yang unik, yaitu Bartimaeus, Nathaniel (John Mandrake), Kitty Jones, juga Asmira, kalau mau melihat spin-off-nya. Nih sedikit review tentang betapa bertentangannya mereka:


Bartimaeus
Bartimaeus adalah jin yang mengalami masa jaya pada 2000 tahun sebelum dipanggil oleh Nathaniel. Ia adalah jin tingkat menengah dengan sejuta keberuntungan, yang menyebabkan dia selalu mampu berkelit dalam situasi berbahaya dan masih hidup hingga 5000 tahun lamanya.

Kelebihan utama (atau kelemahan?) Bartimaeus ada pada kemampuannya untuk membuat semua orang sebal terhadapnya. Ia memiliki persediaan ejekan yang tiada habis, dan tidak terlalu memperdulikan hukuman yang diterimanya dari penyihir akibat lidahnya yang tak bertulang (kalau dia punya lidah sih). Kelebihan utamanya ini sebenarnya ditunjang dengan kecerdasannya yang (kalau saya boleh menyimpulkan) sangat tinggi dibandingkan demon lainnya. Bartimaeus menggunakan kecerdasannya ini untuk mengakali siapa saja, menyabet kesempatan apa saja dan melenggang santai setelahnya (aduh… ketularan gaya bahasa Bartimaeus ini sepertinya, maafkan… ).

Namun demikian, Bartimaeus memiliki sisi lembut yang hanya ditunjukkan pada Ptolemy. Loyalitas Bartimaeus terhadap Ptolemy adalah yang tertinggi, sampai ke taraf kesediaan Bartimaeus mengorbankan diri untuk sang penyihir. Alasannya? Ada tuh di Ptolemy’s Gate ^^

Bartimaeus ini memiliki banyak nama, misalkan Sakhr-Al-Jinni, N’gorso, dan yang spesial untuknya adalah Rekhyt, nama yang diberikan Ptolemy. Selain Ptolemy, Bartimaeus menganggap rendah manusia dan terutama, pernyihir. Ia tanpa sengaja mengetahui nama lahir Mandrake, yaitu Nathaniel, dan ini (sedikit) menyejajarkannya dengan sang penyihir muda. Bartimaeus membenci Nathaniel, seperti halnya ia membenci penyihir lainnya, dan selalu mencari kesempatan untuk menjatuhkan sang master.


Nathaniel (John Mandrake)
Sebagian besar buku pertama akan menyebutkan Nathaniel, sebagian besar buku kedua akan menyebutkan Mandrake, dan buku ketiga membagi keduanya nyaris hampir sama. Nathaniel memiliki masa kecil yang menyedihkan, dimana ia dijual oleh kedua orang tuanya karena alasan ekonomi. Ia tumbuh menjadi bocah tertutup dan tidak pernah bergaul dengan sesamanya.

Nathaniel memiliki kehausan luar biasa terhadap ilmu pengetahuan, dan hal ini ditunjang dengan otaknya yang encer. Namun demikian, master penyihirnya yang skeptis tidak mengakui kehebatan Nathaniel dan hal tersebut membuat sang bocah frustasi. Puncak rasa frustasi Nathaniel tumpah menjadi pemanggilan terhadap Bartimaeus dan pencurian Amulet Samarkand, yang membuka cerita trilogi ini.

Dengan menggunakan nama John Mandrake, Nathaniel mengunci diri aslinya yang rapuh dan kesepian. Setelah lepas dari master pertamanya, ia tumbuh menjadi remaja jenius yang disegani di kalangan penyihir. Mandrake menjadi kesayangan Perdana Menteri dan dengan mudah mengungguli orang-orang yang meremehkannya di masa lalu.

Namun, seperti halnya remaja lainnya, Mandrake terus terhubung dengan keinginannya untuk mencari tempat yang terbaik untuknya. Ia ingin aman, ingin diakui  serta ingin berkuasa, dan efek sampingnya ia menjadi paranoid.

Mandrake membenci Bartimaeus, namun mengakui bahwa jin tersebut merupakan jin paling efektif yang pernah ia miliki, dan juga satu-satunya jin yang mengetahui nama lahirnya, sehingga ia selalu mempergunakan Bartimaeus dengan sangat hati-hati. Sedangkan hubungan Mandrake dan Kitty, hmm… seperti simbiosis parasitisme. Mandrake sangat memandang rendah Kitty, dan didukung dengan kekalahan-kekalahan telaknya melawan sang pemimpin Resistance, ia pun juga membenci Kitty.  

Sedikit kontras dengan kebencian demi kebencian yang menumpuk dalam hati Mandrake, ia merupakan remaja cerdas dengan tingkat kepercayaan diri jauh diatas rata-rata. Ia memiliki kemampuan menganalisis situasi seperti halnya Bartimaeus, yang makin terasah seiring ia dewasa, namun hal tersebut justru sering menempatkannya pada situasi hidup dan mati, sambil membawa-bawa sang jin, tentunya. Kalau menurut saya, kelemahan terbesar dari Mandrake justru adalah diri kecilnya yang bernama Nathaniel…


Kitty Jones
Berbeda kontras dengan Mandrake, Kitty adalah commoner, manusia biasa yang tidak dikaruniai kemampuan menyihir. Karena sebuah insiden yang nyaris membuatnya terbunuh, ia menemukan bahwa dirinya memiliki kemampuan bertahan terhadap sihir. Kitty menggunakan kemampuan tersebut untuk membangun Resistance, kelompok kecil berisi orang-orang dengan ‘kelebihan’ serupa dengan dirinya untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah.

Sudut pandang Kitty yang dipenuhi ketidakpercayaan terhadap penyihir semakin kuat ketika kelompok Resistance-nya dibantai oleh Honorius, namun juga memberikan pemahaman pada Kitty tentang ketidakberdayaan yang ia miliki. Pertemuannya dengan Bartimaeus saat keduanya berada dalam kuasa Mandrake mengawali keingintahuan Kitty terhadap Dunia Lain, dunia asal para demon.

Kitty memiliki kemauan keras dan tidak mudah dibantah, sekalipun oleh Mandrake. Persamaannya dengan Mandrake adalah bahwa keduanya sama-sama mengalami perlakuan tidak adil bertubi-tubi di masa muda mereka. Kitty, yang tidak seberuntung Mandrake memiliki kualitas gabungan antara keras kepala dan kemampuan survival yang hebat.

Ia tidak pernah sungguh-sungguh menampilkan emosi aslinya di depan orang lain. Kitty menggunakan topeng kepribadian yang bermacam-macam sehingga dapat membaur dengan banyak orang, terutama setelah ia kehilangan hampir seluruh anggota Resistance-nya.  


Asmira
Tokoh yang hanya muncul di Ring of Solomon ini di benak saya mirip dengan gambaran Kagura Mikazuchi di Fairy Tail. Asmira cerdas, memiliki keberanian tinggi dan loyalitas yang tak perlu dipertanyakan. Ia merupakan prajurit terbaik yang dikirim oleh Ratu Balkis, penguasa Sheba untuk membunuh Raja Solomon di Jerusalem.

Asmira dikaruniai kemampuan tinggi dalam pertahanan diri, termasuk terhadap demon (dengan bersenjatakan perak), dan juga memiliki kemampuan memanggil makhluk halus, seperti halnya pendeta matahari yang lain. Loyalitas Asmira digambarkan sebagai blindfold yang mencegah Asmira bertindak rasional dan menggunakan akal sehat (ini kata Bartimaeus lho).

Agak sulit juga mendeskripsikan Asmira, tapi yang jelas, dia mengalami perubahan kepribadian yang cukup drastis dari orang berpikiran tertutup menjadi jauh lebih bijaksana, tanpa mengurangi keberanian yang sudah ia miliki sejak awal.

---

In My Eyes:

Phew, kalau boleh dibilang, versi The Ring of Solomon adalah yang paling ‘ceria’ diantara keempat buku diatas. Boleh dibilang juga, selera humor Bartimaeus dalam buku tersebut jauh lebih ‘mengerikan’. Kalau triloginya sudah membuat saya ngakak sambil geleng-geleng kepala keheranan dengan ide cemerlang Bartimaeus, boleh dibilang si spin-off ini membuat saya gegulingan sambil berjuang berhenti tertawa. Boleh dibilang lagi sih, kalau The Ring of Solomon merupakan obat yang mujarab setelah kisah trilogi yang rilis sebelumnya.

Emangnya kenapa dengan kisah triloginya? Hahaha, saya tidak mau komentar di bagian ini.

Kisah trilogi Bartimaeus merupakan campuran yang tidak sederhana dari intrik dan humor. Sisi lucu dan sisi dark berjalan beriringan dengan kecepatan yang sama, menjadikannya cerita yang memiliki kemampuan untuk bermain dengan emosi pembacanya. Dalam satu titik, kita akan disuguhi kepolosan Nathaniel yang berubah menjadi ketamakan Mandrake, di titik lain kita disuguhi kekeraskepalaan Kitty, dan di titik lain kita disuguhi luka masa lalu dan kebencian Bartimaeus. Tapi, di sisi lain kita akan menemukan kekonyolan perilaku Nathaniel (dan juga Mandrake sih), dan yang mendominasi kocokan lambung, humor ngejleb Bartimaeus.

Menurut saya, buku yang paling seru adalah buku ketiga dari trilogi ini. Selain memberikan konklusi dari cerita luar biasa ini, buku ketiga juga sarat dengan pertentangan batin dari masing-masing tokoh utama (ini mencakup Bartimaeus lho) dengan tanpa melupakan humor sama sekali. Ending… ah, bagaimana saya menjelaskan ya? Sudahkah saya bilang bahwa saya banjir air mata saat pertama kali membacanya? Eniwei, banjir air mata ini masih terjadi setiap saya membaca kembali bagian endingnya ini (setelah agak lama tidak membaca tentunya).

Cerita ini jelas fiktif, jelas tidak masuk akal, jelas hanya imajinasi, jelas tidak mungkin jadi nyata, dan jelas-jelas lumayan panjang untuk diikuti. Tapi novel ini punya daya tarik kuat yang memungkinkan pembacanya untuk tersedot masuk ke dalam dunia yang dihuni Bartimaeus dan Nathaniel. Deskripsi yang detil dan gaya bahasanya yang unik mengajak kita memvisualisasi apa-apa yang sedang disaksikan Bartimaeus, Nathaniel, Kitty, dan juga Asmira.

Kekuatan lain dari serial ini adalah kemampuan sang pengarang menghubungkan kehebatan Bartimaeus dengan berbagai sejarah lama, baik di Mesir, Praha, dan Yunani. Sebut saja Tembok Besar Praha (Prague Great Wall), tenggelamnya Atlantis, juga cerita Nefertiti dan Sphinx. Deskripsi hubungan Bartimaeus dengan Jerusalem, Asiria, Babilonia dan Sheba juga muncul lumayan mendetil. Berubahnya aliran sungai Mesopotamia dan Legenda Minotaur juga jadi bagian deskripsi karir Bartimaeus di novel ini. Menurut saya, yang paling fantastis adalah cerita tentang Solomon dan Cincin Magis yang ia gunakan. Termasuk kemampuan Cincin memanggil ribuan entitas makhluk halus, penolakan lamaran Solomon, deskripsi perjalanan Ratu Balkis dari Sheba yang singkat tapi akurat, dan istana Solomon yang memang mirip dengan cerita yang sudah pernah saya dengar sejak kecil.

Ya tentu saja lah, semua itu merupakan parodi, tapi tetap saja, kemampuan Jonathan Stroud menggabungkan kesemuanya itu kedalam satu kepribadian bersejarah yang ia namai Bartimaeus merupakan sesuatu yang patut diacungi jempol. Kemampuan parodi ini membengkak ke arah yang hebat dan memberikan jaminan ngakak guling-guling pada spin-off ­dari trilogi ini, The Ring of Solomon.

Oke, sekarang kita beranjak ke *ehm* kelemahan dari novel ini. Novel ini disampaikan dalam tiga POV (point of view), yaitu dari Bartimaeus sendiri, Nathaniel dan Kitty (dan pada Ring of Solomon terdapat POV Asmira). Dengan kepribadian ketiganya yang lumayan (sangat) berbeda, maka sepertinya POV-POV tersebut akan memiliki fans sendiri-sendiri.

Yah, jujur saja sih, berhubung saya adalah orang berkepribadian ceria *halah* maka membaca POV dari Kitty, walaupun menarik, namun tidak semenarik POV Bartimaeus dan Nathaniel. POV Kitty mulai muncul di buku kedua, The Golem’s Eye, dan jujur saja, saya baru benar-benar tertarik dengan POV Kitty di setengah akhir buku ketiga.

POV favorit saya, jelas saja, POV Bartimaeus, yang banyak mengandung catatan kaki alias footnote yang informatif dan konyol sekaligus. Biasanya pada catatan kaki, sang jin akan membeberkan penjelasan tentang apa yang sedang ia bicarakan, biasanya sambil disertai dengan narsisme tingkat tinggi dan sikap merendahkan terhadap manusia. Lucunya, cara penyampaian Bartiameus yang blak-blakan malah membuat saya betah membaca POV miliknya.

POV Nathaniel sedikit lebih kelam dari POV Bartimaeus, dan penuh dengan segala macam hal manusiawi, seperti misalnya rasa frustasi, rasa takut, dan kepercayaan diri yang naik turun. Tapi justru pertentangan internal antara Mandrake dan Nathaniel menurut saya menarik. POV yang juga saya suka adalah POV Asmira, yang penuh dengan petualangan, mulai dari Sheba sampai di punggung Solomon. Personally, saya suka personalisasi Asmira dan perubahan cara pikir yang ia alami selama ia bersama Bartimaeus :)

Heh? Kok sudah panjang? Well, that’s it. Saya sih, merekomendasikan novel ini untuk yang menyukai bacaan berbobot dan penuh cerita historis, tanpa membuang unsur humor dan sarkasme unik. Unsur psikologis sebenarnya juga cukup menonjol jadi bisa deh saya rekom untuk penyuka serial yang mengeksplor kepribadian tokoh-tokohnya. Yang suka cerita action, deskripsi aksi Bartimaeus dkk di novel ini sangat detil, jadi saya rekom juga. Untuk penyuka cerita ringan, saya menyarankan The Ring of Solomon sebagai pilihan, tapi saya pikir cerita triloginya juga ndak berat-berat amat kok jadi bisa lah saya rekom keempat-empatnya, hahahaha *gak konsisten*

Intinya, cerita Bartimaeus memiliki aura yang berbeda diantara sekian banyak tebaran cerita yang merupakan hibrida dari magis, action dan petualangan. Sayang untuk tidak dibaca, dan sayang untuk tidak segera diangkat ke layar lebar *whooooiii… yang merasa produser, whoooooiiii! Ayolah cepetan dirilis movienyaaa*


---
dan saya masih menunggu kabar rilis movie ini, hohoho ^^