Tampilkan postingan dengan label curahan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curahan hati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

'Maaf'

Apalah arti sebuah kata 'maaf'?

Segalanya.
Atau,
Bukan apa-apa.

Bukan hal sulit untuk memaafkan,
memang sih,
tapi ada beberapa hal yang menyebabkan agak sulit untuk memberikan sebuah kata sederhana sebagai balasan permintaan maaf...

Dendam?
Entah ya? Saya lebih memilih menyebut sebagai 'khawatir'
Khawatir jika saya memaafkan dia, maka dia akan kembali mengecewakan saya bertubi-tubi seperti yang sering dia lakukan di masa lalu..

Bukan yang pertama kali buat saya menghadapi dilema seperti itu,
Separuh dari saya ingin memaafkan, namun separuh lagi tidak.
Saya tergoda untuk membiarkan silaturahmi kami terputus, tak peduli betapapun dia meminta,

Hidup ini cuma sekali,
apa salahnya sih menyambung silaturahmi?
Nah, apa salahnya sih memutuskan silaturahmi dengan orang yang tidak pernah menghargai kita sama sekali?

Saya bukan malaikat lho...

Intinya,
saya kapok berhubungan dengan orang tersebut.

Salahkah?

Haha,
Di dunia ini, ada beberapa orang yang sebaiknya kita hindari sampai dengan pemutusan silaturahmi,
Dengan alasan: melindungi diri sendiri

Yah, itulah hidup,
Mau tidak mau, pasti ada saatnya kita memilih tidak memaafkan daripada mengambil risiko dengan memberikan maaf yang sia-sia...

Pada akhirnya, sayalah yang harus meminta maaf,
'Maaf, saya belum bisa mempercayaimu...'

Rabu, 19 Juni 2013

Target Saya Adalah... ...

I keep missing the target. I wonder why...

Butuh segala kebesaran hati buat mengakui hal tersebut.
Bisa dibilang terpelesetnya saya dari target yang saya pasang di awal tahun 2013 ini jauh sekali,
Super sekali jauhnya, sampai semua orang heran melihat saya, hahahaha XD

Saya heran juga sih...
Tidak seperti biasanya saya missing the target terus-terusan.
Tipikal deadliner seperti saya biasanya tetap selesai tepat waktu walaupun pontang panting jumpalitan di akhir sesi.

Masalahnya,
Jangankan pontang panting jumpalitan, berpikir untuk bergerak saja susah minta ampun,
Hehehe...

Sepertinya saya belum cukup bisa membagi waktu antara profesi dan pendidikan,
Artinya,
Saat saya terlibat di profesi, pendidikan saya kepontalan,
Well, being the youngest and all, can I say something else?

Intinya, salah saya sendiri sih...

Agak makjleb juga, saat ada dosen saya yang mendadak bilang begini, "Kamu tuh eman banget, dulu mulai duluan tapi kok selesenya jauh dia duluan, dia tuh sudah masukin sejak maret, sudah keterima, s*opus pula. Kamu kok lama banget,"
Oh dear...
nokomento :p

Guess what,
Hari ini nyaris saja pendidikan saya terjejeg kebelakang lagi,
Yah, bisa dibilang, saya akhirnya protes secara frontal karena saya merasa ini saatnya saya memikirkan masa depan saya, Toh mereka takkan bertanggung jawab kalau ada apa-apanya dengan masa depan saya.

Mungkin di saat seperti ini, saya berhak sedikit egois setelah nyaris tiga bulan saya berhenti mikirin pendidikan saya demi profesi.

Heh, suka duka sekolah nyambi kerja di tempat yang sama :p

Complaining? No, I am curhatting :D

Sebaik mungkin,
Secepat mungkin,
adalah dua komitmen yang saya pegang untuk menyelesaikan studi saya,
Lalu setelah itu, saya bisa kembali mencintai pekerjaan saya,
Sepenuh hati,
Seperti kemarin sebelum hari ini tiba :)

Jumat, 17 Mei 2013

Dokter dan Surat Dokter

Note: curhat detected :p


Di sore hari yang hujan deras tadi, seseorang menelepon saya,
Setelah memperkenalkan diri, singkatnya beginilah percakapan kami:


Penelepon: "Dokter, malam ini praktek tidak?"
Saya: (berhubung malam ini memang ada acara) "Maaf Bu, sepertinya kok malam ini saya tidak praktek. Ada apa Bu?"

Penelepon: "Ini, saya mau mintakan surat buat suami saya,"
Saya: (mulai merasakan tanda bahaya) "Surat apa ya?"

Penelepon: "Surat dokter buat tidak masuk kerja,"
Saya: (keheranan, kok tidak langsung bilang 'suami saya sakit' tapi menyebut 'surat' duluan?) "Lho, Pak A sakit?"

Penelepon: "Ndak sih dok... Tapi hari ini cutinya habis, maunya sih besok biar libur sekalian sampai hari Minggu,"
Saya: (dalam hati bicara: "Alarm tanda bahayaku masih joss ternyata,")






'Surat Dokter' yang dimaksud oleh penelepon diatas tak lain dan tak bukan adalah 'Surat Keterangan Sakit', yang biasa dibuat oleh dokter sebagai permohonan atas nama pasien agar pasien yang bersangkutan diperbolehkan tidak beraktivitas karena kondisi kesehatannya kurang mendukung, atau aktivitas biasa dapat membahayakan pasien.

Sebagai dokter, kami banyak dihadapkan dengan kenyataan seperti ini.
Pada kasus saya diatas, saya dihadapkan pada dua hal, yaitu ikatan Sumpah Dokter dan rasa persaudaraan dengan si Penelepon (karena kebetulan saya kenal cukup baik).
Pada akhirnya jelas, saya menolak dan berhubung si Penelepon ngengkel, saya persilakan dia mencari dokter lain,
*hehe... buat teman sejawat yang ternyata menjadi tujuan beliau berikutnya, hehe... semangat yaa..*

Sok suci?
Bukan.

Saya menolak karena dari awal dia sudah memberikan kesan 'nggampangno'  (eh, bahasa Indonesianya nggampangno apa yak? Oh.. ya... menyepelekan!).

Apa dan siapa yang digampangno?
Surat Dokter dan Dokter.
Dan saya sebagai dokter yang dia tuju.

Simak saja percakapan kami selanjutnya setelah si Penelepon ngengkel selama beberapa lamanya:

Saya: "Maaf Bu, kalau memang njenengan berpendapat begitu, monggo ke dokter lain saja ya..."
Penelepon: "Tapi kan dokter lain belum tentu mau Dok..."
Saya: (dalam hati: "Lha ini tadi apa kubilang diriku mau?" sambil keluar keringat di kepala model anime)


Hehehehe, lucu juga kalau mengingat-ingat lagi kejadian sore tadi ^ ^;
Intinya saya berhasil juga menolak permintaan tersebut.
Salah satu alasan terkuat adalah karena sebagai dokter, kami terikat Sumpah Dokter, dimana kami mempertaruhkan kehormatan kami dalam pelaksanaan profesi dokter,
Kalau, kalau lho ya... Kalau saya memberikan surat keterangan pada yang tidak berhak, yah... silakan dibaca sendiri deh Sumpah Dokter tersebut dan disimpulkan sendiri ya :)

Yakin sekali, bukan hanya saya yang mengalami hal ini,
Banyaaaaaaaaaak sekali sejawat yang juga mengalami kondisi tersebut, dan memang pada akhirnya semua itu kembali ke masing-masing orang,
Saya yakin, setiap dokter pasti pernah berhadapan dengan kondisi seperti ini,
Dan masing-masing punya cara mengatasi sendiri-sendiri juga :)

Setiap orang berhak menyatakan dirinya sakit.
Setiap orang berhak meminta Surat Sakit.
Tapi,
Setiap dokter juga berhak menolak membuatkan Surat Sakit, 
(hehehe... iya dong, kan sama-sama hak asasi juga tuh, malah wajib buat seorang dokter menolak pembuatan surat keterangan yang 'tidak seharusnya' seperti itu)


Lagipula,
Kalau memang tidak sakit, kenapa sih pura-pura sakit,
Ntar kalo sakit beneran gimana?
#eh

Sabtu, 29 Desember 2012

September 2012. Changing.



Changing. Gambling. Changing.

Sebenarnya dibandingkan gambling, saya awalnya memilih memberi judul untuk bulan September ini sebagai changing. Tapi kok kesannya agak kurang mewakili apa yang mewakili, jadi pada akhirnya saya memberi judul gambling. Etapi kok lama-lama jadi enakan changing ya? er…


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

-Sesuatu tentang Secretzoo-

Pagi hingga malam hari ini saya main ke sebuah amusement park yang cukup populer di kota saya, bersama empat orang sahabat saya,
Sahabat spesial, begitulah saya menyebut mereka, karena walaupun saya kenal mereka sejak usia saya masih 6 tahun, kami baru akrab setelah kami semua berkepala dua,
Tapi sepertinya cuman mereka yang punya dua kepala, soalnya saat ini saya ngaca dan kepala saya cuman satu :p

Seperti biasa, yang namanya orang Indonesia, jam karet itu bisa melar hingga puluhan kilometer,
Saya menunggu di rumah Ikka, satu-satunya cewek selain saya yang bakalan ikut hari ini, sejak jam janjian kami, yaitu jam 9 pagi,
Dan kami baru dijemput oleh sahabat saya satu lagi, Galih, saat karet di jam saya sudah menjelang jam setengah sebelas siang (maknyus tenan),
Kami bertiga lantas meluncur ke rumah sahabat saya satu lagi, Adam, dan disana pulalah kami menjaring sahabat saya yang juga bakalan ikut, Harto,
Setelah formasi lengkap, diikuti dengan perdebatan lucu soal siapa duduk dimana, kami pun berangkat ke Secretzoo,

Fyi, kami berempat (minus Galih) sering berkomunikasi via whatsapp, dengan satu orang sahabat saya yang mencolot jauh, Zeith,
Nah, berhubung saat itu kami berempat ketemu, maka Zeith mengeluh bahwa whatsapp grup kami sepisaupi seharian XD

Saya baru pertama kali itu ke Secretzoo (kasian banget sih…) karena selalu kena tumbukan jaga sana jaga sini saat teman-teman saya dolan,
Tanggal 1 September memang sudah kami sepakati sejak lama menjadi hari dolan bersama kami, dan saya bersyukur bahwa akhirnya saya nyampe juga ke Secretzoo,
Hal pertama yang saya katakan pada diri saya sendiri saat kami sampai disana adalah, “thanks God, I am here with them…”

Saya memang suka stuffed animal alias boneka hewan, maka menyaksikan diorama-diorama di Secretzoo ini memberikan rasa tersendiri bagi saya,
Memuaskan rasa ingin tahu, menikmati menonton hewan-hewan imut dan terutama, megang dan mengira-ngira diorama itu terbuat dari apaan,
Childlike, eh?
Salah satu foto favorit yang saya ambil bersama teman-teman saya adalah foto yang saya beri judul Evolusi Darwin, dimana Harto, saya, Ikka dan Galih berjajar di samping diorama nyemot,
Muahahaha, saya masih ngakak aja kalo liat foto itu XD



Selama di Secretzoo ini pula, saya baru menyadari bahwa keingintahuan yang saya punya bisa lumayan membahayakan diri saya sendiri, karena lebih dari sekali saya terpisah dari teman-teman karena saya ndak sadar kapan mereka pergi,
Biasanya sih itu akibat saya sibuk nonton diorama :p
Saya jadi mikir, kalau sekarang sih, misalkan saya kepisah dari temen-temen, gampang, tinggal telpun aja bisa lah ketemu, lha kalau misalkan ini masih era 10 tahun yang lalu gimana ya?
Misalkan ini era saya masih SD, wow tambah ngeri aja itu f(-__-“)

Yang seru adalah saat kami naik wahana disana,
Sempat heran juga, karena ternyata saya dikira bocah feminin yang tidak berani naik begituan, bzzzztttt f(-__-“)
Beruntung saya pas berangkat tadi memutuskan buat pakai softlens karena wahananya muter muter horizontal dan vertikal,
Saya juga beruntung tadi paginya ndak makan terlalu banyak jadinya perut saya ndak berdisko ria :p

Hal unik yang terjadi selama saya di Secretzoo adalah saya ditelpun sama pasien, hehehe…
Beliaunya konsul pada saya selama beberapa kali yang kalau dijumlahkan mungkin bisa total satu setengah jam,
Well, hal ini membuat saya sadar bahwa everywhere I go, I have to be ready for anyone who needs my help, yah resiko berkecimpung di pekerjaan GP, jadi harus dinikmati,

Yang paling prominen adalah saat kami masuk ke Haunted House,
Saya sempet pingin ngerujak seseorang gara-gara itu,
Dan ketahuan deh kalo saya paling prone sama hal-hal begituan, to the max,
Sejujurnya, sepertinya ada sesuatu yang berubah setelah saya keluar dari Haunted House, tapi… …

Terlucu yang kami lakukan selama di Secretzoo adalah kami memasuki Ruang Cermin (atau apa ya? kayaknya sih namanya gitu, lha isinya cermin-cermin semua),
Di dalam sebuah ruangan disitu, ada lantai yang menjadi proyektor dari kamera yang digantung di atap dan menampilkan semacam game interaktif macam Smack A Thief, tapi pencurinya harus diinjak,
Dan disitulah kami berlima, lima orang berusia 24-25 tahun berloncatan cemolot cemolot kesana kemari buat menginjak si pencuri,
*mengingat… terus ketawa ngakak sendiri*
Yah, namanya juga temen SD, kalo ketemu ya jadi kayak anak SD deh XD

Kami melanjutkan perjalanan kami sampai jam menunjukkan sekitar pukul empat sore,
Setelah sholat dan makan (of course, we need some) kami pulang ke Malang, tapi dihadang macet yang innalillahi sepanjang Sengkaling hingga lepas Soekarno-Hatta,
I made a note, bahwa lain kali mungkin kami sebaiknya tidak dolan di malam minggu, atau pulangnya agak disorein,
Kasian yang nyopir f(-__-“) *lirik Galih*

Saat masuk rumah, jam sudah menunjukkan waktu pukul delapan malam, thanks to the tremendous traffic jam, dan saya menandai bahwa 1 September 2012 adalah salah satu hari dimana saya paling bahagia sepanjang 2012,
Semoga bisa segera dolan sama-sama lagi :)


September 1st, 2012
#np Forever Young
Once, I was very upset because a promise to go there became a promise that wouldn’t ever be fulfilled, but today I know that it should be like that. I guess God wants me to have good memories about that place, so He led me to go there with them. And good memories always stay beautiful.



 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada banyak orang yang tidak percaya bahwa saya akrab dengan teman-teman SD saya. Well, saya senang bersama mereka karena kita sepantaran, mengerti dan mengalami perkembangan jaman dalam waktu bersamaan, sehingga kami bisa memiliki cara pandang yang lumayan mirip tentang kehidupan. Saya senang juga karena mereka tidak saling mempermasalahkan seperti apa masing-masing dari kami. Kami semua paham bahwa di usia 25 adalah usia dimana kami mencari tempat berpijak. Kami juga tahu bahwa segala sesuatu tentang diri kami masih sangat bisa berubah, dan kami saling mendukung untuk itu.

Setelah tanggal itu pun, kami masih sering dolan sama-sama, di sekitar rumah saja sih, atau pernah sekali kami sepedaan sama-sama berlima.
Good memories. Saya heran kenapa kami tidak akrab sejak kecil, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan?

Oke, terus changing and gambling-nya di sebelah mana? Hmmm… ya intinya sih begini, seperti yang pernah saya baca di buku To Kill A Mockingbird, ‘kau tidak akan bisa memahami seseorang sampai kau melihat dengan matanya, merasuk ke balik kulitnya dan hidup dengan caranya,’
Akan selalu ada sisi yang tidak bisa kita pahami dari seseorang, seberapa lamapun kita mengenalnya, dan seberapa terbukanya dia pada kita, 

Tapi kalau kita kelewat berpikir bahwa kita tidak cukup baik, kita bisa melewatkan bahwa sebenarnya ada lho orang-orang yang menerima kita dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita punya,
Dan buat saya, berkaca dari apa yang terjadi di bulan Januari, saya berani berkata bahwa ‘lebih baik menyesal karena melakukan sesuatu daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa,’

Jadi itu changing and gambling? Well, anggap saja begitu :D


back to Kaleidoscope

August 2012. Realizing.



Ada sebuah postingan singkat yang saya temukan di sudut leptop saya, begini bunyinya:

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Bodohnya,
Kenapa baru sadar sekarang?
Kemana saja kamu bertahun-tahun ini?
Segitu butanya ya?


August 3rd, 2012



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya tidak begitu ingat apa maksud saya menulis hal ini dalam sebuah dokumen Word 2007. Yang jelas pada saat itu saya pasti sedang pingin menuliskan sesuatu yang panjang tapi terputus karena sesuatu hal (biasanya sih begitu, makanya banyak tulisan gak keposting). Agustus adalah bulan dimana saya menyadari sesuatu yang sudah lama tidak bisa saya lihat. Semacam ada rasa marah pada diri sendiri karena begitu butanya, begitu repotnya menyipitkan mata ke kejauhan padahal yang dicari ada disini.

Sebenarnya saya antara pingin dan tidak pingin menceritakan soal bulan Agustus ini karena yang terjadi di dalamnya amat sangat sulit dideskripsikan. Tapi karena komitmen awal saya adalah menjadikan yang tidak terposting menjadi terposting, maka inilah satu postingan lain yang saya buat di bulan Agustus:


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

greenloons.com

You Belong with Me - Taylor Swift

You’re on the phone with your girlfriend, she’s upset
She’s going off about something that you said
Cause she doesn’t get you humor like I do
I’m in the room it’s a typical Tuesday night
I’m listening to the kind of music she doesn’t like
And she’ll never know your story like I do

But she wears short skirts, I wear t’shirts
She’s cheer captain and I’m on the bleachers
Dreaming about the day when you wake up and find
That what you’re looking for has been here the whole time

If you could see that I’m the one who understands you
Been here all along so why can’t you see?
You belong with me, you belong with me

Walking the streets with you and your worn out jeans
I can’t help thinking this is how it ought to be
Laughing on a park bench thinking to myself
Hey isn’t this easy?
And you’ve got a smile that could light up this whole town
I haven’t seen it in a while since she brought you down
You say you’re fine, I know you better than that
Hey, what ya doing with a girl like that?

She wears high heels, I wear sneakers
She’s cheer captain and I’m on the bleachers
Dreaming about the day when you wake up and find
That what you’re looking for has been here the whole time

If you could see that I’m the one who understands you
Been here all along so why can’t you see?
You belong with me
Standing by and waiting at your back door
All this time how could you not know?
Baby, you belong with me, you belong with me

Oh I remember you’re driving to my house in the middle of the night
I’m the one who makes you laugh when you know you’re about to cry
And I know your favorite songs and you tell me ‘bout your dreams
Think I know where you belong, think I know it’s with me

Can’t you see that I’m the one who understands you
Been here all along so why can’t you see?
You belong with me
Standing by and waiting at your back door
All this time how could you not know?
Baby, you belong with me, you belong with me

You belong with me
Have you ever thought JUST maybe you belong with me?


August 4th, 2012



------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya salah seorang yang hobi mendengarkan Taylor Swift, bukan hanya karena alunan musiknya yang enak didengerin, tapi liriknya yang lugas, seperti mendengarkan Swift sedang bercerita. Hobi saya mendengarkan Swift (dan Owl City) ini sudah mulai sejak beberapa tahun silam, dan tanpa sengaja menjadi sebuah kesamaan yang membuat saya mikir. Oh ya, sesuai dengan judul awal saya bahwa August is Realizing, maka saya bukan ‘she’ dalam lagu ini, justru lebih sebagai ‘he’ yang nyadarnya telat sekali *pengakuan*

Hikmah yang saya dapatkan di bulan Agustus ini dalam sekali. Terutama adalah bahwa kita tidak pernah ditakdirkan sendirian. Akan selalu ada orang yang care enough tentang kita, entah kita sadar atau tidak. Kadang kita terlalu sibuk dengan apa yang ada nun jauh disana, dan menyepelekan apa yang ada di sekitar kita, padahal yang dekat mungkin jauh lebih berharga, jauh lebih care daripada yang nun jauh disana.

Look around. Look carefully. Look and see.


back to Kaleidoscope

Kamis, 14 Juni 2012

suatu hari di bulan Juni

suatu hari di bulan Juni, atau lebih tepatnya, hari ini, 14 Juni 2012 adalah Hari Kitiran Sedunia,
tau gak kitiran itu apa?
kitiran itu baling-baling, mirip kayak baling-baling bambu punya doraemon itu lho,

kenapa saya menyebut hari ini demikian?
begini ceritanya...

WARNING: cerita panjang alias cerpan dengan bumbu curcol detected, read at your own risk..

tiga hari sebelum ini adalah hari yang sangat menguras emosi saya,
alhasil saya nyungsep di bawah bantal selama berjam-jam dan membuat rumah saya heboh karena siennra yang biasanya ngakak ngalor ngidul tiba-tiba ngabisin sekian lembar tisu hanya buat nangis,
pagi ini saya (entah bagaimana) saya bangun dengan satu ingatan tentang salah satu twit favorit saya di twitter:
"you may kill me with you hatred, or shoot me with your words, but still, like air, i'll rise...!"
entah darimana, dari Hongkong apa dari Jepang tapi tiba-tiba muncul aja itu twit, hahahaha ^^v

maka pagi ini dengan penuh semangat saya berangkat agak siangan, jam delapan pagi, akibat saya keasyikan nonton Spongebob (baca: berangkat gara-gara diusir ibu disuruh cepetan),
dengan ditemani lagu yang masih menjadi teman setia saya sejak tiga hari yang lalu: Kelly Clarkson- To Make You Feel My Love, saya nyopir mobil kesayangan saya, Gray (saya kasih nama dia begitu karena dia warnanya abu-abu dan saya suka karakter Gray di Romancing Saga Minstrel Song) menuju kampus Universitas Brawijaya,

setengah jam kemudian (saya emang kalo nyopir tu lambat) saya parkir di depan Bank Mandiri UB dan berjalan kaki menuju pos pemberhentian saya sehari-hari, sekitar 300 meter dari Bank Mandiri,
dan gitu itu, hape Simpati saya pake ketinggalan di mobil (saya punya dua hape, satu Simpati, satu Axis),
lebih parah lagi, saya sadarnya kalo hape ketinggalan tu pas saya sudah menempuh jarak 299.5 meter dari Bank Mandiri,
#tepokjidat

Minggu, 20 Mei 2012

cahaya bintang

-menyuarakan isi hati sahabat saya-

kenapa tiba-tiba saya bahas bintang?
karena barusan sadar bahwa lagu dan puisi yang mengedepankan betapa indahnya cahaya bintang itu kurang logis,

sebagian besar lagu dan puisi mengatakan adanya bintang yang bersinar begitu terang,
namun, setelah sebuah bintang itu bersinar, ada banyak proses yang harus dijalani sebelum bintang itu nampak benar-benar bercahaya,
sebuah proses yang mungkin tidak sebentar,
karena tahukah kamu, jarak bintang ke bumi bisa ratusan ribu tahun cahaya, atau bahkan milyaran dan trilyunan,
begitu jauhnya jarak bintang, maka tak semua cahaya bintang akan dengan mudah sampai di bumi,

bintang nampak dekat?
mungkin saja...
kerlipannya mungkin mengingatkan kita pada banyak hal,
rasi-rasi bintang yang bertebaran pun juga merupakan penunjuk arah yang tepat,
sinar dari bintang adalah hal yang telah lama merasuki puisi dan syair sejak jaman dahulu,

romantis, kata mereka,
sekaligus perih, karena sesungguhnya bintang itu jauh sekali dari kita,

selama sinar bintang itu belum sampai ke bumi,
bintang itu takkan terlihat,

dan apa yang aku lakukan sekarang?

menjemput bintang,

mungkin aku tak sepenuhnya tahu dia ada dimana,
hanya lewat sedikit kerlip yang muncul dari kejauhan,
sinarnya seakan masih enggan mencapaiku,
entah membutuhkan berapa lama lagi hingga bumiku bisa mendapatkan cahaya indah darinya,

meskipun begitu, pada saat-saat tertentu, ia akan bersinar begitu terang,
dan membimbingku ke arah yang kutuju,
sebelum kembali menghilang, dan aku kembali sendirian,

tapi aku tahu, dia ada di sana, di suatu tempat, dimana ia telah bersinar sebelumnya,
dan aku percaya suatu hari aku akan menemukannya bersinar seutuhnya,
takkan lagi sinar yang terkadang meredup,

suatu hari, ia akan terus bersinar,
terus mengirim impuls cahaya ke dalam otak setiap manusia yang melihatnya,
terus bersinar,
dan terus bersinar,

menjemput bintang,
meskipun puluhan, ratusan, ribuan, milyaran, trilyunan tahun cahaya harus aku lalui,
meskipun aku tak tahu kapan bumiku akan menemukanmu,
aku akan menemukanmu bercahaya,
di suatu tempat yang kupinta dalam mimpiku,

karena aku percaya, kau adalah cahaya, seperti harapanmu,

Kamis, 22 Maret 2012

Aku dan Anis


“wi, kamu dapet undian nomor 16 ya?”
“iya, nis, kenapa?”
“kita solmeett! Aku juga nomor 16,”
“oh yaaa?”

Itulah sepenggal pembicaraan saya dengan Anis, tanggal 10 September 2009,
Hari itu adalah hari pembagian kelompok koas (istilah kami: soulmate koas; koas = coass = coschap = dokter muda), dan saya beserta seluruh teman-teman yang baru saja yudisium sudah harap-harap cemas,
Why?
Karena solmet koas tidak cuma berlaku pada lab pertama saja, tapi juga seterusnya selama 2 tahun kita bakalan terikat satu sama lain di lab yang sama terus,

Solmet koas saya adalah Anis, teman saya dari Malaysia,
Saya pertama kali kenal dia saat kami sama-sama daftar ulang di FKUB, waktu itu sekitar bulan Agustus 2005,
Kami sempat ngobrol beberapa saat waktu itu dan saya (waktu itu) langsung menebak dia berasal dari Malaysia karena logatnya yang sangat berbeda dan kental sekali aksen Melayu-nya,
Selama empat tahun kuliah kami tidak pernah benar-benar berinteraksi satu sama lain, paling-paling hanya saling menyapa tiap kali bertemu di kampus, karena kami juga beda kelas,
Bahkan saat saya clerkship (observer di RS sebelum koas) kami juga tidak pernah sekelompok,
Plus, bahkan saat kita sudah “resmi” menjadi solmet dan menjalani Kepaniteraan Umum (Panum), kami juga tidak pernah sekelompok sama- sekali,

Semua berubah saat kami sama-sama masuk koas,
Waktu itu lab pertama kami adalah Lab Ilmu Penyakit Dalam alias IPD, yang terkenal karena KESANGARANNYA, hehehe…
Seakan belum cukup jackpot, kami berdua ketiban duren jaga di hari pertama pula,
Hahahaha, semalaman*kami nyaris ndak tidur lho (maklum koas hari pertama, masih fisiol dan serba takut, di IPD pula),
Saya masih ingat malam itu saya dan Anis sama-sama saling mbantuin satu sama lain, karena ruangan in charge kami sebelahan,
Saat saya ndak sibuk, saya ‘menjenguk’ Anis, dan sebaliknya,

Perjalanan kami di IPD pun berjalan cukup mulus, dan ikatan antara saya dan Anis sudah mulai terbentuk,
Kami juga sempat menjalani stase luar bersama Zanna (teman saya yang juga dari Malaysia) ke RSUD Wlingi selama seminggu,

Lepas IPD, kami berdua sempat berharap bakal memiliki soulgroup (beberapa pasang solmet yang tetep sama-sama terus labnya selama koas), tapi ternyata kami termasuk salah satu dari sedikit solmet koas yang tidak punya soulgroup,
Saya dan Anis terpisah dari teman-teman saya yang l`in dan nyangsang di Lab THT (Telinga Hidung Tenggorok), sedangkan delapan teman saya lain (yang sebelumnya sama-sama masuk IPD) masuk ke lab-lab lain,
Selama di THT, ada dua orang kakak kelas kami (keduanya solmetan) yang akrab banget satu sama lain satu sama lain, mereka tidak pernah menggunakan nama untuk memanggil solmetnya, melainkan saling memanggil dengan kata “solmet”,
Entah bagaimana saya dan Anis lama-lama ketularan,
Kami pun lama-lama lupa cara memanggil nama satu sama lain dan saling memanggil “solmet” :’)

Perjalanan kami pun berlanjut terus sebagai solmet koas tanpa soulgroup,
IPD-THT-Obgyn-Kulit-Mata-Neuro-Bedah-IKA-Psikiatri-EM-Radiologi-Forensik-PublicHealth-Anestesi-RehabMedik
Awalnya sih, saya merasa kesepian dan sedikit ngiri dengan teman-teman saya yang punya soulgroup, tapi lama kelamaan saya terbiasa share segala sesuatunya dengaan Anis,
Kami belajar saling melindungi dan saling membantu satu sama lain,
Maklum, kami kan cuman berdua diantara arus dunia koas *mulai deh lebai*

Anis itu,
Bisa dibilang rajin, bisa dibilang enggak, hehehe… tapi, kalau mood-nya sedang bagus, dijamin dia bisa jauh lebih rajin daripada saya, terbukti pas IPD dulu, dia bisa maju responsi jauh lebih awal daripada saya,
Anis juga tahu segala sisi dari diri saya,
Rajin malesnya, senang sedihnya, hal-hal yang membuat saya termotivasi maupun demotivasi, dan juga bagaimana caranya membuat saya yang sedih tertawa lagi,

Anis adalah yang ada di samping saya ketika saya kena sebuah masalah di salah satu Lab besar di RS (yang masih membuat saya super sensi kalau lab itu disebut),
Waktu itu saya dan seorang teman saya disalahkan atas kesalahan yang tidak kami lakukan, nilai kami diperosotin ke bawah dan akhirnya saya harus puas dengan nilai C+ (teman saya malah tidak diluluskan),
Waktu itu saya sedih sekali, marah sekali, tapi sebagai koas, saya tahu saya bukan siapa-siapa, dan apapun yang saya proteskan malah dapat semakin menjatuhkan saya,
Anis-lah yang ada di samping saya waktu itu,

Anis juga tahu bahwa saya bukan tipikal yang butuh nasehat mellow saat saya mellow,
Seringkali, dia malah melontarkan joke-joke yang membuat saya ketawa ngakak dan lupa bahwa saya tadinya sedang nyungsep nahan nangis, hahaha XD
Dia memberikan warna lain dalam kehidupan saya, approach yang dia berikan tu aneh tapi mengena di hati,

Seperti saat saya tidak jadi dengan orang yang terlanjur dekat dengan saya (sampe sudah saya kenalin ibu saya di rumah lhoo), saya sedih banget waktu itu, sampai lupa caranya senyum,
Anis dengan santainya bilang, “Ah, lebai kamu wi, cowok tu masih banyak. Ngapain juga kamu sedih gara-gara dia? Percuma itu! Percumaaaa..!!”
Dan, bukannya tambah sedih, saya malah ketawa,
Apa ya yang mbuat saya ketawa? Hmmm… saya juga ndak tahu apa yang bisa membuat saya ketawa dengar kata-katanya waktu itu,
Mungkin karena gesture Anis waktu itu meyakinkan banget jadinya saya tersentuh,
Atau mungkin karena Anis adalah satu-satunya orang yang berkata saya ‘lebai’,
Atau mungkin juga karena logat Anis sudah ketularan logat saya, hahahaha XD

Yupi, logat Anis semakin lama semakin mirip logat saya,
Bahkan, saat kami stase Public Health di Puskesmas Tump*ng, Kabupaten Malang, para perawat disana sempat bilang pada saya, “Mbak Anis itu, seandainya ndak bilang kalau dia orang Malaysia, pasti saya kirain orang Jawa, soalnya logatnya itu lho, sama kayak logat orang sini,”
Saya pun tertawa kecil mendengar hal tersebut,
Anis juga sudah fasih mengucapkan beberapa kata bahasa Jawa sederhana, seperti halnya “monggo,”, “nggih,” dan “maturnuwun,”, walaupun masih agak sedikit kaku kalau bilang “mboten,” (yang membuat saya, Rieza, Adrian dan Anang, yang sama-sama di Puskesmas yang sama, tersenyum ketika dengar),

Anis juga sering sekali telepon lamaaaaaaa banget dengan pacarnya di Malaysia sana, Hafizi namanya, sekarang ini calon suaminya :)
Naaaahhh, kalau pas telepon Hafizi ini nih, logat Malaysia-nya balik 100%, hahahaha XD
Saya pernah dikenalkan dengan Hafizi saat Hafizi main ke Indonesia, dan kami mengajak dia ke Puskesmas,
Jujur ya, menurut saya wajah Anis sama Hafizi itu mirip, cuman mungkin warna kulitnya aja yang agak beda, hehehe :D

Karena sering kemana-mana sama Anis, saya pun lama-lama bisa mengikuti bahasa Malay yang diucapkan Anis dan teman-teman saya yang lain dari Malaysia,
Walaupun saya masih tidak bisa mengucapkannya, tapi saya paham apa yang mereka bicarakan, termasuk yang dibicarakan Anis dengan Hafizi, hehehehe XD

Anis adalah pribadi yang easygoing, dan inilah yang BANYAK menular pada saya,
Semakin lama saya bersama Anis, semakin banyak sifat-sifatnya yang saya adopsi untuk menggantikan pribadi introvert saya,
Sedikit demi sedikit, saya belajar untuk menikmati kehidupan dan segala lika-liku di dalamnya,
Lewat solmet saya ini juga, saya belajar bahwa ada hal-hal yang harus kita khawatirkan, dan ada hal-hal yang harus kita biarkan terjadi dengan sendirinya,
Anis juga menunjukkan pada saya bahwa selalu ada alasan untuk tetap optimis dan tersenyum, walaupun mungkin besok adalah hari pembantaian *nah kan? lebai!*
Saya menjadi pribadi yang ekstrovert seperti sekarang, sedikit banyak (banyak sih sebenarnya) adalah karena saya setiap hari ter-ekspose dengan keberadaan Anis di samping saya,

Jadi, jika ada dua orang yang paling berpengaruh dalam merubah kepribadian saya, itu adalah Ibu saya dan Anis :’)

Ada saat-saat dimana Anis sedih, yaitu saat dia rindu keluarganya di Malaysia,
Beberapa kali dia bercerita pada saya, “Tadi malam aku telepon ibuku, dan aku nangiiiiiiissss…”
Wah kalau sudah seperti itu saya jadi bingung, karena saya tidak tahu apa yang harus saya katakan ke Anis,
Saya tinggal bersama orang tua saya dan setiap hari bertemu mereka, sedangkan Anis, tak hanya terpisah kota, ia juga tinggal di negara yang berbeda dari orang tuanya, sehingga saya selalu merasa bahwa apapun yang saya katakan tidak akan bisa menyamai perasaan Anis saat itu,
Jadi, setiap kali Anis sedih, saya berusaha sebaik saya menjadi pendengar yang baik dan balik melontarkan joke dengan harapan dia bisa tersenyum lagi,

Dua tahun, kami menjalani kehidupan koas kami bersama-sama,
Senang sedih banyak kami lalui sama-sama,
Patol fisiol pernah kami coba sama-sama juga (eh?)
Lapar kenyang juga sudah kami jalani sama-sama,
Kami memahami ritme masing-masing, saat Anis tidak bisa, disitulah saya dengan otomatis mengisi kekurangan tersebut, dan saat saya kolaps, Anis yang ada disitu menggantikan saya,
Ini saya rasakan banget ketika saya di Lab Neuro, juga saat internship di Lab Bedah, dan berlanjut ke lab-lab seterusnya,
Di mana ada Anis, hampir selalu disitulah saya ada, dengan nama panggilan ‘solmeeeettt!!’ satu sama lain, beberapa teman kami bahkan bilang kami adalah salah satu solmet paling mesra yang pernah ada, ahahahahahaha XD
Yah, maklum lah, karena tidak punya soulgroup, kami jadinya terbiasa berdua kemana-mana,

Saya masih ingat saat saya dan Anis nonton film horror (judulnya ‘Kairo’) saat kami sedang jaga di Lab Psiki,
Di sebelah kamko (kamar koas) kami adalah ruang isolasi untuk pasien yang gege (gaduh gelisah), dan si pasien tersebut memang seharian penuh teriak-teriak,
Kami pun tenggelam dalam film horror itu (maklum film horror dari Jepang itu suerem banget dan dibumbui misteri-misteri gitu), dan berkonsentrasi penuh di depan laptop Anis,

Dan tiba-tiba sang hantu muncul di layar,

Saya dan Anis pun teriak bersamaan (baca: screaming in all way possible),
Dan suasana Lab Psiki langsung hening seketika,
Kami pun berpandangan, “Ih solmet, knapa kamu teriak?!”
“Lha kamu juga teriak!”
“kamu kan teriak duluan!”
“enggak kok! Aku teriak karena kaget kamu teriak!”
“masa sih?! enggak ah!”
“iyaaa!!”
Dan kami pun tertawa ngakak bersama-sama,
Entah siapa yang teriak duluan dan mengapa kami teriak, entahlah, mungkin saya teriak kemudian Anis kaget, atau sebaliknya? Hahahahaha XD

Tapi satu hal penting yang kami sadari segera setelah teriak adalah: suasana di Psiki berlanjut hening,
Termasuk pasien gege tadi langsung diam dan tidak teriak-teriak lagi semalaman sampai pagi :p


Ada satu makna penting di penghujung dunia koas kami,
Yaitu saat wisuda, dimana tempat duduk kami diurutkan menurut IPK kami,
Seakan keajaiban, saya dan Anis duduk sebelahan karena IPK kami cuman beda 0.02,
Solmet kan? Hahahahaha.. solmet sejati banget!!!
Kami pun tertawa ngakak ketika sadar bahwa akhirnya kami masih juga bersama-sama hingga wisuda :’)

Saat Anis pulang ke Malaysia…. …. …. hehe, ah sedih ah yang itu, gak mau cerita!!
*mutung*

Beberapa hari lalu, Anis mengirimi saya message via Facebook, berkata bahwa dia dan Hafizi bakal segera menikah,
Wah, seneng sekali saya denger berita itu, alhamdulillaaahh akhirnya mereka nikah juga,
Saya berharap mudah-mudahan saya bisa datang, mau ngumpulin uang saku dulu, hehehehe :D

Intinya,
Saya bersyukur bertemu dengan Anis, dekat dengan Anis, menjalani waktu bersama Anis,
Saya tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya saya (yang sering kena jackpot buruk selama koas) jika solmet saya bukan dia,
Karena tidak bisa saya pungkiri, bahwa saya survive di koas salah satunya adalah karena solmet saya adalah Anis,
Karena dia selalu ada di samping saya, terus menerus selama 2 tahun,
Karena dia ada, saya bisa tersenyum walaupun jadi koas kadang tidak mudah,
She made me smiled,
And she made me stronger,

Maafin saya ya Anis, kalo saya bukan solmet yang baik dan banyak bergantung sama kamu selama koas :’(
Maaf kalo kadang solmetmu ini egois dan suka moro-moro kebablasan tidur waktu jaga :p

Thanks, for being my friend, one of the best friends I’ve ever had,
Wish this bond will last forever :’)



Love you as always,
Your solmetkoas

NB: eeehh… kok panjang ya ternyata tulisan saya? f(-__-“)