Kamis, 15 Agustus 2013

The Bartimaeus Trilogy - Review - Novel Favorit Saya

Salah satu hobi saya adalah tenggelam di balik novel, jujur saja. Novel-novel pilihan saya adalah novel fantasi yang memuat cerita tentang alternate universe dan berhubungan dengan magic alias sihir. Hehehe…

Sejak kecil, saya memiliki ketertarikan khusus pada cerita-cerita  yang mengedepankan adanya unsur sihir-menyihir, sebut saja koleksi saya ketika kecil adalah benda-benda yang saya yakini sebagai topi kerucut penyihir dan jubah penyihir *nyengir*. Bagi saya, seru aja sih, memiliki kemampuan magis (tolong jangan dibayangkan sebagai sihir tradisional yang bercat hitam macam santet dan sebagainya yak…), bisa terbang di udara dengan naik sapu terbang dan sebagainya *nyengir lagi*

Jadi jangan heran kalau koleksi novel saya 98% akan memiliki korelasi terhadap sesuatu yang magikal dalam ceritanya…

Oh ya, just to let you know, saya bukan penikmat Harry Potter. Saya sempat baca sampai dengan novel keempatnya lalu mandeg. Kenapa? Terlalu dipanjang-panjangin, saya jadi bosan, belum lagi biaya yang luar biasa besar untuk beli satu novel Harry Potter yang bisa saya pake beli novel serupa yang tidak kalah seru atau bahkan lebih seru *ups, ini pendapat pribadi lho*

---

Novel ini adalah seri novel pertama yang saya punya, dan kalau boleh dikatakan, merupakan salah satu novel tertua yang saya punya. Judulnya adalah The Bartimaeus Trilogy, karangan Jonathan Stroud, yang diterbitkan di Indonesia pada tahun 2007. Novel ini menjadi satu-satunya novel yang bisa membuat saya harus menahan rasa pingin jejingkrakan di toko buku saat rilis, dan juga merupakan satu-satunya novel dengan ending (di jilid ketiga) yang bisa membuat saya banjir air mata dan merasa mencelos saat membacanya. 

Btw, dalam cerita magis kali ini, diceritakan bahwa penyihir sebenarnya tidak memiliki kekuatan sama sekali, tapi melaksanakan sihirnya melalui bantuan makhluk halus yang secara umum disebut demon. Penyihir harus mengikat demon yang dipanggilnya (summon) dalam pentakel yang melindunginya dari kekuatan mahabesar yang dimiliki si demon

Kekuatan penyihir dinilai dari seberapa banyak dan seberapa besar kekuatan entitas yang ia panggil. Semakin lama demon terikat di Bumi, ia akan semakin kesakitan dan mendekati kematian, karena itulah setiap demon menganggap pemanggilannya ke dunia adalah perbudakan. Namun mereka tidak kuasa melawan penyihir, yang walaupun tidak berkekuatan, tapi dapat menaklukkan mereka dengan sejumlah mantra. 

Satu-satunya yang dapat melindungi demon dari siksa sang master adalah pengetahuan mereka terhadap nama lahir dari penyihir (yang biasanya disembunyikan oleh penyihir bersangkutan). 

Yah, kira-kira begitulah sebagai prolognya.


Buku Pertama: The Amulet of Samarkand.

Buku ini bercerita tentang keinginan seorang murid penyihir bernama lahir Nathaniel untuk diakui oleh komunitas penyihir. Setelah dibuang oleh orang tuanya, Nathaniel menjalani hidup sebagai apprentice dari seorang penyihir senior bernama Arthur Underwood. Nathaniel terlibat insiden ‘kecil’ dengan seorang penyihir berpengaruh bernama Simon Lovelace dan ia pun berniat balas dendam pada Lovelace.

Yah, sebenarnya, karena Nathaniel masih bocah, ia hanya berniat sedikit usil dengan mencuri salah satu artefak berharga milik Lovelace, yaitu Amulet Samarkand dengan cara memanggil jin bernama asli Bartimaeus sebagai budaknya.

Dengan julukan Sakhr-Al-Jinni, Bartimaeus merupakan salah satu jin kuno berusia 5000 tahun yang terkenal akan kepiawaiannya terhindar dari berbagai macam ‘nasib buruk’ dan (kasih bold italic underline nih!) kepiawaiannya memuntahkan sejuta macam usaha untuk membuat sebal siapapun yang pernah bertemu dengannya, termasuk Nathaniel. 

Seakan belum cukup buruk berurusan dengan jin super cerewet ini, Bartimaeus tanpa sengaja mengetahui nama lahir sang penyihir muda (pemanggilan jin tidak disertai dengan perkenalan antara jin dan penyihir, apalagi tuker-tukeran nama dan nomor hape :p) dan menggunakan nama tersebut sebagai pembalik mantra Nathaniel sehingga Nathaniel tidak bisa menghukum Bartimaeus yang super slengek’an dengan cara apapun.

Lucu ya sejauh ini? Yah memang sih, selera humor Bartimaeus yang sarkastik tapi fresh akan membuat novel ini jadi ringan. Tapi masalahnya, Nathaniel (dan Bartimaeus, pada awalnya) tidak menduga bahwa ada rahasia besar yang terkandung di balik Amulet Samarkand. Akibatnya? Sang penyihir muda dan jinnya pun terlibat dalam arus peperangan makhluk halus, nyaris dibunuh oleh kelompok pemberontak pemerintahan (Resistance) dan terjebak kejar-kejaran dengan pembunuh haus darah.


Buku Kedua: The Golem’s Eye
Buku ini bercerita tentang kehidupan Nathaniel, yang kini berganti nama menjadi John Mandrake, sebagai bagian dari pemerintahan Inggris. Dalam usianya yang masih belia, ia telah menjadi apprentice yang bersinar dari salah satu menteri paling berpengaruh di pemerintahan, Jessica Whitwell. 

Dalam kegemilangannya, karir Mandrake terjegal kegiatan Resistance. Akhirnya, bertentangan dengan sumpahnya, ia terpaksa memanggil kembali Bartimaeus, lengkap satu set dengan sejuta sifat buruknya. Berita ‘baik’nya, belum selesai dengan urusan Resistance, Mandrake kembali terjegal oleh kemunculan Golem di kota London.

Mandrake dan Bartimaeus pun kembali bersinggungan jalan dengan Kitty Jones, pemimpin Resistance yang juga merupakan salah satu dari sedikit anggota Resistance yang selamat setelah merampok makam Gladstone (penyihir terpenting dalam sejarah Inggris). Kitty telah mencuri Tongkat Gladstone dan tanpa sengaja melepaskan afrit (ifrit, kalau bahasa Inggrisnya) Honorius ke dunia bebas.

Ketamakan Mandrake atas kekuasaan dan sifat paranoidnya yang tumbuh pesat membuat Bartimaeus merasa (kalau bahasa Bartimaeus sih) jijik. Mandrake dan Kitty juga terlibat ‘baku hantam’, baik secara harfiah maupun tidak, segera setelah Mandrake menemukan gadis tersebut. 

Mandrake pun akhirnya terjebak dalam situasi hidup dan mati saat ia dikejar-kejar Honorius, gagal mengendalikan Tongkat Gladstone dan berada dalam belas kasihan sang Golem. Siapakah yang pada akhirnya menyelamatkan Mandrake? Sampai pada batas manakah loyalitas Bartimaeus sebagai budak Mandrake, dan sampai batas manakah kekeraskepalaan Kitty dapat dipertaruhkan?


Buku Ketiga: Ptolemy’s Gate
Buku ini bercerita tentang masa lalu Bartimaeus, pencarian jati diri Mandrake dan keinginan terselubung Kitty. Mandrake yang paranoid karena pengetahuan Bartimaeus terhadap nama lahirnya, memaksa sang jin menjadi budaknya selama dua tahun tanpa diberi kesempatan beristirahat. Karir Mandrake yang melesat cepat merupakan hasil ‘pengorbanan’ Bartimaeus yang tiada henti. 

Kekuatan Mandrake yang semakin besar memberikan sang penyihir kemampuan untuk memanggil banyak jin berkekuatan besar secara bersamaan dan menghilangkan hak prerogatif Bartimaeus sebagai satu-satunya jin milik Mandrake (baca: Bartimaeus jadi kehilangan nyaris semua kesempatan berekspresi dengan selera humornya yang mengguncang langit). 

Sementara itu, Kitty yang menyadari kebutaannya terhadap sihir, melakukan riset terhadap sihir dan menemukan bukti tentang masa lalu Bartimaeus serta hubungan sang jin dengan penyihir Mesir yang hingga kini masih memiliki hati sang jin, Ptolemy.

Setelah insiden dimana Bartimaeus nyaris tewas, Mandrake memutuskan untuk membebaskan Bartimaeus. Namun dengan segera ia menemukan bahwa sang jin dipanggil oleh ‘penyihir lain’ dan tidak merespon pemanggilannya. Hampir disaat bersamaan, Mandrake bertemu kembali dengan Kitty dan kembali terlibat pertengkaran sengit dengan mantan pemimpin Resistance tersebut.

Masih dibutakan oleh kehausan atas kekuasaan dan paranoia tingkat tinggi, Mandrake kembali mengirim Bartimaeus menuju misi berbahaya segera setelah sang jin dapat ia kuasai kembali, tanpa memerdulikan ‘kesehatan’ Bartimaeus. Namun, sepeninggal sang jin tukang gosip itu, Mandrake dan Kitty justru terlibat pemberontakan demon terbesar sepanjang sejarah. 

Tanpa perlindungan Bartimaeus dan di tengah-tengah pembantaian besar-besaran yang dilakukan demon terhadap manusia, mampukah Mandrake bertahan hidup? Dan sekali lagi, sampai dimanakah kekerasan hati Kitty  bertahan saat para penyihir yang dibencinya kini mati satu demi satu di depan matanya? Dan saat Bartimaeus pada akhirnya memiliki kebebasan untuk memilih lagi setelah 2000 tahun berlalu, maukah dia kembali untuk menyelamatkan ‘Nathaniel’ yang telah dibencinya selama bertahun-tahun? 

Terakhir, adakah master yang akhirnya dapat menyamai rasa cinta Bartimaeus terhadap Ptolemy? Jawabannya… ah, ini lho, tisu…


Spin-off: The Ring of Solomon
Buku ini bercerita tentang kehidupan Bartimaeus, jin berusia 2000 tahun pemilik ejekan terbanyak di seluruh dunia. Gara-gara melakukan kesalahan ‘kecil’ (baca: menelan masternya hidup-hidup), Bartimaeus kini menjadi budak dari Khaba, salah satu penyihir berbahaya kepercayaan Solomon, sang raja Jerusalem. 

Pada saat itu, daratan Arabia dikuasai oleh Solomon dengan bantuan Cincin magis yang mampu menjadi portal yang memungkinkan Solomon memanggil sebanyak mungkin demon ke muka bumi. Arabia pun mematuhi Solomon karena campuran rasa takut dan kekaguman.

Setelah nyaris tanpa sengaja melempar batu berukuran raksasa ke kepala Solomon, Bartimaeus dan kompi jinnya kini dikirim untuk menangani pembantaian di jalur perdagangan Jerusalem. Sang jin pun akhirnya bertemu dengan Asmira, satu-satunya yang selamat dari pembantaian. 

Menyembunyikan niat aslinya, Asmira berhasil membujuk Khaba untuk membebaskan Bartimaeus sebagai balasan atas nyawanya yang diselamatkan sang jin. Namun dengan segera, Asmira menyadari bahwa Khaba berkhianat dan ia pun ‘merebut’ Bartimaeus untuk dipekerjakannya sendiri. Tugas pertama Asmira untuk Bartimaeus adalah: membunuh Solomon dan merebut Cincin Solomon untuk dibawa ke Ratu Sheba.

Walaupun memiliki karir tak terpatahkan selama 2000 tahun, Bartimaeus harus terlibat kucing-kucingan dengan puluhan demon berkekuatan besar yang menjadi pelindung Solomon sambil melindungi Asmira. Dalam sekejap, Jerusalem menjadi tempat pertempuran untuk memperebutkan Cincin Solomon. Tapi adakah yang cukup jeli untuk mengetahui kenyataan tentang Solomon sendiri?

---

Kelebihan dari cerita ini berasal dari personalisasi tokoh-tokoh sentralnya yang unik, yaitu Bartimaeus, Nathaniel (John Mandrake), Kitty Jones, juga Asmira, kalau mau melihat spin-off-nya. Nih sedikit review tentang betapa bertentangannya mereka:


Bartimaeus
Bartimaeus adalah jin yang mengalami masa jaya pada 2000 tahun sebelum dipanggil oleh Nathaniel. Ia adalah jin tingkat menengah dengan sejuta keberuntungan, yang menyebabkan dia selalu mampu berkelit dalam situasi berbahaya dan masih hidup hingga 5000 tahun lamanya.

Kelebihan utama (atau kelemahan?) Bartimaeus ada pada kemampuannya untuk membuat semua orang sebal terhadapnya. Ia memiliki persediaan ejekan yang tiada habis, dan tidak terlalu memperdulikan hukuman yang diterimanya dari penyihir akibat lidahnya yang tak bertulang (kalau dia punya lidah sih). Kelebihan utamanya ini sebenarnya ditunjang dengan kecerdasannya yang (kalau saya boleh menyimpulkan) sangat tinggi dibandingkan demon lainnya. Bartimaeus menggunakan kecerdasannya ini untuk mengakali siapa saja, menyabet kesempatan apa saja dan melenggang santai setelahnya (aduh… ketularan gaya bahasa Bartimaeus ini sepertinya, maafkan… ).

Namun demikian, Bartimaeus memiliki sisi lembut yang hanya ditunjukkan pada Ptolemy. Loyalitas Bartimaeus terhadap Ptolemy adalah yang tertinggi, sampai ke taraf kesediaan Bartimaeus mengorbankan diri untuk sang penyihir. Alasannya? Ada tuh di Ptolemy’s Gate ^^

Bartimaeus ini memiliki banyak nama, misalkan Sakhr-Al-Jinni, N’gorso, dan yang spesial untuknya adalah Rekhyt, nama yang diberikan Ptolemy. Selain Ptolemy, Bartimaeus menganggap rendah manusia dan terutama, pernyihir. Ia tanpa sengaja mengetahui nama lahir Mandrake, yaitu Nathaniel, dan ini (sedikit) menyejajarkannya dengan sang penyihir muda. Bartimaeus membenci Nathaniel, seperti halnya ia membenci penyihir lainnya, dan selalu mencari kesempatan untuk menjatuhkan sang master.


Nathaniel (John Mandrake)
Sebagian besar buku pertama akan menyebutkan Nathaniel, sebagian besar buku kedua akan menyebutkan Mandrake, dan buku ketiga membagi keduanya nyaris hampir sama. Nathaniel memiliki masa kecil yang menyedihkan, dimana ia dijual oleh kedua orang tuanya karena alasan ekonomi. Ia tumbuh menjadi bocah tertutup dan tidak pernah bergaul dengan sesamanya.

Nathaniel memiliki kehausan luar biasa terhadap ilmu pengetahuan, dan hal ini ditunjang dengan otaknya yang encer. Namun demikian, master penyihirnya yang skeptis tidak mengakui kehebatan Nathaniel dan hal tersebut membuat sang bocah frustasi. Puncak rasa frustasi Nathaniel tumpah menjadi pemanggilan terhadap Bartimaeus dan pencurian Amulet Samarkand, yang membuka cerita trilogi ini.

Dengan menggunakan nama John Mandrake, Nathaniel mengunci diri aslinya yang rapuh dan kesepian. Setelah lepas dari master pertamanya, ia tumbuh menjadi remaja jenius yang disegani di kalangan penyihir. Mandrake menjadi kesayangan Perdana Menteri dan dengan mudah mengungguli orang-orang yang meremehkannya di masa lalu.

Namun, seperti halnya remaja lainnya, Mandrake terus terhubung dengan keinginannya untuk mencari tempat yang terbaik untuknya. Ia ingin aman, ingin diakui  serta ingin berkuasa, dan efek sampingnya ia menjadi paranoid.

Mandrake membenci Bartimaeus, namun mengakui bahwa jin tersebut merupakan jin paling efektif yang pernah ia miliki, dan juga satu-satunya jin yang mengetahui nama lahirnya, sehingga ia selalu mempergunakan Bartimaeus dengan sangat hati-hati. Sedangkan hubungan Mandrake dan Kitty, hmm… seperti simbiosis parasitisme. Mandrake sangat memandang rendah Kitty, dan didukung dengan kekalahan-kekalahan telaknya melawan sang pemimpin Resistance, ia pun juga membenci Kitty.  

Sedikit kontras dengan kebencian demi kebencian yang menumpuk dalam hati Mandrake, ia merupakan remaja cerdas dengan tingkat kepercayaan diri jauh diatas rata-rata. Ia memiliki kemampuan menganalisis situasi seperti halnya Bartimaeus, yang makin terasah seiring ia dewasa, namun hal tersebut justru sering menempatkannya pada situasi hidup dan mati, sambil membawa-bawa sang jin, tentunya. Kalau menurut saya, kelemahan terbesar dari Mandrake justru adalah diri kecilnya yang bernama Nathaniel…


Kitty Jones
Berbeda kontras dengan Mandrake, Kitty adalah commoner, manusia biasa yang tidak dikaruniai kemampuan menyihir. Karena sebuah insiden yang nyaris membuatnya terbunuh, ia menemukan bahwa dirinya memiliki kemampuan bertahan terhadap sihir. Kitty menggunakan kemampuan tersebut untuk membangun Resistance, kelompok kecil berisi orang-orang dengan ‘kelebihan’ serupa dengan dirinya untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah.

Sudut pandang Kitty yang dipenuhi ketidakpercayaan terhadap penyihir semakin kuat ketika kelompok Resistance-nya dibantai oleh Honorius, namun juga memberikan pemahaman pada Kitty tentang ketidakberdayaan yang ia miliki. Pertemuannya dengan Bartimaeus saat keduanya berada dalam kuasa Mandrake mengawali keingintahuan Kitty terhadap Dunia Lain, dunia asal para demon.

Kitty memiliki kemauan keras dan tidak mudah dibantah, sekalipun oleh Mandrake. Persamaannya dengan Mandrake adalah bahwa keduanya sama-sama mengalami perlakuan tidak adil bertubi-tubi di masa muda mereka. Kitty, yang tidak seberuntung Mandrake memiliki kualitas gabungan antara keras kepala dan kemampuan survival yang hebat.

Ia tidak pernah sungguh-sungguh menampilkan emosi aslinya di depan orang lain. Kitty menggunakan topeng kepribadian yang bermacam-macam sehingga dapat membaur dengan banyak orang, terutama setelah ia kehilangan hampir seluruh anggota Resistance-nya.  


Asmira
Tokoh yang hanya muncul di Ring of Solomon ini di benak saya mirip dengan gambaran Kagura Mikazuchi di Fairy Tail. Asmira cerdas, memiliki keberanian tinggi dan loyalitas yang tak perlu dipertanyakan. Ia merupakan prajurit terbaik yang dikirim oleh Ratu Balkis, penguasa Sheba untuk membunuh Raja Solomon di Jerusalem.

Asmira dikaruniai kemampuan tinggi dalam pertahanan diri, termasuk terhadap demon (dengan bersenjatakan perak), dan juga memiliki kemampuan memanggil makhluk halus, seperti halnya pendeta matahari yang lain. Loyalitas Asmira digambarkan sebagai blindfold yang mencegah Asmira bertindak rasional dan menggunakan akal sehat (ini kata Bartimaeus lho).

Agak sulit juga mendeskripsikan Asmira, tapi yang jelas, dia mengalami perubahan kepribadian yang cukup drastis dari orang berpikiran tertutup menjadi jauh lebih bijaksana, tanpa mengurangi keberanian yang sudah ia miliki sejak awal.

---

In My Eyes:

Phew, kalau boleh dibilang, versi The Ring of Solomon adalah yang paling ‘ceria’ diantara keempat buku diatas. Boleh dibilang juga, selera humor Bartimaeus dalam buku tersebut jauh lebih ‘mengerikan’. Kalau triloginya sudah membuat saya ngakak sambil geleng-geleng kepala keheranan dengan ide cemerlang Bartimaeus, boleh dibilang si spin-off ini membuat saya gegulingan sambil berjuang berhenti tertawa. Boleh dibilang lagi sih, kalau The Ring of Solomon merupakan obat yang mujarab setelah kisah trilogi yang rilis sebelumnya.

Emangnya kenapa dengan kisah triloginya? Hahaha, saya tidak mau komentar di bagian ini.

Kisah trilogi Bartimaeus merupakan campuran yang tidak sederhana dari intrik dan humor. Sisi lucu dan sisi dark berjalan beriringan dengan kecepatan yang sama, menjadikannya cerita yang memiliki kemampuan untuk bermain dengan emosi pembacanya. Dalam satu titik, kita akan disuguhi kepolosan Nathaniel yang berubah menjadi ketamakan Mandrake, di titik lain kita disuguhi kekeraskepalaan Kitty, dan di titik lain kita disuguhi luka masa lalu dan kebencian Bartimaeus. Tapi, di sisi lain kita akan menemukan kekonyolan perilaku Nathaniel (dan juga Mandrake sih), dan yang mendominasi kocokan lambung, humor ngejleb Bartimaeus.

Menurut saya, buku yang paling seru adalah buku ketiga dari trilogi ini. Selain memberikan konklusi dari cerita luar biasa ini, buku ketiga juga sarat dengan pertentangan batin dari masing-masing tokoh utama (ini mencakup Bartimaeus lho) dengan tanpa melupakan humor sama sekali. Ending… ah, bagaimana saya menjelaskan ya? Sudahkah saya bilang bahwa saya banjir air mata saat pertama kali membacanya? Eniwei, banjir air mata ini masih terjadi setiap saya membaca kembali bagian endingnya ini (setelah agak lama tidak membaca tentunya).

Cerita ini jelas fiktif, jelas tidak masuk akal, jelas hanya imajinasi, jelas tidak mungkin jadi nyata, dan jelas-jelas lumayan panjang untuk diikuti. Tapi novel ini punya daya tarik kuat yang memungkinkan pembacanya untuk tersedot masuk ke dalam dunia yang dihuni Bartimaeus dan Nathaniel. Deskripsi yang detil dan gaya bahasanya yang unik mengajak kita memvisualisasi apa-apa yang sedang disaksikan Bartimaeus, Nathaniel, Kitty, dan juga Asmira.

Kekuatan lain dari serial ini adalah kemampuan sang pengarang menghubungkan kehebatan Bartimaeus dengan berbagai sejarah lama, baik di Mesir, Praha, dan Yunani. Sebut saja Tembok Besar Praha (Prague Great Wall), tenggelamnya Atlantis, juga cerita Nefertiti dan Sphinx. Deskripsi hubungan Bartimaeus dengan Jerusalem, Asiria, Babilonia dan Sheba juga muncul lumayan mendetil. Berubahnya aliran sungai Mesopotamia dan Legenda Minotaur juga jadi bagian deskripsi karir Bartimaeus di novel ini. Menurut saya, yang paling fantastis adalah cerita tentang Solomon dan Cincin Magis yang ia gunakan. Termasuk kemampuan Cincin memanggil ribuan entitas makhluk halus, penolakan lamaran Solomon, deskripsi perjalanan Ratu Balkis dari Sheba yang singkat tapi akurat, dan istana Solomon yang memang mirip dengan cerita yang sudah pernah saya dengar sejak kecil.

Ya tentu saja lah, semua itu merupakan parodi, tapi tetap saja, kemampuan Jonathan Stroud menggabungkan kesemuanya itu kedalam satu kepribadian bersejarah yang ia namai Bartimaeus merupakan sesuatu yang patut diacungi jempol. Kemampuan parodi ini membengkak ke arah yang hebat dan memberikan jaminan ngakak guling-guling pada spin-off ­dari trilogi ini, The Ring of Solomon.

Oke, sekarang kita beranjak ke *ehm* kelemahan dari novel ini. Novel ini disampaikan dalam tiga POV (point of view), yaitu dari Bartimaeus sendiri, Nathaniel dan Kitty (dan pada Ring of Solomon terdapat POV Asmira). Dengan kepribadian ketiganya yang lumayan (sangat) berbeda, maka sepertinya POV-POV tersebut akan memiliki fans sendiri-sendiri.

Yah, jujur saja sih, berhubung saya adalah orang berkepribadian ceria *halah* maka membaca POV dari Kitty, walaupun menarik, namun tidak semenarik POV Bartimaeus dan Nathaniel. POV Kitty mulai muncul di buku kedua, The Golem’s Eye, dan jujur saja, saya baru benar-benar tertarik dengan POV Kitty di setengah akhir buku ketiga.

POV favorit saya, jelas saja, POV Bartimaeus, yang banyak mengandung catatan kaki alias footnote yang informatif dan konyol sekaligus. Biasanya pada catatan kaki, sang jin akan membeberkan penjelasan tentang apa yang sedang ia bicarakan, biasanya sambil disertai dengan narsisme tingkat tinggi dan sikap merendahkan terhadap manusia. Lucunya, cara penyampaian Bartiameus yang blak-blakan malah membuat saya betah membaca POV miliknya.

POV Nathaniel sedikit lebih kelam dari POV Bartimaeus, dan penuh dengan segala macam hal manusiawi, seperti misalnya rasa frustasi, rasa takut, dan kepercayaan diri yang naik turun. Tapi justru pertentangan internal antara Mandrake dan Nathaniel menurut saya menarik. POV yang juga saya suka adalah POV Asmira, yang penuh dengan petualangan, mulai dari Sheba sampai di punggung Solomon. Personally, saya suka personalisasi Asmira dan perubahan cara pikir yang ia alami selama ia bersama Bartimaeus :)

Heh? Kok sudah panjang? Well, that’s it. Saya sih, merekomendasikan novel ini untuk yang menyukai bacaan berbobot dan penuh cerita historis, tanpa membuang unsur humor dan sarkasme unik. Unsur psikologis sebenarnya juga cukup menonjol jadi bisa deh saya rekom untuk penyuka serial yang mengeksplor kepribadian tokoh-tokohnya. Yang suka cerita action, deskripsi aksi Bartimaeus dkk di novel ini sangat detil, jadi saya rekom juga. Untuk penyuka cerita ringan, saya menyarankan The Ring of Solomon sebagai pilihan, tapi saya pikir cerita triloginya juga ndak berat-berat amat kok jadi bisa lah saya rekom keempat-empatnya, hahahaha *gak konsisten*

Intinya, cerita Bartimaeus memiliki aura yang berbeda diantara sekian banyak tebaran cerita yang merupakan hibrida dari magis, action dan petualangan. Sayang untuk tidak dibaca, dan sayang untuk tidak segera diangkat ke layar lebar *whooooiii… yang merasa produser, whoooooiiii! Ayolah cepetan dirilis movienyaaa*


---
dan saya masih menunggu kabar rilis movie ini, hohoho ^^ 

Sabtu, 10 Agustus 2013

'Maaf'

Apalah arti sebuah kata 'maaf'?

Segalanya.
Atau,
Bukan apa-apa.

Bukan hal sulit untuk memaafkan,
memang sih,
tapi ada beberapa hal yang menyebabkan agak sulit untuk memberikan sebuah kata sederhana sebagai balasan permintaan maaf...

Dendam?
Entah ya? Saya lebih memilih menyebut sebagai 'khawatir'
Khawatir jika saya memaafkan dia, maka dia akan kembali mengecewakan saya bertubi-tubi seperti yang sering dia lakukan di masa lalu..

Bukan yang pertama kali buat saya menghadapi dilema seperti itu,
Separuh dari saya ingin memaafkan, namun separuh lagi tidak.
Saya tergoda untuk membiarkan silaturahmi kami terputus, tak peduli betapapun dia meminta,

Hidup ini cuma sekali,
apa salahnya sih menyambung silaturahmi?
Nah, apa salahnya sih memutuskan silaturahmi dengan orang yang tidak pernah menghargai kita sama sekali?

Saya bukan malaikat lho...

Intinya,
saya kapok berhubungan dengan orang tersebut.

Salahkah?

Haha,
Di dunia ini, ada beberapa orang yang sebaiknya kita hindari sampai dengan pemutusan silaturahmi,
Dengan alasan: melindungi diri sendiri

Yah, itulah hidup,
Mau tidak mau, pasti ada saatnya kita memilih tidak memaafkan daripada mengambil risiko dengan memberikan maaf yang sia-sia...

Pada akhirnya, sayalah yang harus meminta maaf,
'Maaf, saya belum bisa mempercayaimu...'

Senin, 22 Juli 2013

Juli 2011 - Juli 2013

Sejuta cerita,” adalah satu-satunya kalimat yang bisa menggambarkan apa yang terjadi dalam rentang waktu itu,
Sekian banyak tawa, sekian banyak kekecewaan, sekian banyak pertemuan dan sekian banyak perpisahan, semua terangkum dalam dua tahun penuh warna selama saya kuliah magister,
What the? Saya kuliah magister bukan untuk cari masalah tapi…

Tapi kenyataannya memang banyak permasalahan yang muncul, dan bukan hanya sekedar banyak,
Banyak sekali, ehehehe XD

Dua tahun sekolah magister, saya disuguhi sekian banyak macam manusia yang bahkan lebih variatif dibanding dua puluh tiga tahun saya hidup,
Tanpa saya sadari, justru yang banyak saya pelajari bukannya masalah materi perkuliahan (karena perkuliahan saya amat sangat membahagiakan, hohoho), tapi bagaimana terus hidup dan terus tersenyum apapun yang terjadi,
Kenapa?
Karena permasalahan akan terus muncul, terus dan terus, dan selama kita masih bernapas maka masalah itu akan selalu ada,
Tinggal bagaimana saya menghadapinya :)

Bisa dibilang, selama tahun 2012, saya seperti kitiran, muter sana-muter sini, mencari tempat dimana saya harus berpijak, mencari rasa aman dan rasa terlindungi, menjauhkan diri dari rasa khawatir dan takut kehilangan,
Uniknya, selepas tahun 2012 saya menemukan bahwa saya sudah berpijak di tempat saya ingin berada, dan saya sadar bahwa tak ada yang lebih bisa membuat saya merasa aman dan terlindungi, selain diri saya sendiri,
Well, to tell you the truth, ada harga yang luar biasa mahal yang harus saya bayar demi melewati 2012,
Harga yang tak semua orang tahu karena saya selalu ketawa ketiwi ngalor ngidul, ahahaha XD
Jangan ditanya, karena bakal butuh SATU BLOG SENDIRI buat menjelaskan apa yang terjadi sejak 1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2012 *halah, lebay*

Nope, seriously, kalau ditanya kapan saat-saat tersulit dalam dua puluh lima tahun hidup saya, itu adalah sepanjang tahun 2012 :’)

Heran juga kok saya masih hidup setelah sempet jadi butiran debu *heh*
Dan ternyata saya masih punya LIVER lho sodara-sodara, hehehehehe XD

Setelah 2012 yang penuh konflik, saya menemukan diri saya menjadi beberapa tingkat lebih dewasa dibandingkan tahun 2011,
Dan saya pun sadar, mungkin karena saya yang tahun 2011 ‘masih seperti itu’-lah, sehingga saya pun dipisahkan Tuhan dari salah satu mimpi terindah yang pernah saya punya,
Dengan cara yang mengenaskan pula, ahahaha XD
Etapi toh sekarang saya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala :p

2013, saya akhirnya sadar kenapa saya mengalami segala macam hal di 2012, kenapa saya dihadapkan pada sekian banyak orang yang bermacam-macam, kenapa saya diharuskan melalui fase-fase yang saya sama sekali tidak suka,
Itu semua karena hidup saya baru saja akan dimulai,
The real one, on my own,

Dua tahun yang lalu, saya ingat pernah bertanya pada saudara saya, “Gimana caramu terus tersenyum?”
Dan dia menjawab agak kebingungan, “Itu… lirik lagu?”
*ngakak*
Yah, sekarang kalau saya lihat kembali sih… iya sih ya… itu kalimat kok berasa kayak lirik lagu ya? *ngakak*

Dulu saya selalu berpikir bahwa orang lain-lah yang merubah saya,
Dan memang, ada beberapa orang dalam kehidupan saya yang memiliki andil besar dalam pembentukan kepribadian saya yang terus berubah sejak saya masuk kepala dua,
Seumur hidup, saya berhutang budi pada mereka, karena seandainya tidak ada mereka, tidak akan ada saya yang sekarang ini,
Hanya saja,
Ternyata sebesar apapun, tetap kita sendirilah yang membuat perubahan terbesar, tentang bagaimana kita memutuskan untuk menanggapi kehidupan dan segala macam bebatuan yang kita temukan di perjalanan kita menuju akhir…

Dua puluh lima tahun, akhirnya saya sampai di titik ini, sebuah poin dimana saya sadar bahwa hidup ini indah,  bukan karena semata-mata takdir, tapi karena kita yang memilih untuk membuatnya indah :)

Oh well… where is my sense of emergency anyway? I kinda lose it for good…


#np Shooting Star, Owl City

Sabtu, 29 Juni 2013

(Satu) Se(tengah)tahun Kemarin

Malam ini saya kondangan barengan ayah ibu saya, kebetulan saya diundang sang mempelai dan ayah saya diundang ayah mempelai,
Yah, lumayan ndak nyopir malem-malem ^^

Sampai di tempat kondangan, tidak banyak wajah yang saya kenal, tapi saya berhasil menemukan dua ekor teman akrab saya semasa kuliah,
Terakhir kami bertemu sekitar November 2011 dan belum pernah ketemu lagi sampai barusan tadi :')

Dan mereka berdua bertanya,
"Penasaran sih, tapi gimana kamu nglewati Januari 2012 dulu?"

Eh?

Dan saya ketawa ngakak, rasanya sudah lama sekali sejak ada yang tanya ke saya tentang hal tersebut, hehehehe ^^

Yah, saya pun akhirnya menceritakan secara singkat apa yang saya alami sepanjang Januari 2012 sambil tertawa geli...
Hihihihi XD
Sungguh, sebenarnya saat saya masih di Januari 2012 dulu, saya tidak pernah membayangkan bisa mengenang kembali masa-masa itu sambil tertawa geli ^^

Waktu menyembuhkan segalanya,
rasa kehilangan,
kekhawatiran,
ketakutan,
Semua akan sembuh dengan sendirinya,
Yang indah akan tetap jadi kenangan indah, yang sedih pun menjadi kenangan yang menyumbang senyuman,

Bukan orang lain yang menyembuhkan kita, tapi diri kita sendiri,
Karena kita yang paling paham tentang semua yang terjadi.

Dan saat ini, saya bersyukur atas semua hal yang terjadi pada saya sepanjang 2012,
Karena dengan itulah, saya menjadi saya yang sekarang ini ^^

I love the 'recent me' a lot more!

Minggu, 23 Juni 2013

If We Never Lose Anything, Our Hands Will Always Too Full to Receive Better Things.

Tak bermaksud curhat,
Postingan singkat ini hanya untuk mengajak yang membaca untuk sedikit menengok kembali dalam kehidupannya masing-masing…
Ada berapa banyak hal yang harus dikorbankan untuk menjadi diri kita yang sekarang?
Berapa banyak hal yang mengecewakan?
Berapa banyak hal yang hilang?
Berapa banyak hal yang berhasil kita lupakan?


Ternyata memang tidak mungkin memiliki segala hal dalam hidup yang entah kapan berakhir ini,
Selalu ada jumlah maksimal tentang berapa banyak hal yang bisa kita ‘punya’, yang kalau kita mau melihat, sebenarnya jumlah tersebut adalah sama pada semua orang,
Tidak ada yang sangat beruntung dan tidak ada yang tidak beruntung.

Semua orang adalah beruntung.

Selalu ada alasan untuk bersyukur atas apa yang kita punya, dan apa yang tak lagi kita punya.

Kalau kita tak pernah kehilangan, tangan kita akan selalu terlalu penuh untuk kebaikan lebih besar yang seharusnya kita dapatkan.
If we never lose anything, our hands will always too full to receive better things.

You Get Something, You Lose Something



Written in three minutes, inspired by the beautiful song of ‘Cactus In The Valley’ by Lights ft Owl City (you can find the lyric here)
Photocredit: Frostbox Blog Maggie

Rabu, 19 Juni 2013

Target Saya Adalah... ...

I keep missing the target. I wonder why...

Butuh segala kebesaran hati buat mengakui hal tersebut.
Bisa dibilang terpelesetnya saya dari target yang saya pasang di awal tahun 2013 ini jauh sekali,
Super sekali jauhnya, sampai semua orang heran melihat saya, hahahaha XD

Saya heran juga sih...
Tidak seperti biasanya saya missing the target terus-terusan.
Tipikal deadliner seperti saya biasanya tetap selesai tepat waktu walaupun pontang panting jumpalitan di akhir sesi.

Masalahnya,
Jangankan pontang panting jumpalitan, berpikir untuk bergerak saja susah minta ampun,
Hehehe...

Sepertinya saya belum cukup bisa membagi waktu antara profesi dan pendidikan,
Artinya,
Saat saya terlibat di profesi, pendidikan saya kepontalan,
Well, being the youngest and all, can I say something else?

Intinya, salah saya sendiri sih...

Agak makjleb juga, saat ada dosen saya yang mendadak bilang begini, "Kamu tuh eman banget, dulu mulai duluan tapi kok selesenya jauh dia duluan, dia tuh sudah masukin sejak maret, sudah keterima, s*opus pula. Kamu kok lama banget,"
Oh dear...
nokomento :p

Guess what,
Hari ini nyaris saja pendidikan saya terjejeg kebelakang lagi,
Yah, bisa dibilang, saya akhirnya protes secara frontal karena saya merasa ini saatnya saya memikirkan masa depan saya, Toh mereka takkan bertanggung jawab kalau ada apa-apanya dengan masa depan saya.

Mungkin di saat seperti ini, saya berhak sedikit egois setelah nyaris tiga bulan saya berhenti mikirin pendidikan saya demi profesi.

Heh, suka duka sekolah nyambi kerja di tempat yang sama :p

Complaining? No, I am curhatting :D

Sebaik mungkin,
Secepat mungkin,
adalah dua komitmen yang saya pegang untuk menyelesaikan studi saya,
Lalu setelah itu, saya bisa kembali mencintai pekerjaan saya,
Sepenuh hati,
Seperti kemarin sebelum hari ini tiba :)

Selasa, 28 Mei 2013

The Right Time

"Some days just pass by, and some days are unforgettable, we can’t choose the reason why, but we can choose what we do from the day after” –OOR
  


I was asked,
“When is the right time?”

It’s kinda hard to answer such a question.
Even I do ask myself, what exactly I wait for.
I have spent my twenty four years of life searching for an aswer, of a question most people my age have found, but then again, it’s not the answer I got.
It’s an explanation.

An explanation of why I should experience all those insecurities for years.

As long as someone has doubt, his/her life will keep turning around.
On the top, then fall to the bottom, rise again, and then fall, to back again.
Some keep gambling with themselves to make the best of their life, while some others heading into misery.

The explanation lies here for something I was, and I am, searching for.
It is said that time is just another game for someone.
And just like a game, false timing means false answer, no matter how perfect the question is.
The only difference is, I cannot reload my life like a game.


For twenty four years, I was searching for an answer, of a question most people my age have found out, but then again, I laugh at myself.
What did I afraid of anyway? The more I see my old self, the more I feel like laughing.
What did I rush for anyway? The more I see my old self, the more I thank God that I was failed.

Failure, is it?
For how many times I have failed?
I don’t count, but I can say, that right now, I am grateful that I wasn’t succeed.

After everything, I came into conclusion that it doesn’t matter how many times we fail, but it does matter how much we learn from failure.
And, make the conclusion.

Sometimes, our ego is false.
Sometimes, our belief is false.
Humans, are never meant to be absolutely true.

Everyone, needs a good slap right on the face to get back to the track.
To the right track.
The track only Him who has.

I’ve done enough gambling about my future, and time has explained everything.
Thus, I will not waver again.
Because no matter how afraid, no matter how insecure,
And, no matter how long I have to spend my time searching for the true answer,
There is the One I can believe.

And my answer of a question: “When is the right time?” is,
when God says, “Yes, this is the right time,”




#np Be The Light – OOR

You have to hear it, because it’s a very inspirational song. In fact, I made this post because I was inspired by its lyric: “Just a thought of another day, how’d we end up this way? What did we do wrong, God?”

images:

Sabtu, 18 Mei 2013

Cara Cepat Menentukan SMS Tidak Layak Baca

SMS atau Short Message Service memang sangat berguna, apalagi kalau dapat gratisan :p
Tapi dengan makin banyaknya gratisan makin banyak pula tangan nggratil alias usil yang berniat menyalahgunakan fitur tersebut.

Kali ini saya berniat share tentang bagaimana kita menilai sebuah SMS itu layak kita 'baca lebih lanjut' atau layak kita 'hapus dengan segera'.

Pertama lihat nomor pengirimnya.
SMS Operator tidak mungkin dikirim oleh sender dengan nomor kosong-delapan-sekian-sekian.
Kalau sender-nya bertuliskan nama operator, mungkin SMS tersebut masih worthy buat dibaca.

Kedua, baca satu sampai lima kata pertama.
Kalau kata-kata pertamanya adalah salam, lanjutkan membacanya.
Tapi, kalau kata-kata pertamanya adalah seperti berikut, silakan langsung dihapus saja biar tidak habisin waktu :

»» Selamat! No ini telah memenangkan...
°komen° apa? menang mobil? gambarnya doang?

»» Kami dari (nama operator) menginformasikan...
°komen° sejak kapan operator Telko*sel pake nomer IMThree?
°komen° operator kok nomernya gak cantik blas...?

»» Berdasarkan undian yang...
°komen° udah ambil sana hadiahnya!

»» Harap hubungi kami! Karena anda...
°komen° yang butuh kan situ kenapa aku yg repot? :p

»» Uangnya dikirim ke...
°komen° lha koen sopo?

»» Mau langsing?
°komen° bondo banget ngiklan via SMS?

»» Telah dibuka! Klinik Shin*e...
°komen° oke, kalo 'telah ditutup' kasih tau ya?

»» Cari cewek cantik?
°komen° heee... yang lebih cantik dariku pasti gak ada, ohohoho... #plak :p

»» Tolong beliin pulsa...
°komen° wani piro?

»» Papa, aku diculik...
°komen° oh ya? kalo sudah mau pulang SMS ya?

»» Sebarkan SMS ini untuk menghindari petaka...
°komen° (langsung delete dan lanjutin tidur)

»» Hai, kamu siapa?
°komen° nenek-nenek bil... (bil: singkatan 'ababil')

»» Pilih A sebagai walikota S...
°komen° hah? aku kan tinggal di kota M?

dan sejumlah besar pola SMS gak mutu lainnya,
Buat apa repot dilanjutin baca kalau dari lima kata pertama sudah bisa dihapus? hehehe :D

Komen diatas sih komentar random yang muncul di benak saya saat saya menerima SMS dengan awalan seperti diatas.
Berhubung saya termasuk fast reader, saya bisa membuka sms, membaca dan langsung mendelete dalam waktu kurang dari dua detik.
Inspirasi saya menulis ini juga karena seorang teman saya mengungkapkan keheranannya saat saya buka hape menerima SMS dan langsung mendelete SMS tersebut.
Saat dia berkata betapa kejamnya saya, saat itulah ide membuat tulisan ini muncul :D

That's it ^ ^v

Jumat, 17 Mei 2013

Dokter dan Surat Dokter

Note: curhat detected :p


Di sore hari yang hujan deras tadi, seseorang menelepon saya,
Setelah memperkenalkan diri, singkatnya beginilah percakapan kami:


Penelepon: "Dokter, malam ini praktek tidak?"
Saya: (berhubung malam ini memang ada acara) "Maaf Bu, sepertinya kok malam ini saya tidak praktek. Ada apa Bu?"

Penelepon: "Ini, saya mau mintakan surat buat suami saya,"
Saya: (mulai merasakan tanda bahaya) "Surat apa ya?"

Penelepon: "Surat dokter buat tidak masuk kerja,"
Saya: (keheranan, kok tidak langsung bilang 'suami saya sakit' tapi menyebut 'surat' duluan?) "Lho, Pak A sakit?"

Penelepon: "Ndak sih dok... Tapi hari ini cutinya habis, maunya sih besok biar libur sekalian sampai hari Minggu,"
Saya: (dalam hati bicara: "Alarm tanda bahayaku masih joss ternyata,")






'Surat Dokter' yang dimaksud oleh penelepon diatas tak lain dan tak bukan adalah 'Surat Keterangan Sakit', yang biasa dibuat oleh dokter sebagai permohonan atas nama pasien agar pasien yang bersangkutan diperbolehkan tidak beraktivitas karena kondisi kesehatannya kurang mendukung, atau aktivitas biasa dapat membahayakan pasien.

Sebagai dokter, kami banyak dihadapkan dengan kenyataan seperti ini.
Pada kasus saya diatas, saya dihadapkan pada dua hal, yaitu ikatan Sumpah Dokter dan rasa persaudaraan dengan si Penelepon (karena kebetulan saya kenal cukup baik).
Pada akhirnya jelas, saya menolak dan berhubung si Penelepon ngengkel, saya persilakan dia mencari dokter lain,
*hehe... buat teman sejawat yang ternyata menjadi tujuan beliau berikutnya, hehe... semangat yaa..*

Sok suci?
Bukan.

Saya menolak karena dari awal dia sudah memberikan kesan 'nggampangno'  (eh, bahasa Indonesianya nggampangno apa yak? Oh.. ya... menyepelekan!).

Apa dan siapa yang digampangno?
Surat Dokter dan Dokter.
Dan saya sebagai dokter yang dia tuju.

Simak saja percakapan kami selanjutnya setelah si Penelepon ngengkel selama beberapa lamanya:

Saya: "Maaf Bu, kalau memang njenengan berpendapat begitu, monggo ke dokter lain saja ya..."
Penelepon: "Tapi kan dokter lain belum tentu mau Dok..."
Saya: (dalam hati: "Lha ini tadi apa kubilang diriku mau?" sambil keluar keringat di kepala model anime)


Hehehehe, lucu juga kalau mengingat-ingat lagi kejadian sore tadi ^ ^;
Intinya saya berhasil juga menolak permintaan tersebut.
Salah satu alasan terkuat adalah karena sebagai dokter, kami terikat Sumpah Dokter, dimana kami mempertaruhkan kehormatan kami dalam pelaksanaan profesi dokter,
Kalau, kalau lho ya... Kalau saya memberikan surat keterangan pada yang tidak berhak, yah... silakan dibaca sendiri deh Sumpah Dokter tersebut dan disimpulkan sendiri ya :)

Yakin sekali, bukan hanya saya yang mengalami hal ini,
Banyaaaaaaaaaak sekali sejawat yang juga mengalami kondisi tersebut, dan memang pada akhirnya semua itu kembali ke masing-masing orang,
Saya yakin, setiap dokter pasti pernah berhadapan dengan kondisi seperti ini,
Dan masing-masing punya cara mengatasi sendiri-sendiri juga :)

Setiap orang berhak menyatakan dirinya sakit.
Setiap orang berhak meminta Surat Sakit.
Tapi,
Setiap dokter juga berhak menolak membuatkan Surat Sakit, 
(hehehe... iya dong, kan sama-sama hak asasi juga tuh, malah wajib buat seorang dokter menolak pembuatan surat keterangan yang 'tidak seharusnya' seperti itu)


Lagipula,
Kalau memang tidak sakit, kenapa sih pura-pura sakit,
Ntar kalo sakit beneran gimana?
#eh

Challenge

When was the last time I challenge myself?
When was the last time I stop trying so hard?

I guess, if I have to compare 2012 and 2013, I'd like to say that 2013 is too flat!

A little challenge is needed for me to keep myself on the right track,
Because I have strayed too far,
I relaxed too much,
So before my fire dies, I need to get fired up,

I just hope that I will win my own challenge :p

Selasa, 07 Mei 2013

postingan iseng dalam rangka percobaan mention

setelah sekian lama akhirnya muncul juga postingan geje di blog saya ini.
tulisan ini dibuat untuk me-mention beberapa author berikut:

bagaimana saudara-saudara?
sudah muncul kah?


with love from siennra

12 Most 'Listenable' Songs


Kurang kerjaan banget bikin tulisan ini.
Salah.
Justru saking banyaknya kerjaan, kuping saya jadi super familiar dengan banyak lagu yang menjaga saya tetap melek, dan saya menyadari beberapa lagu yang membuat saya mengalami adiksi pendengaran *halah*.
Intinya, semakin sibuk saya, semakin banyak neuron di otak saya bekerja, dan semakin banyak impuls yang akan mengalami pe-nimbul-an *emangnya Srimulat?* ke permukaan. Sepertinya secara fisiologis, atau maksud saya secara normal, impuls yang menimbul di otak saya bukan hanya Tessy, eh maksud saya, bukan hanya yang terkait pekerjaan, tapi juga yang terkait dengan yang lain-lain.
Mungkin itu cara saya mencapai kesetimbangan *kalau di fisika bukan ‘keseimbangan’ tapi ‘kesetimbangan’, jadi antara keset dan timbangan*. Duh… sepertinya impulsnya terlalu variatif kalau prolognya kepanjangan jadi marilah saya mulai saja.
Jadi berikut adalah beberapa lagu yang menurut saya merupakan lagu paling indah untuk didengarkan, berikut alasannya, yang tentu saja menurut saya. Tapi ndak ada salahnya dicoba dengarkan lagu-lagu berikut, because, they’re so beautiful :)



If My Heart Was A House (Owl City)
Fine, kuping saya memang amat sangat naksir sama Owl City, baik yang lirikal maupun yang instrumental semua ada di lepi saya :’). Termasuk lagu yang satu ini, “back and forth, if my heart was a compass you’d be north,” inti dari lagu ini adalah bahwa si Owl memiliki orang yang seperti kutub utara di kompas. Jarum kompas selalu menunjukkan arah utara, termasuk si Owl yang hidupnya akan selalu mengarah ke ‘utara’. Semacam cara unik khas Owl City untuk mendeskripsikan soal perasaan yang kita punya untuk orang lain. Very very beautiful song, very-nya ada dua :)
Coba dengarkan pula versi instrumentalnya. Tidak kalah bagus dan tidak kalah membuat hati terasa sejuk sekali :’) *maaf agak sedikit lebai*
“risk it all cause I’ll catch you when you fall, wherever you go if my heart was a house you’d be home,”



Clarity (Zedd ft. Foxes)
“don’t speak as I try to leave cause we both know what we choose,”
Satu penggal lirik yang ini menurut saya adalah yang paling unik, semacam Foxes sedang bicara tentang masa depan yang sudah pernah dia lihat. Lirik lagunya semacam maju mundur antara pingin lepas dan tidak pingin lepas. Dia sudah tahu endingnya, tapi segala sesuatu di sekelilingnya tetap membuat dia merasa mungkin ending itu bisa berubah jadi lebih baik dari yang dia ketahui.
Saya pertama dengar lagu ini waktu videoklipnya muncul di penutup sebuah acara berita sebuah stasiun tivi, dan wow, keren! Zedd memang terkenal dengan kemampuannya membuat efek dramatis dari sebuah videoklip dan klip garapannya bersama Foxes ini juga tidak kalah keren :D
Seperti apa videoklipnya? Search aja di Youtube dengan kata kunci Clarity Zedd ft. Foxes Official Video. Isinya tentang tabrakan yang (sangat) hiperbolis, hehehe… keren dan manis sekaligus :)
“if our love's insanity why are you my clarity?”



The Beginning (One OK Rock)
Ngerock dulu bentar, lagu ini adalah lagu yang langsung menjadi zat adiktif bagi membran timpani saya sejak saya nonton movie Rurouni Kenshin beberapa bulan yang lalu. Sekitar 30% lirik lagunya dalam bahasa Inggris, dan sisanya dalam bahasa Jepang, tapi dibuka dengan satu bait berbahasa Inggris,
“just give me a reason to keep my heart beating,”
Jadi inti dari lagu ini adalah devotion, bahwa kita hidup demi sesuatu yang kita anggap berharga. Selama masih ada satu alasan itu, maka kita akan dapat bertahan hidup dengan sendirinya, sekejam apapun dunia ini. Jujur sih, videoklipnya juga agak kejam kalau menurut saya :’(
Buat yang belum pernah tahu ttg One OK Rock, jadi dia adalah salah satu band rock Jepang yang terkenal karena suara vokalisnya yang khas. Kayak gimana khasnya? Ya kayak gitu, haha :p *plak!*. Vokalisnya bernama Taka *dan saya mendengar ada suara fangirl dari suatu tempat f(-__-“)* dan dia punya English pronounciation yang bagus. Jujur, waktu pertama kali dengar lagu ini di bait-bait awal saya tidak menyangka kalau ternyata yang menyanyikannya adalah orang Jepang tulen :p
“I’ll risk everything if it’s for you,”



Dementia (Owl City ft. Mark Hoppus)
“keep in faith just in case all the magic dies, cause this is driving me crazy,”
Dementia, atau dalam bahasa Indonesia disebut ‘demensia’ adalah suatu terminologi internasional untuk istilah ‘pikun’. Lagu ini unik, seperti juga sederetan lagu Owl City lain, karena dia bercerita tentang bagaimana kondisi demensia itu bisa membuat seseorang jadi gila. Bayangkan saja, kita ingin mengingat sesuatu, tapi ternyata kita lupa tanpa sengaja, atau kita ingin bersikap sesuatu, tapi endingnya kita bersikap sangat jauh dari keinginan kita. Dan semuanya tanpa kita sadari.
Dibalut pakai musik yang riuh dan unik khas Owl City di album terbarunya, lagu ini suer bisa membuat saya melek sampai pagi. Dan seperti halnya hasil kerja Owl City lainnya, bukan hanya lirikal, versi instrumentalnya pun luar biasa keren sekali. Saya penasaran videoklipnya, jadi kalau ada yang punya link-nya saya mau lho dibagi :)
“this is love, this is war, this is pure insanity,”



Rachmaninoff. 01 Piano Concerto No.2 in C Minor Op.18
Jangan tanya saya bagaimana lengkapnya tulisan lagu ini *saya menerima masukan tentang musik klasik yang satu ini*. Yupi, lagu ini adalah pure instrumental, yang pertama kali saya dengarkan di serial Nodame Chantabile Special 2 (dimainkan oleh karakter Son Rui), dan kemudian saya dengarkan lagi sebagai lagu latar adegan battle di sebuah film yang saya tonton. Lagu ini langsung menancapkan melodinya di korteks parietal saya dengan sempurna.
Rachmaninoff yang bagian ini memang sering dimainkan dalam Piano Concerto, jadi paduan antara permainan piano dan orkestra lengkap. Melodinya terasa agak iritatif sih sebenarnya *silakan bayangkan sendiri melodi iritatif itu bagaimana* tapi juga terasa seperti ‘mengangkat’ sesuatu dalam hati untuk dapat dipertahankan dalam situasi yang amat sulit. Intinya, walaupun merupakan musik klasik, memang melodinya cocok untuk battle. Bingung? Sudah, coba dengarkan saja supaya tahu maksud saya :p



Untukku (Chrisye)
“saat lautan kau seberangi, janganlah ragu bersauh,”
(Dulu) ini adalah lagu favorit saya, sebelum saya tahu lautan itu bisa ‘lebih berbahaya’ dibanding apapun, percayalah, hahaha ^^. Yah, walaupun lagu ini tak lagi menjadi lagu yang selalu mampir di list mp3 saya, tapi saya cukup sportif untuk mengatakan bahwa lagu ini adalah salah satu lagu paling indah yang pernah mampir ke kuping saya.
Yupi, saya adalah fans Alm. Chrisye, karena bagi saya keunikan suaranya tidak ada yang menyamai, sampai saat ini. Lagu ini bercerita tentang satu orang yang pergi mengarungi samudra, dan satu orang lagi yang menunggu orang pertama tadi untuk kembali. Dia yang pergi akan tetap setia, dan dia yang menunggu pun juga sama. Tipikal kisah dongeng ya? Hehe.. Tapi memang lagu ini indah sekali. Yakin, bahwa dia hanya untukku. Yakin… … Eh, yakin?
“karena ku yakin, kau hanya untukku,”



All I Know (Five For Fighting)
“I love you and that’s all I know,”
Lagu ini pertama kali mampir ke telinga saya saat saya masih SMA, dan saat itu pula sedang booming Naruto disana-sini *maaf gak nyambung* dan saya masih ingat seorang teman SMA saya ngeprin lagu ini di kertas yang ada gambar Sasuke-nya, hahaha masa muda XD.
Lagu ini adalah lagu penutup dari movie Chicken Little yang sampai sekarang belum pernah saya tonton. Isi lagu ini mengingatkan kita bahwa kita baru akan sadar betapa berharganya seseorang saat ia sudah tak lagi ada bersama kita. Kalau masih ada bersama kita, seringkali kita justru saling menyakiti tanpa kita menyadarinya. Jaman lagu ini keluar, Five For Fighting sedang jaya-jayanya, dan saya masih suka gaya musiknya sampai sekarang. Unik!
“endings always come too fast, they come too fast and they pass too slow,”



200 Miles (Jang Geun Suk)
“just speed up don’t be afraid! Run! Run! Get it started!”
Bijim, walaupun yang nyanyi orang Korea, tapi lagu ini adalah lagu berbahasa Jepang campuran bahasa Inggris yang ngebeat sekali. Melodinya juga agak surprising kalau menurut saya *menurut saya loh…*. Seperti halnya satu bait lirik yang saya tulis, isi lagunya berbicara tentang lari! Lari! Cepet! Cepet! Apapun yang terjadi, jangan takut dengan keadaan, tetap berjalan kedepan dan terus percaya bahwa kita bisa melampaui batasan yang kita buat terhadap diri kita sendiri. Asal kita bisa meyakinkan diri sendiri, percaya deh, tidak akan ada yang bisa menghentikan kita :)
Ini adalah lagu pertama dan satu-satunya lagu dari penyanyi Korea yang dengan setia mampir di list mp3 saya, soalnya (sama sekali) tidak bisa berbahasa Korea *though i'm a girl, I know just so NOTHING about Korean, be it language or artist*.
“exceed the limits of you!”



Brand New Day (Joshua Radin)
“most story has a hero to fight and make the past to pass,”
Sebagai penyanyi country, nama Radin mungkin tidak setenar Taylor Swift *yah.. iyalah..* dan sebagian besar lagunya memang agak ‘suram’. Tapi entah bagaimana, satu lagu ini kesannya begitu bright saat saya pertama kali mendengar. Liriknya simpel, tapi menggambarkan dengan baik mengenai ‘lahir kembali’ setelah mlungker di masa lalu.
Lagu ini juga menggambarkan bahwa untuk bisa keluar dari kemlungkeran tadi, kita mungkin akan membutuhkan orang lain. Orang yang tepat, supaya kita bisa keluar dari cangkang dan menemukan dunia yang benar-benar baru. Aneh sih, dunia kan ya gitu itu aja, jadi barunya sebelah mana :p
Intinya, beautiful song! :)
“for the first time in such a long long time I know I’ll be okay,”



You and Me (Lifehouse)
Siapa yang tidak kenal dengan lirik “there’s you and me and all the people when nothing to do nothing to lose,” ini? Saya pikir semua orang yang pernah naksir orang dalam bentuk apapun dan pakai mangkir dari pengakuan model apapun, pernah mendengar dan senyum dengar lagu ini, ahahaha XD. Lagu ini memang salah satu kanon lagu romantis. Bahkan dengan mendengar intronya saja, orang bisa mudah mengidentifikasi judul lagu ini. Yah mungkin separah-parahnya tau lagunya tapi ndak tau judulnya sampai berabad-abad kemudian *lirik diri sendiri di cermin*
Yang membuat saya ingat lagu ini bukan judulnya, tapi melodinya. Bahkan dulu saat bahasa Inggris saya masih as mencla-mencle as possible, saya sudah merekam melodinya dengan sempurna di memori saya. Terbukti, lagu ini adalah salah satu lagu termanis yang pernah saya dengar :)
“and there’s you and me and all of the people and I don’t know why I can’t keep my eyes off of you,”



Summer Paradise (Simple Plan ft. Taka)
“I can’t believe I’m leaving oh I don’t know what I’m gonna do,” 
lagu ini adalah rangkaian kata-kata yang simpel dan mudah diingat. Ada beberapa versi dari lagu ini, tapi versi ft. Taka ini yang paling saya suka, karena yang memiliki lirik yang paling friendly dengan kuping saya, hahaha XD
Sekali dengar, lirik “I’ll be there in the heartbeat,” langsung mancep dengan indahnya di kuping pendengar. Dengan melodi yang juga enak didengarkan, lagu ini salah satu lagu yang jadi most wanted di kuping saya. Semacam vokal dan musiknya bisa bercampur dengan sangat baik dan tidak kelewat ngebeat tapi juga tidak melon… eh, maksud saya melow :p. Memang sih, sebenarnya lagu ini bercerita tentang perpisahan (yang harusnya sedih), tapi dikemas dalam lirik dan melodi yang tidak akan membuat pendengarnya galau *menurut saya sih…*.
“tell me how to get back to summer paradise with you,”




Tentu saja, ada setumpuk lagu lain yang ada di list mp3 saya, rata-rata sih bukan lagu lokal, karena Chrisye sudah tidak lagi berkarya (ya tentu saja) dan saya belum menemukan penyanyi lokal yang bisa saya kagumi seperti saya kagum sama Chrisye. Bukannya tidak cinta Indonesia, tapi nyatanya lagu-lagu lokal temanya kurang variatif dan saya seringkali langsung bosan dengan hanya mendengarkan satu dua kali *pengakuan* :p

fine then, o saki ni, dengan selesainya tulisan ini akhirnya saya ngantuk juga. Terima kasih sudah membaca, boleh lho share lagu apa yang bagus untuk didengarkan :D
note: tulisan ini dibuat dalam waktu 15 menit

P.S. setelah saya hitung-hitung lagi ternyata isinya 11 lagu, bukan 10  *tanda sudah ngantuk*
jaa oyasuminasaaaaiii :)

-100413, 11.03 pm-
Updated from '10 Most 'Listenable' Songs to '12 Most 'Listenable' Songs' on 111013, 6.30pm-