Rabu, 01 Oktober 2014

One Brain

One brain is never enough to solve anything.
So forgive your imperfection.
And forgive others who over expected you to be so very perfect.
Solve things like you have nothing to lose, because no one can actually do better than what you are doing right now.

#selftalk
#selfmotivation

Jumat, 19 September 2014

Stay positive, myself

Biasanya, kalau mulai sering nulis blog, artinya kadar stress mulai menumpuk mendekati ambang batas toleransi.

Is this a diary of me? Sort of it..

Jumat pagi,
Kembali sekali lagi diingatkan oleh Allah bahwa, untuk setiap hal yang dilebihkan, ada hal lain yg dikurangkan,
Dan untuk setiap hal yang dikurangkan, ada hal lain yang dilebihkan,
Allah tidak akan membebankan pada seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Jadi, tidak ada alasan untuk berkecil hati, tidak ada alasan untuk besar kepala, dan tidak ada alasan untuk kurang percaya diri.

Jika setiap hal yang terjadi adalah bagian dari biografi yang ditulis oleh-Nya tentang kita, maka dalam biografi itu pula akan ada pintu keluar dari setiap ruang permasalahan.
Jika tidak ada pintu, mungkin ada jendela.

Hang in there, myself,
Stay positive.

Rabu, 17 September 2014

Kalau Hidup Banyak Rasa...

Ya itulah hidup,
Banyak rasa, kemarin semangat naikin sang wizard, sekarang mendadak dapat tamu PENTING.
Penting sehingga masa depan saya di negeri orang dapat tergantung pada ketemunya saya dengan beliau saat ini...
Banyak rasa, kemarin mbulet kirim surat undangan, hari ini tadi surat undangan dikembalikan karena ada salah tulis.
Banyak rasa, dulu proposal sudah jalan jauh, tetiba harus rombak total sang proposal karena ada anggaran yang belum masuk.
Notabene, posisi saya sekretaris lho, bukan ketua apalagi bendahara.
Lalu kenapa saya yang heboh?
Ya begitulah... hahahaha :p
Banyak rasa, saat kemarin malam (seperti yang saya bilang) saya semangat naikin level sang wizard, saya baru ingat hari ini saya ada jadwal memberi kuliah.
Alhamdulillaah, dengan sedikit acara buka buku ekspress, saya bisa kembali memahami apa yang mau saya ceritakan ke mahasiswa.
Banyak rasa, saat saya beberapa jam yang lalu masih bingung mau cari laptop dengan VGA keren, sekarang mendadak merasa ndak bakalan sempat mindah file kalau jadi beli laptop baru.
Ndak ngaruh sih, saya tetep pingin beli laptop.

Jadi,
Kalau ada yang tanya ke saya,
"Kau lagi sibuk ta?"
Jawaban saya adalah,
"Ndak sibuk kok, cuma lagi pelihara beberapa ekor gajah diatas kepala, doakan aja mereka ndak pipis sembarangan ya..."

Mungkin saya butuh liburan.
Ahaha.... *ketawa aneh*

Kamis, 11 September 2014

My Dream

I do not need anyone to tell me that I have to go and get my dream.
I have told you, I will shine, everywhere I am. I shine through everything.
My dream is set, and no matter where my road comes to, I will get it, my own way.
I am not chasing my dream for anyone or because of anyone telling me to. I chase it, shape it, run to it, because of my own determination, as a child, as adolescence, as teenager, and now, as an adult.
Do not bother to tell me what to do with my dream,
Ever.
Because for me, it is insulting.

Hmm...did I just post another happy post in Malioboro Express?
Well iya sih saya masih di kereta yang sama, cuma tetiba pingin posting saja :p

Rabu, 10 September 2014

23.52, Malioboro Express

Saat ini 23.52, harus segera ditulis sebelum ganti hari.
Setelah petualangan saya ke Jogja sejak beberapa hari yang lalu demi monitoring evaluasi riset bimbingan iptekdok, saya pulang juga, hehe..
Mixed feeling sih meninggalkan Jogja, apalagi waktu kereta sampai di Solo Balapan.
Duh what am I doing?
Beberapa jam lagi, saya akan kembali ke rutinitas, dikejar deadline menemukan kuman tertentu dan segudang chain of activities lainnya.
Dalam gerbong berisi dengkuran dari segala penjuru ini, alhamdulillah, saya saat ini bisa duduk mensyukuri semua hal yg saya alami.
Semoga dengan ini semuanya akan menjadi lebih baik,
Semoga kuman saya yang jadi the most wanted in South East Asia segera muncul kembali,
Semoga riset saya berjalan lebih lancar lagi,
Semoga dengan ini cita-cita masa kecil saya bisa terwujud,
Apa itu? Hmm... i'm not telling, tapi berhubungan dengan Doraemon dan Ultraman, hahaha :D
Good night, road, wherever I am right now,
I really love this world.

Alhamdulillaah...
23.58, Malioboro Express.

Rabu, 20 Agustus 2014

Quest 22: Brave

Siennra is one of the bravest people I have ever known. Yang benar saja? Hahaha, seperti sebagian besar manusia lain, maka saya pun tersusun atas kumpulan fearsworries, oksigen, plus, tentu saja, tanah. Pilihan ada di tangan saya, untuk terus terpaku dalam kenegatifan atau memutuskan untuk bergerak ke kutub positif.

Bukan hal mudah memang, apalagi dengan so many people stare at me like that I am the most saddened person in the world, haha :p

Lha terus kenapa? Saya sih ndak mau menganggap diri sebagai korban, dan saya ndak begitu peduli juga orang-orang mau menilai seperti apa. Toh saya juga tidak punya waktu, dan, tidak mau mengorbankan waktu, buat re-explaining. People may judge, hak mereka. Saya pun juga, punya judgement seperti mereka.

Tapi memang, saat saya benar-benar menarik diri dari komunitas untuk menenangkan diri, saat itulah saya tahu siapa yang cukup care untuk mencari saya. Waktu itu saya tidak berharap ditemukan, tapi syukurlah, saat saya membuka mata, saya tidak pernah sendirian.

Mau lari kemana? Tidak ada tempat lari. Mau menutup mata dan telinga seperti apa? Tidak akan pernah bisa, kecuali saya buta dan tuli secara harfiah. Tapi saya masih disini, di tempat dan posisi yang sama, peran yang sama, dengan mata dan telinga yang masih berfungsi, menandakan bahwa peran saya disini belum selesai. Masih ada banyak hal yang harus saya lakukan, apapun itu yang pernah terjadi pada saya.

Saya mungkin tidak se-brave yang dilihat banyak orang, apalagi setegar yang didefinisikan orang-orang terdekat saya, tapi saya cukup pede untuk bangga dengan logika yang saya punya. Saya bangga ketika logika saya bisa menopang saya untuk berdiri sedikit lebih tinggi daripada saya yang dulu.

Bohong banget kalau dibilang there is no lingering feeling,  well duh I do hate some parts of my past,  lha terus kenapa? Semua hal yang saya lakukan adalah setulus-tulusnya, sejujur-jujurnya. I never lied of being who I am, with all the similarities and differences. I was lost to fake-and-obviously-compelled similarities, and so what? Walaupun dunia tidak cukup peduli untuk bersaksi, Allah tidak pernah tidur. Cukuplah Ia yang tahu, cukuplah Ia yang menentukan.


I am brave enough to say that all that I ever care of is my world, and those who are parts of it. 

Minggu, 03 Agustus 2014

9 Years in Review: Tales of The Abyss


You are living your own life. Your memories are yours alone. Don’t deny them. You are here. (Tear to Luke) 

A beautiful story adalah kesan saya secara keseluruhan saat saya menyelesaikan acara nonton anime ini. Diangkat dari game berjudul sama (yang memang pernah saya mainkan) yang pertama kali dirilis pada tahun 2005, anime ini merangkum 70 jam perjalanan dalam game menjadi dongeng 600 menit.

To think this piece of trash is my replica?! I was robbed of my family and my home by this trash?! (Asch to himself)


---------------------------------------------------------------------------------------------------------

One Third Part of the Story Begins…

Planet Auldrant adalah dunia yang dihuni oleh makhluk hidup yang tersusun atas fonon (deskripsi fonon adalah frekuensi suara yang membedakan satu individu dan individu lain seperti fingerprint). Auldrant tersusun atas enam fonon dan satu fonon ketujuh (seventh fonon). Setiap manusia memiliki akses terhadap fonon, namun hanya sebagian kecil yang mampu menguasai seventh fonon. Selain fonon, kehidupan di Auldrant berjalan dengan tuntunan Score. Setiap orang dianjurkan untuk hidup sesuai dengan tuntunan Score agar mereka mendapatkan prosperity yang telah dijanjikan. Para seventh fonist (pengguna seventh fonon) mampu membaca seventh fonstone (Score bagian terakhir) yang dipercaya menyembunyikan rahasia terakhir mengenai planet Auldrant. Oleh karena itulah, kedua kerajaan besar di Auldrant: Kimlasca-Lanvaldear dan Malkuth tak pernah berhenti memperebutkan seventh fonist dan seventh fonstone.

Auldrant meyakini rahasia masa depan yang tercantum dalam Score tidak akan bisa dirubah, hingga suatu teknologi yang disebut fomicry merubah keyakinan tersebut…

Who am i? Why was I born?! (Luke to Van)


Fokus utama Tales of the Abyss adalah Luke fon Fabre, pewaris lini ketiga Kerajaan Kimlasca-Lanvaldear yang dibesarkan dalam kungkungan Fabre Manor sejak ia selamat dari penculikan oleh Kerajaan Malkuth. Akibat insiden penculikan tersebut, Luke kehilangan seluruh ingatannya (dan maksud saya semuanya, bahkan ia harus belajar bicara dan berjalan kembali sejak diselamatkan) atas sebab yang tidak diketahui. Dalam kehidupan serba dilayani dan awareness terhadap commoner yang sangat rendah, ia tumbuh menjadi bangsawan manja yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan. Satu-satunya hal yang menghibur Luke adalah sesi latihan pedang oleh tutornya, Van Grants.

Harapan Luke untuk keluar dari kehidupan membosankan pun terwujud saat Tear Grants menyusup masuk ke Fabre Manor untuk membunuh Van. Bukannya berhasil membunuh sasarannya, Tear justru tanpa sengaja menimbulkan hyperresonance dan membawa serta Luke bersamanya ke Tataroo Valley, wilayah Kerajaan Malkuth. Maka perjalanan Tear untuk membawa Luke pulang ke Fabre Manor pun dimulai…

Idiot. (Tear to Luke)


Minggu, 27 Juli 2014

under the blue sky

my favorite color of the sky, blue with no cloud

Looking back at my days,
I had beautiful happiness, which was irreplaceable.
It was crushed like nothing though.
Then I chose to hate, to get angry, to forget, all halfheartedly.

But,
The more I thought of it, the more I found out that I was not someone like that.
After being calmed down a bit, logic took over my sanity and led me to where I had to be.
It was a lot more saddening than what I had experienced years ago, but I was also a lot more powerful than I had been years ago.
I don’t need to be comforted anymore.
I am my own valor healer.

By the end of this Ramadhan, I find my renewed resolution to step forward.
It would be lying to say that I do not have any lingered feeling, either that I forget about what have been done,
It would be lying to say that it is easy to forgive,
It is hard to forgive,
Let alone to forget.

But,
I guess to forget is to try rewriting the history, which is obviously impossible.
I may never be able to forget, but at least, I do have to forgive.
I may still have difficulty to forgive, but at least, I forgive myself,
For being such a fool,
And accept myself as a whole, with all good memories and the bad.
I just have to do what I can do for now and let the rest follow.

Today, under the blue sky of my beloved place, I state a prayer to Allah, to forgive me for having such hatred in my past.
To forgive me for being so blind and deaf through every chance He gave me.
To forgive me for being so stubborn to follow the path that was completely not for me.
To forgive me for being the way I was.
And to give me one more chance to start anew.

Amin…

Senin, 14 Juli 2014

signed, bluefeather, a tribute to Nano's Hysteria

do not judge a song by it's cover. hear it out and then you're allowed to give a comment. this is a song of Nano, titled Hysteria.


lyric of this song consists of chain of truthful words. it tells us about dealing with things we could not accept earlier. this first video link leads you to the acoustic version of the song, meanwhile the second one leads you to the original version. 
i like them both and listen to them alternately. 

oh, and this lyric below is just the creation i made during my stressed-out day.

signed, bluefeather.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

P.S. for one of my best friends who gave me this song, thanks, it means a lot :)
P.S. bluefeather? oh, it is my name in a world. that cute girl on the picture is her portrait :p

Senin, 23 Juni 2014

Aku, Ibu, dan Juni 2014

Tidak ada yang lebih tidak saya sukai di dunia ini daripada kepercayaan yang dihancurkan.  
Ini adalah cerita spontan yang saya alami pada periode 17 Juni 2014 sampai dengan 23 Juni 2014.


Sudah selesai kah?” tanya ibu saya pagi ini, 23 Juni 2014.
Dengan poker face dan ketap ketip saya menelengkan kepala dan kemudian mengerutkan dahi.
Marahmu, sudah selesai?”
Saya tertawa kecil mendengar ibu saya bertanya demikian, “… yah…
Oke, yuk dibahas,”
Sambil melet, saya pun akhirnya bersedia untuk bicara tentang penyebab kemarahan saya yang memuncak dengan agak kurang ‘wajar’ (kata ibu saya). Beliau berkata demikian karena kemarahan saya sempat bocor di Facebook, sementara selama ini tidak pernah sampai segitunya.
(padahal di twitter kata teman saya semacam rapuh porak poranda alias rapopo alias tidak apa apa)

Kepada ibu, saya bercerita semuanya. Mulai dari mimpi buruk yang saya alami satu setengah bulan yang lalu (yang ternyata definitely adalah pertanda), kemudian ‘Suggestion to Follow’ di Twitter (yang sepertinya fitur ini lebih ‘indigo’ dari kelihatannya :p), sampai dengan telepon yang saya terima pada hari Selasa, 17 Juni 2014 sekitar pukul setengah empat sore.
Saya ceritakan alasan kemarahan saya dengan sejujur-jujurnya. Diatas segalanya, kemarahan saya disebabkan karena bohongnya seorang yang sungguh-sungguh saya percayai. Rasanya sulit bagi saya untuk percaya bahwa kepercayaan saya padanya berujung pada kondisi yang seperti saat ini. Saya akui pada ibu, sebelumnya saya selalu percaya bahwa ia adalah orang yang baik dan honest, sehingga saat saya menemukan hal krusial yang ia belokkan, saya pun marah.
Saya merasa kepercayaan saya dikhianati.
Saya sih tidak terlalu mempermasalahkan soal ending (ya masalah sih, tapi tidak ada apa-apanya dibanding dibohongi selama sebulan lebih), tapi janganlah mengkhianati kepercayaan saya. Pada dasarnya saya berhak tahu sejak awal, tapi entah kenapa, entah bagaimana, ia yang saya percayai, justru bertindak sebaliknya.

Satu sisi yang lain adalah saya marah pada diri saya sendiri karena tidak bisa mempergunakan petunjuk di sekeliling saya dengan benar. I should have known, kata saya berkali-kali pada diri saya sendiri. Seharusnya saya lebih percaya pada logika saya dibandingkan hal lain yang saya rasakan di muka bumi ini.
Ibu saya pun berkomentar, “Tapi logikamu itu kadang membuatmu jadi orang kejam,”
Haha, memang sih, saya kejam. Saya bilang pada ibu bahwa sahabat saya bilang, curse yang saya keluarkan terlalu sadis dan saya harus istigfar.

Saya pun bilang pada ibu, bahwa seorang sahabat saya yang lain bilang seperti ini, “Understandable kok kau marah sampai ke taraf seperti itu. Yah semua bahkan bereaksi sama sepertimu. Aku sih mau-mau aja lempar ban serep (yang saya suruh nambahi bom ala kuciang) ke alamat dia, secara alamatnya deket sama alamatku disini, tapi kamu bukan orang yang bisa sungguh-sungguh berharap keburukan bagi orang lain lho… You will forgive, I know that,”

Plus komentar dari sahabat saya yang lain, “Been there. Damn hurt. Kau emang lagi apes. Let it go lah…

Intinya, semua orang terdekat saya bilang bahwa pada akhirnya saya akan memaafkan, karena biasanya saya tidak tahan memiliki emosi negatif terlalu lama (baca: biasanya sebentar tapi intensitas tinggi, katanya).

Ibu saya pun ngakak mendengar cerita saya. “Terus, kasi tau ibu dong, hikmah apa yang kamu dapat sekarang?
 “Orang Jawa adalah yang terbaik?” adalah komentar pertama saya sambil ketap ketip dan garuk-garuk kepala. Tapi dengan segera saya menambahkan, “Ndak juga sih, semua orang pada dasarnya baik. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa meminta ingin lahir di mana dan ingin orang tua seperti apa. Itu bukan alasan untuk memberi judgement ke orang lain,”
Terus?
Setiap kesalahan itu ya bawaan orangnya sendiri-sendiri. Hidup itu isinya cuma pilihan dan konsekuensi,” kata saya sambil nyengir.
Ibu pun tertawa kecil sambil menambahkan, “Ndak lah… isinya juga bisa usaha,”
Saya mengangguk, “Iya. Paling tidak, dengan percaya sama dia, aku sudah berusaha semampuku. Paling tidak, aku ndak bakalan lebih menyesal daripada kalau aku ndak ngapa-ngapain,”

Ibu ikutan mengangguk, “Terus, apa isi doamu sekarang?”
Semoga kebenaran yang tersembunyi bakal terungkap. Semoga hal-hal yang terbelokkan bakal terluruskan. Semoga yang benar akan tetap benar, dan semoga yang salah diberikan kemudahan,”
Ibu saya agak kaget, “Hah? Kemudahan apa?
Sambil memasang muka serius saya menjawab, “Kemudahan bertemu dengan karma,”
Ya ampun, sudahlah, semakin kamu memberatkan yang sudah lewat, semakin langkahmu terbebani lho nduk,”
Saya menghela napas sambil mencucu, “Habisnya, enak aja dia dengan entengnya bohong gitu. Aku lho disini percaya bahwa dia orang yang baik,”
Maafin saja lah…
Dengan keras kepala saya pun menjawab, “Hah? Enak banget? Dia bohong sebegitu lama dan aku disuruh memaafkan gitu?

Ibu saya menghela napas, “Ya sudah, ndak usah dimaafkan juga gakpapa, tapi…”
Tapi…?
Pernah ndak kamu mikir hal seperti apa yang dia alami disana? Apa alasan dia membohongimu? Kenapa dia harus bohong? Apakah murni keinginannya sendiri?
Saya agak melongo, tapi ibu saya melanjutkan dengan serius.
Kamu tu bukan orang yang bodoh lho. Kamu tahu alasan kenapa kamu percaya dan kenapa kamu tidak percaya. Alasan kepercayaanmu ke dia kurang lebih adalah karena kamu tahu dia orang yang baik kan?
Iya sih, tapi bisa saja itu akal-akalan dia biar aku percaya kan?” protes saya.
Ibu saya mengangguk, “Memang. Tapi gimana kalau dia aslinya memang sebaik yang kamu tahu tapi dia terpaksa bohong sama kamu?
Saya tertawa, “Tetep aja, bohong ya bohong,”
Menurut Ibu sih, pasti ada alasannya, dan Ibu yakin kalau kamu bisa meredakan marahmu, kamu tahu apa yang Ibu maksud... Kadang-kadang ya nduk, ada kebenaran yang memang tidak akan pernah terungkap. Bukan karena itu bukan kebenaran, tapi itu hanya sekedar jalan untuk kebenaran lain yang lebih besar,”
Dengan keras kepala saya protes lagi, “Tapi aku masih marah,”
Iya keliatan jelas kok (dan saya nyengir waktu ibu bilang ini). Tapi seperti yang dibilang temen-temenmu, kamu bakal memaafkan, entah kapan. Kayaknya sih ndak lama, eh ya ndak tau sih, kamu tu kadang aneh dan ndak bisa ditebak (aih… ini ibu saya yang bilang lho). Yah, apapun lah, mau kamu tetep marah atau mau maafin pun, yang jelas, yang sudah selesai ya sudah, ndak bisa kamu bawa kemana-mana lagi. Ibu yakin, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kedepan,”

Setelah diam mencerna kata-kata ibu, saya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan keluar. Dua pertiga amarah saya menguap saat saya berbincang dengan ibu saya (walaupun saya mungkin tidak mengakui sih ke ibu).

Semoga yang benar akan terungkap. Semoga yang benar akan dimunculkan. Semoga yang salah-salah akan tenggelam dengan cara yang damai. Semoga semua hal benar yang terbelokkan akan terluruskan kembali dan dunia akan paham apa yang sebenarnya terjadi.

Saya sih ndak mau berubah, akan tetap all out dalam segalanya. Saya sudah belajar sejak bertahun-tahun silam bahwa menyesal karena gagal masih selalu lebih baik daripada menyesal karena tidak melakukan apa-apa.

the mementos of 'don't be angry' and 'we are here by your side'

(ditulis sambil reminiscence tentang hal yang saya alami sejak Maret hingga Juni 2014 sambil ditemani lagu instrumental favorit saya FALLING DOWN (by Shoji Meguro). Kemudian buru-buru mandi dan berangkat ngampus :p)

Kamis, 19 Juni 2014

Pikiran yang Terdalam

In my deepest thought.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you die that easily.
It would be better if you lost your will.
You will not die, but inside, you die literally.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you suffer that instant.
It would be better if you lost your happiness.
You will not die, but inside, you suffer endlessly.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you smile on your death.
It would be better if you lost your precious.
You will not die, but inside, you cry in loneliness.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you enjoy your last breath.
It would be better if you lost your nerves.
You will not die, but inside, you breathe in difficulty.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you feel forgiven.
It would be better if you lost your sanity.
You will not die, but inside, you lost your insight.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not let you die easily.
It would be better if you lost in the dark.
You will not die, but inside, you rot and blind.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not kill anyone.
Angels around me said I could not do that.
It will only lessen my level to yours.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not dirt my hands.
Angels around me stated our difference.
I will not kill someone like you once did, literally.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not see any blood.
Angels around me showed the lives I have to protect.
I live to protect and never to abandon.

I could kill someone with this anger.
But no, I will not kill you.
You are not worthy even a second to be killed by me.

So let life do its turn and kill you itself the way it wants.

Kamis, 01 Mei 2014

Quest 15: Right and Wrong Answer, Co-exist in Every Decision

Here goes, my favorite screencapture from my favorite Patrick:


From Malang, April 2nd, 2014.

...and, that is so true,
thanks Pat, I hope you will not kill me because I put your original name and photo :p

Selasa, 15 April 2014

Sevens, the Enthusiasts.


Being seven is easy.

We just need to live our life, make it fun and choose to be happy. Sevens are strong people who always stay positive. We believe that everything will turn out fine, and we find powers to make fine endings simply from believing. Sevens see everything from both sides and try not to judge before pointing out positive traits. We love to spread out positive thoughts to people.

Some people state that Sevens are the children of Enneagram. Not that we are childish but more that we have childlike nature inside us. It is not difficult to attract Sevens’ attention. We are easily feel enthusiasm and fall in love with many things. We are easily drowned into things we love, and if it comes to our dream job, we are willing to do our best with tremendous stamina. We are commonly praised for our energetic and fast-paced nature, like we never run out of fuel.

Inside, Sevens value future perspective highly. We like to plan, brainstorm and daydream. We tend to let ourselves open to many changes and new things that are about to come. We are not afraid of changes, instead, we are thrilled. As we grow up, we start to learn about consequences and tend to choose the happiest choice when possible.

Sevens leave the past as it is, never seem to regret it more than once in a short time. We have natural ability to move on. Like others, some of us are easily hurt, but all of us have the same special reflex to think positively of our surrounding. In summary, we naturally seek positive traits of anything to feel blessed and happy because we never like negative feelings.

As we have many things that interest us, Sevens have very big chance to master many distinct abilities. Many people praise us for our wide array of skills, both as professionals and amateurs. Something that draws out our creativity and ideas usually becomes our subjects, as Sevens are unstoppable active thinkers. Point out any trouble to us, we will automatically spin our mind to make many way out.

Grown up Sevens usually take the best traits of Fives, the Observers. At best, we are up to par to Fives in listening, watching and reading our surrounding without making any intervention. This growth counterattacks our previous tendency to jump over things, but still, we retain the playful nature inside us. Push the right button, and we will back to full-Seven-mode.

Sevens’ wisdom usually is the cumulative experience from our habit to jump over things. At one point, we have experienced so many things that others might have never experienced before. Many people define Sevens’ wisdom as sobrieties, a state when we no longer make measurement of anything. We willingly accept ourselves and our surrounding with all positives and negatives, and let life happens as it is. Together with observation skill adapted from Fives, we are usually seen as people with broad perspective, one of the broadest in Enneagram.


http://www.enneagraminstitute.com

Being seven is hard.

We are not connected to our fear. Instead, we tend to avoid it. When we fear something, or being hurt by something, we tend to distract our mind so the negative feelings will not bother us. While it may seem positive, nobody can hide from their fear for too long. One day we will have to face it again.  Though, when faced with overly negative feeling, Sevens will withdraw themselves from the main cause and tend to choose other path in order to protect themselves.

Sevens tend to wish for many things. It will be very difficult for us if someone asks us, ‘What is one thing you want in life?’. We have many interests and many things that amaze us. Life is too broad for wanting only one thing. It comes in cost that we constantly need to experience as many things as possible. Some people call this trait as ‘gluttony of experience’.

Having a fully-fueled locomotive planted in our feet, sometimes Sevens are over-expecting other people to have the same pace as us. Some people define us as impatient community. Some people see us as shallow, because we seem to move on very quickly from one thing to another. It is not completely wrong, but we still have ability to feel strong connections to others. The only difference between us and non-Sevens is that we avoid being negative for too long, because our basic need is find bless and happiness. How can we do that if we are too busy dwelling on negative feelings?

It is true that we like to study many things, but we have a relatively short span of concentration. We need new things to explore from time to time or we will be easily subjected to boredom. It comes in cost that we might not be able to learn something very deeply because we tend to jump over from one thing to another.

Ideas are holy for us Sevens, which means that we work best at the place where ideas are appreciated. We are easily frustrated by repetitive works, inability to jump over things and mostly when our ideas are not appreciated. Moreover, although Sevens are excellent brainstormers, we are not as best as other Enneagrams in case of finishing things. This is due to unstoppable flow of ideas inside our head, and we have very high tendency to follow our new ideas than finishing the previous ones.

At worst, we are much like Ones in bad state. High stress environment and or having no time to enjoy our life might trigger this deprivation. We might still have tendency to spin our mind to find a way out, but our machine seems to work less accurate. As the result, we might become perfect perfectionists and overly critical about our surroundings.

Finally, Sevens are prone to ‘rebound phenomenon’ because of their constant need to stray away from negative feelings. Deep down we realize that the buried feeling might be a time bomb for us. Just to let you know, healthy Sevens learn to accept their negative feeling, but most of us refuse to let it dominate our mind. We choose to think positively after we accept the negative.

  
http://www.davetomlinson.co.uk
I am Seven and I feel blessed (Siennra, 2014)

Minggu, 23 Maret 2014

Seminggu di Pusbangtendik


Quest 10: Seminggu di Pusbangtendik

Kesan awal….  seram sekali bangunannya… bakalan betah nggak ya disini… bakalan sekamar sama siapa nih… gimana kalo begini dan gimana kalo begitu?

Senin, 27 Maret 2014, setelah melewati banjir dalam perjalanan dari Halim Perdana Kusuma ke Kota Depok, saya akhirnya sampai di Pusbangtendik sekitar pukul 14.00. Berangkat terpisah dari rombongan Brawijaya (yang sudah sampai di Pusbang sehari sebelumnya) membuat saya waswas dengan siapa saya harus berbagi tempat tinggal sementara. Sistem disini adalah siapa yang datang bersama-sama akan mendapatkan tempat yang sama. Nah saya yang kancrit ini… yah…

Yah, tentu saja, lebih menyenangkan jika bersama-sama dengan teman-teman senasib dari universitas yang sama kan?

Saya yang pertama datang di home saya pada saat itu dan kondisinya masih sangat gelap sekali karena belum ada lampu yang menyala. Teman sekamar saya datang beberapa menit setelah saya mulai bongkar-bongkar barang. Kesan pertama saya adalah… waduh… orangnya gimana ya? Bakal bisa get along nggak ya...

Hal lain yang membuat saya sedih di hari pertama saya di pusbang ini adalah saya kaliren. Hahahaha XD. Secara saya hanya sempat sarapan jam 6 pagi dan ternyata di pusbang hanya disediakan makan malam saja pada hari kedatangan saya. Wew… ingin sih keluar pusbang, tapi home saya letaknya lumayan jauh dari gerbang, dan saya tidak tahu harus kemana cari makanan. Apakah saya mencari teman-teman seuniv saya pada akhirnya?

Enggak lah… saya mah males jalan dan nyari mereka karena takut nyasar.

Jadi apa yang saya lakukan? Tidur sampai jam makan, yaitu jam 6 sore :p

Kesan awal memang seperti orang asing, padahal Brawijaya adalah penyumbang lebih dari 25% peserta diklat disini. Namun pada akhirnya karena rasa keterasingan saya itulah, saya justru merasa bebas. Kok bisa?

Ehem, jadi begini… wanita itu… biasanya… kemana-mana sukanya barengan. Saling tunggu. Saling gak mau duluan. Katanya sih toleransi. Lhah kalo saya? Ya kalo waktunya jalan ya jalan, ngapain dilama-lamain? Kalau pas waktu jalannya pas sama saya nanti pasti ketemu saya, itulah prinsip saya. Hal inilah yang membuat saya sering jalan ‘sendirian’, dalam artian tidak bergerombol dengan para wanita lainnya, meskipun tetap bersama-sama.

Apakah saya wanita? Hahaha f(-__-“)

Permasalahan termengerikan disini bagi saya adalah cuaca yang kering. Arid, kalau mau agak ekstrim. Akibatnya, kulit saya pun menjadi kering sekali, ada beberapa fisura di kulit wajah dan bibir pun pecah-pecah SEJAK hari pertama saya datang kemari. Pemakaian pelembab bibir dan pelembab wajah tidak banyak membantu, sehingga kadar kecantikan saya berkurang sekitar 5-7%.

Masih terkait cuaca, walaupun kering, anehnya, disini setiap hari hujan. Saya juga heran kenapa ekses hujan ini tidak bisa memperbaiki kekeringan di cuaca Depok. Akibat paling wow dari hal ini adalah sulitnya mengeringkan cucian. Maka akibat males mikir, saya pun ngeloundry pakaian-pakaian yang tebal.

Permasalahan lain adalah… hmmm… airnya yang agak keruh. Warna air disini agak kecoklatan dan hal itu cukup mengurangi poin kebetahan di tempat ini.

Kemudian soal makanan, banyak udang berkeliaran dimana-mana. Walaupun sang tersangka bukan cuma udang sih… Saya sempat mengalami kelompak mata mbendol akibat makan ikan asin. Namun terima kasih sekali pada Interhistin, kadar kecantikan saya tidak terlalu berkurang banyak (serasa ada yang ngelempar sandal gara-gara daritadi bilang kadar kecantikan).

Hal mengerikan lain yang terjadi disini adalah saya menemukan binatang melata di kamar mandi pas dibawah kaki saya sehingga saya nyaris berteriak sekeras-kerasnya. Sudah tidak usah dibahas. Saya tidak suka binatang melata.


Oke, sekarang hal yang menyenangkan…

Hmm… banyak bertemu orang-orang dari seluruh Indonesia, dengan berbagai latar belakang dan keahlian. Klise kah? Nggak juga, memang itu yang terjadi. Sisi baiknya adalah kita jadi bisa memperluas wawasan. Sisi buruknya adalah karena latar belakang berbeda jadi kalau kelompokan dengan yang suka ngeyel akibatnya jadi lamaaaaa gak selese selese, hahahaha XD

Kemudian saya jadi rajin olahraga lagi disini karena memang diwajibkan untuk senam pagi hampir setiap hari. Lumayan lah badan jadi segar dan tidak perlu khawatir masuk angin. Walaupun yah… bingung juga mau mandi habis senam soalnya badan masih keringetan dan sejam lagi harus apel dan belum sarapan pula. Ahahaha XD

Hal yang menyenangkan lagi… hmm… next time, next time, kalau sempet nulis lagi sih, ehehe…

Sekarang saya mau nggarap peer dulu karena besok maju presentasi :p