Selasa, 15 April 2014

Sevens, the Enthusiasts.


Being seven is easy.

We just need to live our life, make it fun and choose to be happy. Sevens are strong people who always stay positive. We believe that everything will turn out fine, and we find powers to make fine endings simply from believing. Sevens see everything from both sides and try not to judge before pointing out positive traits. We love to spread out positive thoughts to people.

Some people state that Sevens are the children of Enneagram. Not that we are childish but more that we have childlike nature inside us. It is not difficult to attract Sevens’ attention. We are easily feel enthusiasm and fall in love with many things. We are easily drowned into things we love, and if it comes to our dream job, we are willing to do our best with tremendous stamina. We are commonly praised for our energetic and fast-paced nature, like we never run out of fuel.

Inside, Sevens value future perspective highly. We like to plan, brainstorm and daydream. We tend to let ourselves open to many changes and new things that are about to come. We are not afraid of changes, instead, we are thrilled. As we grow up, we start to learn about consequences and tend to choose the happiest choice when possible.

Sevens leave the past as it is, never seem to regret it more than once in a short time. We have natural ability to move on. Like others, some of us are easily hurt, but all of us have the same special reflex to think positively of our surrounding. In summary, we naturally seek positive traits of anything to feel blessed and happy because we never like negative feelings.

As we have many things that interest us, Sevens have very big chance to master many distinct abilities. Many people praise us for our wide array of skills, both as professionals and amateurs. Something that draws out our creativity and ideas usually becomes our subjects, as Sevens are unstoppable active thinkers. Point out any trouble to us, we will automatically spin our mind to make many way out.

Grown up Sevens usually take the best traits of Fives, the Observers. At best, we are up to par to Fives in listening, watching and reading our surrounding without making any intervention. This growth counterattacks our previous tendency to jump over things, but still, we retain the playful nature inside us. Push the right button, and we will back to full-Seven-mode.

Sevens’ wisdom usually is the cumulative experience from our habit to jump over things. At one point, we have experienced so many things that others might have never experienced before. Many people define Sevens’ wisdom as sobrieties, a state when we no longer make measurement of anything. We willingly accept ourselves and our surrounding with all positives and negatives, and let life happens as it is. Together with observation skill adapted from Fives, we are usually seen as people with broad perspective, one of the broadest in Enneagram.


http://www.enneagraminstitute.com

Being seven is hard.

We are not connected to our fear. Instead, we tend to avoid it. When we fear something, or being hurt by something, we tend to distract our mind so the negative feelings will not bother us. While it may seem positive, nobody can hide from their fear for too long. One day we will have to face it again.  Though, when faced with overly negative feeling, Sevens will withdraw themselves from the main cause and tend to choose other path in order to protect themselves.

Sevens tend to wish for many things. It will be very difficult for us if someone asks us, ‘What is one thing you want in life?’. We have many interests and many things that amaze us. Life is too broad for wanting only one thing. It comes in cost that we constantly need to experience as many things as possible. Some people call this trait as ‘gluttony of experience’.

Having a fully-fueled locomotive planted in our feet, sometimes Sevens are over-expecting other people to have the same pace as us. Some people define us as impatient community. Some people see us as shallow, because we seem to move on very quickly from one thing to another. It is not completely wrong, but we still have ability to feel strong connections to others. The only difference between us and non-Sevens is that we avoid being negative for too long, because our basic need is find bless and happiness. How can we do that if we are too busy dwelling on negative feelings?

It is true that we like to study many things, but we have a relatively short span of concentration. We need new things to explore from time to time or we will be easily subjected to boredom. It comes in cost that we might not be able to learn something very deeply because we tend to jump over from one thing to another.

Ideas are holy for us Sevens, which means that we work best at the place where ideas are appreciated. We are easily frustrated by repetitive works, inability to jump over things and mostly when our ideas are not appreciated. Moreover, although Sevens are excellent brainstormers, we are not as best as other Enneagrams in case of finishing things. This is due to unstoppable flow of ideas inside our head, and we have very high tendency to follow our new ideas than finishing the previous ones.

At worst, we are much like Ones in bad state. High stress environment and or having no time to enjoy our life might trigger this deprivation. We might still have tendency to spin our mind to find a way out, but our machine seems to work less accurate. As the result, we might become perfect perfectionists and overly critical about our surroundings.

Finally, Sevens are prone to ‘rebound phenomenon’ because of their constant need to stray away from negative feelings. Deep down we realize that the buried feeling might be a time bomb for us. Just to let you know, healthy Sevens learn to accept their negative feeling, but most of us refuse to let it dominate our mind. We choose to think positively after we accept the negative.

  
http://www.davetomlinson.co.uk
I am Seven and I feel blessed (Siennra, 2014)

Minggu, 23 Maret 2014

Seminggu di Pusbangtendik


Quest 10: Seminggu di Pusbangtendik

Kesan awal….  seram sekali bangunannya… bakalan betah nggak ya disini… bakalan sekamar sama siapa nih… gimana kalo begini dan gimana kalo begitu?

Senin, 27 Maret 2014, setelah melewati banjir dalam perjalanan dari Halim Perdana Kusuma ke Kota Depok, saya akhirnya sampai di Pusbangtendik sekitar pukul 14.00. Berangkat terpisah dari rombongan Brawijaya (yang sudah sampai di Pusbang sehari sebelumnya) membuat saya waswas dengan siapa saya harus berbagi tempat tinggal sementara. Sistem disini adalah siapa yang datang bersama-sama akan mendapatkan tempat yang sama. Nah saya yang kancrit ini… yah…

Yah, tentu saja, lebih menyenangkan jika bersama-sama dengan teman-teman senasib dari universitas yang sama kan?

Saya yang pertama datang di home saya pada saat itu dan kondisinya masih sangat gelap sekali karena belum ada lampu yang menyala. Teman sekamar saya datang beberapa menit setelah saya mulai bongkar-bongkar barang. Kesan pertama saya adalah… waduh… orangnya gimana ya? Bakal bisa get along nggak ya...

Hal lain yang membuat saya sedih di hari pertama saya di pusbang ini adalah saya kaliren. Hahahaha XD. Secara saya hanya sempat sarapan jam 6 pagi dan ternyata di pusbang hanya disediakan makan malam saja pada hari kedatangan saya. Wew… ingin sih keluar pusbang, tapi home saya letaknya lumayan jauh dari gerbang, dan saya tidak tahu harus kemana cari makanan. Apakah saya mencari teman-teman seuniv saya pada akhirnya?

Enggak lah… saya mah males jalan dan nyari mereka karena takut nyasar.

Jadi apa yang saya lakukan? Tidur sampai jam makan, yaitu jam 6 sore :p

Kesan awal memang seperti orang asing, padahal Brawijaya adalah penyumbang lebih dari 25% peserta diklat disini. Namun pada akhirnya karena rasa keterasingan saya itulah, saya justru merasa bebas. Kok bisa?

Ehem, jadi begini… wanita itu… biasanya… kemana-mana sukanya barengan. Saling tunggu. Saling gak mau duluan. Katanya sih toleransi. Lhah kalo saya? Ya kalo waktunya jalan ya jalan, ngapain dilama-lamain? Kalau pas waktu jalannya pas sama saya nanti pasti ketemu saya, itulah prinsip saya. Hal inilah yang membuat saya sering jalan ‘sendirian’, dalam artian tidak bergerombol dengan para wanita lainnya, meskipun tetap bersama-sama.

Apakah saya wanita? Hahaha f(-__-“)

Permasalahan termengerikan disini bagi saya adalah cuaca yang kering. Arid, kalau mau agak ekstrim. Akibatnya, kulit saya pun menjadi kering sekali, ada beberapa fisura di kulit wajah dan bibir pun pecah-pecah SEJAK hari pertama saya datang kemari. Pemakaian pelembab bibir dan pelembab wajah tidak banyak membantu, sehingga kadar kecantikan saya berkurang sekitar 5-7%.

Masih terkait cuaca, walaupun kering, anehnya, disini setiap hari hujan. Saya juga heran kenapa ekses hujan ini tidak bisa memperbaiki kekeringan di cuaca Depok. Akibat paling wow dari hal ini adalah sulitnya mengeringkan cucian. Maka akibat males mikir, saya pun ngeloundry pakaian-pakaian yang tebal.

Permasalahan lain adalah… hmmm… airnya yang agak keruh. Warna air disini agak kecoklatan dan hal itu cukup mengurangi poin kebetahan di tempat ini.

Kemudian soal makanan, banyak udang berkeliaran dimana-mana. Walaupun sang tersangka bukan cuma udang sih… Saya sempat mengalami kelompak mata mbendol akibat makan ikan asin. Namun terima kasih sekali pada Interhistin, kadar kecantikan saya tidak terlalu berkurang banyak (serasa ada yang ngelempar sandal gara-gara daritadi bilang kadar kecantikan).

Hal mengerikan lain yang terjadi disini adalah saya menemukan binatang melata di kamar mandi pas dibawah kaki saya sehingga saya nyaris berteriak sekeras-kerasnya. Sudah tidak usah dibahas. Saya tidak suka binatang melata.


Oke, sekarang hal yang menyenangkan…

Hmm… banyak bertemu orang-orang dari seluruh Indonesia, dengan berbagai latar belakang dan keahlian. Klise kah? Nggak juga, memang itu yang terjadi. Sisi baiknya adalah kita jadi bisa memperluas wawasan. Sisi buruknya adalah karena latar belakang berbeda jadi kalau kelompokan dengan yang suka ngeyel akibatnya jadi lamaaaaa gak selese selese, hahahaha XD

Kemudian saya jadi rajin olahraga lagi disini karena memang diwajibkan untuk senam pagi hampir setiap hari. Lumayan lah badan jadi segar dan tidak perlu khawatir masuk angin. Walaupun yah… bingung juga mau mandi habis senam soalnya badan masih keringetan dan sejam lagi harus apel dan belum sarapan pula. Ahahaha XD

Hal yang menyenangkan lagi… hmm… next time, next time, kalau sempet nulis lagi sih, ehehe…

Sekarang saya mau nggarap peer dulu karena besok maju presentasi :p

Rabu, 19 Februari 2014

My third year as lecturer is…

So lively.
Setiap hari adalah hari yang berbeda. Selalu ada hal yang berbeda dari hari sebelumnya. Bisa lebih ruwet, bisa lebih sederhana, hahaha :p
Sensasi yang sama selalu saya dapatkan ketika muncul surat AMAT SEGER(a) menghampiri saya. Mungkin rapatinggenah lah, mungkin pelatihan apa lah, mungkin sosialisasi apa lah, mungkin dikasi kerjaan apa lah… dst dst…
Dulu, dalam bayangan saya, jadi dosen itu 80% ngajar, ternyata… fifty fifty lah sama pekerjaan yang lain.

So mobile.
Jadi kitiran? Ah, sudah biasa… Bolak balik dengan rute rumah-kampus-RS-kampus-rumah sudah sering saya lakoni kok, bisa dua tiga kali seminggu. Naik apa? Angkot. Alasan? Males parkir.
Kalau dihitung-hitung, jarak rumah-kampus sama dengan dua kali jarak rumah-RS. Sooo… sudah (harus ter)biasa…

So many students.
Gak hapal. Ini siapa. Itu siapa. Sana siapa. Sini siapa. Kamu siapa. Dia siapa. Aku siapa. #eh..
Wew… memang yang paling saya ingat adalah mahasiswa bimbingan saya, mahasiswa yang ujiannya sama saya, ATAU… mahasiswa yang paling bandel sekelas f(-__-“)
Kalau yang paling pinter sendiri biasanya malah ndak kelihatan mencolok, tapi yang bandel (misal: hobi nelat yang minimal 15 menit setelah kuliah/ praktikum mulai), yang kelewat endel (suka milin-milin rambut atau pake benda serba hellokitty ato pinkies), yang hobi flirting (‘wah liftnya jadi gak mau nutup habis ada dokter cantik yang masuk’), kok saya malah inget populasi yang itu f(-__-“)

So many hours.
Ehem… rasio dosen dan mahasiswa yang ‘wow banget’ bisa menguras energi luar biasa. Cuap cuap sepanjang hari bukan hal aneh lagi. Pagi ngajar, siang praktikum, sore praktikum. Pagi berdiri, siang berdiri, sore berdiri, juga bukan hal aneh… hahahaha XD
Saya menyediakan sepatu berhak rata demi mobilitas dan menjauhkan varises :p

So many emails.
Saya lebih suka mahasiswa mengirimkan makalah konsultasi via email daripada memberi saya hardcopy berlembar-lembar. Yak, konsekuensinya harus siap sedia dan responsif saat ada email masuk, plus, mengajarkan pada masing-masing mahasiswa bimbingan tentang cara menggunakan review system di MSWord.
Kenyataannya, mahasiswa yang mengimel seringkali ingin segera direspon, padahal dosennya masih nyantol di suatu tempat yang gak ada colokan lepi, hahaha XD
Nggak salah juga, kalo saya jadi mahasiswa (mungkin) juga seperti itu :p

So many things that I need to learn.
Makin kita tahu, makin kita tidak tahu. Makin sering saya mengajari orang lain, makin banyak hal yang saya rasa tidak saya ketahui.
Tentu saja dosen tidak mungkin tahu segala-galanya, tapi tampak cerdas dan kompeten di depan mahasiswa itu perlu. Konsekuensi menjadi dosen adalah harus selalu siap dengan pertanyaan macam apapun dari mahasiswa dan sejauh apapun pertanyaan tersebut diajukan. Artinya, harus selalu belajar! Belajar! Belajar!

So many lecturers I meet.
Bekerja di almamater sendiri sama dengan bertemu dengan dosen-dosen saya. Rasa sungkan pasti melekat. Banyak dosen saya yang tidak kenal saya sebelum ini (berarti jaman kuliah dulu saya ndak bandel soalnya dosennya gak inget, hahahahaha XD).

So many improvisations.
Lepas dari materi yang harus saya ajarkan, ada banyak sekali hal lain yang harus saya ajarkan ke mahasiswa, terutama yang berhubungan dengan profesionalisme dan cara belajar.
Semasa kuliah dulu, saya bukan mahasiswa yang cemerlang (ya cemerlang sih, tapi dikit :p), saya paham betul keluhan mahasiswa yang kesulitan menghapal sekian macam hal yang amat sangat banyak sekali. Saya juga paling tidak suka membaca uraian panjang dan grafik yang ruwet. Keterbatasan dan pitfalls (plus beberapa ketidakberuntungan) yang saya punya/ alami selama saya belajar sebagai mahasiswa ternyata banyak bermanfaat saat ini. Saya suka berbagi pengalaman cara mengatasi uraian panjang dan menganalogikan grafik sehingga lebih mudah dipahami.
Jauh lebih banyak mahasiswa yang biasa-biasa saja daripada mahasiswa yang cemerlang, maka saya selalu menekankan pada diri saya sendiri untuk mencari cara agar apa yang saya sampaikan bisa diterima, dipahami dan diingat oleh sebanyak mungkin mahasiswa.
Saya mungkin memang tidak bisa membantu satu persatu mahasiswa (bikaus banyak pake banget wui…) tapi setidaknya saya bisa mengusahakan agar mahasiswa saya tidak jatuh pada pitfalls yang sama dengan yang saya jatuhi dulu :p

So many stocks of patience.
Ngajar harus sabar, kata ayah saya. Seorang dosen bukan orang yang lebih pandai dari mahasiswanya. Dosen mah cuma menang lahir duluan dan mendapatkan kesempatan lebih dulu dari mahasiswanya.
Kadang, butuh kesabaran ekstra dan tabungan sabar untuk mengajari beberapa mahasiswa. Menurut ayah saya, disitulah tantangan menjadi pengajar…
Yah, saya selalu ingat ketidakbrilianan saya selama jadi mahasiswa jadi setidaknya saya bisa sedikit bersabar, hehehe… Walaupun tetap saja, belajar sabar juga salah satu mata pelajaran yang perlu diikuti oleh pengajar manapun :)
NB: dikira admin itu… sering.

So many things to say.
This is the place that I want. This is my place.
Sepertinya memang inilah panggilan jiwa saya. Ada sekian banyak hal yang bisa saya ceritakan setiap hari terkait pekerjaan saya yang satu ini.

...
Terakhir, sebagai penutup, kenapa tiba-tiba muncul tulisan ini?
Karena tadi siang ditanyai mahasiswa, “Dok kenapa sih milih jadi dosen? Saya kalau lihat dokter tu heran deh… “


Minggu, 05 Januari 2014

Friendship Frenzy



Quest 5: A friend is someone to be extremely crazy with, no matter how sane you are

Tersebutlah pada suatu masa, Sandy dan Patrick sedang terhubung via Whats*pp di malam yang muram. Sandy sedang muram ditimpuki kerjaan awal tahun, dan Patrick sedang muram karena bersahabat dengan (maaf) toilet.

Inilah percakapan mereka di malam hari itu, Patrick sebagai (P) dan Sandy sebagai (S):

P            : San…. konsul…. obat anti spasmodic, yg isinya papaverine ekstrak iku opo?
S            : spasm*nal?
P            : spasm*nal? spasm*nal iku… sing bungkuse warna merah ta San?
S            : sing bungkuse enek tulisane spasm*nal lah Pat
P            : bukan itu maksude San…
S            : peace pat, peeeaaacceeee…. Puuuuiiiisssss….
P            : maksudnya… pada jaman dahulu kala… kira-kira tahun sebelum masehi… 
                dimana Pat pernah kena yang namanya diare…. Pat minum obat 
                yang bungkusnya warna merah, terus ada tulisan papaverine ekstrak… 
                Soale wes suwiiiii aku gak kena diare, makane 
                lupa nama obatnya…
S            : jadi yang diminum bungkusnya? #polos
P            : #swt, bukan lah…. Straplesnya…
S            : oooohhhh… pasti sembuhnya itu Pat… iya tho? #gembira
P            : iya sembuh diarenya, tapi jadi corpus alienum
S            : berapa aliena Pat? Biasane nek ujian BI disuruh minimal 5 aliena…
P            : iku dudu aliena…
S            : oh… lha terus alien dari planet mana?
P            : planet sailormoon…. San! Kuwi bukan aliena, tapi alinea! Hadew, kok bisa 
                dirimu lulus unas bahasa Indonesia? #swt
S            : ahahahahahaha chat kita malem ini kumasukin blog…. Seneng aku ada yang 
                bisa diajak menggila malem-malem pas aku sutris begini, mwahahahaha
P            : ………
S            : btw, jadi kau diare? Habis makan staples? (merasa disawat mejo)
                belakangan ini adekku bilang aku juga makin geje… #swt
P            : kesimpulannya… diare et causa straples papaverine ekstrak..
S            : biar sembuh minum bungkusnya… lalu coba kirim kapsulnya disertai kesan-kesan 
                anda sebanyak dua aliena dan kirimkan untuk mendapat tiket gratis ke planet 
                yang anda tuju
P            : akan lebih efektif jika bungkusnya dijadikan puyer racikan dengan straplesnya 
                trus dijadikan kapsul
S            : lebih bagus lagi kalo apotekernya tersertifikasi sebagai sailor.
P            : siapa tau anda beruntung mendapatkan tiket wisata ke mars bersama CJ-7. Bip-
                bip-bip-bip… kungfu fighting!
S            : Sailormoon….. Sailormars…... Sailorti… roti sailorti…
P            : roti yang bisa dikonsumsi hanya ketika berlayar soale butuh sail..
S            : oh jadi prosedur terbaik pas minum obat adalah sambil kungfu? Awas kapale 
                malik malah kecemplung….
P            : yo ora popo ta, kan kungfu panda fighting… lemu…
S            : Iyo yo membantu menelan kapsulnya, jadi pas masuk air harus sambil mangap
P            : jadi kampul-kampul di laut
S            : kampul-kampul jare, hwakakakakak XD
P            : iyo kan?! Kan melembung dadi kampul-kampul
S            : sudah lama ya kita gak kampul-kampul bareng Squid sm Spongie, 
                peloporilah Pat…
P            : iku kumpul-kumpul… makane ta ojo sinau Bahasa Jepang ae… pelajari S-P-O-K.
S            : iku kau nabok kah? Spok!
P            : ojo dadi P-O-P-O-K-S. Spoks. Spoks. Spoks.
S            : Lho nek gak popok bunyinya gubrak bukan ‘Spok!’. Nek ngguyu ojo sambil guling 
                guling ngono a… nggarai glundung…
P            : ……..
S            : jadi kau diare? Apa isinya?
P            : emas…. Intan….. permata….. sama berlian…. …. … …. …. Ya aer lah San….
S            : oh… biasane kan isi diare iku tentang pengalaman sehari-hari Pat…. Misal hari ini aku 
                nabok siapa, popok siapa yang kulempar, dll
P            : ^^%$^%#T%*(&^^%!!!
(dan makin kebawah makin gila saja jadi tidak usah dilanjutkan ngetik disini ya… #tobat)

Quest Reward:
Kalimat judul quest diatas memang top abiss. Saat stress melanda, kehidupan serasa ruwet dan penuh kewajiban, kehadiran sahabat yang bisa diajak menggila adalah oase di tengah gurun pasir…. #halah. Memang itulah ajaibnya sahabat, tak perlu selalu ketemu untuk bisa kembali menggila sama-sama :p
Sandy dan Patrick ini adalah dua sahabat yang tidak pernah ketemu. Pada zaman bahuela saat Whats*pp belum menjamur, mereka berdua anteng-anteng saja tidak berkomunikasi berbulan-bulan lamanya. Ajaibnya mereka berdua tetap bisa menggila dengan intensitas yang makin hebat setiap kali mereka bertemu.
Aneh memang. Tapi sahabat yang aneh biasanya lebih worthy daripada sahabat yang anteng, terutama untuk orang yang… ehem… aneh… seperti saya…

#eh

Jumat, 27 Desember 2013

Quest 4: Ignorance is bliss, NOT BLESS

uniqueinfinities.wordpress.com

Quest 4: Ignorance is bliss, not bless. Sejak kapan ‘selalu merasa benar’ bakal membawa berkah?

Yep, sejak kapan ketidakpedulian bakal membawa berkah?
Ketidakpedulianmu terhadap orang lain, lebih tepatnya.

Kau yang lebih peduli dengan image-mu di mata orang-orang yang tak setiap hari kau temui. Kau tinggikan dirimu diantara orang-orang yang nyaris tak tahu apapun tentang dirimu.

Oh? Kau bilang mereka paham dirimu?
Kurasa tidak, karena kalau mereka paham, mereka akan banyak mengingatkanmu, seperti kami.

Kau nikmati rasa hormat dan penghargaan yang tinggi dari orang yang tak tahu seperti apa sebenarnya dirimu.

Apa? Jadi kau juga menghormati mereka?
Oh please, I’ve laughed too much today.

Bagimu yang penting adalah image. Bagimu yang penting adalah tampil sempurna di persepsi orang yang hampir tak pernah kau temui.
Bagimu yang penting adalah kebenaran. Uniknya, hanya kebenaran milikmu-lah yang kau akui benar.

Tidak?
Oh, ayolah, aku yang disini-lah (dan sejumlah besar orang yang sering kau temui) yang bisa melihatnya sejelas siang, bukan dirimu yang terbutakan oleh waham kebesaran yang berkabut di sudut pikiranmu.

Kau melupakan satu hal penting: menjaga perasaan orang lain.

Ya, ya, aku selalu dengar kau bilang bahwa mereka takkan mempermasalahkan.
Oke, tapi apakah itu berarti kau bisa seenaknya? Kau njaga perasaan atau ngetes?

Kau lupa bahwa ada azas saling memberi saling menerima di dunia ini.
Kau lupa bahwa kau tak bisa hanya meminta orang lain memahamimu tanpa KAU SENDIRI juga mencoba memahami orang lain.

Kau lupa bahwa kau tak bisa sekedar hidup di duniamu sendiri tanpa menjadi orang yang baik di mata (bukan persepsi) orang yang sering kau temui.
Tahukah kamu, lebih terhormat membuat orang lain tertawa bersamamu, bukan menertawakanmu, karena ketidaksinkronan diri aslimu dan image yang kau buat.

Lebih tepatnya, bahkan imagemu pun sangat paradoksal, jika orang lain mau mengamati dengan seksama.

Kau lupa bahwa kau juga manusia.
Kau bukan makhluk yang selalu benar.
Kau tak berhak menyalahkan begitu banyak hal dan selalu merasa benar saat kau sendiri, sama seperti kami, bersimbah kesalahan.

Oh, sori, aku sih tidak menyalahkanmu, hanya menunjukkan dimana hal yang kau lupakan.
Saat kau merasa kami menyalahkanmu, bukankah itu berarti kau memang mengakui ‘sesuatu’?
Ayolah, bahkan tidak satu nama pun tercantum di postingan ini…

Anyway,
Nice work, buddy, are you happy?

Quest Reward:
Mudah sekali menyalahkan orang lain. Mudah sekali merasa paling benar. Mudah sekali merasa bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk kebaikan. Mudah sekali merasa keadaan sedang tak berpihak pada kita. Mudah sekali merasa bahwa diri sendiri-lah yang paling menderita. 

Oh, ayolah...
Tak ada manusia yang selalu benar di muka bumi ini.

Orang yang selalu merasa paling benar, selalu menyalahkan keadaan, selalu mencari alasan atas ketidakmampuan, dan selalu melakonkan permintaan simpati adalah orang yang paling salah, paling tidak mampu dan paling tidak mendapatkan simpati.

Legowo. Hormati orang lain (bukan hanya saat kau perlu mereka saja).
Dengan demikian, niscaya kau akan menemukan kebahagiaan yang kau cari.
Selama kau TAK MAU melakukannya, bahkan tanpa kami mendoakan sesuatu yang buruk pun, kebahagiaanmu akan menjauh dengan sendirinya kok…
#eh


Dan ayolah, kami sih mending berdoa untuk diri kami sendiri kok daripada mendoakanmu.

Tanpa mengurangi rasa hormat, semoga kau segera disadarkan dari mimpi indahmu, dan kembali disadarkan bahwa kakimu masih menginjak bumi, tak peduli seberapa tinggi kau telah berdiri di kaki langit.
-----

Selasa, 17 Desember 2013

Year End Story of Me

Dua ribu tiga belas ini….

LUCU.

Dalam artian harfiah! 
#ngakak

Seperti halnya tahun yang lalu, tahun 2013 ini dibumbui dengan kencur, kunir dan jahe, yang artinya manis asem pedes.
Tinggal tambah garam jadilah asin sekalian.
Oh ya, dan sepertinya kencur itu ndak manis :p


Kalau diminta dari sebelah mana saya harus bercerita, maka saya sebaiknya mulai dari bercerita perubahan yang terjadi pada saya selama tahun 2013 ini jika dibandingkan dengan 2012:
  • Jarang sekali ngeblog, alasannya adalah tugas yang menggerumbul seperti semut nggerumbuli gula sehingga sebagian besar ide cuma menjadi transient flora. Yah, bener juga, saya gulanya. Manis… #eh... Karena alasan ini pulalah maka ‘kaleidoskop’ ini sudah muncul di tanggal sekian, selak ngglutek ngubengi kerjaan :p
  • Berkurangnya sebagian besar leisure time menjadi working time. Secara, kuliah (alhamdulillaah) sudah selesai, maka tidak ada alasan mangkir dari kerjaan.
  • Kehilangan beberapa sahabat yang tahun kemarin sangat dekat sekali, karena nyaris tidak punya waktu untuk main sama-sama lagi. Kemudian tertawa miris menonton Devil Wears Prada dimana terdapat satu frasa ‘kabari aku kalau hidup pribadimu berantakan karena itu artinya kau berhak dipromosikan’ #jleb
  • Menyadari bahwa orang yang kita benar-benar kita percayai bisa berbalik menjadi duri dibalik lidah. Padahal saya sudah sikat gigi.
  • Menjadi jauh lebih tidak mudah galau soal ‘calon’ soalnya sudah punya ‘definisi lengkap’ soal calon-calon dimuka bumi ini. Calon apa? Yah, silakan isi sendiri deh, bisa calon legislatif, bisa calon presiden, bisa calon walikota, bisa hair and calon, dan sebagainya :p



Nah kemudian apa persamaan tahun 2013 ini dengan tahun 2012 kemarin?
  • Masih sering galau kalau pasien datang ke praktekan dan bertanya harus bayar berapa. Lebih tertarik untuk tidak menentukan tarif sendiri. Any suggestion?
  • Masih sering lebih suka tinggal di rumah daripada berangkat ke tempat praktek malam harinya. Alasannya sudah kepingin tumbang setelah ngglutek di kampus dan atau rumah sakit dari sekitar jam setengah 8 sampai minimal jam dua atau tiga sore. Ngapain aja saya disana? Ya, itu… mencari sesuap berlian…
  • Sama seperti tahun kemarin, saya masih dosen biasa, belum jadi profesor. Mohon tidak protes karena setahu saya setiap orang berhak bermimpi setinggi-tingginya *kalem*
  • Masih dalam tahap nabung buat beli rumah sendiri. Semoga segera terealisasikan, amiiiinnn…. Yah, daripada bagus-bagusan gadget mending cari rumah dong, buat tempat tinggal sendiri dan investasi. Dan lagian… umur segini masih nguber gadget? :p
  • Hingga saya menulis ini, ternyata belum ketemu jodoh, hahahaha :D. Kemudian sempat diprotes temen soalnya terkesan menggampangkan soal jodoh. Sebenarnya bukan menggampangkan sih, tapi membagi porsi pikiran supaya muat dimasuki banyak hal lain yang juga perlu dipikirkan :)



Progress baik yang sudah saya capai saat ini dibandingkan tahun 2013 adalah:
  • Skill nyopir sudah jauh lebih bagus daripada dulu. Soalnya sekarang lebih khawatir mbeseti libom daripada dulu.
  • Belajar menghadapi berbagai macam orang yang mungkin tak seperti harapan kita. Yah, sebel-sebelnya mungkin masih ada, tapi sudah jauh lebih berkurang daripada yang dulu.
  • Lolos tiga modul IC3! Horeeee :D



Hal paling menyenangkan yang saya dapatkan tahun 2013 ini adalah:
  • Mendapat predikat Cumlaude untuk kuliah magister. Kalau saya pribadi sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan soal predikat, tapi saya tahu orang tua saya berharap banyak pada saya soal predikat itu. Dulu waktu S1, indeks prestasi saya 3.50, sedangkan predikat Cumlaude untuk S1 minimal 3.51. Yah, begitulah rasa anehnya :p



Hal paling terkenang yang saya dapatkan di tahun 2013 ini adalah:
SEMINAR HASIL PENELITIAN S2. Hahahahahaha XD. BOLD MERAH!
Sudah macam sinetron saja waktu itu XD. Seumur-umur, baru pertama kali itu saya menjalani ujian yang nyaris tidak bisa menjawab sama sekali dan berada pada posisi bahwa apapun penjelasan saya akan tetap disalahkan oleh penguji ‘yang itu’.
Tapi Allah memang Maha Memberi, Allah memberi saya kesempatan untuk tetap mendapatkan apa yang sudah digariskan untuk saya.
Saya menjadikan seminar hasil versi horror itu sebagai cerminan, bahwa tak ada mahasiswa yang ingin berada pada posisi saya saat itu. Maka saya, sebagai seorang dosen, juga takkan pernah boleh menaruh mahasiswa pada posisi tersebut. Meskipun saya sebenarnya heran juga, apa sih nikmatnya ‘membantai dan memutilasi’ mahasiswa? Bahagiakah dia? Hanya Allah yang tahu…
Semoga saya segera jadi profesor. Amiiiiinnn…. (doa ini bisa berhubungan dengan insiden tersebut dan bisa juga tidak, tergantung dari sisi mana melihatnya :p)
Ah ya, dan tesis saya tentang tipes. Kemudian tidak sampai seminggu setelah seminar hasil itu, saya tumbang karena tipes sampai tidak masuk kerja hampir seminggu. Hahahahaha XD


Hadiah terindah dari Allah tahun 2013 ini adalah:
Kesehatan yang alhamdulillaah masih melekat pada saya, ayah dan ibu saya serta adik saya. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan rasa syukur saya tentang hal ini. Saya yakin semua orang pasti sudah mengerti :)


Pelajaran terbaik yang saya dapatkan di tahun 2013 yang tidak saya dapat di tahun 2012 adalah:
Semua orang memiliki kepentingannya masing-masing dan gesekan antar kepentingan akan muncul dengan sendirinya saat berbagai macam individu membentuk sebuah populasi. Persamaan habitat dari individu yang berbeda bisa memunculkan sifat saling menjatuhkan. Tak jarang, individu yang sudah punya habitat sendiri akan nempil habitat tetangganya, semata-mata untuk merasa aman, semata-mata untuk eksis.
Namun pada akhirnya, kita tak bisa jadi individu yang bukan kita, seperti Matahari takkan pernah jadi Sirius atau Aldebaran. Setiap orang akan bersinar dengan sinarnya sendiri-sendiri, dan saat orang lain memadamkan sinarmu, maka anggap saja dia sudah dekat dengan Black Hole makanya butuh cahaya (silakan interpretasi sendiri apa maksudnya) :p
Saat kau dipadamkan, maka bersinarlah lagi. Gampang kan?


Quote favorit tahun 2013:
“… karena pada akhirnya, Tuhan-lah yang menilai, bukan manusia,” kata kakek saya.


Harapan saya untuk tahun 2014 nanti adalah:
  • Ketemu jodoh. Bukan galau, cuma merasa sudah waktunya ketemu. Amiiiinn…
  • Bisa beli rumah. Syukur-syukur kalau bisa beli kontan atau mendekati kontan :p.
  • Bisa sekolah lagi. Syukur-syukur kalau bisa S3, kalau ndak bisa ya spesialis atau fellowship. Wajib cari beasiswa nih…
  • Ke tanah suci. Syukur-syukur kalau ada rejeki bisa naik haji. Kalau ndak bisa ya umroh dulu ndakpapa deh, yang penting kesana :)
  • Naik pangkat! Hehehehe :D. Harus kesampaian sebelum berangkat sekolah lagi.
  • Memperbarui blog ini, ingin saya ganti namanya menjadi 'THE SECOND QUEST', karena semakin tahun ini mendekati akhir, semakin saya sadar bahwa menjalani hidup ini mirip seperti menyelesaikan quest demi quest yang saya dapatkan saat main mmorpg.




Yah, sepertinya itulah yang menjadi rangkuman saya tahun ini. Tahun ini tidak se-chitato tahun 2012, malah banyak flat (dan dikomentari ortu soal ke-flat-an saya yang agak berlebihan), semacam euphoria karena sudah melalui 2012 :p
But that's that

Selamat tinggal 2013, ku akan melangkah menuju tahun depan yang lebih baik tanpa melupakanmu :D

Senin, 11 November 2013

Doa Saat Teraniaya?


Definisi teraniaya itu hanya Allah yang tahu...
Tapi,
Saat kau disakiti, kau bisa memilih untuk meratapi nasib, atau meresponnya dengan tersenyum.
Saat dalam hatimu terasa nyeri, kau bisa memilih untuk menangis, atau meresponnya dengan tertawa.
Saat yang harusnya milikmu diakui orang lain, kau bisa memilih untuk nelongso, atau meresponnya dengan ekspresi cuek.
Kau bisa saja maju dan menentang ketidakadilan yang menimpamu, menumpahkan kemarahanmu, menendang si pembuat onar sampai keujung galaksi.

Tapi jangan lupa untuk tetap terlihat BERKELAS dan KEREN saat melakukannya.

Pastikan kamera Yo*tube tidak memihak pada si pembuat onar agar kau tetap jadi pahlawan penegak keadilan.
Tapi yang lebih penting adalah tidak terlihat kalah.
Tersenyumlah.
Tertawalah.
Jangan biarkan mereka merasa menang walaupun hatimu membara.

Hadapi mereka dengan sportif, tunjukkan bahwa kau masih tetap tegar dan tak tergoyahkan sedikitpun walau apapun keburukan yang mereka lontarkan padamu.

Karena kemarahanmu, kesedihanmu, rasa putus asamu, adalah kemenangan bagi mereka.

Lalu saat berhadapan frontal tidak akan memberimu kehormatan yang lebih baik dari kondisimu saat ini, maka itu saatnya memikirkan hal lain.
Kau tahu? Tak ada gunanya mendoakan kejelekan mereka, karena toh mereka bahkan tidak berhak mendapatkan sesukukata pun doa darimu, sekalipun itu doa demi kehancuran mereka sendiri.
Jadi, saat kau merasa teraniaya (dan didefinisikan bahwa doamu pasti dikabulkan), maka doakanlah dirimu sendiri, agar kau menjadi lebih baik darinya, lebih sukses darinya, lebih diakui darinya, lebih keren darinya, lebih dicintai darinya, lebih kaya darinya, dilebihkan segala kebaikan untukmu daripada dia.
Doakanlah dirimu sendiri demi kelapangan hatimu, keindahan pribadimu dan kemampuan untuk belajar dari kesalahan mempercayai orang lain.

Bukan masalah kalau belum bisa memaafkan dia yang mencoba memburukkan dirimu, yang penting hatimu sudah lapang dan bisa menerima kehidupan selanjutnya.

Doakanlah dirimu sendiri agar mampu berjalan melalui apapun yang ada di depanmu, agar dihindarkan dari hambatan yang tak bisa atau sulit kau lalui, agar hidupmu senantiasa diberkahi dengan kemudahan.
Aku percaya, saat kita teraniaya, Allah mendengarkan doa baik yang kita ajukan pada-Nya dan aku percaya bahwa doa itulah yang dikabulkan.

Oh ya… Kau mau mendoakan dia agar jadi orang baik?
Silakan, tapi saya lebih suka berfokus mendoakan diri saya sendiri agar menjadi lebih baik daripada mereka.


Pada akhirnya, kesedihan dan kegembiraan adalah semata-mata keputusan kita. 
Jadi saat kau merasa teraniaya, putuskan apa yang akan kau lakukan.

Kamis, 17 Oktober 2013

Encounter

Always say it to others like I know most of things,
Well indeed, I know most of things,
Proud of my experiences with many encounters, I set up my mind into automatic distorting mode,
Placing logic and experience as the most important factors in my life, I make many decisions.

But then I know,
No matter how experienced a person is, her logic is not capable to handle everything,
Compassion is just another reason that may lead to many more expectations I cannot stop,
Again, questioning the future without mirroring to the past, because things are keep changing.
Experience. Logic. What are they anyway?

Another thing to learn is coming soon,
Whether it will last or become another past is simply unknown to us,
Led by all vivid considerations, at least my judgement has been a lot more careful.


Although in the end, I am just another ordinary human.

Dear Gray

Dear Gray,
Sudah lama ya kita sama-sama,
Hampir lima tahun lho...

Berkat kamu, aku bisa belajar banyak,
Berkat kamu, aku bisa lebih mandiri,
Berkat kamu, aku gak kehujanan lagi...

Dulu, aku pernah bikin kamu beret panjang gara2 kecantol pagar rumah,
Maaf ya...
Waktu itu aku barusan sebulan dapat SIM A, hehehe..
Pasti kamu ngakak juga kalau ingat bahwa sampai dengan tiga bulan setelahnya, aku trauma dan gak mau nyetir :p

Waktu itu, akhirnya aku mau nyetir lagi karena bapak ibu berangkat haji dan adek berangkat bedol desa,
Sementara aku harus jaga malam di IPD...
Karena parno, akhirnya mau gak mau kamu kubawa ke RS..
Tapi berkat itu pula aku jadi berani nyopir lagi..

Yang lumayan parah juga adalah pas kamu kecantol di terusannya Jl Gribig...
Kau sampai peyok banget waktu itu...
Maaf ya... aku gak lihat ada pembatas jalan di sebelah kiri T.T

Mau minta maaf juga aku juga sempat memeyokkanmu pas nyenggol spion orang yg lagi parkir...
Maafkan..

Untunglah ada ketok magic yang dengan sihirnya bisa membuatmu tampan kembali :D

Setelah itu, kamu gak pernah peyok lagi kok, ingat kan?
Yah.. cuma beberapa beret saja sih :D
#malu

Dulu, aku sering males nyuci kamu, sampai mbladus jelek dan makin abu2 mendekati putih..
Maafkan ya Gray...
Tp entah bagaimana setelah bapak beli panther baru dan kamu harus tidur di luar garasi aku malah sering nyuci kamu...
Entahlah, rasa sayangku sama kamu jadi berlipat-lipat justru setelah kamu ndak bisa tidur di garasi lagi...

Seringkali, kamu jadi teman saat aku mengalami hal-hal tidak menyenangkan,
Nyopir sendirian bersamamu, jadi salah satu cara mujarab untuk menghibur diri sebelum kembali ke peradaban.
Terima kasih sudah jadi pendengar setiaku saat aku nyanyi pakai suara sumbang...

Dear Gray,
Seandainya kamu mobil dengan AI kayak di pilem2, aku pingin ngupgrade kamu biar selalu uptodate...
Tapi...
Sepertinya skrg saatnya aku melepas kamu pergi.

Pemilik barumu, insyaAllah akan sama sayangnya sepertiku, kalau bukan malah lebih sayang sama kamu daripada aku.
Beliau baik sekali... jadi aku tega melepasmu karena aku tahu beliau ndak akam menyianyiakanmu,

Dear Gray,
Aku banyak belajar darimu,
Aku jadi sensitif soal mendengar dan merasakan setiap suara dan getaran,
Aku belajar manajemen sebuah mobil,
Dan aku belajar cara nyopir yang baik

Kamu cinta pertamaku soal mobil..
Dan selamanya bakal selalu kukenang saat kamu masih disini bersamaku..

Semoga kamu ndak pernah rewel dan selalu disayang, siapapun pemilikmu setelah ini,

I really love you.

---
With all the love possible,
Siennra.

Written on the driver seat of Gray for the very last time, 9 October 2013, 5.40pm
---


Kamis, 05 September 2013

Tomorrow I'll Love You - A Song from Her Heart

Lagu ini adalah insert song Yamada and Seven Witches yang dinyanyikan oleh Takigawa Noa (Airi Matsui). Pertama dengar lagu ini sambil lihat scene-nya bikin terharu :')
Fyi, Yamada and Seven Witches di Jepang sana sangat diapresiasi oleh penontonnya, termasuk mangaka favorit saya, Hiro Mashima! XD

Well, inilah hasil percobaan kuping saya yang jelas banyak kekurangan. Tuh lihat, ada bagian yang saya gak bisa denger dengan baik soalnya waktu Noa nyanyi ternyata si Yamadanya juga ngomong -___-"

Tapi kayaknya hasilnya sudah cukup memberi gambaran tentang apa yang dinyanyikan Noa ^^
Semoga lagu ini juga segera dirilis. Maknanya bagus ^^

minute: 27.15 - 28.49


tomorrow tomorrow I'll love you 
tomorrow 
ashita wa shiawase (tomorrow I will be happy)
asa ga kureba (when morning comes)
tomorrow ii koto ga aru (tomorrow good things will appear)
tomorrow
ashita yume miru dake de (tomorrow is the only thing I dreamed of)
tomorrow tsurai koto mo wasureru (tomorrow painful things will be forgotten)
minna samishikuteru utsu na hi ni wa mune no hate utau no (everyone will free their mind from lonely and painful days)
asa ga kureba (when morning comes)
tomorrow namida no ato mo kiete yuku wa (tomorrow even the tears will disappear)
tomorrow tomorrow I'll love you 
tomorrow 
ashita wa shiawase  (tomorrow I will be happy)
tomorrow tomorrow I'll love you 
tomorrow 
ashita wa shiawase  (tomorrow I will be happy)


Gimana? Semoga bisa ditangkap maksudnya ^^ meskipun hasil listening-nya geje :p

Untuk yang ingin tahu tentang Yamada and Seven Witches lebih jauh, klik disini. Ceritanya gokil abis, bikin ngakak guling-guling dengan segala efek samping XD

NB:
Menerima masukan perbaikan lirik. Tolong bantu kuping saya :p

Sabtu, 31 Agustus 2013

Aku Pernah Dibully

Sejenak setelah re-run 35 Years Old High School Student, saya jadi ingat bahwa hal yang serupa juga pernah terjadi pada saya. Walaupun tingkat keparahannya sama-sekali tidak sebanding dengan yang saya lihat di drama tersebut sih...

Pembullyan nampak sangat memprihatinkan bagi sebagian besar orang. Mereka yang menonton sinetron atau drama pembullyan akan berkeluh kasihan dan berkaca-kaca, disertai hati mereka yang mencelos. Tapi segala perasaan itu takkan sebanding dengan apa yang dialami oleh korban bully.

Saya mungkin tampil sebagai orang yang ketawa-ketiwi ngalor-ngidul, bersikap enteng dan agak tidak pedulian. Orang mungkin melihat saya sebagai orang yang selalu beruntung dan tidak pernah susah.

Maka, bacalah tulisan ini.