Senin, 29 Desember 2014
Best Wisdom of The Year
Minggu, 28 Desember 2014
Silliest Judgement of the Year
Bukan sekedar judgement biasa, lebih seperti 'mantera' yang mereka sebul ke saya terkait masa depan saya...
... yang semuanya (pada akhirnya) tidak berlaku ke saya, btw.
One said, "Kau pasti bakal bosan pakai ransel dan mulai pake tas jinjing,"
The fact, ransel masih jadi pilihan saya di hampir segala situasi. Lihat deh, lihat deh, para pembicara seminar yang keren-keren kebanyakan juga pakai ransel.
Siapa tahu kalau pake ransel terus bisa ketularan gitu? Hehehe :D
Alasan saya suka pakai ransel adalah:
1. Kedua tangan saya bebas bergerak
2. Saya bisa ngautis dengan lebih nyaman pake dua tangan i.e. kadang saya ngetik atau (lebih parah lagi) main game sambil jalan
Selasa, 23 Desember 2014
Silliest Question of The Year
the silliest question of the year was...
"Kukira kamu bakal berhenti main game online?"
and my answer was...
"Hah?" (Kemudian menjelaskan panjaaaaaaaaang tentang mmo)
and the reason of the question was...
...entahlah saya juga tidak tahu... hahaha... coba tanyalah sama yang tanya ke saya, nih akun twitternya @wathee_fullmoon, hahahaha XD
Senin, 22 Desember 2014
Meja Kerja Saya
Dan okelah, jika postingan ini terposting, pasti ada yang nanya, "Lhah katanya bikin laporan malah ngeblog jam 10 malam,"
Sebenarnya lebih parah dari itu sih, ini lho yang saya lakukan di meja saya:
Memento of the Rain
"in rain we think,"
Which is obviously true.
My mp3 rewinds back to the first title but I am still getting nowhere.
What makes me think?
The songs.
Call me weird to list the mp3 here but I'd like to remember it someday when I stumble back into this post.
So, this is the list:
- Shooting Star -Acoustic Ver (Owl City)
- Unwritten (Natasha Bedingfield)
- 3 Things (Jason Mraz)
- Brave (Josh Groban)
- Kimi to Kare to Boku to Kanojo to (Breathe)
- Holding On and Letting Go (Ross Copperman)
- Shine (Jason Mraz)
- Shake It Off (Taylor Swift)
- You're Not Alone (Owl City ft Britt Nicole)
- Here's to Never Growing Up (Avril Lavigne)
- Sweeter than Fiction (Taylor Swift)
- Shatter Me (Lindsey Stirling ft Lzzy Hale)
- Gold -Acoustic Ver (Owl City)
- Hysteria -Acoustic Ver (Nano)
- Titanium (David Guetta ft Sia)
- Wolf Bite (Owl City)
- If No One Will Listen (Kelly Clarkson)
- Let It Go (Demi Lovato)
- Collide -Acoustic Ver (Howie Day)
- Burn (Ellie Goulding)
- Neon Lights (Demi Lovato)
- Beautiful Times (Owl City ft. Lindsey Stirling)
- Brave (Sarah Bareilles)
Minggu, 21 Desember 2014
From Rainfall to Rainbow.
---
Minggu, 30 November 2014
Another Day in Jakarta
Haha, Jakarta, salah satu kota penuh cerita nomor dua setelah kota favorit saya.
Kamis pagi di bandara Abd Saleh, begitu nggledek koper keluar dari mobil ayah saya terdengarlah panggilan untuk penumpang pesawat C agar segera masuk ruang tunggu.
Yah, dalam kondisi masih teler pasca mengawal salah satu event besar, saya pun kaget mendengar pengumuman dan melesat masuk untuk check in.
Begitu boarding pass sudah di tangan, barulah terpikir...
"Kan masih satu setengah jam dari jadwal berangkat, kok sudah dipanggil?"
... dan...
"Lha aku kok ndak telpun orang-orang dulu ya? Emange mereka udah pada datang?"
Dan benar saja, belum ada rombongan saya yang datang, hahaha..
f(-__-")
Lima belas menit kemudian barulah rombongan saya datang satu persatu.
Maka seat saya mencar jauuuuh dari rombongan saya.
Yang saya syukuri karena saya dpt seat 8 sedangkan rombongan saya di seat 23 :p
Ternyata, saya bersebelahan dengan suami teman SMA ibu saya. Hahaha, jadi ibu saya punya teman. Temannya nikah sama orang. Nah terus orangnya ketemu sama saya.
Oh teman ibu saya perempuan btw :p
(sungguh tatabahasa yg kacau)
Dan ternyata orang sebelah saya tadi juga kenal dengan ayah saya.
Dunia ini sempit :p
Setibanya di bandara, saya dijemput panitia acara dan memulai perjalanan ke penginapan P. Melewati suatu jalan yang ada kata Satrio-nya, kami salah ambil jalan layang sehingga bablas ke Sudirman.
Lucunya, setelah kami sudah balik kanan, kami salah ambil jalur via jalan layang lagi, hahaha :p
Well yah, sang panitia ini katanya si keburu lapar gitu.
Maka kami pun menyalakan GPS dan memulai petualangan via jalan Jerry (jalan tikus) di area Pedurenan.
Fyuh... sebuah pelajaran berharga... Sebuah jalan yang nampak besar di GPS belum tentu benar-benar besar dan sebaliknya. Maka mobil merek A kami pun harus mundur teratur kembali ke jalan yang tadi...
(merek A ini (bukan) Alphard)
Jam sudah menunjukkan lewat pukul 13.00 dan makin laparlah kita, hahaha :p
Singkatnya, setelah muter-muter Pedurenan kami akhirnya keluar ke Rasuna Said dan menemukan penginapan P (yang ternyata jalan masuknya sudah kami lewati sebanyak 3x)
Agh...
Next day, hari Jumat, saya yang mengantuk memutuskan untuk menaati terjemah 'coffee break' sebagai ngopi.
Yang saya segera sesali karena kopi yang disediakam panitia adalah tipe Arabika (eh yang asam tu Arabika apa Robusta ya? Kayaknya sih Arabika... haha lupa... pokoknya kopinya asam gitu lah),
Nah, akibat asam itulah, maka gaster saya pun protes.
Lambung saya menolak menerima tegukan ketiga dari kopi tersebut, padahal saya biasanya tawar kopi :p
Saya pun membuat mental note bahwa saya ndak akan ngopi di venue itu.
Next day hari Sabtu, saya (kalo istilah orang Jawa sih) njarak.
Sudah sadar kalau sebelumnya saya ndak tawar kopinya, hari itu saya (karena saking ngantuknya) ngambil kopi lagi, hahaha :p
Sebenarnya saya sudah nambah krimer dan gula, dan rasa asamnya sudah sangat berkurang, tapi...
.... tapi namanya asam tetep aja asam...
Maka...
Segera setelahnya saya pulang ke penginapan dan glundung glundung di kasur karena sakit perut.
Ahaha... f(-__-")
Akibat geglundungan itulah saya ndak ikut teman-teman saya yang main ke toko buku G (dan temen saya balik ke kamar bawa setumpuk buku sambil bilang, "kau sih pake minum kopi segala, tadi tu heaven banget isinya buku semua yg aku yakin kamu pasti suka!)
Oke... my fault, by all means necessary...
f(-__-")
Then last day, hari ini, Minggu adalah... hari... yang paling...
... paling...
... yah pokoknya intinya begini,
Hmm, kami sudah berkumpul di lobi penginapan P dan menunggu jemputan datang, saat saya memutuskan ke toilet dulu.
Nah...
Mungkin ini berhubungan dengan kelelahan serial sehingga saya tidak 100% tapi yang jelas saya lupa apakah saat masuk toilet tadi saya mendorong atau menarik pintunya..
Seingat saya sih, saat masuk tadi saya dorong pintu jadi logikanya saat keluar, harus saya tarik.
Dan itulah yang saya lakukan.
Dan gagal.
What the...? Sang pintu tidak mau dibuka.
Sebelum panik, saya melihat ke sekeliling dan memutuskan untuk menata napas dulu lalu mengingat-ingat apakah tadi itu pull atau push.
Seingat saya sih tadi push, maka sekarang harus pull.
Dan itulah yang saya lakukan.
Dan gagal.
Oke saya pun melihat ke sekeliling dan mendapat ide 'cemerlang': ayo manjat keluar dan bilang ke manajemen bahwa pintunya terkunci otomatis!
Dan itulah yang saya lakukan.
Setengah hati saya berharap ada kamera pengawas sehingga mereka bakal sadar bahwa ada yang mecungul dari kamar mandi (bukan dengan nada horor),
Tapi segera setelah saya memanjat hingga kepala saya bisa melihat keluar toilet, saya sadar bahwa penginapan tersebut menghargai privasi dengan tidak memasang kamera disitu.
Well, okay, what next?
Saya mengedarkan pandang ke ruang toilet lain dan semua pintu yang terbuka mengarah ke dalam, which means, tadi saya benar-benar push saat masuk sehingga saat keluar saya harus pull.
Well okay sudah saya pull dan tidak bisa maka saya memutuskan untuk tetap manjat keluar (jangan ditanya bagaimana saya bisa manjat tembok, anggap saja saya masih punya ilmu panjat pohon yang saya kuasai 20 tahun silam).
Saya segera sadar kalau space diatas kepala saya akan sangat menyulitkan jika saya nekat manjat keluar.
Saya pun juga melihat minimnya pijakan di sisi lain tembok toilet dan saya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengira-ngira dislokasi tulang apa yang bisa terjadi jika saya salah mendarat.
Terpikir untuk teriak, tapi saya urungkan karena membebaskan diri dengan manjat tembok kedengarannya lebih keren daripada teriak minta ditolong.
Merasa perlu menyusun strategi memanjat, saya pun kembali turun dan berhadapan dengan pintu usil yang entah bagaimana mengunci sendiri itu.
Well what a lucky day saya tidak membawa serta hape saya sehingga saya tidak bisa kontak ke teman-teman.
Berdiri di depan pintu, saya mulai mengamati engsel pintu yang terlindung dengan lapisan seperti karpet.
Lapisan itu mencegah saya untuk memperkirakan ke arah mana pintu harus dibuka.
Sambil garuk- garuk kepala saya pun berpikir apa yang bakal terjadi jika pintu ini saya dorong, bukan saya tarik seperti tadi.
Maka dengan semangat kepo, saya menggunakan telunjuk saya untuk mendorong pintu dengan perlahan, seakan saya tidak mau memphp diri saya sendiri....
... dan pintu toilet pun terbuka...
... saya melongo...
... uapaaaa???!!
Beberapa milidetik berikutnya, teman saya masuk ke ruangan tersebut dan berkata, "ayo cepetan, jemputan udah datang tuh!"
Dengan senyum inosen saya, saya pun minta maaf dan segera keluar dari toilet untuk bergabung dengan teman-teman saya.
Saat saya menceritakan hal tersebut pada teman-teman saya, semuanya ngakak.
Oke, petualangan saya yang terakhir kali ini di Jakarta adalah saat saya menuju bandara H dengan diantar oleh panitia.
Nah, berhubung panitia dan saya sama-sama capek, entah kenapa kami bablas masuk ke jalan layang (padahal harusnya ndak) dan nyasar ke Jatinegara. Bzzzt... bzzztt...
Syukurlah saya ndak ketinggalan pesawat :'(
Tapi dapat seat no 31, alias pualing buelakang, hahaha :p
Saat saya keluar untuk ambil bagasi, koper saya ngorok sendirian di roda yang sudah berhenti, hahahaha :p
Moreso, itulah yang saya alami di Jakarta, dan ohya, syukurlah saya sempat dapat doorprize di akhir acara, walaupun belum saya buka tuh kerdus hadiahnya karena saya sudah ngantuk berat.
Yah mungkin besok pagi.
For now... hmmm... so very sleepy...
Jadi sebaiknya saya tidur, apalagi besok pagi ada upacara jam 7 pagi.
See you again, Jakarta. Keep the memories with you :)
(Malang, 30 November 2014, 23.54)
Jumat, 21 November 2014
Selamat Datang Kembali
Belum 100 jam setelah Work and Weekend saya posting, sesuatu yang berbeda (baca; sangat berbeda) justru terjadi.
Okay sebagai starter, saya menemukan gentamisin milik saya, yang notabene amat sangat saya perlukan dalam penelitian saya. Si genta ini sudah menghilang selama beberapa minggu dan saya sudah memutuskan untuk menghentikan pencarian karena cuaca kurang mendukung...
... uhuk... karena saya sudah lelah mencarinya.
Dan ternyata si genta ini duduk manis nicely tucked like so very safe and sound di ceruk pintu kulkas bahan.
Dan si genta ini menghadap ke depan, yang seharusnya (baca: SEHARUSNYA) akan langsung terlihat begitu kulkas dibuka.
Argh, okay, begitulah, saat otak jadi tumpul, maka t-rex di pelupuk mata pun tak nampak...
(bayangkanlah seberapa gede matanya).
Singkat cerita, saya berangkat dari Lab menuju Pasca untuk mempersiapkan kuliah tamu dengan gembira dan penuh semangat (sesuatu yang sudah selama sebulan terakhir nyaris hilang dari keseharian saya bersama Mbah Deadline)
Jadi... ... menjelang kuliah tamu terjadi kehebohan soal moderator, karena moderator yang sudah terpilih entah bagaimana ingin undur diri.
Strictly speaking, sebagai rakyat jelata yang membantu sebuah acara di program studi, normally saya tidak akan terlalu memperhatikan siapa moderatornya. Tugas saya sebagai petugas multimedia tidak menaruh 'perhatikan moderator' dalam tupoksi, tapi 'perhatikan speaker'.
Tapi saya melanggar tupoksi saya dan memperhatikan gerak gerik sang moderator.
Kenapa? Tentunya karena moderator saya ini spesial buat saya (wadaw, ada yang ngelempar sepatu) karena beliau adalah mantan penguji saya.
Well, lebih tepatnya nyaris menjadi penguji, karena saya berhasil meraih nilai cukup untuk bebas ujian akhir dan tidak bertemu dengan beliau di kursi panas. Sekilas terkenang upaya saya untuk membebaskan diri dari ujian karena saya amat sangat SANGAT khawatir dengan nilai ujian saya. Saya hampir yakin bahwa saya tidak akan lulus jika saya tidak bisa membebaskan diri dari ujian akhir.
Well I made it alive, sodara-sodara. Worth a fight banget endingnya di tahun 2013.
Maka kuliah tamu pun berjalan lancar, saya berhasil mengawal multimedia dan terutama kelancaran presentasi speaker selama acara berlangsung.
(Oke, sejak dulu saya 'dipercaya' punya skill khusus soal pengawalan yang satu ini dan saya selalu enjoy menjadi pengawal)
Begitu kuliah tamu selesai, saya memasang diri untuk dihujani permintaan mahasiswa yang ngopi kuliah. maka saya menyodorkan laptop untuk mereka isi dengan alamat email mereka sementara saya kukut-kukut peralatan lainnya.
And then that was the moment of truth saat mantan penguji saya mendatangi saya dan menghujani dengan sejumlah besar pertanyaan bernada ketidakpuasan beliau atas kuliah hari itu.
Saya (yang notabene bukan orang yang bertanggung jawab penuh atas hal tersebut) pastinya memiliki dua opsi: diam ketika disalahkan atau mengklarifikasi dengan sopan.
Santai saja, saya lakukan yang kedua kok.
Well at least I was trying to do the second choice, until it got in my nerves so hard and I... uh... kind of... change into offensive mode.
Haha... mungkin saya masih sakit hati atas perlakuan beliau di masa lalu, mungkin saya sudah dalam kondisi terlalu lelah, mungkin sederhananya saya tidak suka disalahkan atas sesuatu yang tidak saya lakukan, atau mungkin ketiga-tiganya benar...
Tapi ya itulah, I shot back the fire thrown at me.
Dan terjadilah sinetron.
Padahal saya pinginnya jadi serial laga.
#eh
Kemudian saya kembali ke Lab dan beberapa orang langsung menanyai saya, "Udah selesai nih perangnya?" dan membuat saya ketawa ngakak. Terakhir kali saya membela diri saat disalahkan pada saat saya masih berstatus koas di sebuah rumah sakit, nilai akhir saya kena diskon.
Tapi saya bukan lagi mahasiswa. Saya berdiri di tempat yang sama dengan mereka.
Yah begitulah,
Event selanjutnya yang saya alami adalah badai mahasiswa yang mencari saya untuk konsultasi. Yep, bukan hanya kami yang dikerjain sama Mbak Deadline, tapi juga mahasiswa.
Yang mengejutkan, justru saya malah banyak tertawa dan tertawa bersama mereka. Bahkan kami sempat membahas perbedaan umur diantara kami yang sebenarnya tidak begitu jauh.
Membimbing penelitian mereka tanpa diduga memberikan efek positif pada saya. Pada dasarnya saya adalah orang yang sangat kepo, jadi penelitian adalah sesuatu yang sangat saya sukai, karena saat meneliti, saya bebas mengaplikasikan kekepoan saya sampai di tahap manapun.
Dengan meneliti juga, saya memperluas cakrawala kepo saya menjadi lebih dan lebih lebar lagi.
Kegiatan pun lalu berlanjut dengan kuliah di siang hari pada hari Jumat. Saat masuk kelas, saya sudah mendeklarasikan bahwa saya tidak akan melarang mereka tertidur karena anginnya sangat semilir. Maklum kelas tersebut semi-outdoor, jadi angin semilir di siang yang panas tidak akan terhalang oleh apapun untuk membelai benak-benak yang lelah.
Saya sebenarnya tidak punya tips apapun dalam menghadapi kelas di siang hari seperti itu, jadi ya saya jujur saja mengatakan bahwa mereka bebas untuk tidur dengan tambahan 'tapi saya akan sangat bersyukur jika kalian mau meluangkan waktu untuk mendengarkan saya sebentar saja'
Dan di akhir sesi tersebut, sembilan dari delapan puluh orang mengacungkan jari untuk bertanya, padahal jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Guess I did a good job then :)
Setelah kuliah tersebut, saya pun berjalan (sempat kesandung) menuju Plue sambil tersenyam-senyum. Ada suatu rasa puas tersendiri yang sudah lama tidak saya rasakan karena pressure yang saya alami. Sejujurnya, saya menikmati berdiri di depan kelas seperti itu karena pada saat itulah juga saya bisa menularkan kekepoan saya pada semua yang hadir.
Hahaha, tidak selalu berhasil sih, tapi cukup membuat suasana lebih tidak seperti kuburan saat kuliah berlangsung :p
Bersama Plue, saya pun menempuh perjalanan pulang. Saat sadar, saya sudah karaokean di dalam Plue dan saya pun tertawa (sendirian).
Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya pulang dengan perasaan seperti itu. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya pulang sambil karaokean seperti itu.
So i giggled along the road for the sake of weirdness. THIS IS MY OLD UNRESTRAINED SELF.
Saya menyimpulkan bahwa jika ada hal yang paling memberikan kekuatan pada saya, maka hal itu adalah kebebasan.
Bukan kebebasan sebebas-bebasnya, tapi bebas menggunakan potensi saya seperti yang saya inginkan, bebas berdiri di atas kaki saya sendiri tanpa terjebak keharusan tunduk pada sesuatu yang bertentangan dengan saya dan... bebas kepo semau saya.
Hari ini, saya mengucapkan selamat datang kembali pada diri saya yang sebenarnya, diri saya yang bebas berpikir semau saya, bebas mengeksplorasi potensi diri saya sendiri dan mengaplikasikannya sesuai yang saya inginkan (... ... dalam batas normal, tentunya).
Saya mungkin masih bukan siapa-siapa, tapi semua orang juga mulainya dari situ kan? Kalau seseorang sudah di puncak maka ia tidak punya jalan lain kecuali diam atau kembali turun ke bawah.
Life is interesting again once I get hold of my own self again. Once again, I'll do my best once again. If I ever fail again, I will get back up and try again. If I ever cry again, I will accept my sadness and wipe my tears again. If I ever fear again, I will accept the fear and learn to overcome it again.
This is my life, this is my magic.
Rabu, 19 November 2014
Work and Weekend
Senin, 10 November 2014
10 November 2014
I will remember today,
As the day when I jumped higher than the spectacle,
As the day when I finally opened the closed door,
Today I let the real me overcome what I thought I could never overcome,
May Allah continue this story and make a new happy ending for stars of the galaxy.
13.53. With Plue.
Selasa, 04 November 2014
Grant me Courage
I pray to Allah to give me the strength to overcome my fear,
to break down the chain which prevents me to set myself free,
to unfreeze my tongue so I can speak clearly,
to hold myself steady when I am about to break,
Because this kind of fear is just too high to overcome,
yet the future needs me to be brave enough and jump,
because I cannot turn back, nor wander too long,
Because everything happens from one dot, and returns back to the same dot,
I pray to Allah to help me see clearly between the lines, and grant me the courage for every single step I have to make...
...once again. I would like to try, once again.
Senin, 03 November 2014
Flashback
Kadang,
Kangen sama mereka.
Kangen cara mereka (maksa) membuat saya ketawa lagi.
Kangen cara mereka knocking in some sense in my head.
Kangen cara mereka melihat kenyataan dengan cara yang aneh, tapi benar.
Dulu kami bertengkar, rame, kadang saling menyalahkan, kadang melewati batas bercanda dan bertengkar beneran.
Tapi karena mereka ada, saya baik-baik saja saat saya pikir saya akan kenapa-kenapa.
Ne, ano toki wa hontoo ni samishi deshita. Dakedo, kono hito tachi ga itta ra, atashi wa daijoubu datta. Kono hito tachi no okage de.
Minggu, 19 Oktober 2014
Quest 7: unBEARable

Not only
being the one who stated the idea of forming a guild, Exazio was the one who
first came up with the idea of the guild name. He serves as the guildmaster and one of the
main attackers in the guild. Exazio used to specialize in attack and not too much in defense,
but recently the comeback of Zegro inspires him to pursue the path of defender. Being the most dynamic
person, he levels up faster than anyone in the guild. He catches up with Zegro in term of defense without sacrificing too much offensive power. Exazio is currently the knight in the guild with highest offensive power and only second to Zegro in term of defense. With this advanced skill, Exazio excels at both solo fighting and in party. Cromag
calls him ‘the bearmaster’, which is then followed by other guildsmen.
She was the
first female to join the guild. Though she easily befriended Bluefeather who
joined afterwards, Ermira likes to venture on her own. Ermira is third in line after Cromag and Zalbard in term of offensive power. She is
frequently compared to Furato in term of girlish action and thus made the two
easily clashes with each other. Despite of her demeanor, Ermira excels in
wielding deadly weapons, and sometimes scares away people with her cunning
outer persona. So far she is the only katar user between assassins of the
guild. Rabu, 01 Oktober 2014
One Brain
One brain is never enough to solve anything.
So forgive your imperfection.
And forgive others who over expected you to be so very perfect.
Solve things like you have nothing to lose, because no one can actually do better than what you are doing right now.
#selftalk
#selfmotivation







